Monday, September 28, 2026

Lima Kilometer, Dua Hati, dan Pagi yang Kami Miliki Sendiri

Lima Kilometer, Dua Hati, dan Pagi yang Kami Miliki Sendiri

Oleh. Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Senin, 28 September 2026. Guru Ataya, hari libur bagi seorang guru tidak selalu berarti harus bermalas-malasan di rumah. Setelah hari-hari dipenuhi rutinitas sekolah, mengajar, berhadapan dengan murid, dan berbagai urusan lainnya, sesekali tubuh dan pikiran memang perlu diajak “jalan-jalan”.

Bukan perjalanan jauh. Bukan pula liburan mewah.

Minggu, 27 September 2026, pagi itu, Guru Ataya dan istri memilih sesuatu yang sederhana, jalan santai berdua.

Pukul 06.30 WIB, kami melangkahkan kaki dari rumah menuju Renzo Edupark, yang jaraknya kurang lebih 5 kilometer

Lima kilometer mungkin terdengar tidak terlalu jauh. Tetapi ketika ditempuh dengan berjalan kaki, jarak tersebut menjadi sebuah perjalanan yang punya cerita.

Kami menyusuri jalan perkampungan. Sesekali berpapasan dengan warga yang juga menikmati pagi. Kemudian jalan membawa kami ke hamparan persawahan yang masih terasa sejuk.

Tidak ada target harus cepat sampai.

Kami hanya berjalan, berbincang, menikmati udara pagi, dan sesekali memperhatikan pemandangan di sekitar.

Mungkin inilah salah satu kemewahan yang sering terlupakan, memiliki waktu untuk berjalan pelan bersama orang yang kita cintai.

Renzo Edupark yang Masih Terlelap

Dua jam kemudian, tepat sekitar pukul 08.30 WIB, kami akhirnya tiba di Renzo Edupark.

Ada hal menarik yang langsung kami rasakan.

Tempat itu masih sangat sepi.

Belum banyak pengunjung yang datang. Cafe dan resto RENZO pun belum mulai menyajikan makanan, minuman, maupun kopi.

Akhirnya, pagi itu kami seperti mendapatkan sebuah kesempatan istimewa.

Renzo Edupark terasa seperti milik kami berdua.

Tentu saja bukan benar-benar milik kami. Ada penjaga yang menemani. Tetapi suasana yang begitu lengang membuat kami bisa menikmati tempat tersebut dengan tenang.

Tidak ada suara keramaian pengunjung.

Tidak ada antrean makanan.

Belum ada aroma kopi yang menggoda.

Hanya ada suasana pagi, tempat yang masih tenang, dan dua orang yang sedang menikmati waktu bersama.


Potret Kami di Kenzo Edupark disaat Pagi yang cerah (Foto Dok.Pribadi)
Baca Juga:


Kadang yang Dicari Bukan Tempatnya

Perjalanan pagi itu membuat Guru Ataya berpikir.

Barangkali, yang sebenarnya kami cari bukanlah Renzo Edupark.

Bukan pula makanan, minuman, atau secangkir kopi.

Yang kami cari adalah waktu.

Waktu untuk keluar sejenak dari rutinitas.
Waktu untuk berbincang tanpa terburu-buru.
Waktu untuk berjalan berdampingan.
Dan waktu untuk kembali menyadari bahwa setelah sekian banyak kesibukan, ada seseorang yang tetap setia menemani langkah.

Sebagai guru, hari-hari sering kali berjalan cepat. Senin datang, kemudian Jumat, lalu tiba-tiba sudah Minggu lagi.

Karena itu, ketika ada kesempatan, tidak ada salahnya berhenti sebentar.

Mengambil napas.

Menggandeng tangan pasangan.

Lalu berjalan tanpa perlu mengejar apa-apa.

Lima kilometer pagi itu akhirnya bukan sekadar jarak dari rumah menuju Renzo Edupark.

Ia menjadi perjalanan kecil untuk menikmati kebersamaan.

Dan mungkin, itulah arti liburan yang sesungguhnya:

bukan seberapa jauh kita pergi, tetapi dengan siapa kita menikmati perjalanan.


Dokumentasi Jalan Santai Berdua (Dok.Foto Pribadi)

Salam Blogger!


2 comments:

  1. pengen main catur bareng bapak

    ReplyDelete
  2. Pernah tinggal di cikembar kalo pagi sering lewat renzo park , penasaran sebenarnya renzo park ini tempat apa , ternyata bagus juga ya renzo park , artikel bapak ini sangat bagus sebagai sarana untuk mempromosikan potensi wisata lokal yang ada di sekitar wilayah Cibadak.

    ReplyDelete