Friday, September 25, 2026

Ketika Bahasa Ibu Naik Panggung: 14 Tunas SMPN 3 Cibadak Menjaga Nyala Basa Sunda

Ketika Bahasa Ibu Naik Panggung: 14 Tunas SMPN 3 Cibadak Menjaga Nyala Basa Sunda

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak, 25 September 2026. Guru Ataya, di zaman ketika jari anak-anak lebih cepat mengetik “OK”, “OTW”, “BTW”, dan berbagai istilah dunia maya daripada mengucapkan kalimat dalam bahasa ibunya sendiri, hari ini ada pemandangan yang patut kita beri perhatian.

Di SMPN 3 Cibadak Kamis, 24 September 2026 bahasa Sunda naik panggung.

Bukan sekadar menjadi bahasa percakapan di halaman sekolah. Bukan pula sekadar materi pelajaran yang tersimpan di buku. Hari ini, bahasa ibu hadir dengan segala keindahannya melalui Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat SMP se-Sub Rayon Cibadak.

Ada sajak yang dilantunkan.
Ada carpon yang dikisahkan.
Ada dongeng yang dihidupkan.
Ada biantara yang disampaikan dengan penuh percaya diri.
Ada aksara Sunda yang kembali ditorehkan.
Ada pupuh yang ditembangkan.
Dan ada borangan yang menjadi bagian dari kekayaan ekspresi bahasa Sunda.

Hari ini, bahasa ibu tidak sedang bernostalgia. Ia sedang menunjukkan bahwa dirinya masih hidup.

Bukan Sekadar Lomba Bahasa Sunda

FTBI sering kali dipandang sebagai sebuah perlombaan. Ada peserta, ada juri, ada panggung, ada penilaian, dan tentu ada juara.

Tetapi kalau kita melihatnya lebih dalam, FTBI sesungguhnya sedang mengajukan sebuah pertanyaan sederhana kepada generasi muda:

“Masihkah kalian mengenal bahasa yang pertama kali mengenalkan dunia kepada kalian?”

Bahasa ibu bukan sekadar alat komunikasi.

Di dalamnya ada cara orang tua menasihati anak.
Ada kelembutan seorang ibu ketika memanggil buah hatinya.
Ada humor orang kampung yang tidak selalu bisa diterjemahkan.
Ada petuah para karuhun.
Ada cerita sebelum tidur.
Ada sopan santun.
Ada identitas.

Ketika sebuah bahasa hilang dari lidah generasinya, yang hilang bukan hanya kata-kata.

Sebagian dari ingatan sebuah kebudayaan pun ikut menghilang.

Karena itulah FTBI menjadi penting.

Dan SMPN 3 Cibadak memilih untuk tidak sekadar menjadi penonton.

Sorotan Lensa OSIS SMPN 3 Cibadak (Dok.Foto OSIS)

14 Tunas, 7 Panggung Perjuangan

Tahun ini SMPN 3 Cibadak mengikuti seluruh tujuh mata lomba FTBI.

Sebanyak 14 siswa dipercaya menjadi duta sekolah untuk berlaga dalam tujuh cabang: Sajak, Aksara Sunda, Carpon, Dongeng, Biantara, Borangan, dan Pupuh.

Mereka adalah:

Carpon

  • Muhammad Najmi Fauzan — 8E
  • Sella Khansa Kamila — 8G

Sajak

  • Muhammad Nazrul Saifuddin — 9F
  • Adinda Ribkha Putri Sudrajat — 8E

Pupuh

  • Yaumil Akbar Maulana — 9D
  • Syaisabila Sri Mulyani — 9H

Aksara Sunda

  • Muhammad Tanzil Akmal Sopandi — 9F
  • Meitsa Rojwa — 8A

Biantara

  • M. Rafan Zuhdi Naufal — 7E
  • Syahla Nurul Shufi — 7D

Borangan

  • M. Luthfi Yasin Adzikro — 9E
  • Salsa Dini Hariyadi — 8E

Dongeng

  • M. Damar Aprilio Suwandi — 8A
  • Nahla Agniya Syifa — 7F

Empat belas nama.

Empat belas keberanian.

Dan satu misi yang sama:

membuktikan bahwa bahasa ibu masih layak mendapatkan panggung di tengah perubahan zaman.


Mereka Bukan Hanya Peserta, Mereka Adalah Penjaga

Coba bayangkan seorang siswa berdiri di depan juri.

Tangannya mungkin sedikit gemetar.

Jantungnya mungkin berdetak lebih cepat.

Ia tahu bahwa beberapa menit ke depan, semua mata akan tertuju kepadanya.

Tetapi ia tetap maju.

Ia mulai berbicara.

Dalam bahasa Sunda.

Di situlah sesungguhnya keberanian sedang tumbuh.

Sementara itu, siswa lain menulis aksara Sunda dengan penuh ketelitian. Ada yang berlatih melantunkan pupuh. Ada yang menghafal naskah dongeng. Ada yang mempersiapkan carpon. Ada yang berlatih biantara agar setiap kata terdengar jelas dan penuh makna.

