Sunday, September 20, 2026

Squishy Kertas Ataya: Mainan Sederhana, Imajinasi Tanpa Batas

Squishy Kertas Ataya: Mainan Sederhana, Imajinasi Tanpa Batas

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Minggu, 20 September 20206. Guru Ataya, hari Minggu biasanya menjadi waktu yang berbeda bagi keluarga kami. Tidak ada bel sekolah. Tidak ada jadwal mengajar. Tidak ada kesibukan mengejar waktu seperti hari-hari biasa.

Sabtu dan Minggu kami manfaatkan untuk berolahraga bersama. Kadang jalan santai, kadang bersepeda. Setelah tubuh terasa lebih segar, kami biasanya berkumpul di rumah, menikmati waktu bersama sambil bercanda dan bercerita.

Namun, ada satu anggota keluarga yang seolah memiliki dunianya sendiri.

Dialah Ataya Rachman Pradana Putra, anak bungsu kami.

Pada Minggu, 20 September 2026, setelah selesai berolahraga, suasana rumah kembali ramai oleh canda dan tawa. Sementara kami berbincang, Ataya seperti biasa mulai mencari aktivitas yang ia sukai.

Ada kertas.

Ada alat mewarnai.

Dan ada ide yang muncul dari kepalanya.

Kali ini, Ataya kembali membuat squishy dari kertas.

Ataya Saat Bergaya Ala Orang Dewasa (Dok.Foto Pribadi)

Kertas Biasa, Imajinasi Luar Biasa

Bagi orang dewasa, selembar kertas mungkin hanyalah benda sederhana.

Tetapi bagi seorang anak, kertas bisa berubah menjadi apa saja. Bisa menjadi gambar, bisa menjadi mainan, bisa menjadi karakter lucu, bahkan bisa menjadi sebuah squishy hasil kreasi sendiri.

Ataya mengambil kertas dan mulai menggambar bentuk yang ia inginkan. Setelah itu ia memberikan warna sesuai imajinasinya. Perlahan-lahan, gambar yang semula hanya berupa garis berubah menjadi sebuah karya yang memiliki bentuk dan karakter.

Kemudian proses berlanjut.

Kertas dilipat, dibentuk, direkatkan, dan diisi sedemikian rupa hingga menjadi squishy sederhana.

Saya memperhatikan dari kejauhan. Tidak banyak yang saya lakukan. Saya hanya melihat bagaimana kedua tangannya bekerja dan bagaimana pikirannya terus mencari bentuk baru.

Di situlah saya melihat sesuatu yang lebih penting daripada sekadar sebuah mainan. Saya melihat kreativitas sedang tumbuh.

Saturday, September 19, 2026

Menemani Langkah Kecil di Lapangan Futsal

Dari Lapang Futsal, Guru Ataya Belajar Tentang Mimpi Kecil Seorang Anak

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak, 19 September 2026. Di tengah kesibukan mengajar Matematika dan merapikan administrasi sekolah di SMPN 3 Cibadak, ada satu momen sederhana yang selalu saya nantikan setiap minggunya. Hari Jumat dan Senin sore adalah waktu istimewa bagi saya untuk menepi sejenak dari rutinitas dan bertukar peran secara penuh, menjadi seorang pendukung utama bagi sang buah hati.

Ada hal-hal sederhana dalam hidup yang ternyata menyimpan pelajaran besar.

Bagi saya, salah satunya adalah mengantar anak bungsu berlatih futsal.

Setiap hari Jumat dan Senin sore, selepas kesibukan mengajar dan rutinitas lainnya, saya menyempatkan diri mengantar Ataya Rachman Pradana Putra ke lapang futsal CFS Cibadak. Di tempat itulah Ataya bersama teman-temannya berlatih bersama Serenite FC, kelompok usia 6–10 tahun.

Latihan dimulai pukul 16.00 hingga 17.30 WIB.

Bagi sebagian orang, mungkin satu setengah jam di lapangan hanya terlihat sebagai aktivitas olahraga anak-anak. Tetapi bagi seorang Guru Ataya, waktu itu terasa jauh lebih berharga.

Di sana saya melihat seorang anak kecil sedang belajar mengejar bola.

Namun sesungguhnya, ia juga sedang belajar mengejar mimpi.

Bukan Sekadar Menendang Bola

Ataya akan genap berusia 8 tahun pada 20 Oktober 2026.

