Bahasa Ibu Naik Kelas! 7 Siswa SMPN 3 Cibadak Melaju ke FTBI Kabupaten
Oleh:
Guru Ataya (Iwan Sumantri)
Kalimat
itu mungkin terdengar sederhana. Namun Kamis, 24 September 2026, siswa-siswi
SMPN 3 Cibadak justru menunjukkan hal sebaliknya. Di tengah derasnya arus
teknologi dan budaya digital, mereka berdiri percaya diri membawa bahasa dan
budaya Sunda ke atas panggung prestasi.
Bertempat
di SMPN 3 Cibadak, digelar Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) 2026 tingkat Sub
Rayon 2 Cibadak. Kegiatan ini bukan sekadar ajang perlombaan, tetapi menjadi
ruang bagi generasi muda untuk mengenal, mencintai, sekaligus melestarikan
bahasa dan seni budaya Sunda.
Tujuh
cabang mata lomba dipertandingkan, yaitu Aksara Sunda, Pupuh, Borangan, Carpon,
Biantara, Dongeng, dan Sajak.
Siswa-siswi
SMPN 3 Cibadak pun tampil membawa nama sekolah. Mereka tidak datang sekadar
untuk menjadi peserta. Mereka datang untuk berjuang.
Dan
hasilnya?
![]() |
| Inilah Tujuh Prestasi yang ditorehkan siswa SMPN 3 Cibadak di Ajang FTBI 2026 |
Tujuh
prestasi berhasil ditorehkan!
🏆 Empat Juara Pertama!
Prestasi
membanggakan itu diawali dari cabang Pupuh dan Borangan.
🥇 Juara 1 Pupuh Putra — Yaumil, 9D
🥇 Juara 1 Pupuh Putri — Salsabila,
9H
🥇 Juara 1 Borangan Putra
— Luthfi, 9G
🥇 Juara 1 Borangan Putri
— Salsa, 8E
Belum berhenti di sana,
prestasi berikutnya datang dari cabang Aksara Sunda dan Sajak.
🥈 Juara 2 Aksara Sunda Putra — Tanzil, 9F
🥈 Juara 2 Aksara Sunda
Putri — Meitsa, 8A
🥉 Juara 3 Sajak Putri — Adinda,
8E
Tujuh
prestasi tersebut sekaligus menjadi tiket bagi para juara untuk melanjutkan
perjuangan ke tingkat Kabupaten Sukabumi.
Bukan
Hanya Tentang Piala
Di
balik tujuh penghargaan itu, ada cerita yang jauh lebih besar.
Ada
keberanian untuk berdiri di depan orang lain. Ada latihan yang mungkin
melelahkan. Ada proses belajar yang tidak selalu mudah. Ada bimbingan guru dan
dukungan sekolah. Dan ada keberanian untuk mencintai budaya sendiri.
Sebab Aksara
Sunda bukan sekadar tulisan. Pupuh bukan sekadar lantunan. Sajak bukan sekadar
kata-kata. Borangan bukan sekadar pertunjukan.
Semuanya
adalah bagian dari identitas.
Ketika
anak-anak muda masih mau mempelajarinya, sesungguhnya mereka sedang mengatakan
kepada zaman bahwa warisan leluhur belum selesai.
Mereka
boleh hidup di era digital. Mereka boleh akrab dengan teknologi. Mereka boleh
menjelajah dunia melalui layar gawai.
Tetapi
mereka tetap tahu akar tempat mereka berpijak.
Dari
Sub Rayon Menuju Kabupaten
Kini
perjuangan belum berakhir.
Tujuh
tunas SMPN 3 Cibadak akan kembali melangkah menuju panggung FTBI tingkat
Kabupaten Sukabumi.
Di
sana, tantangan tentu akan berbeda. Lawan akan semakin beragam. Persaingan akan
semakin ketat.
Tetapi
bukankah setiap perjuangan besar memang selalu dimulai dari satu langkah kecil?
Hari
ini mereka membawa pulang piala.
Besok
mereka membawa harapan.
Dan
lusa, semoga nama mereka menjadi bagian dari cerita tentang anak-anak Sukabumi
yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga bangga terhadap bahasa dan budayanya
sendiri.
Selamat Yaumil.
Selamat Salsabila.
Selamat Luthfi.
Selamat Salsa.
Selamat Tanzil.
Selamat Meitsa.
Selamat Adinda.
Teruslah
melangkah.
Jangan
hanya mengejar juara. Jadilah generasi yang membuat bahasa ibu tetap bernyawa.
Sebab
ketika bahasa ibu masih terdengar dari mulut anak-anak kita, ketika pupuh masih
dilantunkan, ketika aksara Sunda masih ditulis, ketika sajak masih dibacakan—
di
sanalah budaya belum mati.
![]() |
| Hasil FTBI 2026 SMPN 3 Cibadak (Dok.Foto OSIS) |
Dan
hari ini, dari SMPN 3 Cibadak, tujuh tunas itu sedang tumbuh.
Tunggu
kami di panggung Kabupaten!
SMPN 3
Cibadak — Cerdik, Berbudi, Berprestasi.



No comments:
Post a Comment