Saturday, September 12, 2026

Duel Panas di Awal Musim, Macan Kemayoran vs Maung Bandung, Siapa yang Tersenyum di Pekan Kedua?

Prediksi Persija Jakarta vs Persib Bandung, Pekan Kedua Super League 2026/2027

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak – 12 September 2026. Guru Ataya, bagi pecinta sepak bola Indonesia, pertemuan Persija Jakarta dan Persib Bandung yang akan tersaji di GBK, Sabtu 12 September 2026 mulai pukul 15.30 WIB bukan sekadar pertandingan biasa. Dua klub dengan basis suporter besar ini selalu menghadirkan tensi, gengsi, strategi, dan drama yang membuat pertandingan layak disebut sebagai salah satu duel paling menarik dalam sepak bola Indonesia.

Memasuki pekan kedua musim 2026/2027, duel Persija kontra Persib diprediksi kembali berlangsung sengit. Kedua tim tentu ingin mengawali musim dengan hasil terbaik sekaligus menunjukkan bahwa mereka layak menjadi kandidat kuat dalam persaingan papan atas.

Bukan Sekadar Tiga Poin

Pertandingan Persija versus Persib memiliki nilai lebih dari sekadar tiga poin. Setiap duel membawa sejarah dan gengsi yang panjang. Dalam beberapa pertemuan terakhir, Persib memiliki catatan positif ketika menghadapi Persija. Pada musim 2025/2026, misalnya, Persib berhasil menang 1-0 atas Persija pada 11 Januari 2026 dan kembali mengalahkan Persija 2-1 pada pertemuan berikutnya.

Namun, statistik masa lalu tidak otomatis menentukan hasil pertandingan berikutnya. Sepak bola selalu memberikan ruang bagi kejutan. Perubahan komposisi pemain, strategi pelatih, kondisi fisik, mental, serta atmosfer stadion dapat mengubah jalannya pertandingan.

Persija, Keuntungan Bermain di Kandang

Jika Persija bertindak sebagai tuan rumah, dukungan suporter tentu menjadi salah satu modal penting. Tekanan dari tribun dapat memberikan energi tambahan kepada pemain Persija, terutama pada menit-menit awal pertandingan.

Persija diperkirakan akan berusaha bermain agresif sejak awal. Mereka bisa saja mencoba menekan Persib melalui serangan dari sisi sayap, kemudian memanfaatkan umpan silang atau bola-bola kedua di sekitar kotak penalti.

Kunci Persija adalah kesabaran dan efektivitas. Terlalu terburu-buru menyerang justru dapat memberikan ruang bagi Persib untuk melakukan serangan balik.

Pemain-peman Kunci Persija siap merobek gawang Persib (Do.Foto Google)

Friday, September 11, 2026

Untuk Krani, dari Ayah

Surat cinta seorang ayah yang mungkin tak pernah pandai mengatakannya

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak, 11 September 2026.

Putriku, Krani Pratiwi...

Ada banyak hal yang ingin Ayah katakan kepadamu.

Tentang rasa bangga.
Tentang doa-doa yang diam-diam Ayah titipkan kepada Tuhan setiap malam.
Tentang kekhawatiran yang kadang Ayah sembunyikan di balik senyum.
Dan tentang rasa bahagia yang sering kali tidak mampu Ayah ungkapkan hanya dengan kata-kata.

Tetapi malam ini, Ayah ingin mencoba menuliskannya.

Karena ada sebuah kenangan yang rasanya terlalu indah jika hanya disimpan dalam ingatan.


Sabtu, 29 Agustus 2026.

Malam penutupan kegiatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.

Di antara riuhnya acara, cahaya panggung, suara tepuk tangan, dan berbagai pertunjukan, ada satu momen yang bagi Ayah terasa berbeda.

Malam itu Ayah berdiri bersamamu.

Kita membacakan puisi.

Sederhana, bukan?

Hanya beberapa menit.

Hanya beberapa bait.

Tetapi, Nak...