Usianya masih sangat muda. Dunia anak seusianya seharusnya memang dipenuhi dengan bermain, tertawa, mencoba sesuatu yang baru, dan menemukan apa yang mereka sukai.

Karena itu, ketika Ataya berada di lapangan, saya tidak terlalu memikirkan apakah ia mencetak gol atau tidak.

Saya lebih senang melihat bagaimana ia berusaha. Ketika bola direbut lawan, ia belajar untuk tidak menyerah. Ketika tendangannya melenceng, ia belajar mencoba lagi. Ketika mendapat kesempatan mencetak gol, ia belajar percaya diri.

Dan ketika bermain bersama teman-temannya, ia belajar bahwa sepak bola bukan tentang siapa yang paling hebat, tetapi tentang bagaimana bekerja sama sebagai sebuah tim.

Guru Ataya Mengantar, Ataya yang Berjuang

Saya mungkin bukan orang yang selalu berada di dalam lapangan.

Saya hanya mengantar, menunggu, mengamati dan sesekali memberikan semangat.

Tetapi justru dari posisi sederhana sebagai seorang Guru Ataya yang duduk di pinggir lapangan, saya belajar banyak hal.

Saya melihat pelatih memberikan instruksi. Saya melihat anak-anak berlari mengejar bola. Saya melihat mereka jatuh, bangkit, tertawa, bahkan sesekali kecewa.

Dan saya menyadari bahwa proses pendidikan tidak selalu berlangsung di dalam kelas.

Sebagai guru Matematika di SMPN 3 Cibadak, setiap hari saya mengajarkan angka, rumus, logika, dan pemecahan masalah kepada anak-anak di sekolah.

Tetapi di lapangan futsal, saya belajar bahwa kehidupan juga memiliki "rumus" yang sederhana:

Latihan + disiplin + keberanian + kesabaran = proses menuju kemampuan.

Tidak ada anak yang langsung hebat ketika pertama kali memegang bola. Semua membutuhkan proses.

Lapangan Futsal Adalah Ruang Belajar

Di lapangan, Ataya mungkin tidak sedang belajar Matematika. Tidak ada pecahan.  Tidak ada persamaan. Tidak ada bangun ruang. Tetapi sebenarnya banyak konsep kehidupan yang sedang ia pelajari.

Ia belajar disiplin, karena harus datang tepat waktu.

Ia belajar tanggung jawab, karena harus mengikuti latihan dengan sungguh-sungguh.

Ia belajar sportivitas, karena menang dan kalah adalah bagian dari permainan.

Ia belajar kerja sama, karena satu pemain tidak mungkin memenangkan pertandingan seorang diri.

Ia belajar menghargai teman dan pelatih.

Dan yang paling penting, ia belajar bahwa kemampuan tidak datang secara instan.

Bukankah itu juga hakikat pendidikan?

Pendidikan bukan hanya membuat anak mengetahui sesuatu.

Pendidikan juga membantu anak menjadi pribadi yang mampu menghadapi kehidupan.

Ataya dengan pialanya yang pernah di raih bersama Serenite FC (Dok.Foto Pribadi)

Friday, September 18, 2026

Sebuah Catatan dari Hati Seorang Guru

Sebuah Catatan dari Hati Seorang Guru

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri) 

Jumat, 18 September 2026. Guru Ataya. Menjadi guru bukan sekadar berdiri di depan kelas, menjelaskan rumus, memberi tugas, lalu memberikan nilai. Menjadi guru adalah perjalanan panjang untuk menanamkan nilai, menyemai cinta, mengajarkan kedamaian, membangun kebersamaan, dan menuntun anak-anak agar kelak mampu menemukan jalan hidupnya sendiri.

Setiap hari guru diminta menjadi teladan. Guru diminta sabar ketika menghadapi perbedaan, bijaksana ketika menghadapi persoalan, ikhlas ketika pengabdiannya tidak selalu terlihat, dan tetap tersenyum meskipun terkadang ada luka yang harus disimpan sendiri.

Namun, di balik kata pengabdian, ada pula pertanyaan yang kadang mengusik hati: Benarkah guru selalu dimuliakan?

Bagaimana jika guru yang mengajarkan kedamaian justru dimusuhi? Guru yang menanamkan cinta justru dibenci? Guru yang membangun kebersamaan justru dikucilkan? Guru yang berusaha menjaga prinsip justru disingkirkan?

