Lima Kilometer, Dua Hati, dan Pagi yang Kami Miliki Sendiri
Oleh.
Guru Ataya (Iwan Sumantri)
Bukan
perjalanan jauh. Bukan pula liburan mewah.
Minggu, 27 September 2026, pagi
itu, Guru Ataya dan istri memilih sesuatu yang sederhana, jalan santai berdua.
Pukul 06.30
WIB, kami melangkahkan kaki dari rumah menuju Renzo Edupark, yang jaraknya
kurang lebih 5 kilometer
Lima
kilometer mungkin terdengar tidak terlalu jauh. Tetapi ketika ditempuh dengan
berjalan kaki, jarak tersebut menjadi sebuah perjalanan yang punya cerita.
Kami
menyusuri jalan perkampungan. Sesekali berpapasan dengan warga yang juga
menikmati pagi. Kemudian jalan membawa kami ke hamparan persawahan yang masih
terasa sejuk.
Tidak
ada target harus cepat sampai.
Kami
hanya berjalan, berbincang, menikmati udara pagi, dan sesekali memperhatikan
pemandangan di sekitar.
Mungkin
inilah salah satu kemewahan yang sering terlupakan, memiliki waktu untuk
berjalan pelan bersama orang yang kita cintai.
Renzo
Edupark yang Masih Terlelap
Dua
jam kemudian, tepat sekitar pukul 08.30 WIB, kami akhirnya tiba di Renzo
Edupark.
Ada
hal menarik yang langsung kami rasakan.
Tempat
itu masih sangat sepi.
Belum
banyak pengunjung yang datang. Cafe dan resto RENZO pun belum mulai menyajikan
makanan, minuman, maupun kopi.
Akhirnya,
pagi itu kami seperti mendapatkan sebuah kesempatan istimewa.
Renzo
Edupark terasa seperti milik kami berdua.
Tentu
saja bukan benar-benar milik kami. Ada penjaga yang menemani. Tetapi suasana
yang begitu lengang membuat kami bisa menikmati tempat tersebut dengan tenang.
Tidak
ada suara keramaian pengunjung.
Tidak
ada antrean makanan.
Belum
ada aroma kopi yang menggoda.
Hanya ada suasana pagi, tempat yang masih tenang, dan dua orang yang sedang menikmati waktu bersama.
![]() |
| Potret Kami di Kenzo Edupark disaat Pagi yang cerah (Foto Dok.Pribadi) |
Kadang
yang Dicari Bukan Tempatnya
Perjalanan
pagi itu membuat Guru Ataya berpikir.
Barangkali,
yang sebenarnya kami cari bukanlah Renzo Edupark.
Bukan
pula makanan, minuman, atau secangkir kopi.
Yang
kami cari adalah waktu.
Waktu untuk keluar sejenak
dari rutinitas.
Waktu untuk berbincang tanpa terburu-buru.
Waktu untuk berjalan berdampingan.
Dan waktu untuk kembali menyadari bahwa setelah sekian banyak kesibukan, ada
seseorang yang tetap setia menemani langkah.
Sebagai
guru, hari-hari sering kali berjalan cepat. Senin datang, kemudian Jumat, lalu
tiba-tiba sudah Minggu lagi.
Karena
itu, ketika ada kesempatan, tidak ada salahnya berhenti sebentar.
Mengambil
napas.
Menggandeng
tangan pasangan.
Lalu
berjalan tanpa perlu mengejar apa-apa.
Lima
kilometer pagi itu akhirnya bukan sekadar jarak dari rumah menuju Renzo
Edupark.
Ia
menjadi perjalanan kecil untuk menikmati kebersamaan.
Dan
mungkin, itulah arti liburan yang sesungguhnya:
bukan
seberapa jauh kita pergi, tetapi dengan siapa kita menikmati perjalanan.
![]() |
| Dokumentasi Jalan Santai Berdua (Dok.Foto Pribadi) |
Salam Blogger!
.jpeg)





pengen main catur bareng bapak
ReplyDeletePernah tinggal di cikembar kalo pagi sering lewat renzo park , penasaran sebenarnya renzo park ini tempat apa , ternyata bagus juga ya renzo park , artikel bapak ini sangat bagus sebagai sarana untuk mempromosikan potensi wisata lokal yang ada di sekitar wilayah Cibadak.
ReplyDelete