Thursday, September 3, 2026

Ataya dan Langkah-Langkah Kecil Menuju Mimpi Besar

Ataya dan Langkah-Langkah Kecil Menuju Mimpi Besar

Sebuah Catatan Kecil dari Ayah untuk Sang Bungsu

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak- 3 September 2026. Guru Ataya, menjadi orang tua mengajarkan saya satu hal yang sangat berharga: setiap anak memiliki jalan ceritanya sendiri. Tidak pernah ada dua anak yang benar-benar sama. Mereka tumbuh dengan karakter, minat, bakat, kecepatan, dan pencapaiannya masing-masing.

Saya dan istri dikaruniai tiga orang anak. Anak pertama, Krani Pratiwi, S.Psi, lahir pada tahun 1995. Kemudian anak kedua, Hammam Pratama Putra, S.Or, lahir pada tahun 2002. Dan, setelah jeda waktu yang cukup panjang, hadir anak ketiga sekaligus si bungsu, Ataya Rachman Pradana Putra, yang lahir pada tahun 2017.

Jarak usia yang cukup jauh membuat kehadiran Ataya terasa seperti mendapatkan kembali hadiah kecil dalam perjalanan kehidupan keluarga kami.

Kini Ataya telah berusia delapan tahun dan duduk di kelas 3 SD. Sebagai seorang ayah, saya tentu menyadari bahwa pencapaian Ataya mungkin belum seberapa jika dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya. Masih banyak anak yang prestasinya jauh lebih banyak dan lebih tinggi.

Namun, bagi saya, prestasi bukan hanya tentang seberapa tinggi seseorang berdiri di podium. Prestasi juga tentang keberanian seorang anak untuk mencoba, berlatih, gagal, bangkit, dan mencoba lagi.

Dan karena itulah, setiap pencapaian kecil Ataya layak mendapatkan apresiasi.

Baca Juga:


Dari Matras Karate hingga Lapangan Futsal

Salah satu pengalaman yang membanggakan adalah ketika Ataya berhasil meraih Juara 1 karate kategori kata tingkat anak SD.

Di atas matras, tubuh kecilnya harus belajar tentang keseimbangan, konsentrasi, disiplin, dan keberanian. Gerakan yang terlihat sederhana bagi orang lain tentu membutuhkan latihan yang berulang-ulang.

Bagi seorang anak berusia delapan tahun, berdiri di arena pertandingan dan menunjukkan kemampuan di hadapan juri bukanlah sesuatu yang mudah.

Ketika namanya disebut sebagai juara, tentu ada kebahagiaan tersendiri.

Tetapi yang lebih membanggakan bagi saya bukan hanya piala yang dibawa pulang.

Saya melihat ada proses di balik piala itu.

Ada latihan.

Ada rasa lelah.

Ada kemauan untuk belajar.

Dan ada keberanian untuk tampil.

Nilai-nilai itulah yang jauh lebih penting untuk dibawa Ataya dalam perjalanan hidupnya.

Kecintaannya terhadap olahraga juga terlihat dari dunia futsal. Bersama tim futsal TK-nya, Ataya pernah meraih Juara 1. Tidak berhenti di sana, bersama tim Futsal Serenity, ia juga berhasil meraih Juara 2 kategori usia 6–8 tahun.

Bagi anak-anak, bermain futsal tentu identik dengan kegembiraan. Tetapi tanpa disadari, olahraga mengajarkan banyak hal: kerja sama, sportivitas, disiplin, komunikasi, dan belajar menerima kemenangan maupun kekalahan.

Hari ini mungkin Ataya bermain untuk mengejar bola.

Kelak, mudah-mudahan ia memahami bahwa dalam kehidupan pun kita harus terus mengejar cita-cita.

Bukan Hanya Tentang Olahraga

Prestasi Ataya tidak hanya datang dari lapangan olahraga.

Di sekolah, ia pernah meraih peringkat 3 di kelas 2. Sebuah pencapaian yang tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga.

Kemudian pada momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Ataya kembali menunjukkan kreativitasnya.

Dalam kegiatan yang dilaksanakan di RW 01 Kampung Cikiwul Tonggoh, ia berhasil meraih Juara 1 mewarnai dan Juara 1 kaligrafi.

Dua bidang yang berbeda, tetapi keduanya menunjukkan bahwa seorang anak tidak hanya membutuhkan kekuatan fisik, melainkan juga kreativitas, ketelitian, kesabaran, dan kemampuan menuangkan imajinasi.

Melihat hasil karya Ataya, saya kembali tersadar bahwa ternyata anak kecil yang terkadang masih suka bermain dan bercanda itu sedang belajar menemukan dunianya.

Ayah Tidak Ingin Membandingkan

Sebagai orang tua, terkadang kita tanpa sadar membandingkan anak kita dengan anak-anak lain.

