Teqball: Ketika Bola, Meja, dan Matematika Bertemu di Asian Games 2026
Oleh:
Guru Ataya (Iwan Sumantri)
![]() |
| Sumaya Atlit TeqBall |
Saya
termasuk yang terakhir.
Sebagai
guru Matematika di SMPN 3 Cibadak, perhatian saya dalam perhelatan Asian Games
Aichi-Nagoya 2026 justru tertuju pada sebuah cabang olahraga yang mungkin belum
terlalu familiar bagi sebagian masyarakat Indonesia yaitu Teqball.
Asian
Games ke-20 berlangsung di Aichi-Nagoya, Jepang, pada 19 September sampai 4
Oktober 2026. Ajang olahraga terbesar di Asia ini mempertandingkan 43 cabang
olahraga, sementara Indonesia mengirimkan kontingen untuk berkompetisi pada 35
cabang olahraga dengan 432 atlet. Salah satu cabang yang diikuti Indonesia
adalah Teqball.
Dan
ternyata, Teqball bukan sekadar menjadi pelengkap.
Indonesia
langsung mencatat sejarah.
Dua
Medali dari Cabang yang Masih Asing bagi Banyak Orang
Teqball
menjadi salah satu cabang baru dalam program Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
Pada debutnya di Asian Games, Indonesia berhasil membawa pulang dua medali dari
nomor tunggal.
Sumaya meraih medali perak nomor tunggal putri, sedangkan Yoga Ardika Putra meraih medali perunggu nomor tunggal putra. Raihan Yoga tercatat sebagai medali pertama Indonesia dari cabang Teqball dalam sejarah keikutsertaan di Asian Games.
![]() |
| Sumaya peraih medali Perak Asian Games 2026 (Dok.Foto Pribadi) |
Perjalanan
Sumaya juga menarik untuk diperhatikan.
Ia
baru sekitar dua tahun menekuni Teqball setelah sebelumnya berkiprah di sepak
takraw. Namun, dalam waktu relatif singkat, ia mampu mencapai final Asian Games
2026. Di final, Sumaya harus mengakui keunggulan wakil Myanmar, Wai Khin Hnin,
melalui pertandingan ketat dengan skor 12-10, 8-12, 9-12 dan akhirnya membawa
pulang medali perak.
Sementara
itu, Yoga Ardika Putra berhasil mengamankan medali perunggu nomor tunggal
putra. Bagi Yoga, pencapaian tersebut menjadi hasil dari proses latihan dan
perjuangan panjang sekaligus momentum penting bagi perkembangan Teqball
Indonesia.
Dua
medali tersebut seolah memberikan pesan sederhana:
Jangan
pernah meremehkan cabang olahraga yang belum banyak dikenal. Bisa jadi, dari
sanalah sejarah baru sedang dimulai.
Sebenarnya,
Apa Itu Teqball?
Bagi
saya, Teqball menarik karena sekilas olahraga ini membuat orang bertanya: “Ini
sepak bola atau tenis meja?”
Jawabannya:
bukan keduanya.
Teqball
merupakan olahraga yang memadukan unsur sepak bola dan tenis meja. Olahraga ini
dikembangkan di Hungaria pada 2012 dan dimainkan menggunakan sebuah meja khusus
yang permukaannya melengkung.
Bola
yang digunakan adalah bola sepak berukuran standar, sementara pemain
menggunakan berbagai bagian tubuh, kecuali tangan dan lengan, untuk mengontrol
serta mengembalikan bola melewati meja.
Di
sinilah keunikan Teqball. Tidak ada raket. Tidak ada net seperti tenis. Tidak
boleh menggunakan tangan seperti sepak bola.
Yang
dibutuhkan adalah kombinasi kontrol bola, koordinasi tubuh, konsentrasi,
ketepatan, kecepatan mengambil keputusan, dan kemampuan membaca arah pantulan
bola.
Karena
itulah, olahraga ini bukan hanya mengandalkan kekuatan. Otak pun harus ikut
bermain.
![]() |
| Melalui Layar Kaca TV Sport Saat Sumaya Bertanding di Final Asian Games 2026 |
Baca Juga:
Bagaimana
Cara Bermain Teqball?
Teqball
dapat dimainkan dalam nomor tunggal maupun ganda.
Pertandingan
menggunakan sistem best of three sets. Setiap set dimainkan sampai seorang
pemain atau pasangan mencapai 12 poin. Pemain atau pasangan bergantian
melakukan servis setiap dua poin.
Ada
aturan yang membuat olahraga ini semakin menarik.
Seorang
pemain maksimal menggunakan tiga sentuhan untuk mengembalikan bola ke wilayah
lawan. Bola tidak boleh disentuh dengan bagian tubuh yang sama dua kali secara
berturut-turut.
Tangan
dan lengan juga tidak boleh digunakan untuk memainkan bola.
Selain
itu, pemain tidak diperbolehkan menyentuh meja maupun lawan ketika permainan
berlangsung.
Bayangkan!
Bola
datang dengan cepat. Pemain harus membaca arah bola. Kemudian memilih apakah
menggunakan kaki, paha, dada atau kepala. Hanya punya beberapa sentuhan. Lalu
bola harus dikembalikan secara tepat ke sisi lawan. Dalam hitungan detik, tubuh
dan otak harus bekerja bersama.
Teqball
Bukan Sekadar Menendang Bola
Inilah
bagian yang membuat saya sebagai guru Matematika tertarik. Ketika melihat
pemain Teqball mengembalikan bola, sesungguhnya kita sedang melihat penerapan
berbagai konsep yang sering kita temukan dalam pembelajaran. Ada sudut. Ada arah.
Ada jarak. Ada kecepatan. Ada pantulan. Ada prediksi posisi. Ada pula
pengambilan keputusan berdasarkan situasi yang terus berubah.
Bola
yang dipukul atau ditendang dengan sudut tertentu akan menghasilkan arah
pantulan tertentu. Pemain harus memperkirakan ke mana bola akan bergerak dan di
mana bola kemungkinan jatuh.
Bukankah
itu menarik?
Matematika
ternyata tidak selalu hadir dalam bentuk angka di papan tulis.
Kadang-kadang
Matematika hadir dalam sebuah bola yang melengkung, bergerak cepat, lalu
dipantulkan kembali ke arah lawan.
![]() |
| Dokumentasi lewat layar Kaya saat Sumaya berlaga di Final Asian Games 2026 |
Dari
Meja Teqball Kita Belajar Tentang Ketepatan
Dalam
pembelajaran Matematika, saya sering mengatakan kepada siswa bahwa jawaban yang
benar tidak selalu cukup.
Kita
membutuhkan proses yang tepat.
Teqball
mengajarkan hal yang sama.
Pemain
tidak cukup hanya memiliki kemampuan menendang bola dengan keras. Bola harus
diarahkan. Waktu sentuhan harus tepat. Sudut harus diperhitungkan. Posisi tubuh
harus disesuaikan. Dan keputusan harus dibuat dalam waktu yang sangat singkat.
Dengan
kata lain yaitu Teqball mengajarkan bahwa kekuatan tanpa ketepatan belum tentu
menghasilkan keberhasilan. Begitu pula dalam kehidupan. Kita boleh memiliki
kemampuan. Kita boleh memiliki kecepatan. Kita boleh memiliki ambisi. Tetapi
semuanya membutuhkan arah dan ketepatan.
Sumaya
dan Yoga: Membuka Pintu untuk Generasi Berikutnya
Apa
yang dilakukan Sumaya dan Yoga di Aichi-Nagoya 2026 bukan sekadar soal dua
keping medali.
Ada
sesuatu yang jauh lebih penting.
Mereka
sedang memperkenalkan sebuah cabang olahraga baru kepada masyarakat Indonesia.
Bisa
jadi hari ini anak-anak Indonesia belum banyak mengenal Teqball.
Tetapi
setelah melihat Sumaya berdiri di podium dengan medali perak dan Yoga dengan
medali perunggu, mungkin akan muncul pertanyaan dari seorang anak:
“Ayah,
Teqball itu apa?”
Kemudian
ia mencari tahu.
Ia
melihat meja Teqball.
Ia
mencoba memainkan bola.
Ia
berlatih.
Ia
jatuh.
Ia
bangkit.
Dan
mungkin, beberapa tahun kemudian, anak itu menjadi atlet Teqball berikutnya.
Begitulah
olahraga berkembang.
Satu prestasi melahirkan rasa
ingin tahu.
Rasa ingin tahu melahirkan minat.
Minat melahirkan latihan.
Dan latihan bisa melahirkan prestasi.
Dari
Aichi-Nagoya Menuju Sekolah
Sebagai
guru Matematika di SMPN 3 Cibadak, saya melihat Teqball bukan hanya sebagai
tontonan olahraga.
Saya
melihatnya sebagai sumber belajar.
Guru
dapat mengambil fenomena olahraga untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih
dekat dengan kehidupan siswa.
Misalnya,
dari sebuah pertandingan Teqball, siswa dapat diajak mengamati:
- sudut datang dan sudut pantulan bola;
- jarak pemain dengan meja;
- perhitungan skor;
- peluang memenangkan pertandingan;
- pola pergerakan bola;
- kecepatan dan waktu;
- bahkan transformasi geometri dari posisi
pemain dan bola.
Dengan
demikian, olahraga tidak berhenti sebagai aktivitas fisik.
Olahraga
dapat menjadi laboratorium kehidupan.
Dan
pembelajaran Matematika tidak harus selalu dimulai dari buku paket.
Kadang-kadang
pembelajaran terbaik justru dimulai dari sesuatu yang membuat anak berkata:
“Wah,
ternyata Matematika ada di situ!”
Teqball,
Olahraga Masa Depan?
Belum
ada yang dapat memastikan sejauh mana Teqball akan berkembang di Indonesia.
Namun,
debutnya di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 telah memberikan panggung yang sangat
penting. Indonesia tidak hanya ikut serta.
Indonesia
langsung mencatat prestasi melalui perak Sumaya dan perunggu Yoga Ardika
Putra.
Dari
dua medali itu, kita dapat belajar bahwa prestasi tidak selalu datang dari
cabang olahraga yang sudah lama populer.
Kadang-kadang,
prestasi justru datang dari sesuatu yang baru.
Dari
olahraga yang belum banyak dikenal.
Dari
meja yang bentuknya tidak biasa.
Dari
bola yang bergerak dengan cara yang berbeda.
Dan
dari atlet yang berani mengambil jalan yang mungkin belum banyak ditempuh orang
lain.
Teqball
telah membuka pintunya di Asian Games 2026.
Kini
pertanyaannya bukan lagi:
“Teqball
itu olahraga apa?”
Tetapi:
“Maukah
kita mengenalnya, mengembangkannya, dan memberi ruang kepada generasi muda
Indonesia untuk menjadi bagian dari sejarah berikutnya?”
Karena
pada akhirnya, olahraga bukan hanya tentang siapa yang berdiri di podium.
Olahraga
adalah tentang siapa yang berani memulai, siapa yang tekun berlatih, dan siapa
yang meninggalkan jejak untuk generasi setelahnya.
Dan
dari Aichi-Nagoya 2026, Sumaya dan Yoga telah meninggalkan sebuah jejak yaitu bahwa
dari sebuah meja lengkung dan sebuah bola, Indonesia pun bisa menulis sejarah.

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)


No comments:
Post a Comment