Puisi ini bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah kegelisahan, perenungan, sekaligus suara hati seorang guru yang mencoba melihat kembali makna pengabdian dari sisi yang mungkin jarang dibicarakan.

Sebab terkadang, seorang guru tidak membutuhkan tepuk tangan. Ia hanya ingin dihargai sebagai manusia yang juga memiliki hati, perasaan, harapan, dan luka.

Dan dari kegelisahan itulah puisi ini lahir:



Thursday, September 17, 2026

PTS Matematika Kelas IX, Ketika Ujian Bukan Sekadar Mencari Nilai

Menguji Pemahaman, Menumbuhkan Penalaran, dan Menyiapkan Generasi yang Berani Menghadapi Tantangan

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Kamis, 17 September 2026. Guru Ataya, menjadi salah satu hari penting bagi peserta didik SMPN 3 Cibadak. Pekan Penilaian Tengah Semester (PTS) 14 September 2026 mulai dilaksanakan dan dijadwalkan berlangsung hingga Jumat, 18 September 2026.

Seperti biasa, setiap guru melaksanakan penilaian sesuai jadwal dan mata pelajaran yang diampunya. Bagi Guru Ataya sebagai guru Matematika kelas IX, PTS kali ini bukan sekadar kegiatan untuk memberikan angka pada rapor. Ada sebuah misi yang ingin Guru Ataya hadirkan, mengajak siswa memandang ujian sebagai ruang untuk menunjukkan cara berpikir, bukan sekadar tempat untuk menebak jawaban.

Karena itu, soal PTS Matematika kelas IX Guru Ataya kemas dengan pendekatan yang lebih variatif dan menantang.

DarI Soal Biasa Menuju Soal yang Mengajak Bernalar

Guru Ataya mencoba mengadaptasi karakter soal yang biasa ditemui dalam Tes Kemampuan Akademik (TKA), khususnya pola soal yang menuntut pemahaman konsep, penerapan, penalaran, dan pemecahan masalah.

Pendekatan tersebut relevan dengan karakter TKA Matematika SMP yang memang tidak berhenti pada kemampuan melakukan prosedur hitung, tetapi juga mengukur kemampuan peserta didik dalam memahami konsep dan menerapkan pengetahuan matematika untuk menyelesaikan masalah.

Maka, PTS kali ini tidak Guru Ataya buat dalam satu bentuk soal saja.

Ada pilihan ganda biasa dengan empat pilihan jawaban, di mana siswa harus menentukan satu jawaban yang paling tepat.

Ada pula pilihan ganda dengan lebih dari satu jawaban benar, sehingga siswa harus benar-benar memahami informasi sebelum menentukan pilihan.

Selain itu, Guru Ataya menghadirkan soal Benar-Salah. Pada tipe soal ini, siswa tidak cukup hanya melakukan perhitungan, tetapi harus mampu mencermati sebuah pernyataan, menghubungkannya dengan konsep matematika, kemudian memutuskan apakah pernyataan tersebut benar atau salah.

Tidak kalah menarik adalah soal memasangkan pasangan. Siswa harus menghubungkan informasi atau konsep pada bagian kiri dengan jawaban yang tepat pada bagian kanan.

Variasi tersebut sejalan dengan semangat asesmen yang lebih beragam. Dalam TKA, misalnya, terdapat pilihan ganda sederhana dan pilihan ganda kompleks, termasuk model yang memungkinkan lebih dari satu jawaban benar.

Galeri Pelaksanaan PTS di Kels 9 SMPN 3 Cibadak (Dok.Foto Pribadi)

Wednesday, September 16, 2026

Hari Ini Kita Berpamitan, Besok Jejakmu Tetap Tinggal

Catatan Perpisahan untuk Seorang Pemimpin yang Pernah Menjaga Rumah Besar SMPN 3 Cibadak

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Rabu, 16 September 2026.. Guru Ataya, pukul 10.00 WIB, suasana di SMPN 3 Cibadak tiba-tiba terasa berbeda. Sebuah undangan dari kepala sekolah membuat seluruh PTK berkumpul di ruang guru. Tidak ada yang benar-benar menduga bahwa pertemuan singkat itu akan menjadi sebuah pertemuan yang begitu dalam maknanya.

Kami datang sebagai rekan kerja.

Namun kami pulang membawa rasa kehilangan.

