Sebuah Catatan dari Hati Seorang Guru
Oleh: Guru Ataya (Iwan
Sumantri)
Setiap hari guru diminta menjadi teladan. Guru diminta sabar ketika menghadapi perbedaan, bijaksana ketika menghadapi persoalan, ikhlas ketika pengabdiannya tidak selalu terlihat, dan tetap tersenyum meskipun terkadang ada luka yang harus disimpan sendiri.
Namun,
di balik kata pengabdian, ada pula pertanyaan yang kadang mengusik hati:
Benarkah guru selalu dimuliakan?
Bagaimana jika guru yang mengajarkan kedamaian justru dimusuhi? Guru yang menanamkan cinta justru dibenci? Guru yang membangun kebersamaan justru dikucilkan? Guru yang berusaha menjaga prinsip justru disingkirkan?
Puisi
ini bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah kegelisahan, perenungan, sekaligus
suara hati seorang guru yang mencoba melihat kembali makna pengabdian dari sisi
yang mungkin jarang dibicarakan.
Sebab
terkadang, seorang guru tidak membutuhkan tepuk tangan. Ia hanya ingin dihargai
sebagai manusia yang juga memiliki hati, perasaan, harapan, dan luka.
Dan dari kegelisahan itulah puisi ini lahir:
“Katanya
Guru Dimuliakan, Mengapa Guru Justru Disingkirkan?”
Oleh : Guru Ataya (Iwan
Sumantri)
Katanya Guru Pemberi Kedamaian
Maka Guru Berkeliling
Menyebarkan Hati Damai, Rasa Damai, Ilmu dan
Prinsip Damai Pada Setiap Siswa
Tetapi Guru Dimusihi
Katanya Guru Penanam Cinta
Makanya Guru Pergi Ke seantero negeri
mengulurkan tangan cinta
Menyanyikan Lagu Cinta
Melantunkan puisi cinta
Tetapi guru di benci
Katanya Guru Pemberi Kemesraan
Maka Guru Menelusuri Nusantara
Mengakrabi setiap manusia
Merangkul Alam dan segala Hamba
Mengikati Tali Sejati Persaudaraan
Tetapi Guru Dikucilkan
Katanya Guru Pembangun Demokrasi
Maka Guru Buka Hati
Guru Dewasakan Pikiran Siswa
Agar Setiap Insan Mendapatkan Tempat dan ruang
Tapi Guru di buang
Katanya guru Perangai Kebersamaan
Maka Guru Hindarkan kemenangan
Tak tega siapapun dikalahkan
Guru ikat diri dalam maiyah kebersamaan
Profesionalisme Tak sejengkalpun ditinggalkan
Tetapi Guru Dihina dan ditiadakan
Katanya Guru Pemimpi Keselamatan
Maka Guru Kuakkan Setiap Jalan Keluar
Guru bawakan Segala Persyaratan
Guru Hembuskan Udara Ketetraman
Guru Gali Cinta, agar segalanya menyejukan
Tapi Jalan Guru Buntu dan Guru dicelakakan
Katanya Guru Pendamba Kesejahteraan
Maka Guru minggir menghindar persaingan tak bermakna
Guru Usir dirinya sendiri dari ramainya perebutan kekuasaan merintis Keadilan
Dengan menomor duakan dirinya sendiri
Tetapi Muka Guru diludahi
Katanya Guru sedang menjalankan reformasi
Maka Guru Berpuasa
Tak Ikut Mencuri
Tak Ikut Berkuasa
Tapi Guru Dibikin sengsara

Guru: digugu dan ditiru.semoga di kesempatan apapun, tantangan apapun, guru tetap bisa jadi sosok yang layak ditiru.
ReplyDelete