Saturday, August 22, 2026

Dari Cageur hingga Singer, Meneguhkan Pendidikan Karakter

Dari Cageur hingga Singer, Meneguhkan Pendidikan Karakter

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak, 22 Agustus 2026. Disela-sela libur untuk mengajar, Guru Ataya mencoba berbagi sesuatu dari kegiatan Zoom meeting. Menjadi seorang guru bukan hanya tentang menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga tentang membentuk manusia yang memiliki karakter, integritas, kecerdasan, dan tanggung jawab. Semangat inilah yang terasa dalam kegiatan Diklat Peningkatan Mutu Guru melalui Pendekatan Transformative Learning & Hypnoteaching Angkatan 1 yang diselenggarakan oleh Perguruan Tinggi Nusa Putra.

Pada Sabtu, 22 Agustus 2026 mulai pukul 08.00 sd 12.30 WIB. Guru Ataya berkesempatan mengikuti kegiatan tersebut secara daring melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini menjadi ruang belajar dan refleksi bagi guru untuk memperkaya wawasan sekaligus menemukan pendekatan pembelajaran yang lebih bermakna bagi peserta didik.

Salah satu materi yang Guru Ataya ikuti mengangkat tema “Gapura Panca Waluya: Konsep Pendidikan Karakter” yang disampaikan oleh Dr. Ayi Abdurahman, M.Pd.,MM.,CT.HTc. Materi ini terasa sangat relevan dengan tantangan pendidikan saat ini, ketika sekolah tidak cukup hanya menghasilkan peserta didik yang unggul secara akademik, tetapi juga perlu menumbuhkan generasi yang sehat, berkarakter, berintegritas, cerdas, dan mampu bertanggung jawab dalam menghadapi perubahan zaman.

Panca Waluya: Lima Nilai untuk Membangun Manusia Jawa Barat


Dalam konsep Panca Waluya, terdapat lima nilai utama yang menjadi fondasi pembentukan manusia Jawa Barat, yaitu Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer.

Friday, August 21, 2026

Delapan Koin, Empat Tumpukan, Ketika Transformasi Geometri Menjadi Permainan yang Mengasyikkan

Delapan Koin, Empat Tumpukan, Ketika Transformasi Geometri Menjadi Permainan yang Mengasyikkan

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak- 21 Agustus 2026. Guru Ataya kali ini akan membagikan bagaimana mengemas sebuah game di proses pembelajaran dikelas.

Pembelajaran Matematika tidak selalu harus berlangsung dengan buku, papan tulis, dan deretan rumus. Jumat, 21 Agustus 2026, di kelas 9D SMPN 3 Cibadak, pembelajaran Transformasi Geometri hari ini dikemas dengan cara yang lebih menyenangkan melalui sebuah permainan sederhana, tetapi penuh tantangan.

Di sela-sela pembelajaran, siswa diajak memainkan permainan menyusun delapan koin menjadi empat tumpukan, masing-masing terdiri atas dua koin. Sekilas permainan ini terlihat mudah. Namun, aturan yang diberikan membuat siswa harus berpikir kreatif dan mencari strategi yang tepat.

Aturannya sederhana: dari 8 koin yang tersedia, siswa harus menyusunnya menjadi empat pasangan koin yang bertumpuk dua-dua. Untuk mencapai susunan tersebut, satu koin harus melewati dua koin lainnya. Tantangan inilah yang kemudian membuat siswa mulai mengamati, mencoba, berdiskusi, gagal, lalu mencoba kembali.

Thursday, August 20, 2026

Lima Belas Pulpen, Satu Strategi Belajar Matematika melalui Game yang Mengasah Logika

Lima Belas Pulpen, Satu Strategi Belajar Matematika melalui Game yang Mengasah Logika

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak – 20 Agustus 2026. Guru Ataya, pembelajaran matematika tidak selalu harus berlangsung dengan buku, papan tulis, dan deretan angka. Di SMPN 3 Cibadak, pembelajaran mendalam (deep learning) dapat dikemas menjadi pengalaman yang menyenangkan, menantang, sekaligus mengasah kemampuan berpikir siswa. Salah satunya melalui sebuah permainan sederhana yang ternyata mampu menghidupkan suasana kelas.