Di hadapan seluruh PTK, Bapak H. Samirin, S.Pd., M.Pd. menyampaikan sebuah kabar: mulai Kamis, 17 September 2026, SMPN 3 Cibadak akan memiliki kepala sekolah definitif yang baru.

Artinya, hari ini adalah hari terakhir beliau berpamitan sebagai pemimpin yang selama ini bersama-sama kami menjalani perjalanan di sekolah ini.

Kurang lebih 1 tahun, 1 bulan, dan 15 hari bukanlah waktu yang sebentar.

Dalam rentang waktu itu, banyak cerita telah ditorehkan. Ada rapat yang panjang, evaluasi yang melelahkan, program yang harus diselesaikan, persoalan yang harus dicarikan jalan keluar, serta berbagai kegiatan sekolah yang menuntut kebersamaan.

Ada hari-hari yang mudah.

Ada pula hari-hari yang tidak sederhana.

Namun seorang pemimpin tidak selalu dikenang karena berapa banyak keputusan yang dibuatnya. Ia lebih sering dikenang karena bagaimana ia hadir ketika orang-orang di sekelilingnya membutuhkan arah.

Dan mungkin, itulah yang akan kami ingat dari sosok Pak Haji Samirin.

Satu Tahun Lebih, Banyak Jejak Tertinggal

Menjadi PLT kepala sekolah tentu bukan sekadar mengisi sebuah kursi kepemimpinan.

Di balik jabatan itu ada tanggung jawab.

Ada amanah.

Ada harapan dari guru, tenaga kependidikan, siswa, orang tua, dan seluruh warga sekolah.

Selama menjalankan tugas di SMPN 3 Cibadak, berbagai dinamika pendidikan telah dilalui bersama. Program sekolah berjalan, kegiatan pembelajaran terus bergerak, berbagai agenda kesiswaan dilaksanakan, dan berbagai persoalan sekolah diselesaikan dengan segala keterbatasan yang ada.

Mungkin tidak semua hal berjalan sempurna.

Tetapi bukankah kepemimpinan memang bukan tentang menciptakan perjalanan tanpa masalah?

Kepemimpinan adalah tentang berjalan bersama ketika masalah datang.

Dan di situlah arti seorang pemimpin menjadi terasa.

Dokumentasi Pamitan Sang Pemimipi (Dok.Foto Pribadi)

Tuesday, September 15, 2026

Ketika Pendidikan Dimulai dari Gerak, Refleksi SEGAR di Selasa Pagi SMPN 3 Cibadak

Ketika Pendidikan Dimulai dari Gerak, Refleksi SEGAR di Selasa Pagi SMPN 3 Cibadak

Oleh: Guru Ataya (Iwan sumantri)

Selasa, 15 September 2026, pukul 07.00 WIB. Guru Ataya, halaman (lapang uapacara) SMPN 3 Cibadak pagi itu menjadi ruang belajar yang berbeda. Tidak ada papan tulis, tidak ada buku yang terbuka, dan tidak ada siswa yang duduk berhadapan dengan guru di dalam kelas. Yang tampak justru ratusan siswa bersama guru dan tenaga kependidikan mengenakan seragam olahraga, berdiri dalam barisan, dan bersiap menggerakkan tubuh. 

Tepat pukul 07.00 WIB, kegiatan SEGAR (SElasa buGAR) dimulai.

Bagi sebagian orang, kegiatan ini mungkin terlihat sederhana: berdoa, menghitung denyut nadi, kemudian mengikuti senam. Namun bagi sebuah sekolah, kegiatan sederhana yang dilakukan secara konsisten sesungguhnya dapat menyimpan pesan pendidikan yang sangat dalam. Sebab pendidikan tidak selalu harus dimulai dari buku.

Kadang pendidikan dimulai dari kesadaran bahwa tubuh kita harus dijaga.

Pendidikan yang Tidak Hanya Mengisi Kepala

Sebagai guru Matematika, saya terbiasa berhadapan dengan angka, rumus, logika, dan pemecahan masalah. Dalam pembelajaran, siswa diajak menggunakan pikirannya untuk menemukan jawaban.

Namun kehidupan tidak hanya membutuhkan kecerdasan intelektual.

Anak-anak juga membutuhkan tubuh yang sehat, mental yang kuat, kemampuan bersosialisasi, kedisiplinan, serta kesadaran untuk menjaga dirinya sendiri.

Di sinilah SEGAR menemukan maknanya.

