Ketika Bahasa Ibu Naik Panggung: 14 Tunas SMPN 3 Cibadak Menjaga Nyala Basa Sunda
Oleh:
Guru Ataya (Iwan Sumantri)
Di
SMPN 3 Cibadak Kamis, 24 September 2026 bahasa Sunda naik panggung.
Bukan
sekadar menjadi bahasa percakapan di halaman sekolah. Bukan pula sekadar materi
pelajaran yang tersimpan di buku. Hari ini, bahasa ibu hadir dengan segala
keindahannya melalui Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat SMP se-Sub Rayon
Cibadak.
Dan ada borangan yang menjadi bagian dari kekayaan ekspresi bahasa Sunda.
Hari
ini, bahasa ibu tidak sedang bernostalgia. Ia sedang menunjukkan bahwa dirinya
masih hidup.
Bukan
Sekadar Lomba Bahasa Sunda
FTBI
sering kali dipandang sebagai sebuah perlombaan. Ada peserta, ada juri, ada
panggung, ada penilaian, dan tentu ada juara.
Tetapi
kalau kita melihatnya lebih dalam, FTBI sesungguhnya sedang mengajukan sebuah
pertanyaan sederhana kepada generasi muda:
“Masihkah
kalian mengenal bahasa yang pertama kali mengenalkan dunia kepada kalian?”
Bahasa
ibu bukan sekadar alat komunikasi.
Di dalamnya ada cara orang tua
menasihati anak.
Ada kelembutan seorang ibu ketika memanggil buah hatinya.
Ada humor orang kampung yang tidak selalu bisa diterjemahkan.
Ada petuah para karuhun.
Ada cerita sebelum tidur.
Ada sopan santun.
Ada identitas.
Ketika
sebuah bahasa hilang dari lidah generasinya, yang hilang bukan hanya kata-kata.
Sebagian
dari ingatan sebuah kebudayaan pun ikut menghilang.
Karena
itulah FTBI menjadi penting.
Dan
SMPN 3 Cibadak memilih untuk tidak sekadar menjadi penonton.
![]() |
| Sorotan Lensa OSIS SMPN 3 Cibadak (Dok.Foto OSIS) |
14
Tunas, 7 Panggung Perjuangan
Tahun
ini SMPN 3 Cibadak mengikuti seluruh tujuh mata lomba FTBI.
Sebanyak
14 siswa dipercaya menjadi duta sekolah untuk berlaga dalam tujuh cabang: Sajak,
Aksara Sunda, Carpon, Dongeng, Biantara, Borangan, dan Pupuh.
Mereka
adalah:
Carpon
- Muhammad Najmi Fauzan — 8E
- Sella Khansa Kamila — 8G
Sajak
- Muhammad Nazrul Saifuddin — 9F
- Adinda Ribkha Putri Sudrajat — 8E
Pupuh
- Yaumil Akbar Maulana — 9D
- Syaisabila Sri Mulyani — 9H
Aksara
Sunda
- Muhammad Tanzil Akmal Sopandi — 9F
- Meitsa Rojwa — 8A
Biantara
- M. Rafan Zuhdi Naufal — 7E
- Syahla Nurul Shufi — 7D
Borangan
- M. Luthfi Yasin Adzikro — 9E
- Salsa Dini Hariyadi — 8E
Dongeng
- M. Damar Aprilio Suwandi — 8A
- Nahla Agniya Syifa — 7F
Empat
belas nama.
Empat
belas keberanian.
Dan
satu misi yang sama:
membuktikan
bahwa bahasa ibu masih layak mendapatkan panggung di tengah perubahan zaman.
Mereka
Bukan Hanya Peserta, Mereka Adalah Penjaga
Coba
bayangkan seorang siswa berdiri di depan juri.
Tangannya
mungkin sedikit gemetar.
Jantungnya
mungkin berdetak lebih cepat.
Ia
tahu bahwa beberapa menit ke depan, semua mata akan tertuju kepadanya.
Tetapi
ia tetap maju.
Ia
mulai berbicara.
Dalam
bahasa Sunda.
Di
situlah sesungguhnya keberanian sedang tumbuh.
Sementara
itu, siswa lain menulis aksara Sunda dengan penuh ketelitian. Ada yang berlatih
melantunkan pupuh. Ada yang menghafal naskah dongeng. Ada yang mempersiapkan
carpon. Ada yang berlatih biantara agar setiap kata terdengar jelas dan penuh
makna.
Mereka
mungkin belum menyadarinya.
Tetapi
apa yang mereka lakukan hari ini sesungguhnya jauh lebih besar daripada sekadar
mengejar sebuah piala.
Mereka
sedang ikut menjaga agar bahasa Sunda tidak hanya menjadi bahasa masa lalu.