“Anak itu sudah juara ini.”

“Anak itu sudah bisa begitu.”

“Anak seusianya sudah hebat.”

Perbandingan seperti itu mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi seorang anak bisa menjadi beban.

Karena itu, saya ingin belajar untuk tidak menjadikan prestasi anak lain sebagai ukuran keberhasilan Ataya.

Saya ingin melihat Ataya sebagai Ataya.

Dengan kelebihan dan kekurangannya.

Dengan proses dan waktunya sendiri.

Jika hari ini ia baru mampu meraih satu piala, saya ingin menghargainya.

Jika suatu hari ia gagal dan pulang tanpa membawa piala, saya juga ingin tetap memeluknya.

Sebab saya tidak ingin Ataya tumbuh dengan keyakinan bahwa ia hanya akan dicintai ketika menjadi juara.

Saya ingin ia tahu bahwa sebelum menjadi juara, ia adalah anak yang dicintai.

Piala boleh bertambah.

Medali boleh semakin banyak.

Prestasi boleh semakin tinggi.

Tetapi yang paling penting adalah tumbuh menjadi manusia yang baik, rendah hati, disiplin, bertanggung jawab, dan mampu menghargai orang lain.

Album Ataya Dalam sorotan lensa (Dok.Foto Pribadi)

Piala Itu Akan Disimpan, Tetapi Prosesnya Akan Menjadi Bekal

Mungkin suatu hari nanti Ataya sudah dewasa.

Piala-piala kecil masa SD mungkin sudah tersimpan di sudut lemari. Sertifikat mungkin mulai kusam. Foto-foto pertandingan mungkin menjadi kenangan.

Namun saya berharap ada sesuatu yang jauh lebih lama melekat dalam dirinya.

Bahwa ketika kecil, ia pernah belajar berjuang.

Bahwa ia pernah berlatih ketika teman-temannya sedang bermain.

Bahwa ia pernah merasakan kalah dan menang.

Bahwa ia pernah berdiri di podium.

Bahwa orang tuanya selalu hadir memberikan dukungan.

Dan yang terpenting, ia pernah merasakan bahwa setiap usahanya dihargai.

Untuk Ataya, Sang Bungsu

Ataya, Nak...

Ayah tidak tahu akan menjadi seperti apa perjalanan hidupmu kelak.

Ayah juga tidak tahu apakah suatu hari nanti kamu akan menjadi karateka, atlet futsal, seniman, ilmuwan, guru, pengusaha, atau memilih jalan lain yang belum pernah Ayah bayangkan.

Dan Ayah tidak ingin memaksamu menjadi seperti siapa pun.

Cukup jadilah Ataya yang terus mau belajar dan berusaha.

Jika suatu hari kamu menjadi juara, jangan sombong.

Jika suatu hari kamu kalah, jangan menyerah.

Jika suatu hari kamu gagal, jangan merasa menjadi anak yang tidak mampu.

Karena dalam hidup, tidak semua pertandingan harus dimenangkan.

Ada pertandingan yang mengajarkan kita tentang keberanian.

Ada kekalahan yang mengajarkan kita tentang kesabaran.

Ada kegagalan yang justru membawa kita menuju keberhasilan.

Ayah dan Ibu mungkin tidak selalu bisa memberikan semua yang kamu inginkan. Tetapi kami akan berusaha memberikan sesuatu yang lebih penting: doa, dukungan, kesempatan untuk belajar, dan keyakinan bahwa kamu mampu menjadi versi terbaik dari dirimu sendiri.

Teruslah melangkah, Nak.

Langkahmu mungkin masih kecil.

Pialamu mungkin belum banyak.

Prestasi yang kamu raih mungkin belum sebesar anak-anak lainnya.

Tetapi bagi Ayah dan Ibu, setiap langkahmu adalah cerita.

Setiap usahamu adalah kebanggaan.

Dan setiap pencapaianmu adalah alasan untuk bersyukur.

Karena kami percaya, anak tidak harus menjadi yang terbaik dibandingkan orang lain. Anak hanya perlu terus bertumbuh menjadi lebih baik dari dirinya yang kemarin.

Selamat terus bertumbuh, Ataya Rachman Pradana Putra.

Juara hari ini bukanlah akhir perjalanan. Ia hanyalah satu titik kecil dalam perjalanan panjang menuju masa depan.

Dan Ayah akan selalu bangga menjadi saksi dari setiap langkah kecilmu menuju mimpi-mimpi besar.

Teruslah berproses, teruslah belajar, dan jangan pernah berhenti bermimpi.

Dari seorang Ayah yang mungkin tidak selalu pandai mengungkapkan rasa bangga, tetapi diam-diam selalu menyimpan doa terbaik untuk anak-anaknya.

Salam Blogger!

 



1 comment: