Surat cinta seorang ayah yang mungkin tak pernah pandai mengatakannya
Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)
Putriku, Krani Pratiwi...
Ada banyak hal yang ingin Ayah
katakan kepadamu.
Tetapi malam ini, Ayah ingin
mencoba menuliskannya.
Karena ada sebuah kenangan
yang rasanya terlalu indah jika hanya disimpan dalam ingatan.
Sabtu, 29 Agustus 2026.
Malam penutupan kegiatan HUT
Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.
Di antara riuhnya acara,
cahaya panggung, suara tepuk tangan, dan berbagai pertunjukan, ada satu momen
yang bagi Ayah terasa berbeda.
Malam itu Ayah berdiri
bersamamu.
Kita membacakan puisi.
Sederhana, bukan?
Hanya beberapa menit.
Hanya beberapa bait.
Tetapi, Nak...
Kadang-kadang Tuhan
menyelipkan kebahagiaan yang begitu besar di dalam sesuatu yang sangat
sederhana.
Ayah masih ingat saat kita
berdiri berdampingan.
Ayah melihatmu.
Dan dalam sekejap, waktu
seperti berhenti.
Di hadapan Ayah bukan lagi
sekadar seorang anak perempuan.
Ayah melihat seorang gadis
yang sedang tumbuh.
Seorang perempuan kecil yang
dahulu mungkin pernah Ayah genggam tangannya ketika belajar melangkah, kini
berdiri dengan percaya diri di samping Ayah.
Saat itu Ayah tiba-tiba
sadar...
Ternyata waktu telah berjalan
sejauh itu.
Dan waktu tidak pernah meminta
izin kepada seorang ayah ketika membawa anaknya tumbuh dewasa.
Ia hanya berjalan.
Pelan-pelan.
Hari demi hari.
Tahun demi tahun.
Sampai suatu ketika Ayah
tersadar:
"Anakku sudah
besar."
Beberapa waktu kemudian, Ayah
melihat video yang kamu buat dan kamu simpan di Instagram.
Ayah menontonnya.
Lalu tersenyum.
Kemudian Ayah menontonnya
lagi.
Entah kenapa, kali ini ada
rasa haru yang memenuhi dada.
Mungkin kamu melihat video itu
sebagai sebuah kenangan.
Mungkin sebagai sebuah
unggahan.
Tetapi bagi Ayah...
video itu adalah hadiah.
Hadiah yang tidak pernah Ayah
minta.
Hadiah yang tidak kamu beli.
Hadiah yang tidak dibungkus.
Tetapi justru karena itulah,
hadiah itu menjadi begitu berharga.
Sebab di dalamnya ada sesuatu
yang tidak bisa dibeli dengan uang:
waktu yang pernah kita miliki
bersama.
Nak...
Kelak kamu mungkin akan
memiliki banyak hal.
Pendidikan yang tinggi.
Pekerjaan yang baik.
Teman-teman yang banyak.
Mungkin suatu hari nanti kamu
akan memiliki rumahmu sendiri.
Kehidupanmu sendiri.
Dan mungkin akan ada seseorang
yang datang mencintaimu, menjagamu, dan berjalan bersamamu.
Ketika hari itu tiba, Ayah
akan belajar melepaskanmu sedikit demi sedikit.
Bukan karena Ayah tidak ingin
kamu dekat.
Tetapi karena Ayah tahu...
tugas seorang ayah bukanlah
menahan anaknya agar selalu berada di sisinya.
Tugas seorang ayah adalah
membekali anaknya agar mampu berjalan ketika suatu hari tangan Ayah tidak lagi
bisa menggenggam tangannya.
Dan jika nanti langkahmu
membawamu jauh dari rumah...
pergilah, Nak.
Terbanglah setinggi yang kamu
mampu.
Kejar mimpi-mimpimu.
Jadilah perempuan yang kuat.
Jadilah manusia yang baik.
Tetapi jangan pernah merasa
bahwa kamu harus menjadi sempurna untuk membuat Ayah bangga.
Menjadi dirimu sendiri saja
sudah cukup.
Ayah tidak tahu apakah selama
ini Ayah sudah menjadi ayah yang sempurna untukmu.
Mungkin Ayah pernah salah.
Pernah terlalu keras.
Pernah kurang memahami.
Pernah tidak sempat
mendengarkan ceritamu.
Pernah sibuk dengan pekerjaan
dan berbagai urusan kehidupan.
Untuk semua itu, maafkan Ayah.
Tetapi ada satu hal yang tidak
pernah berubah:
Ayah selalu mencintaimu.
Bahkan pada hari-hari ketika
Ayah diam.
Bahkan ketika Ayah memarahimu.
Bahkan ketika kita berbeda
pendapat.
Bahkan ketika Ayah tidak
mengatakannya.
Cinta seorang ayah kadang
memang aneh.
Ia tidak selalu pandai
berbicara.
Ia lebih sering berwujud
kekhawatiran.
"Sudah makan?"
"Jangan pulang terlalu
malam."
"Hati-hati di
jalan."
"Jaga diri."
Kalimat-kalimat sederhana itu
mungkin terdengar biasa.
