Saturday, September 26, 2026

Bahasa Ibu Naik Kelas! 7 Siswa SMPN 3 Cibadak Melaju ke FTBI Kabupaten

Bahasa Ibu Naik Kelas! 7 Siswa SMPN 3 Cibadak Melaju ke FTBI Kabupaten

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak- 26 September 20206. Guru Ataya, “Bahasa ibu akan mati jika generasinya malu menggunakannya.”

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun Kamis, 24 September 2026, siswa-siswi SMPN 3 Cibadak justru menunjukkan hal sebaliknya. Di tengah derasnya arus teknologi dan budaya digital, mereka berdiri percaya diri membawa bahasa dan budaya Sunda ke atas panggung prestasi.

Bertempat di SMPN 3 Cibadak, digelar Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) 2026 tingkat Sub Rayon 2 Cibadak. Kegiatan ini bukan sekadar ajang perlombaan, tetapi menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal, mencintai, sekaligus melestarikan bahasa dan seni budaya Sunda.

Tujuh cabang mata lomba dipertandingkan, yaitu Aksara Sunda, Pupuh, Borangan, Carpon, Biantara, Dongeng, dan Sajak.

Siswa-siswi SMPN 3 Cibadak pun tampil membawa nama sekolah. Mereka tidak datang sekadar untuk menjadi peserta. Mereka datang untuk berjuang.

Dan hasilnya?

Inilah Tujuh Prestasi yang ditorehkan siswa SMPN 3 Cibadak di Ajang FTBI 2026

Baca Juga:

Tujuh prestasi berhasil ditorehkan!

🏆 Empat Juara Pertama!

Prestasi membanggakan itu diawali dari cabang Pupuh dan Borangan.

🥇 Juara 1 Pupuh Putra — Yaumil, 9D
🥇 Juara 1 Pupuh Putri — Salsabila, 9H
🥇 Juara 1 Borangan Putra — Luthfi, 9G
🥇 Juara 1 Borangan Putri — Salsa, 8E

Belum berhenti di sana, prestasi berikutnya datang dari cabang Aksara Sunda dan Sajak.

🥈 Juara 2 Aksara Sunda Putra — Tanzil, 9F
🥈 Juara 2 Aksara Sunda Putri — Meitsa, 8A
🥉 Juara 3 Sajak Putri — Adinda, 8E

Tujuh prestasi tersebut sekaligus menjadi tiket bagi para juara untuk melanjutkan perjuangan ke tingkat Kabupaten Sukabumi.

Bukan Hanya Tentang Piala

Di balik tujuh penghargaan itu, ada cerita yang jauh lebih besar.

Ada keberanian untuk berdiri di depan orang lain. Ada latihan yang mungkin melelahkan. Ada proses belajar yang tidak selalu mudah. Ada bimbingan guru dan dukungan sekolah. Dan ada keberanian untuk mencintai budaya sendiri.

Sebab Aksara Sunda bukan sekadar tulisan. Pupuh bukan sekadar lantunan. Sajak bukan sekadar kata-kata. Borangan bukan sekadar pertunjukan.

Semuanya adalah bagian dari identitas.

Ketika anak-anak muda masih mau mempelajarinya, sesungguhnya mereka sedang mengatakan kepada zaman bahwa warisan leluhur belum selesai.

Mereka boleh hidup di era digital. Mereka boleh akrab dengan teknologi. Mereka boleh menjelajah dunia melalui layar gawai.

Tetapi mereka tetap tahu akar tempat mereka berpijak.

Dari Sub Rayon Menuju Kabupaten

Kini perjuangan belum berakhir.

Tujuh tunas SMPN 3 Cibadak akan kembali melangkah menuju panggung FTBI tingkat Kabupaten Sukabumi.

Di sana, tantangan tentu akan berbeda. Lawan akan semakin beragam. Persaingan akan semakin ketat.

Tetapi bukankah setiap perjuangan besar memang selalu dimulai dari satu langkah kecil?

Hari ini mereka membawa pulang piala.

Besok mereka membawa harapan.

Dan lusa, semoga nama mereka menjadi bagian dari cerita tentang anak-anak Sukabumi yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga bangga terhadap bahasa dan budayanya sendiri.

Selamat Yaumil.
Selamat Salsabila.
Selamat Luthfi.
Selamat Salsa.
Selamat Tanzil.
Selamat Meitsa.
Selamat Adinda.

Teruslah melangkah.

Jangan hanya mengejar juara. Jadilah generasi yang membuat bahasa ibu tetap bernyawa.

Sebab ketika bahasa ibu masih terdengar dari mulut anak-anak kita, ketika pupuh masih dilantunkan, ketika aksara Sunda masih ditulis, ketika sajak masih dibacakan—

di sanalah budaya belum mati.

Hasil FTBI 2026 SMPN 3 Cibadak (Dok.Foto OSIS)

Dan hari ini, dari SMPN 3 Cibadak, tujuh tunas itu sedang tumbuh.

Tunggu kami di panggung Kabupaten!

SMPN 3 Cibadak — Cerdik, Berbudi, Berprestasi.

Salam Blogger!



No comments:

Post a Comment