Di
Tengah Gempuran Bahasa Digital
Kita
hidup di zaman yang luar biasa cepat.
Anak-anak
kita mengenal bahasa dari berbagai penjuru dunia hanya melalui layar di tangan
mereka.
Mereka
mengenal istilah-istilah baru setiap hari.
Bahasa
digital berkembang begitu cepat.
Tidak
ada yang salah dengan itu.
Anak-anak
memang harus mampu mengikuti perkembangan zaman. Mereka harus menguasai
teknologi, mampu berkomunikasi secara global, dan siap menghadapi dunia yang
semakin terbuka.
Tetapi
ada satu hal yang jangan sampai tertinggal: akar.
Anak
boleh menguasai bahasa asing.
Boleh
fasih menggunakan teknologi.
Boleh
akrab dengan dunia digital.
Namun
jangan sampai ketika ditanya, “Kumaha damang?”, ia justru merasa asing
dengan bahasa yang dahulu digunakan oleh orang tuanya ketika menyapanya.
Modern
bukan berarti tercerabut dari akar.
Maju
bukan berarti melupakan budaya.
Justru
generasi yang kuat adalah generasi yang mampu berdiri di tengah dunia modern
sambil tetap mengenali identitasnya sendiri.
Dari
Panggung Kecil untuk Masa Depan yang Besar
Mungkin
bagi sebagian orang, FTBI hanyalah lomba tingkat sub rayon.
Panggungnya
tidak sebesar panggung hiburan.
Hadiah
yang diperebutkan mungkin bukan sesuatu yang mewah.
Tetapi
jangan pernah menganggap remeh panggung kecil.
Karena
setiap prestasi besar hampir selalu dimulai dari keberanian untuk tampil
pertama kali.
Hari
ini mereka belajar bertanding.
Besok
mereka akan belajar memimpin.
Hari
ini mereka belajar berbicara di depan juri.
Besok
mereka mungkin berbicara di depan masyarakat.
Hari
ini mereka belajar mengenal bahasa dan budaya.
Kelak
mereka bisa menjadi generasi yang menjaga identitas daerahnya di tengah dunia
yang semakin global.
Maka,
apa pun hasil yang mereka raih hari ini, satu hal patut diapresiasi:
mereka
sudah berani mengambil tempat untuk bahasa ibunya.
Dan
keberanian itu layak dirayakan.
Bahasa
Ibu Tidak Boleh Mati di Tangan Generasinya
Ada
kalanya kita terlalu sibuk menyiapkan anak-anak untuk menjadi “warga dunia”,
sampai lupa bahwa sebelum menjadi warga dunia, mereka memiliki tanah tempat
berpijak.
Ada
akar yang harus dikenali.
Ada
budaya yang harus dihormati.
Ada
bahasa yang harus dirawat.
Sebab
bahasa ibu adalah salah satu pintu pertama seorang anak mengenal dunia.
Dari
bahasa itulah ia mengenal sapaan.
Mengenal
kasih sayang.
Mengenal
nasihat.
Mengenal
humor.
Mengenal
sopan santun.
Dan
mengenal siapa dirinya.
Maka
hari ini, ketika 14 siswa SMPN 3 Cibadak berdiri membawa nama sekolah dalam
FTBI, sesungguhnya ada pesan sederhana yang sedang mereka sampaikan:
“Kami
boleh hidup di zaman modern, tetapi kami tidak ingin kehilangan jati diri.”
Itulah
makna sesungguhnya dari Festival Tunas Bahasa Ibu.
Bukan
sekadar mencari siapa yang menjadi juara.
Tetapi
memastikan agar tunas-tunas bahasa ibu tetap tumbuh.
Sebab
sebuah bahasa akan tetap hidup bukan karena tersimpan rapi di dalam buku.
Bahasa
akan hidup jika masih ada anak-anak yang mau mengucapkannya dengan bangga.
Dan
hari ini, di SMPN 3 Cibadak, 14 tunas itu sedang tumbuh.
Semoga
mereka tidak hanya menjadi juara di atas panggung.
Semoga
mereka menjadi generasi yang mampu menjaga nyala bahasa dan budaya Sunda agar
tetap menyala di tengah derasnya perubahan zaman.
Wilujeng
tanding, para Tunas Bahasa Ibu SMPN 3 Cibadak!
Bawa
nama sekolah dengan bangga.
Tampilkan
kemampuan terbaik.
Junjung
sportivitas.
Dan
jangan takut untuk bersuara.
Karena
hari ini, ketika kalian berbicara dalam bahasa ibu, sesungguhnya kalian sedang
mengatakan kepada zaman:
“Basa
Sunda masih hirup. Basa Sunda masih aya. Jeung urang moal ngantep basa urang
leungit.”



No comments:
Post a Comment