Tetapi sesungguhnya, di balik
semuanya ada satu kalimat yang tidak terucapkan:
"Ayah sangat
menyayangimu, Nak."
Dan malam itu...
ketika kita membacakan puisi
bersama...
Ayah sebenarnya tidak hanya
sedang membaca puisi.
Ayah sedang menyimpan sebuah
kenangan.
Kenangan yang mungkin baru
terasa nilainya bertahun-tahun kemudian.
Karena Ayah tahu, suatu hari
nanti rambut Ayah akan memutih.
Tenaga Ayah akan berkurang.
Langkah Ayah akan melambat.
Dan mungkin suatu hari nanti,
Ayah hanya bisa melihatmu dari kejauhan.
Pada saat itu, mungkin video
sederhana itu akan menjadi sangat berharga.
Ayah bisa menekan tombol play.
Lalu melihat kembali seorang
gadis bernama Krani berdiri di samping Ayah.
Dan Ayah bisa berkata dalam
hati:
"Pernah ada masa ketika
kami berdiri bersama di atas panggung. Pernah ada masa ketika suaranya dan
suara Ayah menyatu dalam sebuah puisi."
Betapa indahnya jika sebuah
kenangan bisa menjadi rumah bagi kerinduan.
Krani...
Terima kasih telah memberikan
Ayah hadiah itu.
Terima kasih telah
mengabadikan momen yang mungkin bagi orang lain terlihat biasa saja.
Bagi Ayah, itu luar biasa.
Dan jika tulisan ini suatu
hari sampai kepadamu, ketahuilah:
Ayah tidak sedang menulis
tentang sebuah puisi.
Ayah sedang menulis tentangmu.
Tentang putri kecil yang
tumbuh menjadi perempuan yang Ayah banggakan.
Tentang waktu yang ternyata
begitu cepat berlalu.
Tentang seorang ayah yang
diam-diam takut kehilangan masa-masa kecil anaknya.
Dan tentang cinta yang tidak
pernah selesai, meskipun suatu hari nanti Ayah mungkin tidak lagi mampu
mengatakannya.
Jadi, Nak...
Jika suatu hari kamu merasa
lelah,
pulanglah.
Jika dunia terasa terlalu
keras,
pulanglah.
Jika kamu gagal,
pulanglah.
Jika kamu berhasil,
pulanglah.
Tidak perlu membawa apa-apa.
Tidak perlu menjadi
siapa-siapa.
Karena di mata Ayah...
kamu tidak pernah harus
menjadi sempurna untuk dicintai.
Kamu adalah Krani.
Putri Ayah.
Dan itu sudah lebih dari cukup.
Mungkin suatu hari nanti kamu
akan lupa banyak hal tentang masa kecilmu.
Kamu mungkin lupa pakaian yang
pernah kamu kenakan.
Lupa tempat-tempat yang pernah
kita datangi.
Lupa percakapan-percakapan
kecil yang pernah kita lakukan.
Tetapi Ayah berharap...
jangan pernah lupa satu hal:
Pernah ada seorang ayah yang
mencintaimu dengan seluruh cara yang ia tahu.
Mungkin cintanya tidak selalu
pandai diucapkan.
Mungkin sering tersembunyi di
balik nasihat.
Mungkin kadang terasa seperti
teguran.
Tetapi di balik semuanya...
selalu ada doa.
Selalu ada harapan.
Selalu ada kebanggaan.
Dan selalu ada namamu.
Krani Pratiwi.
Malam 29 Agustus 2026 itu
akhirnya berlalu.
Panggung kemudian sepi.
Lampu-lampu dipadamkan.
Tepuk tangan berhenti.
Orang-orang pulang membawa
cerita masing-masing.
Tetapi Ayah pulang membawa
sesuatu yang jauh lebih berharga:
sebuah kenangan tentang kita.
Dan mungkin...
itulah salah satu bentuk cinta
yang paling indah.
Ketika seorang anak tanpa
sengaja memberikan hadiah kepada ayahnya,
bukan dalam bentuk benda,
melainkan dalam bentuk momen
yang tidak akan pernah bisa diulang.
Terima kasih, Nak.
Untuk puisinya.
Untuk videonya.
Untuk senyummu.
Untuk kebersamaan yang singkat
tetapi begitu berarti.
Dan untuk semua hal kecil yang
mungkin tidak kamu sadari telah membuat hati Ayah begitu penuh.
![]() |
| Dokumentasi Kebersamaan Guru Ataya Bersama Putri Tersayangnya (Dok.Foto Keluarga) |
Jika kelak dunia bertanya apa
yang paling Ayah banggakan dalam hidup ini, Ayah mungkin tidak akan menyebut
jabatan, pekerjaan, harta, atau pencapaian apa pun.
Ayah hanya akan menyebut satu
nama:
Krani Pratiwi.
Putri yang pernah berdiri di
samping Ayah,
membacakan puisi,
dan tanpa disadarinya...
memberikan sebuah kado yang
akan Ayah simpan sampai kapan pun.
Dengan cinta yang tidak akan
pernah habis,
Ayah.

No comments:
Post a Comment