Kadang-kadang Tuhan menyelipkan kebahagiaan yang begitu besar di dalam sesuatu yang sangat sederhana.


Ayah masih ingat saat kita berdiri berdampingan.

Ayah melihatmu.

Dan dalam sekejap, waktu seperti berhenti.

Di hadapan Ayah bukan lagi sekadar seorang anak perempuan.

Ayah melihat seorang gadis yang sedang tumbuh.

Seorang perempuan kecil yang dahulu mungkin pernah Ayah genggam tangannya ketika belajar melangkah, kini berdiri dengan percaya diri di samping Ayah.

Saat itu Ayah tiba-tiba sadar...

Ternyata waktu telah berjalan sejauh itu.

Dan waktu tidak pernah meminta izin kepada seorang ayah ketika membawa anaknya tumbuh dewasa.

Ia hanya berjalan.

Pelan-pelan.

Hari demi hari.

Tahun demi tahun.

Sampai suatu ketika Ayah tersadar:

"Anakku sudah besar."


Beberapa waktu kemudian, Ayah melihat video yang kamu buat dan kamu simpan di Instagram.

Thursday, September 10, 2026

Ketika Matematika Berlari di Lapangan Futsal

Mengungkap Rumus, Strategi, dan Logika Matematika di Balik Permainan

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)


Cibadak – 10 September 2026. Guru Ataya, bagi sebagian orang, matematika mungkin identik dengan angka, rumus, persamaan, grafik, dan soal-soal yang harus diselesaikan di atas kertas. Sementara futsal identik dengan bola, lapangan, keringat, strategi, dan keseruan bermain bersama teman.

Namun, bagi Guru Ataya sebagai Guru Matematika di SMPN 3 Cibadak yang juga memiliki hobi bermain futsal, kedua dunia tersebut ternyata tidak pernah benar-benar terpisah.

Semakin sering bermain futsal, semakin Guru Ataya menyadari bahwa di balik sebuah pertandingan futsal terdapat banyak konsep matematika yang bekerja secara nyata. Matematika tidak hanya berada di dalam buku pelajaran. Matematika juga ada di lapangan, bahkan ikut berlari mengejar bola.

Matematika Tidak Hanya Ada di Dalam Kelas

Sebagai guru matematika, Guru Ataya sering mengatakan kepada siswa bahwa matematika bukan sekadar menghafal rumus. Matematika adalah cara berpikir untuk memahami pola, hubungan, ukuran, ruang, perubahan, dan pengambilan keputusan.

Futsal menjadi salah satu contoh menarik.

Ketika seorang pemain menggiring bola, mengoper kepada teman, mencari ruang kosong, melakukan tendangan ke gawang, atau menentukan posisi bertahan, sebenarnya ia sedang menggunakan kemampuan yang sangat dekat dengan matematika.

Mungkin pemain tidak pernah berkata,

"Guru Ataya sedang menerapkan konsep geometri."

Tetapi tanpa disadari, ia sedang melakukannya.

Lapang Futsal Ukuran Normal (Dok.Foto Google)

Wednesday, September 9, 2026

Bukan Sekadar Rapat, Ketika Suara Wali Kelas Menjadi Denyut SMPN 3 Cibadak

Bukan Sekadar Rapat, Ketika Suara Wali Kelas Menjadi Denyut SMPN 3 Cibadak

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)


Cibadak, 9 September 2026. Guru Ataya, suasana berbeda terasa dalam pelaksanaan Rapat Dinas Bulan September 2026 SMPN 3 Cibadak. Tidak sekadar menjadi forum penyampaian informasi kedinasan dan evaluasi program sekolah, rapat kali ini juga menjadi ruang untuk mendengarkan suara para wali kelas dari kelas VII, VIII, hingga IX.

Rapat dinas dilaksanakan pada Rabu, 9 September 2026, mulai pukul 10.00 hingga 16.00 WIB, diikuti oleh seluruh Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) SMPN 3 Cibadak. Dengan 24 rombongan belajar yang menjadi bagian dari dinamika sekolah, berbagai persoalan, perkembangan, dan kebutuhan Siswa menjadi bagian penting dalam pembahasan.