Di tengah kegiatan pembelajaran matematika, siswa diajak mengikuti sebuah permainan strategi menggunakan 15 buah pulpen. Aturannya sederhana. Pulpen disusun menjadi satu kelompok, kemudian 2 siswa bermain secara bergantian. Setiap pemain diperbolehkan mengambil 1, 2, atau paling banyak 3 pulpen dalam satu giliran.

Namun, ada satu aturan yang membuat permainan ini semakin menegangkan: siswa yang mengambil pulpen terakhir dinyatakan kalah.

Awalnya, permainan terlihat sangat sederhana. Siswa mungkin berpikir bahwa mereka hanya perlu mengambil pulpen sebanyak-banyaknya. Tetapi setelah beberapa putaran, mereka mulai menyadari bahwa permainan ini bukan sekadar tentang keberuntungan. Setiap pilihan harus dipikirkan karena keputusan yang diambil sekarang akan menentukan posisi permainan berikutnya.

Suasana kelas pun berubah. Siswa mulai berdiskusi, mengamati langkah lawan, memperkirakan kemungkinan yang akan terjadi, bahkan mencoba menemukan pola agar tidak menjadi pemain yang mengambil pulpen terakhir.

Wednesday, August 19, 2026

Refleksi Guru Matematika tentang Kemerdekaan dan Pendidikan

Refleksi Guru Matematika tentang Kemerdekaan dan Pendidikan

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Bandung - 19 Agustus 2026. Di sela-sela kegiatan keluarga mendampingi anak yang kedua di sidang skripsi S-1, Guru Ataya merefleksi diri tentang kemerdekaan dan pendidikan yang selama ini berjalan.  Beberapa hari terakhir, Indonesia sedang sibuk merayakan kemerdekaan.

Lapangan penuh lomba.

Bapak-bapak mengejar kerupuk.

Emak-emak tarik tambang.

Anak-anak berlarian membawa bendera kecil.

Kita tertawa.

Dan di sela-sela kemeriahan itu, ada satu hal yang justru membuat saya bertanya-tanya, Benarkah kita sudah semerdeka itu?

Belakangan saya juga ramai membaca berita tentang desil. Ada guru ASN yang ternyata masuk desil 10. Alhamdulillah.

Rupanya guru kita kaya raya. Ada pula anak pejabat (menteri) yang posting masuk desil 7.

Saya membaca, lalu mengernyitkan dahi. Ini pendataan sosial atau sedang membuat kasta baru?

Desil 1, desil 2, sampai desil 10.

Entah mengapa rasanya seperti membaca sistem kelas sosial zaman kolonial. Bedanya, dulu disebut priyayi dan jelata. Sekarang mungkin cukup diberi angka.

Saya tidak sedang mempermasalahkan data. Data itu penting. Yang membuat saya gelisah adalah ketika manusia akhirnya lebih mudah dilihat sebagai angka daripada sebagai manusia.

Dan kegelisahan itu membawa saya pada persoalan yang lebih besar:

Pendidikan kita sebenarnya sedang menuju ke mana?

Belum selesai satu kebijakan, muncul kebijakan lain. Belum sempat guru memahami buku yang baru, sudah muncul wacana review dan rombak buku pelajaran.

Padahal coba tengok perpustakaan sekolah. Buku-buku pelajaran menumpuk.

Tuesday, August 18, 2026

12 Semester Menanti, 18 Agustus Menjadi Hari yang Tak Terlupakan Ketika Perjuangan Hammam Berbuah Bahagia di UPI Bandung

12 Semester Menanti, 18 Agustus Menjadi Hari yang Tak Terlupakan Ketika Perjuangan Hammam Berbuah Bahagia di UPI Bandung

Oleh : Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Bandung- 18 Agustus. Guru Ataya kali akan berbagi tentang sesuatu,  ada hari-hari yang datang seperti biasa. Namun, ada pula hari yang sejak jauh-jauh hari telah dinantikan, dihitung, dan disimpan dalam doa. Selasa,18 Agustus 2026 adalah salah satunya.

Bagi kami sekeluarga, hari itu bukan sekadar tanggal dalam kalender. Hari itu adalah sebuah penanda perjalanan panjang, sebuah momentum yang menyatukan rasa haru, bangga, bahagia, dan syukur. Setelah menempuh perjalanan akademik selama 12 semester, anak kedua kami, Hammam Pratama Putra, akhirnya sampai pada salah satu tahapan penting dalam hidupnya: ujian sidang kelulusan Sarjana S-1 pada Program Studi Kepelatihan Olahraga (KFO) di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.

Hari itu terasa begitu istimewa karena kami dapat berkumpul lengkap. Saya bersama istri dan tiga anak hadir di UPI Bandung untuk memberikan support dan motivasi. Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang ayah selain melihat anaknya berdiri di titik yang selama ini diperjuangkannya, terlebih ketika perjalanan menuju titik tersebut tidaklah singkat.

12 semester bukan waktu yang sebentar

Ada banyak cerita di balik angka tersebut. Ada hari-hari penuh semangat, ada rasa lelah, ada tugas dan kewajiban akademik, ada proses belajar yang panjang, ada kegagalan yang mungkin pernah datang, dan tentu ada doa yang tidak pernah berhenti mengiringi setiap langkah.

Bagi seorang mahasiswa, menyelesaikan pendidikan S-1 bukan hanya tentang mendapatkan gelar. Di baliknya ada proses menempa kedewasaan, belajar bertanggung jawab, belajar bertahan ketika keadaan tidak selalu mudah, serta belajar untuk terus melangkah meskipun perjalanan terasa panjang.

Dan hari itu, semua perjuangan tersebut seolah menemukan satu titik temu.

Di lingkungan UPI Bandung, khususnya di Program Studi Kepelatihan Olahraga, Hammam menjalani salah satu ujian terpenting dalam perjalanan akademiknya. Sebagai orang tua, kami mungkin tidak selalu berada di setiap langkahnya. Namun, kami tahu bahwa setiap langkah itu memiliki cerita dan perjuangannya sendiri.


"Ayah dan ibu mungkin serta kakak dan adikmu tidak bisa menggantikan perjuanganmu, Nak. Tetapi doa kami selalu menyertai setiap langkahmu"

Monday, August 17, 2026

Dari Lapang Sekarwangi ke Kampung Halaman, Ketika Para Lansia Menjadi Penjaga Merah Putih

Dari Lapang Sekarwangi ke Kampung Halaman, Ketika Para Lansia Menjadi Penjaga Merah Putih

Oleh : Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak- 17 Agustus 2026 menjadi hari yang kembali mengingatkan kita bahwa kemerdekaan bukan sekadar upacara, bendera, atau rangkaian acara seremonial. Kemerdekaan adalah tentang rasa memiliki, kebersamaan, dan penghormatan kepada mereka yang telah mewariskan negeri ini kepada generasi penerus.

Tahun ini, bangsa Indonesia memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Seperti tahun-tahun sebelumnya, sebagai seorang ASN sekaligus guru di SMPN 3 Cibadak, saya seharusnya mengikuti upacara peringatan kemerdekaan di Lapang Sekarwangi bersama rekan PTK dan siswa perwakilan.

Seragam rapi, barisan tertib, suasana khidmat, dan kibaran Sang Merah Putih menjadi bagian dari peringatan yang penuh makna. Bersama para ASN dan peserta upacara lainnya, saya mengikuti sebagian rangkaian upacara dengan satu kesadaran sederhana, kemerdekaan yang kita nikmati hari ini dibangun oleh perjuangan yang panjang dan pengorbanan yang tidak sedikit.

Namun, ternyata cerita kemerdekaan saya pada 17 Agustus tahun ini belum selesai di Lapang Sekarwangi.

Bersama PNS dan PTK SMPN 3 Cibadak (Foto Dokumen sendiri)

Bersama Para Srikandi PNS SMPN 3 Cibadak (Foto Dokumen sendiri)

Bersama Anak OSIS sebelum Upacara di Mulai (Foto Dokumen Sendiri)

Setelah mengikuti upacara sebagain dilapang sekarwangi, tepat pukul 09.30 WIB saya melanjutkan perjalanan menuju kampung sendiri yang tak begitu jauh jaraknya dari lapang Sekarwangi untuk mengikuti upacara peringatan HUT ke-81 RI bersama warga.

