Tuesday, September 29, 2026

Teqball: Ketika Bola, Meja, dan Matematika Bertemu di Asian Games 2026

Teqball: Ketika Bola, Meja, dan Matematika Bertemu di Asian Games 2026

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Sumaya Atlit TeqBall

Cibadak- 29 September 20206. Guru Ataya, ada banyak cara untuk mencintai olahraga. Ada yang mencintainya karena gol. Ada yang terpukau oleh kecepatan. Ada yang kagum melihat kekuatan fisik. Ada pula yang tertarik karena olahraga itu menghadirkan sesuatu yang berbeda.

Saya termasuk yang terakhir.

Sebagai guru Matematika di SMPN 3 Cibadak, perhatian saya dalam perhelatan Asian Games Aichi-Nagoya 2026 justru tertuju pada sebuah cabang olahraga yang mungkin belum terlalu familiar bagi sebagian masyarakat Indonesia yaitu Teqball.

Asian Games ke-20 berlangsung di Aichi-Nagoya, Jepang, pada 19 September sampai 4 Oktober 2026. Ajang olahraga terbesar di Asia ini mempertandingkan 43 cabang olahraga, sementara Indonesia mengirimkan kontingen untuk berkompetisi pada 35 cabang olahraga dengan 432 atlet. Salah satu cabang yang diikuti Indonesia adalah Teqball.

Dan ternyata, Teqball bukan sekadar menjadi pelengkap.

Indonesia langsung mencatat sejarah.

Dua Medali dari Cabang yang Masih Asing bagi Banyak Orang

Teqball menjadi salah satu cabang baru dalam program Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Pada debutnya di Asian Games, Indonesia berhasil membawa pulang dua medali dari nomor tunggal.

Sumaya meraih medali perak nomor tunggal putri, sedangkan Yoga Ardika Putra meraih medali perunggu nomor tunggal putra. Raihan Yoga tercatat sebagai medali pertama Indonesia dari cabang Teqball dalam sejarah keikutsertaan di Asian Games.

Sumaya peraih medali Perak Asian Games 2026 (Dok.Foto Pribadi)

Perjalanan Sumaya juga menarik untuk diperhatikan.

Ia baru sekitar dua tahun menekuni Teqball setelah sebelumnya berkiprah di sepak takraw. Namun, dalam waktu relatif singkat, ia mampu mencapai final Asian Games 2026. Di final, Sumaya harus mengakui keunggulan wakil Myanmar, Wai Khin Hnin, melalui pertandingan ketat dengan skor 12-10, 8-12, 9-12 dan akhirnya membawa pulang medali perak.

Sementara itu, Yoga Ardika Putra berhasil mengamankan medali perunggu nomor tunggal putra. Bagi Yoga, pencapaian tersebut menjadi hasil dari proses latihan dan perjuangan panjang sekaligus momentum penting bagi perkembangan Teqball Indonesia.

Dua medali tersebut seolah memberikan pesan sederhana:

Jangan pernah meremehkan cabang olahraga yang belum banyak dikenal. Bisa jadi, dari sanalah sejarah baru sedang dimulai.

Sebenarnya, Apa Itu Teqball?

Bagi saya, Teqball menarik karena sekilas olahraga ini membuat orang bertanya: “Ini sepak bola atau tenis meja?”

Jawabannya: bukan keduanya.

Teqball merupakan olahraga yang memadukan unsur sepak bola dan tenis meja. Olahraga ini dikembangkan di Hungaria pada 2012 dan dimainkan menggunakan sebuah meja khusus yang permukaannya melengkung.

Bola yang digunakan adalah bola sepak berukuran standar, sementara pemain menggunakan berbagai bagian tubuh, kecuali tangan dan lengan, untuk mengontrol serta mengembalikan bola melewati meja.

Di sinilah keunikan Teqball. Tidak ada raket. Tidak ada net seperti tenis. Tidak boleh menggunakan tangan seperti sepak bola.

