Dari Lapang Futsal, Guru Ataya Belajar Tentang Mimpi Kecil Seorang Anak
Oleh: Guru
Ataya (Iwan Sumantri)
Ada
hal-hal sederhana dalam hidup yang ternyata menyimpan pelajaran besar.
Bagi
saya, salah satunya adalah mengantar anak bungsu berlatih futsal.
Setiap
hari Jumat dan Senin sore, selepas kesibukan mengajar dan rutinitas
lainnya, saya menyempatkan diri mengantar Ataya Rachman Pradana Putra ke
lapang futsal CFS Cibadak. Di tempat itulah Ataya bersama teman-temannya
berlatih bersama Serenite FC, kelompok usia 6–10 tahun.
Latihan
dimulai pukul 16.00 hingga 17.30 WIB.
Bagi
sebagian orang, mungkin satu setengah jam di lapangan hanya terlihat sebagai
aktivitas olahraga anak-anak. Tetapi bagi seorang Guru Ataya, waktu itu terasa
jauh lebih berharga.
Di
sana saya melihat seorang anak kecil sedang belajar mengejar bola.
Namun
sesungguhnya, ia juga sedang belajar mengejar mimpi.
Bukan
Sekadar Menendang Bola
Ataya
akan genap berusia 8 tahun pada 20 Oktober 2026.
Usianya
masih sangat muda. Dunia anak seusianya seharusnya memang dipenuhi dengan
bermain, tertawa, mencoba sesuatu yang baru, dan menemukan apa yang mereka
sukai.
Karena
itu, ketika Ataya berada di lapangan, saya tidak terlalu memikirkan apakah ia
mencetak gol atau tidak.
Saya
lebih senang melihat bagaimana ia berusaha. Ketika bola direbut lawan, ia
belajar untuk tidak menyerah. Ketika tendangannya melenceng, ia belajar mencoba
lagi. Ketika mendapat kesempatan mencetak gol, ia belajar percaya diri.
Dan
ketika bermain bersama teman-temannya, ia belajar bahwa sepak bola bukan
tentang siapa yang paling hebat, tetapi tentang bagaimana bekerja sama
sebagai sebuah tim.
Guru
Ataya Mengantar, Ataya yang Berjuang
Saya
mungkin bukan orang yang selalu berada di dalam lapangan.
Saya
hanya mengantar, menunggu, mengamati dan sesekali memberikan semangat.
Tetapi
justru dari posisi sederhana sebagai seorang Guru Ataya yang duduk di pinggir
lapangan, saya belajar banyak hal.
Saya
melihat pelatih memberikan instruksi. Saya melihat anak-anak berlari mengejar
bola. Saya melihat mereka jatuh, bangkit, tertawa, bahkan sesekali kecewa.
Dan
saya menyadari bahwa proses pendidikan tidak selalu berlangsung di dalam kelas.
Sebagai
guru Matematika di SMPN 3 Cibadak, setiap hari saya mengajarkan angka, rumus,
logika, dan pemecahan masalah kepada anak-anak di sekolah.
Tetapi
di lapangan futsal, saya belajar bahwa kehidupan juga memiliki
"rumus" yang sederhana:
Latihan
+ disiplin + keberanian + kesabaran = proses menuju kemampuan.
Tidak
ada anak yang langsung hebat ketika pertama kali memegang bola. Semua
membutuhkan proses.
Lapangan
Futsal Adalah Ruang Belajar
Di
lapangan, Ataya mungkin tidak sedang belajar Matematika. Tidak ada pecahan. Tidak ada persamaan. Tidak ada bangun ruang. Tetapi
sebenarnya banyak konsep kehidupan yang sedang ia pelajari.
Ia
belajar disiplin, karena harus datang tepat waktu.
Ia
belajar tanggung jawab, karena harus mengikuti latihan dengan
sungguh-sungguh.
Ia
belajar sportivitas, karena menang dan kalah adalah bagian dari
permainan.
Ia
belajar kerja sama, karena satu pemain tidak mungkin memenangkan
pertandingan seorang diri.
Ia
belajar menghargai teman dan pelatih.
Dan
yang paling penting, ia belajar bahwa kemampuan tidak datang secara instan.
Bukankah
itu juga hakikat pendidikan?