Monday, September 14, 2026

Belajar dari Ayam Panggang Tentang Waktu, Kesabaran, dan Anak-Anak yang Sedang Bertumbuh

Belajar dari Ayam Panggang Tentang Waktu, Kesabaran, dan Anak-Anak yang Sedang Bertumbuh

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Senin, 14 September 2026. Guru Ataya, pagi kembali menemukan jalannya di halaman SMPN 3 Cibadak. Setelah beberapa hari kegiatan di luar kelas menyesuaikan diri dengan imbauan mitigasi abu vulkanik, pagi itu lapangan sekolah kembali dipenuhi langkah kaki siswa. Seragam putih biru kembali memenuhi halaman. Barisan-barisan kelas kembali terbentuk. Suara aba-aba terdengar. Sang Merah Putih kembali dikibarkan.

Seperti biasa, Senin pagi dibuka dengan Upacara Bendera.

Namun pagi itu terasa sedikit berbeda.

Sebab terkadang, sebuah upacara tidak hanya menghadirkan penghormatan kepada bendera dan rasa cinta kepada tanah air. Di balik barisan yang berdiri tegak, selalu ada kesempatan bagi seorang guru untuk menitipkan satu-dua kalimat yang mungkin sederhana, tetapi dapat tinggal lama di dalam hati seorang anak.

Pagi itu, pesan tersebut datang dari sesuatu yang sangat sederhana.

Ayam panggang.

Dua Ayam, Dua Cerita

Petugas upacara adalah siswa kelas 9G.

Dengan penuh tanggung jawab mereka menjalankan tugasnya. Sementara itu, amanat pembina upacara disampaikan oleh wali kelas mereka, Ibu Hepi Hapipah, S.Pd., M.Pd.

Di hadapan para siswa, Ibu Hepi membawa dua gambar.

Gambar pertama: ayam panggang yang gosong.

Gambar kedua: ayam panggang yang matang sempurna.

Mungkin bagi sebagian siswa, dua gambar itu hanyalah gambar makanan.

Tetapi pagi itu, kedua ayam panggang tersebut menjelma menjadi guru.

Guru yang tidak berbicara dengan kata-kata, tetapi mengajarkan sesuatu tentang kehidupan.

Dari sana, Ibu Hepi mengajak siswa merenungkan empat hal: 1) kesabaran, 2) disiplin, 3) teknik, dan 4) menikmati proses tanpa tergesa-gesa.

Sederhana.

Namun bukankah pelajaran hidup yang paling dalam sering kali justru lahir dari sesuatu yang sederhana?


Baca Juga:

Sunday, September 13, 2026

Ketika Sepeda Mengajarkan Arti Menikmati Perjalanan

Ketika Sepeda Mengajarkan Arti Menikmati Perjalanan

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Minggu, 13 September 2026. Guru Ataya, tidak ada suara bel sekolah, tidak ada kelas yang harus dimasuki, tidak ada deretan soal matematika yang harus dijelaskan kepada siswa. Hari itu adalah hari libur dari aktivitas mengajar. Namun, bagi seorang guru, libur bukan berarti harus berhenti bergerak.

GuruAtaya memilih mengisi pagi dengan aktivitas sederhana yang sudah cukup akrab bagi Guru Ataya yaitu bersepeda.

Tidak ada target jarak puluhan kilometer. Tidak ada ambisi mengejar kecepatan. Apalagi ingin menaklukkan tanjakan panjang. Di usia yang mulai mendekati masa pensiun, Guru Ataya justru belajar memahami tubuh sendiri. Bersepeda tidak lagi semata-mata tentang seberapa jauh perjalanan ditempuh, tetapi tentang bagaimana tubuh tetap bergerak dan pikiran tetap menikmati setiap kayuhan.

Minggu yang Berbeda

Biasanya, bersepeda terasa lebih menyenangkan ketika dilakukan bersama teman-teman dan sahabat dalam komunitas sepeda. Ada obrolan sepanjang perjalanan, saling menunggu ketika ada yang tertinggal, bercanda saat beristirahat, hingga berfoto bersama setelah mencapai tujuan.

Namun, Minggu itu terasa berbeda.

Guru Ataya bersepeda sendirian.

Awalnya mungkin terasa sedikit aneh. Tidak ada teman yang berada di samping, tidak ada suara percakapan, dan tidak ada rombongan yang sesekali mengingatkan, "Pelan-pelan!" atau "Istirahat dulu!"

