Refleksi Diri Seorang Guru
Oleh : Guru Ataya (Iwan Sumantri)
Ketika melihat sebuah berita tentang seorang anak perempuan yang masih duduk di kelas 1 SD yang berteriak meratap dan menangis di hadapan jasad ayahnya, ada sesuatu yang ikut runtuh di dalam dada saya.
Menurut pemberitaan yang beredar, sang ayah diduga mencuri ayam. Dugaan itu kemudian berujung pada aksi main hakim sendiri oleh warga hingga nyawanya tak tertolong.
Saya tidak sedang membela perbuatan mencuri. Kalau memang bersalah, tentu ada hukum yang harus ditegakkan.
Tetapi sejak kapan nyawa manusia menjadi semurah seekor ayam? Sejak kapan kemarahan bersama terasa lebih benar daripada akal sehat dan hati nurani?
| Tangisan pilu seorang anak perempuan saat melihat ayahnya telah meninggal dunia setelah di amuk massa karena diduga mencuri ayam di Tabanan Bali, Jumat 24/7 dini hari (Foto tangkapan layar IG) |
Saya terus memikirkan satu hal.
Bagaimana jika pada saat lelaki itu tergeletak tak berdaya, telepon genggamnya
berdering?
Lalu seseorang yang berada di lokasi sana mengangkat panggilan itu.
Dan dari seberang sana terdengar suara anak kecil yang polos.
"Pak... cepat pulang ya kalau sudah dapat uang. Di rumah sudah tidak ada beras."
Saya tidak tahu apakah itu benar-benar terjadi. Mungkin hanya imajinasi saya. Tetapi bukankah sering kali sebuah imajinasi justru mampu menampar nurani yang mulai mati?