Bukan Sekadar Rapat, tetapi Ruang untuk Berbenah

Rapat dinas diawali dengan pembukaan, dilanjutkan dengan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan Mars Sukabumi. Setelah pembacaan doa dan kultum, kegiatan memasuki agenda utama, yaitu penyampaian informasi kedinasan dari Kepala Sekolah, Wakasek Kurikulum, dan Wakasek Kesiswaan.

Dalam arahannya, Kepala SMPN 3 Cibadak, H. Samirin, S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh PTK atas dedikasi serta kerja sama yang telah diberikan dalam menjalankan berbagai program sekolah.

“Terima kasih kepada seluruh PTK atas kerja sama dan kontribusinya dalam menjalankan tugas dan program sekolah.”

Ucapan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan sekolah bukanlah hasil kerja satu atau dua orang, melainkan buah dari kolaborasi seluruh warga sekolah.

Selanjutnya, Kepala Sekolah menyampaikan sejumlah hal penting yang perlu menjadi perhatian bersama, antara lain evaluasi kegiatan belajar mengajar (KBM), program Penilaian Tengah Semester, program supervisi kelas, kegiatan sekolah pada bulan September dan Oktober, serta pengaturan dan pelaksanaan tugas guru piket.

Berbagai agenda tersebut menunjukkan bahwa memasuki pertengahan semester, sekolah perlu semakin memperkuat koordinasi dan memastikan setiap program berjalan sesuai rencana.

Dokumentasi Rapat Dinas Bulan September 2026 SMPN 3 Cibadak (Dok.Foto Pribadi)

Tuesday, September 8, 2026

Ketika Senin Pagi Tanpa Upacara, Anak Krakatau Mengajarkan Sekolah Arti Kesiapsiagaan

Ketika Senin Pagi Tanpa Upacara, Anak Krakatau Mengajarkan Sekolah Arti Kesiapsiagaan

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak – 8 September 2026. Guru Ataya, Senin pagi biasanya menjadi momen yang khas bagi keluarga besar SMPN 3 Cibadak. Tepat pukul 07.00 WIB, seluruh siswa, guru, dan tenaga kependidikan bersiap mengikuti upacara bendera. Lapangan sekolah menjadi tempat bertemunya kedisiplinan, nasionalisme, penghormatan kepada para pahlawan, sekaligus pembentukan karakter Siswa.

Namun, Senin, 7 September 2026 terasa berbeda.

Tidak ada barisan panjang siswa di lapangan. Tidak terdengar aba-aba pemimpin upacara. Tidak ada pengibaran Sang Merah Putih seperti Senin-Senin sebelumnya.

Bukan karena upacara kehilangan makna.

Bukan pula karena sekolah mengabaikan kedisiplinan.

Justru sebaliknya, keputusan untuk tidak melaksanakan upacara menjadi bagian dari pembelajaran tentang keselamatan, kepedulian, dan kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Senin yang Berbeda karena Alam Sedang “Berbicara”

Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali menunjukkan aktivitas erupsi. Berdasarkan informasi Badan Geologi Kementerian ESDM, aktivitas erupsi menerus mulai tercatat pada Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB dan berlangsung sekitar 25 jam hingga Minggu, 6 September 2026 pukul 00.04 WIB. Status aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III atau Siaga.

Bahkan setelah episode erupsi menerus tersebut berakhir, aktivitas vulkanik masih terus dipantau. Badan Geologi mencatat adanya erupsi susulan dan mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya seperti lontaran batu pijar, lava, serta hujan abu lebat.

Situasi tersebut menjadi pengingat bahwa sekolah bukanlah ruang yang terpisah dari kondisi lingkungan.

Sekolah adalah bagian dari masyarakat.

Ketika alam memberikan tanda, dunia pendidikan pun harus mampu merespons dengan bijak.