Tetapi justru dari kesendirian itulah Guru Ataya menemukan pengalaman yang berbeda.

Ketika tidak ada teman bicara, Guru Ataya menjadi lebih banyak berbicara dengan diri sendiri.

Guru Ataya mendengar suara roda sepeda yang berputar. Guru Ataya merasakan hembusan angin pagi. Guru Ataya memperhatikan jalan yang selama ini mungkin hanya dilewati tanpa pernah benar-benar diperhatikan.

Ternyata, perjalanan yang sederhana bisa menjadi ruang untuk merenung.

Tidak Perlu Jauh untuk Menjadi Bermakna

Rute yang Guru Ataya tempuh tidak terlalu jauh. Guru Ataya sengaja memilih perjalanan yang sederhana dan sesuai dengan kondisi fisik.

Bagi sebagian orang, jarak tersebut mungkin tidak seberapa. Tetapi bagi Guru Ataya, yang terpenting bukanlah angka pada odometer.

Sebab dalam perjalanan hidup, kita tidak selalu harus berlomba menjadi yang paling cepat atau menempuh jarak paling jauh.

Ada saatnya kita hanya perlu terus bergerak sesuai kemampuan.

Bukankah hidup juga demikian?

Ketika masih muda, mungkin kita ingin berlari mengejar banyak hal. Karier, prestasi, target, dan berbagai impian. Namun, ketika usia bertambah, kita mulai memahami bahwa kesehatan, ketenangan, keluarga, persahabatan, dan kesempatan menikmati hari ternyata memiliki nilai yang jauh lebih besar.

Kayuhan sepeda hari itu seolah mengingatkan Guru Ataya, tidak masalah berjalan lebih pelan, selama kita tidak berhenti bergerak.

Saturday, September 12, 2026

Duel Panas di Awal Musim, Macan Kemayoran vs Maung Bandung, Siapa yang Tersenyum di Pekan Kedua?

Prediksi Persija Jakarta vs Persib Bandung, Pekan Kedua Super League 2026/2027

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak – 12 September 2026. Guru Ataya, bagi pecinta sepak bola Indonesia, pertemuan Persija Jakarta dan Persib Bandung yang akan tersaji di GBK, Sabtu 12 September 2026 mulai pukul 15.30 WIB bukan sekadar pertandingan biasa. Dua klub dengan basis suporter besar ini selalu menghadirkan tensi, gengsi, strategi, dan drama yang membuat pertandingan layak disebut sebagai salah satu duel paling menarik dalam sepak bola Indonesia.

Memasuki pekan kedua musim 2026/2027, duel Persija kontra Persib diprediksi kembali berlangsung sengit. Kedua tim tentu ingin mengawali musim dengan hasil terbaik sekaligus menunjukkan bahwa mereka layak menjadi kandidat kuat dalam persaingan papan atas.

Bukan Sekadar Tiga Poin

Pertandingan Persija versus Persib memiliki nilai lebih dari sekadar tiga poin. Setiap duel membawa sejarah dan gengsi yang panjang. Dalam beberapa pertemuan terakhir, Persib memiliki catatan positif ketika menghadapi Persija. Pada musim 2025/2026, misalnya, Persib berhasil menang 1-0 atas Persija pada 11 Januari 2026 dan kembali mengalahkan Persija 2-1 pada pertemuan berikutnya.

Namun, statistik masa lalu tidak otomatis menentukan hasil pertandingan berikutnya. Sepak bola selalu memberikan ruang bagi kejutan. Perubahan komposisi pemain, strategi pelatih, kondisi fisik, mental, serta atmosfer stadion dapat mengubah jalannya pertandingan.

Persija, Keuntungan Bermain di Kandang

Jika Persija bertindak sebagai tuan rumah, dukungan suporter tentu menjadi salah satu modal penting. Tekanan dari tribun dapat memberikan energi tambahan kepada pemain Persija, terutama pada menit-menit awal pertandingan.

Persija diperkirakan akan berusaha bermain agresif sejak awal. Mereka bisa saja mencoba menekan Persib melalui serangan dari sisi sayap, kemudian memanfaatkan umpan silang atau bola-bola kedua di sekitar kotak penalti.

Kunci Persija adalah kesabaran dan efektivitas. Terlalu terburu-buru menyerang justru dapat memberikan ruang bagi Persib untuk melakukan serangan balik.