Yang dibutuhkan adalah kombinasi kontrol bola, koordinasi tubuh, konsentrasi, ketepatan, kecepatan mengambil keputusan, dan kemampuan membaca arah pantulan bola.

Karena itulah, olahraga ini bukan hanya mengandalkan kekuatan. Otak pun harus ikut bermain.


Melalui Layar Kaca TV Sport Saat Sumaya Bertanding di Final Asian Games 2026

Baca Juga:


Bagaimana Cara Bermain Teqball?

Teqball dapat dimainkan dalam nomor tunggal maupun ganda.

Pertandingan menggunakan sistem best of three sets. Setiap set dimainkan sampai seorang pemain atau pasangan mencapai 12 poin. Pemain atau pasangan bergantian melakukan servis setiap dua poin.

Ada aturan yang membuat olahraga ini semakin menarik.

Seorang pemain maksimal menggunakan tiga sentuhan untuk mengembalikan bola ke wilayah lawan. Bola tidak boleh disentuh dengan bagian tubuh yang sama dua kali secara berturut-turut.

Tangan dan lengan juga tidak boleh digunakan untuk memainkan bola.

Selain itu, pemain tidak diperbolehkan menyentuh meja maupun lawan ketika permainan berlangsung.

Bayangkan!

Bola datang dengan cepat. Pemain harus membaca arah bola. Kemudian memilih apakah menggunakan kaki, paha, dada atau kepala. Hanya punya beberapa sentuhan. Lalu bola harus dikembalikan secara tepat ke sisi lawan. Dalam hitungan detik, tubuh dan otak harus bekerja bersama.

Teqball Bukan Sekadar Menendang Bola

Inilah bagian yang membuat saya sebagai guru Matematika tertarik. Ketika melihat pemain Teqball mengembalikan bola, sesungguhnya kita sedang melihat penerapan berbagai konsep yang sering kita temukan dalam pembelajaran. Ada sudut. Ada arah. Ada jarak. Ada kecepatan. Ada pantulan. Ada prediksi posisi. Ada pula pengambilan keputusan berdasarkan situasi yang terus berubah.

Bola yang dipukul atau ditendang dengan sudut tertentu akan menghasilkan arah pantulan tertentu. Pemain harus memperkirakan ke mana bola akan bergerak dan di mana bola kemungkinan jatuh.

Bukankah itu menarik?

Matematika ternyata tidak selalu hadir dalam bentuk angka di papan tulis.

Kadang-kadang Matematika hadir dalam sebuah bola yang melengkung, bergerak cepat, lalu dipantulkan kembali ke arah lawan.

Dokumentasi lewat layar Kaya saat Sumaya berlaga di Final Asian Games 2026

Dari Meja Teqball Kita Belajar Tentang Ketepatan

Dalam pembelajaran Matematika, saya sering mengatakan kepada siswa bahwa jawaban yang benar tidak selalu cukup.

Kita membutuhkan proses yang tepat.

Teqball mengajarkan hal yang sama.

Pemain tidak cukup hanya memiliki kemampuan menendang bola dengan keras. Bola harus diarahkan. Waktu sentuhan harus tepat. Sudut harus diperhitungkan. Posisi tubuh harus disesuaikan. Dan keputusan harus dibuat dalam waktu yang sangat singkat.

Dengan kata lain yaitu Teqball mengajarkan bahwa kekuatan tanpa ketepatan belum tentu menghasilkan keberhasilan. Begitu pula dalam kehidupan. Kita boleh memiliki kemampuan. Kita boleh memiliki kecepatan. Kita boleh memiliki ambisi. Tetapi semuanya membutuhkan arah dan ketepatan.

Sumaya dan Yoga: Membuka Pintu untuk Generasi Berikutnya

Apa yang dilakukan Sumaya dan Yoga di Aichi-Nagoya 2026 bukan sekadar soal dua keping medali.