Suasana Belajar Senin, 7 September 2026 (Dok.Foto Pribadi)

Surat Edaran yang Mengubah Rutinitas Senin

Menindaklanjuti kondisi tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi menerbitkan surat Nomor 440.3.1/6438/SEKRET/2026 tertanggal 6 September 2026 tentang Himbauan Mitigasi Abu Vulkanik.

Surat tersebut menjadi dasar bagi satuan pendidikan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan dampak abu vulkanik.

Beberapa langkah yang ditekankan antara lain:

Siswa dianjurkan menggunakan masker, terutama untuk mengantisipasi paparan abu vulkanik.

Kegiatan ekstrakurikuler berbasis kinestetik di luar ruangan dibatasi atau ditunda.

Orang tua diimbau membekali anak dengan masker cadangan.

Jika kondisi abu vulkanik semakin meningkat, kegiatan belajar mengajar dapat dilaksanakan secara daring.

Dengan adanya arahan tersebut, pelaksanaan upacara bendera di SMPN 3 Cibadak pada Senin pagi pun tidak dilaksanakan.

Keputusan tersebut mungkin terlihat sederhana.

Tetapi sesungguhnya ada sebuah pesan besar di baliknya:

Keselamatan Siswa harus menjadi prioritas utama dalam setiap keputusan pendidikan.

Monday, September 7, 2026

Tak Perlu Liburan Mahal, 7 Kilometer di Minggu Pagi Ini Justru Mengajarkan Arti Menikmati Hidup

Tak Perlu Liburan Mahal, 7 Kilometer di Minggu Pagi Ini Justru Mengajarkan Arti Menikmati Hidup

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak – 7 September 2026. Guru Ataya, setelah dua hari berkutat dengan materi Bimtek BOSP Kinerja 2026, Guru Ataya memilih cara yang sangat sederhana untuk menyegarkan pikiran, berjalan kaki sejauh kurang lebih 7 kilometer bersama keluarga. Tidak ada destinasi wisata, tidak ada biaya mahal, hanya jalan di dari rumah ke suatu tempat. Namun, dari langkah-langkah sederhana itu Guru Ataya menemukan sebuah pelajaran penting tentang kesehatan, keluarga, usia, dan arti menikmati kehidupan.

Minggu pagi, 6 September 2026, jarum jam menunjukkan pukul 06.30.

Udara pagi masih terasa bersahabat. Jalanan di sekitar tempat tinggal belum terlalu ramai. Setelah dua hari mengikuti kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) BOSP Kinerja Tahun 2026, tubuh dan pikiran rasanya membutuhkan jeda.

Bukan rapat.

Bukan pelatihan.

Bukan pekerjaan.

Pagi itu Guru Ataya memilih berjalan.

Bersama keluarga, isteri, adik ipar dan isteri paman.

Tujuannya pun sederhana: menikmati pagi dan menyegarkan pikiran.

Kami tidak menentukan target kecepatan. Tidak mengejar jumlah langkah tertentu. Kami hanya berjalan santai menyusuri jalan-jalan di sekitar tempat tinggal.

Hingga akhirnya, tanpa terasa, perjalanan mencapai kurang lebih 7 kilometer.

Dan ternyata, tujuh kilometer itu bukan hanya tentang jarak.

Setelah Dua Hari Duduk dalam Bimtek, Tubuh Juga Butuh Bergerak

Mengikuti kegiatan Bimtek tentu memberikan banyak manfaat. Ada pengetahuan baru, informasi yang perlu dipahami, diskusi, dan berbagai hal yang menuntut konsentrasi.

Tetapi setelah dua hari menjalani kegiatan tersebut, Guru Ataya merasa bahwa tubuh juga perlu diajak berkompromi.

Kita sering kali terlalu sibuk mengurus pekerjaan sampai lupa bahwa tubuh mempunyai hak untuk beristirahat dan bergerak.

Sebagai guru, pekerjaan tidak berhenti hanya ketika bel sekolah berbunyi. Ada pembelajaran yang harus dipersiapkan, tugas yang harus diselesaikan, evaluasi, administrasi, kegiatan sekolah, dan berbagai tanggung jawab lainnya.

