Friday, May 29, 2026

TKA... Oh... TKA

TKA Oh TKA

Oleh : Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak- 29 Mei 2026. Tiga hari seteleh pengumuman hasil TKA (26 Mei 2026) entah kenapa  jari-jari ini ingin menyentuh keybord laptop untuk menuliskan apa yang ada di hati ini tentang hasil TKA, padahal jari tanganku yang kiri sedang bengkak tertusuk tusukan sate. Rasanya dada ini terasa sesak, apalagi seteleh ngobrol dengan beberepa guru disekolah tentang hasil TKA yang didapat murid-murid kami.

Tiga hari setelah pengumuman hasil TKA, aku melihat dan mengamati nilai TKA satu persatu dari 256 siswa yang mengikuti TKA. Lho kok hasilnya seperti ini (gumam ku dalam hati), jauh dari ekspektasi, angan dan harapanku selaku guru matematika.

Setelah pengumuman tersebut, di Medsos banyak unggahan dengan foto murid dengan nilai sempurna angka tinggi (Istimewa)

Wajah-wajah tersenyum dipasang besar-besar. Di beri ucapan selamat, di like dikomentari positif  sebagaimana kita menjemput sang juara.

Aku terdiam, sambil berpikir (senang rasanya buat murid yang mempeoleh nilai tinggi atau terbaik di sekolahnya, tapi bagaimana dengan murid yang memperoleh nilai TKA tidak sesuai dengan ekspektasinya).

Lalu aku termenung, diam. Bukan karena iri.

Tapi karena sebuah pertanyaan kecil tiba-tiba mengetuk keras dikepala: Hari ini… kita sedang hidup di sistem pendidikan apa?

Tiba-tiba muncul ada TKA?

Aku kebetulan diberi tugas sebagai Wakasek Kurikulum disekolahku. Salah satu tugasnya adalah memverifikasi dan merangking nilai TKA untuk mengumumkan 10 besar siswa peraih nilai TKA tertinggi sekolah.

Dari hasil perangkinan itu muncul satu murid yang masuk peraih 10 murid nilai tertinggi. Murid itu sehari-harinya biasa, jarang masuk sekolah, sikap perilaku kurang baik menurut penilaian beberapa guru. Dan yang membuat kami berpikir seribu kali. Ada guru yang berpikir, saya tidak setuju dia diumumkan masuk 10 besar peraih nilai TKA tertinggi.

Dari diskusi itu, pikiranku melayang membayangkan pada murid yang punya rangking dikelasnya sejak kelas 7 sampai terakhir di kelas 9 tidak masuk di urutan 10 besar peraih nilai TKA.

Selain itu aku membayangkan juga seorang murid. Mungkin di sudut kamar sempit. Hidup dengan neneknya atau di rumah kontrakan sederhana. Atau didaerah yang sinyal saja masih rebutan dengan angin.

Banyak murid yang  nilainya jauh di bawah. Bahkan mungkin tidak pernah masuk ranking. Tak pernah dipanggil saat upacara. Tak pernah jadi contoh di depan kelas.

Tangannya menggenggam ponsel usang, yang layarnya juga dah retak-retak dan banyak goresan

Friday, May 22, 2026

Hari Penentuan di GBLA: Saatnya Persib Mengunci Tahta Juara!

Hari Penentuan di GBLA: Saatnya Persib Mengunci Tahta Juara!

Oleh : Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Sabtu, 23 Mei 2026 mulai pukul 15.30 WIB akan menjadi hari dan malam yang sangat dinanti Bobotoh. Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) dipastikan berubah menjadi lautan biru saat Persib Bandung menjamu Persijap Jepara pada laga terakhir yang sangat menentukan. Pertandingan ini bukan sekadar duel biasa, tetapi menjadi gerbang menuju gelar juara bagi Maung Bandung. Persib hanya membutuhkan hasil imbang untuk memastikan diri menjadi kampiun musim ini, apa pun hasil pertandingan pesaing terdekatnya antara Borneo FC melawan Malut United.

Atmosfer panas, tekanan tinggi, dan harapan jutaan Bobotoh akan menyelimuti pertandingan penuh gengsi ini. Namun jika melihat kualitas tim, kedalaman skuad, hingga pengalaman pelatih, Persib memang berada di posisi yang lebih diunggulkan.

Bojan Hodak dan Mental Juara Persib

Di balik konsistensi Persib musim ini, sosok Bojan Hodak menjadi figur penting yang berhasil membangun karakter tim yang kuat. Pelatih asal Kroasia tersebut dikenal tenang, disiplin, dan piawai membaca permainan lawan. Bojan tidak hanya membentuk Persib sebagai tim menyerang, tetapi juga menjadikan Maung Bandung memiliki organisasi pertahanan yang kokoh.