Pemain-peman Kunci Persija siap merobek gawang Persib (Do.Foto Google)

Friday, September 11, 2026

Untuk Krani, dari Ayah

Surat cinta seorang ayah yang mungkin tak pernah pandai mengatakannya

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak, 11 September 2026.

Putriku, Krani Pratiwi...

Ada banyak hal yang ingin Ayah katakan kepadamu.

Tentang rasa bangga.
Tentang doa-doa yang diam-diam Ayah titipkan kepada Tuhan setiap malam.
Tentang kekhawatiran yang kadang Ayah sembunyikan di balik senyum.
Dan tentang rasa bahagia yang sering kali tidak mampu Ayah ungkapkan hanya dengan kata-kata.

Tetapi malam ini, Ayah ingin mencoba menuliskannya.

Karena ada sebuah kenangan yang rasanya terlalu indah jika hanya disimpan dalam ingatan.


Sabtu, 29 Agustus 2026.

Malam penutupan kegiatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.

Di antara riuhnya acara, cahaya panggung, suara tepuk tangan, dan berbagai pertunjukan, ada satu momen yang bagi Ayah terasa berbeda.

Malam itu Ayah berdiri bersamamu.

Kita membacakan puisi.

Sederhana, bukan?

Hanya beberapa menit.

Hanya beberapa bait.

Tetapi, Nak...

Kadang-kadang Tuhan menyelipkan kebahagiaan yang begitu besar di dalam sesuatu yang sangat sederhana.


Ayah masih ingat saat kita berdiri berdampingan.

Ayah melihatmu.

Dan dalam sekejap, waktu seperti berhenti.

Di hadapan Ayah bukan lagi sekadar seorang anak perempuan.

Ayah melihat seorang gadis yang sedang tumbuh.

Seorang perempuan kecil yang dahulu mungkin pernah Ayah genggam tangannya ketika belajar melangkah, kini berdiri dengan percaya diri di samping Ayah.

Saat itu Ayah tiba-tiba sadar...

Ternyata waktu telah berjalan sejauh itu.

Dan waktu tidak pernah meminta izin kepada seorang ayah ketika membawa anaknya tumbuh dewasa.

Ia hanya berjalan.

Pelan-pelan.

Hari demi hari.

Tahun demi tahun.

Sampai suatu ketika Ayah tersadar:

"Anakku sudah besar."


Beberapa waktu kemudian, Ayah melihat video yang kamu buat dan kamu simpan di Instagram.

Thursday, September 10, 2026

Ketika Matematika Berlari di Lapangan Futsal

Mengungkap Rumus, Strategi, dan Logika Matematika di Balik Permainan

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)


Cibadak – 10 September 2026. Guru Ataya, bagi sebagian orang, matematika mungkin identik dengan angka, rumus, persamaan, grafik, dan soal-soal yang harus diselesaikan di atas kertas. Sementara futsal identik dengan bola, lapangan, keringat, strategi, dan keseruan bermain bersama teman.

Namun, bagi Guru Ataya sebagai Guru Matematika di SMPN 3 Cibadak yang juga memiliki hobi bermain futsal, kedua dunia tersebut ternyata tidak pernah benar-benar terpisah.

Semakin sering bermain futsal, semakin Guru Ataya menyadari bahwa di balik sebuah pertandingan futsal terdapat banyak konsep matematika yang bekerja secara nyata. Matematika tidak hanya berada di dalam buku pelajaran. Matematika juga ada di lapangan, bahkan ikut berlari mengejar bola.

Matematika Tidak Hanya Ada di Dalam Kelas

Sebagai guru matematika, Guru Ataya sering mengatakan kepada siswa bahwa matematika bukan sekadar menghafal rumus. Matematika adalah cara berpikir untuk memahami pola, hubungan, ukuran, ruang, perubahan, dan pengambilan keputusan.

Futsal menjadi salah satu contoh menarik.

Ketika seorang pemain menggiring bola, mengoper kepada teman, mencari ruang kosong, melakukan tendangan ke gawang, atau menentukan posisi bertahan, sebenarnya ia sedang menggunakan kemampuan yang sangat dekat dengan matematika.

Mungkin pemain tidak pernah berkata,

"Guru Ataya sedang menerapkan konsep geometri."

Tetapi tanpa disadari, ia sedang melakukannya.

Lapang Futsal Ukuran Normal (Dok.Foto Google)