Ada sesuatu yang jauh lebih penting.

Mereka sedang memperkenalkan sebuah cabang olahraga baru kepada masyarakat Indonesia.

Bisa jadi hari ini anak-anak Indonesia belum banyak mengenal Teqball.

Tetapi setelah melihat Sumaya berdiri di podium dengan medali perak dan Yoga dengan medali perunggu, mungkin akan muncul pertanyaan dari seorang anak:

“Ayah, Teqball itu apa?”

Kemudian ia mencari tahu.

Ia melihat meja Teqball.

Ia mencoba memainkan bola.

Ia berlatih.

Ia jatuh.

Ia bangkit.

Dan mungkin, beberapa tahun kemudian, anak itu menjadi atlet Teqball berikutnya.

Begitulah olahraga berkembang.

Satu prestasi melahirkan rasa ingin tahu.
Rasa ingin tahu melahirkan minat.
Minat melahirkan latihan.
Dan latihan bisa melahirkan prestasi.

Dari Aichi-Nagoya Menuju Sekolah

Sebagai guru Matematika di SMPN 3 Cibadak, saya melihat Teqball bukan hanya sebagai tontonan olahraga.

Saya melihatnya sebagai sumber belajar.

Guru dapat mengambil fenomena olahraga untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih dekat dengan kehidupan siswa.

Misalnya, dari sebuah pertandingan Teqball, siswa dapat diajak mengamati:

  • sudut datang dan sudut pantulan bola;
  • jarak pemain dengan meja;
  • perhitungan skor;
  • peluang memenangkan pertandingan;
  • pola pergerakan bola;
  • kecepatan dan waktu;
  • bahkan transformasi geometri dari posisi pemain dan bola.

Dengan demikian, olahraga tidak berhenti sebagai aktivitas fisik.

Olahraga dapat menjadi laboratorium kehidupan.

Dan pembelajaran Matematika tidak harus selalu dimulai dari buku paket.

Kadang-kadang pembelajaran terbaik justru dimulai dari sesuatu yang membuat anak berkata:

“Wah, ternyata Matematika ada di situ!”

Teqball, Olahraga Masa Depan?

Belum ada yang dapat memastikan sejauh mana Teqball akan berkembang di Indonesia.

Namun, debutnya di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 telah memberikan panggung yang sangat penting. Indonesia tidak hanya ikut serta.

Indonesia langsung mencatat prestasi melalui perak Sumaya dan perunggu Yoga Ardika Putra.

Dari dua medali itu, kita dapat belajar bahwa prestasi tidak selalu datang dari cabang olahraga yang sudah lama populer.

Kadang-kadang, prestasi justru datang dari sesuatu yang baru.

Dari olahraga yang belum banyak dikenal.

Dari meja yang bentuknya tidak biasa.

Dari bola yang bergerak dengan cara yang berbeda.

Dan dari atlet yang berani mengambil jalan yang mungkin belum banyak ditempuh orang lain.

Teqball telah membuka pintunya di Asian Games 2026.

Kini pertanyaannya bukan lagi:

“Teqball itu olahraga apa?”

Tetapi:

“Maukah kita mengenalnya, mengembangkannya, dan memberi ruang kepada generasi muda Indonesia untuk menjadi bagian dari sejarah berikutnya?”

Karena pada akhirnya, olahraga bukan hanya tentang siapa yang berdiri di podium.

Olahraga adalah tentang siapa yang berani memulai, siapa yang tekun berlatih, dan siapa yang meninggalkan jejak untuk generasi setelahnya.

Dan dari Aichi-Nagoya 2026, Sumaya dan Yoga telah meninggalkan sebuah jejak yaitu bahwa dari sebuah meja lengkung dan sebuah bola, Indonesia pun bisa menulis sejarah.

Salam Blogger!



No comments:

Post a Comment