Karena itu, ketika kesempatan hari libur datang, Guru Ataya mencoba memanfaatkannya dengan sesuatu yang sederhana.

Bergerak. Menghirup udara pagi. Berbicara dengan keluarga. Dan menikmati suasana tanpa terburu-buru.

Jalan Kaki Ternyata Bisa Menjadi "Liburan" yang Murah Meriah

Banyak orang menganggap refreshing harus dilakukan dengan pergi jauh.

Ke tempat wisata.

Ke luar kota.

Menginap di hotel.

Atau menghabiskan biaya yang tidak sedikit.

Padahal, tidak selalu demikian.

Pagi itu Guru Ataya belajar bahwa refreshing bisa dilakukan hanya dengan membuka pintu rumah, memakai sepatu yang nyaman, lalu mulai melangkahkan kaki.

Tidak perlu kendaraan.

Tidak perlu tiket.

Tidak perlu itinerary.

Yang diperlukan hanya kemauan untuk bergerak dan kesempatan untuk menikmati kebersamaan.

Sepanjang perjalanan, ada obrolan ringan bersama keluarga. Sesekali kami tertawa. Sesekali pula hanya berjalan sambil menikmati suasana.

Hal-hal sederhana seperti itulah yang terkadang justru sulit kita dapatkan ketika kesibukan sedang menumpuk.

Sunday, September 6, 2026

Menguatkan Literasi dan Numerasi, Menguatkan Masa Depan Siswa

Bimtek Hari Ketiga di SMPN 3 Cibadak Berlangsung Komunikatif, Ceria, dan Penuh Inspirasi

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak, 6 September 2026. Guru Ataya, semangat untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran kembali terasa di SMPN 3 Cibadak pada Sabtu, 5 September 2026. Sejak pukul 07.30 hingga 17.00 WIB, para peserta mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) Penguatan SPMI, Penguatan Literasi dan Numerasi (Litnum), serta Penguatan Digitalisasi Pembelajaran Pemanfaatan Dana BOSP Kinerja Terbaik Tahun 2026.

Memasuki hari ketiga kegiatan, materi yang menjadi fokus utama adalah Penguatan Literasi dan Numerasi. Kegiatan menghadirkan narasumber dari BBPMP Jawa Barat, Ibu Indrayani, yang membawakan materi secara komunikatif, interaktif, dan dekat dengan praktik pembelajaran di satuan pendidikan.

Suasana kegiatan tidak hanya serius dan penuh materi, tetapi juga berlangsung ceria, aktif, dan menyenangkan. Peserta diberikan ruang untuk berdiskusi, mengemukakan pendapat, melakukan analisis, serta menyusun rencana yang dapat diterapkan dalam pembelajaran.

Memulai dari Capaian, Bergerak Menuju Perbaikan

Kegiatan diawali dengan asesmen awal capaian literasi dan numerasi satuan pendidikan. Tahapan ini menjadi penting karena upaya meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan asumsi. Sekolah perlu melihat kondisi nyata berdasarkan data capaian peserta didik.

Dari data tersebut, guru dan satuan pendidikan dapat mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, serta aspek yang masih membutuhkan perhatian. Dengan demikian, program peningkatan mutu pembelajaran dapat disusun secara lebih tepat sasaran.

Pesan penting yang terasa dalam kegiatan ini adalah bahwa data bukan sekadar angka, melainkan pijakan untuk menentukan langkah perbaikan pembelajaran.

Meluruskan Konsep dan Membongkar Miskonsepsi

Sesi berikutnya membahas konsep dan dekonstruksi miskonsepsi literasi dan numerasi. Materi ini membuka pemahaman bahwa literasi dan numerasi bukanlah tanggung jawab satu atau dua mata pelajaran saja.

