Thursday, November 5, 2026

Bukan Sekadar Menghabiskan Dana BOSKIN, Saatnya Sekolah Naik Kelas Lewat Digitalisasi Pembelajaran!

Bukan Sekadar Menghabiskan Dana BOSKIN, Saatnya Sekolah Naik Kelas Lewat Digitalisasi Pembelajaran!

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Caringin, 5 November 2026. Guru Ataya - Ada satu hal yang perlu diingat oleh setiap sekolah: mendapatkan bantuan dana pendidikan bukanlah akhir dari sebuah perjuangan, melainkan awal dari tanggung jawab untuk menghadirkan pendidikan yang lebih berkualitas.

Kamis, 5 November 2026, menjadi hari yang penuh makna bagi Guru Ataya. Pada kesempatan tersebut, Guru Ataya mendapat amanah mewakili Kepala SMPN 3 Cibadak untuk mengikuti kegiatan Pendampingan Penguatan SPMI, Penguatan Literasi dan Numerasi (Litnum), serta Penguatan Digitalisasi Pembelajaran melalui Pemanfaatan Dana BOSP Kinerja Terbaik Tahun 2026.

Kegiatan ini bukan sekadar pertemuan formal atau rutinitas menghadiri undangan. Lebih dari itu, ada banyak hal penting yang bisa dipelajari, didiskusikan, dan dibawa pulang untuk diterapkan di sekolah.

Digitalisasi Pembelajaran: Bukan Tentang Canggihnya Alat, tetapi Hebatnya Pemanfaatan!

Salah satu agenda pendampingan yang menarik perhatian Guru Ataya adalah penguatan digitalisasi pembelajaran.

Dalam sesi ini, kegiatan didampingi oleh narasumber, Bapak U. Saefudin Suryadi, S.T., M.T. dari Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Jawa Barat.


Kegiatan pendampingan digitalisasi ini diikuti oleh tiga sekolah penerima BOSP Kinerja Terbaik Tahun 2026, yaitu:

1.   SMPN 1 Caringin.

2.   SMPN 3 Cibadak.

3.   SMP Khalifah Boarding School.

Sejak awal kegiatan, suasana terasa menarik karena setiap sekolah memiliki kesempatan untuk belajar, berbagi pengalaman, sekaligus menunjukkan hasil dari kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) yang telah dilaksanakan sebelumnya.

Setelah pemaparan materi pembuka dari narasumber, masing-masing sekolah diberikan kesempatan untuk mempresentasikan hasil Bimtek sebelumnya yaitu bagaimana pengimbasan dilaksanakan oleh masing-masing sekolah.

Di sinilah menariknya kegiatan tersebut.

Setiap sekolah tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga dituntut untuk menunjukkan sejauh mana pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama Bimtek dapat diterjemahkan menjadi program nyata di lingkungan sekolah.

Sebab, ilmu yang hanya disimpan dalam catatan tidak akan memberikan perubahan. Ilmu baru akan bermakna ketika mulai dipraktikkan.


Tiga Sekolah, Satu Semangat: Berbagi untuk Kemajuan Pendidikan

Kehadiran tiga sekolah dalam kegiatan pendampingan ini menjadi kesempatan berharga untuk saling belajar.

Setiap sekolah tentu memiliki pengalaman, tantangan, dan strategi yang berbeda dalam mengembangkan digitalisasi pembelajaran.

Melalui presentasi hasil Bimtek, kami dapat melihat bagaimana pemanfaatan teknologi mulai diarahkan untuk mendukung proses pembelajaran yang lebih efektif, kreatif, dan menarik bagi peserta didik.

Bagi Guru Ataya, kegiatan seperti ini memberikan sudut pandang baru bahwa digitalisasi pendidikan tidak cukup hanya dengan menyediakan perangkat teknologi.

Yang jauh lebih penting adalah bagaimana guru mampu memanfaatkan teknologi tersebut untuk menciptakan pengalaman belajar yang bermakna.

Teknologi hanyalah alat. Guru tetap menjadi penggerak utama dalam menghadirkan pembelajaran yang berkualitas.

Dana BOSKIN Harus Berbuah Inovasi, Bukan Sekadar Administrasi!

Sebagai seorang guru matematika di SMPN 3 Cibadak, Guru Ataya memandang kegiatan ini sebagai pengingat bahwa pemanfaatan Dana BOSP Kinerja Terbaik harus benar-benar memberikan dampak terhadap peningkatan mutu pendidikan.

Penguatan SPMI, literasi dan numerasi, serta digitalisasi pembelajaran merupakan bagian penting yang saling berkaitan.

Sekolah perlu terus melakukan evaluasi dan perbaikan mutu secara berkelanjutan. Kemampuan literasi dan numerasi peserta didik harus terus ditingkatkan. Sementara itu, pemanfaatan teknologi perlu diarahkan untuk membantu guru menghadirkan pembelajaran yang lebih interaktif dan menyenangkan.

Dalam pembelajaran matematika, misalnya, teknologi dapat dimanfaatkan untuk menghadirkan visualisasi konsep, simulasi, media interaktif, hingga asesmen digital.

Dengan demikian, matematika tidak lagi hanya dipandang sebagai kumpulan rumus dan angka yang sulit dipahami, tetapi menjadi pembelajaran yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari peserta didik.

Tentu saja, semua itu membutuhkan kemauan untuk belajar, mencoba, dan berinovasi.

Pulang Membawa Ilmu, Kembali dengan Semangat Baru

Mengikuti kegiatan pendampingan ini memberikan pengalaman yang berharga bagi saya. Mewakili kepala sekolah bukan sekadar menjalankan tugas, tetapi juga membawa tanggung jawab untuk menyampaikan kembali informasi dan pengalaman yang diperoleh kepada rekan-rekan guru di SMPN 3 Cibadak.

Sebab, perubahan pendidikan tidak bisa dilakukan oleh satu atau dua orang saja. Dibutuhkan kerja sama, komitmen, dan semangat seluruh warga sekolah.

Guru Ataya percaya, sekolah yang hebat bukanlah sekolah yang hanya memiliki fasilitas lengkap, tetapi sekolah yang mampu memanfaatkan setiap sumber daya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Akhirnya, ada satu kalimat yang ingin saya bawa pulang dari kegiatan hari ini:

"Jangan bangga hanya karena sekolah menerima dana kinerja terbaik. Banggalah ketika dana tersebut mampu melahirkan pembelajaran terbaik, guru yang semakin inovatif, dan peserta didik yang semakin berprestasi."

Karena pada akhirnya, keberhasilan sebuah program pendidikan bukan diukur dari berapa banyak anggaran yang terserap, melainkan dari seberapa besar manfaat yang dirasakan oleh peserta didik.

Salam pendidikan!

Guru Ataya – Menebar Kebaikan, Menginspirasi Negeri.

www.guruataya.com

No comments:

Post a Comment