Tuesday, October 13, 2020

Dengan MPI OMAT Pembelajaran Semakin Menyenangkan

Dengan MPI OMAT Pembelajaran Semakin Menyenangkan

Oleh: Iwan Sumantri

Sukabumi -  Selasa,13 Oktober 2020, Hampir lebih dari tujuh bulan kita bisa merasakan dampak dari covid-19. Di suasana yang masih belum jelasnya pembelajaran tatap muka dan masih berlakunya perpanjangan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di daerah kami dan perpanjangan belajar dari Rumah (BdR) serta menjelang Penilaian Akhir Semester (PAS untuk siswa kelas 7,8  dan kelas 9). Berikut saya akan berbagi tentang bagaimana peran teknologi terkini dalam membuat pembelajaran daring (online) dan luring (offline).

Pandemi Corona atau Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) memberikan banyak pelajaran berharga dalam setiap sendi kehidupan. Sebagian besar pegawai atau karyawan melaksanakan work from home (WFH) dan juga berdampak pada guru seperti saya serta para siswa juga “memindahkan” kegiatan belajar dari  rumah, secara online. Ini semua sejalan dengan upaya pemerintah dalam mengurangi dampak penyebaran virus corona. Dan seperti yang telah ditetapkan, kegiatan belajar dari rumah ini pun masih akan berlangsung hingga waktu yang belum pasti.

Pembelajaran dari rumah sepertinya tidak bisa digantikan dengan teknologi begitu saja, tetap peran guru masih diperlukan, sehingga teknologi informasi ditengah pandemi diperlukan oleh seorang guru untuk merubah secara teknis cara penyampaian materi dari luring menjadi daring atau kombinasi luring dan daring sehingga pada akhirnya para pendidik ini berinovasi menyampaikan materi ke siswa-siswa memanfaatkan teknologi informasi yang mereka kuasai.

Apakah kita para guru sudah melaksanakan pengembangan kompetensi dan kualitas diri? Bagaimana kita para guru melakukannya?

Salah satu alternatif dalam pengembangan komptensi dan kualitas diri adalah mencoba membuat bahan belajar yang menarik. Membuat bahan belajar yang yang menarik tetapi memiliki materi yang benar adalah sebuah tantangan buat para guru sekarang ini.

Kita pernah menciptakan sebuah media ajar untuk siswa-siswa kita, tetapi ketika media itu digunakan siswa tidak membantu siswa dalam belajar. Kita sudah membayangkan siswa akan senang dan mengerti  dengan pesan yang kita sampaikan, tetapi ternyata siswa merespon sebaliknya. Apa yang salah? Siswanya, media ajarnya atau cara pengajaran kita selaku guru menggunakan bahan ajar tersebut?

Boleh jadi kita selaku guru dalam menciptakan media ajar itu yang perlu diperbaiki. Supaya media pembelajaran yang kita buat benar-benar berdampak terhadap proses belajar siswa, kita rasanya perlu merancang media ajar menggunakan siklus berpikir desain (desain thinking)

Design thinking atau berpikir desain adalah sebuah metode atau cara berpikir menyelesaikan permasalahan yang berorientasi pada manusia, kolaboratif, bersifat optimistik dan eksperimental

Ada 5 (lima) tahapan yang perlu dilakukan pada saat mengimplementasikan design thinking dalam menciptakan media pembelajaran yang inovatif.

>> Setiap proses menciptakan media ajar media inovatif dapat diawali dengan cara berempati terhadap siswa (kita coba pahami siswa serta apa yang perlu atau ingin didapatkan siswa) <<

>> Kita perlu mendefinisikan sebenarnya apa yang jadi permasalahan utama yang dihadapi siswa saat belajar (misal siswa kesulitan memahami persamaan kuadrat) <<


Cara memunculkan ide :

>> Dengan menambhakan kata " Bagaimana jika" sebelum kalimat ide (Bagaimana caranya membuat siswa memahami bilangan berpangkat? Bagaimana jika ada sebuah video yang membantu memahami persamaan kuatdrat pada saat siswa belajar) <<

>> Membuat bentuk paling sederhana dari gagasan tersebut (Tahapan ini yang perlu kita lakukan setelah menentukan ide). Misalnya membuat video yang berisi tahapan tentang materi persamaan kuadrat. Purwarupa ini tidak selalu bagus, yang palin penting purwarupa ini bisa mewakili <<

 Tahapan Terakhir adalah Melakukan Uji Coba dan Testing

>> Terhadap siapa? Kepada orang yang memberikan masukan berarti untuk perkembangan media ajar yang kita buat. Misalnya bisa ke sesama guru/orang tua. Tapi yang paling penting adalah uji coba pada siswa yang akan menggunakan media ajar yang kita buat <<


Nah, dengan menggunakan pendekatan design thinking, proses pembuatan media ajar inovatif akan menjadi mudah. Prosesnya juga membutuhkan waktu relatif singkat untuk hasil yang lebih berdampak pada siswa.

 Jika dibuatkan infografis, maka tahapan berpikir desain sebagai berikut : 


  


Dari hal tersebut diatas akhirnya saya membuat Media Pembelajaran Interaktif Online Mata Pelajaran Matematika (MPI OMAT)

Saat ini banyak authoring tools yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan bahan belajar. Mulai dari authoring tools yang berbayar maupun yang gratisan. Articulate Storyline, Lectora, dan Exe Learning merupakan contoh authoring tools yang dapat digunakan.

MPI OMAT dengan Articulate Storyline 3 inilah yang saya pilih sesuai dengan kompetensi yang saya miliki setelah mengikuti Diklat Pembatik Level 3 Rumah Belajar. Dipilih Articulate Storyline 3 karena memiliki kemudahan dalam penggunaanya dan output yang dihasilkannya dapat dipublish dalam format berbagai format termasuk HTML5.



Bagaimana alur berpikir sehingga MPI OMAT ini tercipta dengan berpikir desain thinking, bisa dilihat di infografis berikut:

 


Pengintregasian TIK ke dalam proses pembelajaran diperlukan untuk mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Pembekalan guru akan literasi TIK akan meningkatkan efektifitas, efesiensi dan kemenarikan proses pembelajaran. Oleh karena itu kita sebagai guru dituntut untuk memiliki kompetensi keahlian yang cukup untuk memanfaatkan teknologi yang ada, sehingga lebih optimal dalam penyampaian materi pelajaran disekolah.

Saat ini masih banyak guru yang belum memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dalam pembelajaran. Minimnya kegiatan peningkatan kualitas dan kompetensi guru untuk memanfaatkan TIK dalam pembelajaran merupakan salah satu faktor yang mempengaruhinya. Jadilah guru penggerak yang bisa memanfaatkan TIK dalam membuat pembelajaran daring dan luring yang lebih menyenangkan.

Terakhir dalam menutup tulisan ini saya mengajak kita selaku guru dalam membuat media pembelajaran jangan terjangkit virus impurna, ingin serba sempurna.

Bagaimana cara mengatasinya? Ada tiga obat ampuh untuk mengatasinya; 1) fokus pada yang penting; 2) buat tiruan; 3) yang penting jadi.

Ingat sebuah karya yang besar selalu dimulai dari hal yang sederhana. Mulai saja dulu, kesempurnaan akan mengikuti.





#PGRI, #KOGTIK, #EPSON, #KSGN


Profil Penulis:

Penulis bernama Iwan Sumantri adalah seorang guru Matematika di SMP Negeri 3 Cibadak yang lahir di Karawang, 23 Pebruari 1967. Mengajar Sejak Tahun 1988 di sekolah Swasta Tamansiswa Cabang Cibadak. Menyelesaikan S-1 Matematika di UNPAS Bandung tahun 2002. Terpilih jadi peserta sertifikasi jalur pendidikan di Universitas Negeri Yogyakarat pada tahun 2009 dan Peringkat I Guru Berprestasi Tangkat Kabupaten Sukabumi tahun 2014,2016, 2017, Peringkat 2 Guru Berprestasi Tingkat Provinsi Jawa Barat tahun 2017, serta Finalis Lomba Kreatifitas Guru (LKG) dalam Pembelajaran Sains Tingkat Nasional tahun 2015.

Sejak Tahun 2005 penulis diangkat jadi guru PNS dan di tempatkan di SMP Negeri 2 Simpenan. Pada Tahun 2007 penulis mutasi ke SMP Negeri 3 Cibadak sampai dengan sekarang.

Aktifitas penulis sekarang adalah pengurus MGMP Matematika Gugus Cibadak sebagai sekretaris, Seksi Humas di Forum MGMP Kabupaten Sukabumi, Tim Penggerak GLN Gareulis Kab.Sukabumi bidang ICT dan menjabat sebagai Wakasek Kurikulum SMP Negeri 3 Cibadak , pembina Pramuka di sekolah serta ketua ranting PGRI SMP Negeri 3 Cibadak.

Kegiatan sehari-hari di luar mengajar, aktif mengelola blog pribadi PBM Matematika Iwan Sumantri ( http://pbmiwansumantri.com), blog guru ataya (http://guruataya.com),  admin web sekolah (http://smpn3cbd-citaidola.sch.id) dan sekali-kali menulis di kompasiana dan Guraru serta media online lainnya.

Berikut alamat blog pribadi dan web sekolah serta jejaring sosial  yang kelola penulis:

1.      Web Sekolah SMPN 3 Cibadak ( http://smpn3cbd-citaidola.sch.id)

2.      PBM Matematika Iwan Sumantri (http://iwansmtri.blogspot.com)

3.      Blog Guru Ataya (http://guruataya.com)

4.      Blog Kompasiana (http://www.kompasiana.com/iwansumantris3)

5.      Menjadi Anggota Komunitas GURARU (http://guraru.org)

6.      Megelola Web Mobile One SM (http://iwansumantri.mywibes.com/)

7.      Mengelola FB Pribadi (https://www.facebook.com/iwansmtri?ref=tn_tnmn)

8.      Mengelola Twitter Pribadi ( @onesmmat),Instagram @iwansumantri2019,Telegram dan WA 08156228767

14 comments:

  1. Kereeennn pak.. Desain thinking 5 tahap nya..

    ReplyDelete
  2. Ternyata membuat media pembelajaran tidak asal membuat begitu saja agar bermakna buat muridnya ! Ilmu baru nih desain thinkingnya ! Bisa di terapkan di PBM yg saya laukan nanti !

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Krani Pratiwi : Setuju! Asalnya saya juga seperti itu, asal saja membuat media tanpa berpikir desain, eh ternyata harus berpikir desain agar media berdampak pada proses pemebalajaran siswa ! Terimakasih atas apresiasinya !

      Delete
  3. Sangat inspiratif. Mari kita saling berbagi demi meningkatkan pelayanan kepada siswa di musim pandemi ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Bu Wahyu Supraba Wathi: Terimakasih atas apresiasinya!Setuju bu, kita harus saling berbagi untuk bisa berkontribusi pada dunia pendidikan kita !

      Delete
  4. Sangat menginspirasi dan jadi referensi ...

    ReplyDelete
  5. @Basoeky: Terimakasih Pak atas apresiasinya !Mudah2an bisa membantu dan menambah referensi dalam membuat media pembelajaran !

    ReplyDelete
  6. Bagus Pak Iwan dari atas baca terlihat dari Kampus Guru Cikal Wardah Inspiring Teacher itu. He he he . . .
    Semangat Pagi Pak Iwan.

    ReplyDelete
  7. Bagus Pak Iwan dari atas baca terlihat dari Kampus Guru Cikal Wardah Inspiring Teacher itu. He he he . . .
    Semangat Pagi Pak Iwan.

    ReplyDelete