Literasi bukan sekadar kemampuan membaca, begitu pula numerasi bukan hanya kemampuan berhitung. Keduanya merupakan kemampuan fundamental yang diperlukan peserta didik untuk memahami informasi, berpikir kritis, memecahkan masalah, mengambil keputusan, dan menghadapi berbagai situasi dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi guru Matematika, penguatan numerasi menjadi sebuah kesempatan untuk menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan rumus, tetapi juga mendorong siswa untuk bernalar, memahami konteks, menafsirkan informasi, serta menggunakan matematika untuk menyelesaikan persoalan nyata.

Literasi dan Numerasi Menjadi Bagian dari Pembelajaran

Pada sesi strategi integrasi literasi dan numerasi, peserta diajak melihat bagaimana kedua kemampuan tersebut dapat diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran.

Pembelajaran yang baik tidak berhenti pada pertanyaan, “Apakah siswa sudah memahami materi?”, tetapi juga berkembang menjadi pertanyaan, “Apakah siswa mampu menggunakan pengetahuannya untuk memahami dan menyelesaikan masalah?”

Di sinilah guru memiliki peran penting sebagai perancang pengalaman belajar. Aktivitas membaca informasi, menginterpretasikan tabel dan grafik, menganalisis data, memberikan alasan, menyampaikan argumentasi, hingga memecahkan masalah kontekstual dapat menjadi bagian dari pembelajaran sehari-hari.

Dengan pendekatan tersebut, literasi dan numerasi tidak lagi dipandang sebagai program tambahan, melainkan menjadi napas dalam proses pembelajaran di kelas.

Kebersamaan di Bimtek LitNum SMPN 3 Cibadak (Dok.Foto Pribadi)

Saturday, September 5, 2026

Dari Rapor Pendidikan Menuju Sekolah Bermutu, Sehari Menyalakan Api SPMI di SMP IT Khalifah Boarding School

Bimtek Penguatan SPMI, Literasi-Numerasi, dan Digitalisasi Pembelajaran melalui Pemanfaatan Dana BOSP Kinerja Terbaik Tahun 2026

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak -  5 September 2026. Guru Ataya, hari Jumat, 4 September 2026 menjadi hari yang penuh makna bagi kami, para pendidik yang terus berupaya menghadirkan pendidikan yang semakin bermutu. Bertempat di SMP Khalifah Boarding School, sebuah kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penguatan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI), Penguatan Literasi dan Numerasi (Litnum), serta Penguatan Digitalisasi Pembelajaran melalui Pemanfaatan Dana BOSP Kinerja Terbaik Tahun 2026 dilaksanakan dengan penuh semangat.

Kegiatan dimulai pukul 07.30 WIB dan berakhir pada pukul 17.00 WIB. Meskipun berlangsung hampir satu hari penuh, suasana kegiatan terasa menyenangkan, kondusif, dan penuh energi positif. Bagi seorang guru, kegiatan seperti ini bukan sekadar agenda kedinasan, tetapi menjadi ruang untuk belajar, berbagi pengalaman, melakukan refleksi, sekaligus menemukan gagasan baru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah.

Tiga Sekolah, Satu Semangat untuk Meningkatkan Mutu

Bimtek ini diikuti oleh 15 peserta, masing-masing lima guru perwakilan dari tiga sekolah, yaitu:

SMPN 3 Cibadak

SMPN 1 Caringin

SMP Khalifah Boarding School

Keberagaman latar belakang sekolah justru menjadi kekuatan tersendiri. Pertemuan tiga sekolah dalam satu forum menciptakan ruang berbagi praktik baik. Pengalaman, tantangan, dan gagasan yang berbeda menjadi bahan pembelajaran bersama.

Kegiatan semakin bermakna dengan kehadiran narasumber dari BBPMP Jawa Barat, Bapak Asep Mulyana, yang membimbing peserta memahami berbagai aspek penting dalam penjaminan mutu pendidikan.

Memahami SNP: Fondasi Sekolah Bermutu

Sesi pertama membawa peserta memahami kembali Standar Nasional Pendidikan (SNP). SNP bukan sekadar seperangkat standar yang harus dipenuhi sekolah, tetapi merupakan fondasi untuk memastikan setiap satuan pendidikan mampu memberikan layanan pendidikan yang berkualitas.