Mereka mungkin belum menyadarinya.

Tetapi apa yang mereka lakukan hari ini sesungguhnya jauh lebih besar daripada sekadar mengejar sebuah piala.

Mereka sedang ikut menjaga agar bahasa Sunda tidak hanya menjadi bahasa masa lalu.

Di Tengah Gempuran Bahasa Digital

Kita hidup di zaman yang luar biasa cepat.

Anak-anak kita mengenal bahasa dari berbagai penjuru dunia hanya melalui layar di tangan mereka.

Mereka mengenal istilah-istilah baru setiap hari.

Bahasa digital berkembang begitu cepat.

Tidak ada yang salah dengan itu.

Anak-anak memang harus mampu mengikuti perkembangan zaman. Mereka harus menguasai teknologi, mampu berkomunikasi secara global, dan siap menghadapi dunia yang semakin terbuka.

Tetapi ada satu hal yang jangan sampai tertinggal: akar.

Anak boleh menguasai bahasa asing.

Boleh fasih menggunakan teknologi.

Boleh akrab dengan dunia digital.

Namun jangan sampai ketika ditanya, “Kumaha damang?”, ia justru merasa asing dengan bahasa yang dahulu digunakan oleh orang tuanya ketika menyapanya.

Modern bukan berarti tercerabut dari akar.

Maju bukan berarti melupakan budaya.

Justru generasi yang kuat adalah generasi yang mampu berdiri di tengah dunia modern sambil tetap mengenali identitasnya sendiri.

Dari Panggung Kecil untuk Masa Depan yang Besar

Mungkin bagi sebagian orang, FTBI hanyalah lomba tingkat sub rayon.

Panggungnya tidak sebesar panggung hiburan.

Hadiah yang diperebutkan mungkin bukan sesuatu yang mewah.

Tetapi jangan pernah menganggap remeh panggung kecil.

Karena setiap prestasi besar hampir selalu dimulai dari keberanian untuk tampil pertama kali.

Hari ini mereka belajar bertanding.

Besok mereka akan belajar memimpin.

Hari ini mereka belajar berbicara di depan juri.

Besok mereka mungkin berbicara di depan masyarakat.

Hari ini mereka belajar mengenal bahasa dan budaya.

Kelak mereka bisa menjadi generasi yang menjaga identitas daerahnya di tengah dunia yang semakin global.

Maka, apa pun hasil yang mereka raih hari ini, satu hal patut diapresiasi:

mereka sudah berani mengambil tempat untuk bahasa ibunya.

Dan keberanian itu layak dirayakan.

Bahasa Ibu Tidak Boleh Mati di Tangan Generasinya

Ada kalanya kita terlalu sibuk menyiapkan anak-anak untuk menjadi “warga dunia”, sampai lupa bahwa sebelum menjadi warga dunia, mereka memiliki tanah tempat berpijak.

Ada akar yang harus dikenali.

Ada budaya yang harus dihormati.

Ada bahasa yang harus dirawat.

Sebab bahasa ibu adalah salah satu pintu pertama seorang anak mengenal dunia.

Dari bahasa itulah ia mengenal sapaan.

Mengenal kasih sayang.

Mengenal nasihat.

Mengenal humor.

Mengenal sopan santun.

Dan mengenal siapa dirinya.

Maka hari ini, ketika 14 siswa SMPN 3 Cibadak berdiri membawa nama sekolah dalam FTBI, sesungguhnya ada pesan sederhana yang sedang mereka sampaikan:

“Kami boleh hidup di zaman modern, tetapi kami tidak ingin kehilangan jati diri.”

Itulah makna sesungguhnya dari Festival Tunas Bahasa Ibu.

Bukan sekadar mencari siapa yang menjadi juara.

Tetapi memastikan agar tunas-tunas bahasa ibu tetap tumbuh.

Sebab sebuah bahasa akan tetap hidup bukan karena tersimpan rapi di dalam buku.

Bahasa akan hidup jika masih ada anak-anak yang mau mengucapkannya dengan bangga.

Dan hari ini, di SMPN 3 Cibadak, 14 tunas itu sedang tumbuh.

Semoga mereka tidak hanya menjadi juara di atas panggung.

Semoga mereka menjadi generasi yang mampu menjaga nyala bahasa dan budaya Sunda agar tetap menyala di tengah derasnya perubahan zaman.

Wilujeng tanding, para Tunas Bahasa Ibu SMPN 3 Cibadak!

Bawa nama sekolah dengan bangga.

Tampilkan kemampuan terbaik.

Junjung sportivitas.

Dan jangan takut untuk bersuara.

Karena hari ini, ketika kalian berbicara dalam bahasa ibu, sesungguhnya kalian sedang mengatakan kepada zaman:

“Basa Sunda masih hirup. Basa Sunda masih aya. Jeung urang moal ngantep basa urang leungit.”

 Salam Blogger!



No comments:

Post a Comment