Pendidikan
bukan hanya membuat anak mengetahui sesuatu.
Pendidikan
juga membantu anak menjadi pribadi yang mampu menghadapi kehidupan.
![]() |
| Ataya dengan pialanya yang pernah di raih bersama Serenite FC (Dok.Foto Pribadi) |
Baca Juga:
Guru
Ataya Tidak Harus Menentukan Mimpi Anak
Sebagai
orang tua, terkadang kita terlalu mudah memiliki keinginan terhadap anak. Kita
ingin anak menjadi ini. Kita ingin anak menjadi itu. Kita ingin mereka
berprestasi seperti orang lain.
Padahal
mungkin tugas kita bukan menentukan mimpi mereka, melainkan menemani mereka
menemukan mimpinya sendiri.
Jika
suatu hari Ataya memilih futsal sebagai jalan yang ingin ia tekuni, saya akan
mendukungnya.
Jika
suatu hari ia menemukan passion yang berbeda, saya pun akan tetap mendukungnya.
Karena
yang ingin saya wariskan bukan sekadar piala, bukan sekadar medali, Bukan pula
sekadar nama yang tercetak dalam daftar juara.
Saya
ingin ia memiliki pengalaman tentang bagaimana rasanya berusaha, gagal,
bangkit, berlatih, bekerja sama, dan tidak mudah menyerah.
Itulah
bekal yang jauh lebih panjang daripada sebuah pertandingan.
Dari
CFS Cibadak, Sebuah Cerita Kecil Dimulai
Setiap
Jumat dan Senin sore, perjalanan itu kembali berulang.
Pukul
16.00, Ataya masuk ke lapangan.
Bola
bergulir.
Anak-anak
berlari.
Pelatih
memberikan arahan.
Guru
Ataya menunggu dari pinggir lapangan.
Kemudian
pukul 17.30, latihan selesai.
Mungkin
hari itu tidak ada gol.
Mungkin
tidak ada kemenangan.
Mungkin
tidak ada sesuatu yang spektakuler.
Tetapi
bagi saya, satu hal sudah terjadi:
Ataya
telah bertumbuh satu langkah lagi.
Hari
ini ia belajar menendang bola.
Besok
mungkin ia belajar mengoper.
Lusa
ia belajar bertahan.
Dan
suatu hari nanti, ketika ia sudah dewasa, mungkin ia akan mengingat bahwa
pernah ada seorang Guru Ataya yang dengan sabar mengantarnya ke lapangan pada
setiap Jumat dan Senin sore.
Bukan
karena Guru Atayanya tahu Ataya akan menjadi pemain futsal hebat.
Tetapi
karena Guru Atayanya percaya bahwa setiap anak berhak memiliki kesempatan
untuk mencoba dan mengejar apa yang ia cintai.

Dokumentasi Jejak langkah Ataya di Futsal Serenite FC (Dok.Foto Pribadi)
Karena
Tugas Guru Ataya Bukan Hanya Mengantar
Saya
akhirnya memahami bahwa mengantar anak berlatih bukan sekadar perjalanan dari
rumah menuju lapangan.
Ada
perjalanan yang jauh lebih penting.
Perjalanan
seorang anak menuju kemandirian.
Dan di
sepanjang perjalanan itu, orang tua hanya perlu memastikan satu hal:
ketika
anak berlari mengejar mimpinya, ada seseorang di belakangnya yang selalu
berkata,
"Guru
Ataya ada di sini. Teruslah mencoba. Jangan takut gagal. Nikmati
prosesnya."
Dari
lapang futsal CFS Cibadak, Ataya mungkin sedang belajar menjadi pemain futsal.
Tetapi
diam-diam, Guru Atayanya sedang belajar menjadi orang tua yang lebih baik.
Karena
terkadang, anak-anak tidak membutuhkan orang tua yang selalu berada di depan
untuk menunjukkan jalan.
Mereka
hanya membutuhkan seseorang yang bersedia berjalan di belakangnya, menemani,
mendukung, dan percaya.
Dan
bagi seorang Guru Ataya, mungkin itulah salah satu bentuk cinta yang paling
sederhana:
mengantar
anak mengejar bola hari ini, sambil diam-diam mengantarnya mendekati
mimpi-mimpinya.


No comments:
Post a Comment