Dari sesi ini muncul satu pemahaman penting: mutu sekolah tidak dibangun dalam satu malam. Mutu tumbuh melalui proses yang terencana, dilaksanakan secara konsisten, dievaluasi, dan diperbaiki secara berkelanjutan.

Di sinilah SPMI memiliki peran strategis.

Friday, September 4, 2026

Dari Kotak Makan ke Ruang Kelas Menjaga Gizi, Menumbuhkan Disiplin di SMPN 3 Cibadak

Dari Kotak Makan ke Ruang Kelas Menjaga Gizi, Menumbuhkan Disiplin di SMPN 3 Cibadak

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak – 4 September 2026. Guru Ataya, pendidikan bukan hanya tentang angka, rumus, dan nilai yang tertulis di atas kertas. Pendidikan juga berbicara tentang bagaimana sekolah memastikan setiap Siswa tumbuh sehat, kuat, disiplin, dan siap mengikuti proses pembelajaran. Karena itu, kehadiran program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu bagian penting dalam mendukung ekosistem pendidikan di sekolah.

Memasuki tahun kedua pelaksanaan program MBG, SMPN 3 Cibadak kembali mendapatkan manfaat dari program pemerintah tersebut. Setiap hari selama kegiatan belajar mengajar (KBM) berlangsung, program ini hadir untuk mendukung kebutuhan gizi warga sekolah, khususnya para Siswa.

SMPN 3 Cibadak memiliki 867 siswa dan 45 PTK (Pendidik dan Tenaga Kependidikan). Dengan jumlah warga sekolah yang cukup besar tersebut, pelaksanaan MBG tentu membutuhkan koordinasi, ketelitian, kedisiplinan, dan kerja sama dari berbagai pihak.

Pukul 08.00 WIB, Kotak-Kotak Makanan Tiba di Sekolah

Setiap hari, tepat sekitar pukul 08.00 WIB, MBG sudah tiba di lingkungan SMPN 3 Cibadak. Kehadiran makanan bergizi tersebut menjadi awal dari sebuah rangkaian kegiatan yang harus dipersiapkan dengan baik sebelum akhirnya sampai ke tangan para siswa.

Bagi sebagian orang, mungkin kegiatan ini terlihat sederhana: makanan datang, kemudian dibagikan kepada siswa.

Namun, jika dilihat lebih jauh, terdapat proses pengelolaan yang membutuhkan tanggung jawab besar. Dengan jumlah penerima mencapai ratusan siswa dan pembagian yang harus dilakukan ke 24 rombongan belajar, ketepatan jumlah, waktu, distribusi, hingga kebersihan menjadi bagian yang tidak dapat diabaikan.

Di sinilah nilai pendidikan juga berlangsung.

Siswa belajar bahwa mendapatkan makanan bukan hanya persoalan menerima, tetapi juga belajar tertib, menunggu giliran, menjaga kebersihan, menghargai makanan, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.


Mobil MBG siap mendistribusikan makan ke para siswa (Dok.Foto Pribadi)

Thursday, September 3, 2026

Ataya dan Langkah-Langkah Kecil Menuju Mimpi Besar

Ataya dan Langkah-Langkah Kecil Menuju Mimpi Besar

Sebuah Catatan Kecil dari Ayah untuk Sang Bungsu

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak- 3 September 2026. Guru Ataya, menjadi orang tua mengajarkan saya satu hal yang sangat berharga: setiap anak memiliki jalan ceritanya sendiri. Tidak pernah ada dua anak yang benar-benar sama. Mereka tumbuh dengan karakter, minat, bakat, kecepatan, dan pencapaiannya masing-masing.

Saya dan istri dikaruniai tiga orang anak. Anak pertama, Krani Pratiwi, S.Psi, lahir pada tahun 1995. Kemudian anak kedua, Hammam Pratama Putra, S.Or, lahir pada tahun 2002. Dan, setelah jeda waktu yang cukup panjang, hadir anak ketiga sekaligus si bungsu, Ataya Rachman Pradana Putra, yang lahir pada tahun 2017.

Jarak usia yang cukup jauh membuat kehadiran Ataya terasa seperti mendapatkan kembali hadiah kecil dalam perjalanan kehidupan keluarga kami.

Kini Ataya telah berusia delapan tahun dan duduk di kelas 3 SD. Sebagai seorang ayah, saya tentu menyadari bahwa pencapaian Ataya mungkin belum seberapa jika dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya. Masih banyak anak yang prestasinya jauh lebih banyak dan lebih tinggi.

Namun, bagi saya, prestasi bukan hanya tentang seberapa tinggi seseorang berdiri di podium. Prestasi juga tentang keberanian seorang anak untuk mencoba, berlatih, gagal, bangkit, dan mencoba lagi.

Dan karena itulah, setiap pencapaian kecil Ataya layak mendapatkan apresiasi.

Wednesday, September 2, 2026

“Dari Kapur ke Klik” Transformasi Jejak Guru Matematika di Era Digital

“Dari Kapur ke Klik” Transformasi Jejak Guru Matematika di Era Digital

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak – 2 September 2026. Guru Ataya, di era digital seperti sekarang, menjadi seorang guru tidak cukup hanya hadir di ruang kelas, menyampaikan materi, memberikan tugas, kemudian selesai ketika bel pulang berbunyi. Perjalanan seorang guru sesungguhnya jauh lebih panjang. Ada proses belajar, mencoba, gagal, memperbaiki, berinovasi, berbagi, dan terus bertumbuh.

Karena itu, Guru Ataya meyakini bahwa seorang guru perlu memiliki portofolio digital sebagai bagian dari perjalanan profesionalnya.

Portofolio digital bukan sekadar kumpulan dokumen yang disimpan di dalam komputer atau Google Drive. Portofolio digital adalah ruang untuk menyimpan sekaligus menceritakan jejak perjalanan seorang, apa yang telah dilakukan, apa yang telah dipelajari, karya apa yang telah dihasilkan, praktik baik apa yang telah dibagikan, dan bagaimana seorang guru terus berkembang dari waktu ke waktu.

Atas dasar pemikiran itulah Guru Ataya membangun “Portofolio Guru Ataya”.

Portofolio digital ini menjadi salah satu ruang bagi Guru Ataya untuk mendokumentasikan perjalanan sebagai seorang guru Matematika di SMP Negeri 3 Cibadak. Di dalamnya Guru Ataya mencoba menyatukan berbagai pengalaman, karya, refleksi, sertifikasi, publikasi, aksi nyata, hingga dokumentasi kegiatan pengembangan diri.

PortofolioGuru Ataya dapat diakses secara daring dan menjadi semacam “rumah digital” bagi perjalanan profesional Guru Ataya.

Guru Bukan Hanya Mengajar, tetapi Terus Belajar

Ada sebuah keyakinan sederhana yang selalu Guru Ataya pegang: guru yang baik adalah guru yang tidak pernah berhenti belajar.

Dunia pendidikan terus berubah. Teknologi berkembang begitu cepat. Cara siswa memperoleh informasi pun tidak sama seperti dahulu. Jika guru berhenti belajar, maka ada kemungkinan terjadi jarak antara dunia guru dan dunia peserta didik.

Karena itu, Guru Ataya berusaha menjadikan pengalaman mengajar sebagai proses pembelajaran bagi diri sendiri.

Sebagai guru Matematika, Guru Ataya tidak ingin matematika hanya hadir sebagai angka, rumus, dan soal di atas kertas. Guru Ataya ingin menghadirkan pembelajaran yang lebih dekat dengan kehidupan siswa, menyenangkan, bermakna, dan sesuai dengan perkembangan zaman.

Berbagai kegiatan pembelajaran, pelatihan, refleksi, berbagi praktik baik, dan pengalaman pengembangan diri menjadi bagian dari perjalanan tersebut.

Semua pengalaman itu tentu akan lebih bermakna apabila didokumentasikan.

Di sinilah portofolio digital memiliki peran penting.