Saturday, August 15, 2026

Ketika Semangat Pramuka Bertemu dengan Cinta

Ketika Semangat Pramuka Bertemu dengan Cinta 

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak, 14 Agustus 2026. Guru Ataya: Semangat kepramukaan terasa begitu kuat di SMPN 3 Cibadak pada Jumat, 14 Agustus 2026. Halaman sekolah menjadi saksi berkumpulnya berbagai elemen Gerakan Pramuka dalam rangka Upacara Peringatan Hari Pramuka ke-65 Tingkat Kecamatan Cibadak.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh unsur Forkopimcam Kecamatan Cibadak, yakni Camat Cibadak, Kapolsek Cibadak, dan Danramil Cibadak, serta Lurah Cibadak. Hadir pula para Kak Mabigus dari berbagai gugus depan di wilayah Kecamatan Cibadak, para anggota Pramuka Siaga, Penggalang, Pandega, serta para pembina Pramuka yang mendapat undangan.

Suasana semakin semarak sebelum upacara dimulai. Para peserta disuguhi penampilan seni tari dan atraksi Paskibra Cadas Try Satria SMPN 3 Cibadak yang tampil penuh semangat dan percaya diri. Kemudian, panggung kehormatan diisi oleh penampilan para juara Semaphore Dance Penggalang SD, yang sehari sebelumnya telah berkompetisi dalam rangkaian kegiatan peringatan HUT ke-65 Gerakan Pramuka.

Tepat pukul 09.30 WIB, upacara peringatan Hari Pramuka ke-65 secara resmi dimulai. Dengan seragam Pramuka yang dikenakan penuh kebanggaan, seluruh peserta mengikuti setiap rangkaian upacara dengan tertib dan khidmat.

Peringatan Hari Pramuka tahun 2026 mengusung tema:

“Memantapkan Langkah Organisasi Mendukung Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045.”

Tema tersebut menjadi pengingat bahwa Gerakan Pramuka tidak hanya berbicara tentang kegiatan di alam terbuka, keterampilan, kedisiplinan, dan persaudaraan, tetapi juga memiliki peran penting dalam membentuk generasi muda yang memiliki kepedulian terhadap masa depan bangsa.

Dalam sambutannya, Camat Kecamatan Cibadak menyampaikan pesan dan arahan mengenai pentingnya menjaga semangat kebersamaan serta terus mendukung program-program Gerakan Pramuka di tingkat ranting. Pramuka diharapkan mampu menjadi wadah pembentukan karakter generasi muda yang tangguh, mandiri, disiplin, peduli, dan siap berkontribusi bagi masyarakat.

Rangkaian kegiatan peringatan Hari Pramuka ke-65 Tingkat Kwartir Ranting Kecamatan Cibadak tidak berhenti pada upacara. Sebagai bagian dari program kerja Gerakan Pramuka Kwartir Ranting Kecamatan Cibadak sekaligus sebagai sarana memupuk jiwa kompetitif, kreativitas, kebersamaan, dan semangat kepramukaan, kegiatan dilanjutkan dengan lomba Pramuka tingkat Penggalang SMP/MI se-Kwartir Ranting Cibadak.

Bagi para peserta, perlombaan bukan sekadar tentang siapa yang menjadi juara. Lebih dari itu, setiap perlombaan menjadi ruang untuk belajar tentang kerja sama, keberanian, sportivitas, tanggung jawab, dan bagaimana sebuah regu mampu berjalan bersama menuju tujuan yang sama.

 

Thursday, August 13, 2026

Semapore Dance Semarakkan HUT ke-65 Pramuka, 45 Regu Penggalang SD Cibadak Tampil Penuh Kreativitas

Semapore Dance Semarakkan HUT ke-65 Pramuka, 45 Regu Penggalang SD Cibadak Tampil Penuh Kreativitas

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak, 13 Agustus 2026. Guru Ataya kali ini melaporkan kegiatan kwartir ranting kecamatan Cibadak dalam menyambut HUT ke-65 Pramuka. Semangat, kreativitas, kekompakan, dan jiwa kepramukaan mewarnai peringatan HUT ke-65 Gerakan Pramuka di Kecamatan Cibadak. Dalam rangka memeriahkan momentum tersebut, Kwartir Ranting Gerakan Pramuka Kecamatan Cibadak menyelenggarakan Lomba Semaphore Dance yang berlangsung meriah, lancar, dan tertib.

Kegiatan yang diikuti oleh 45 regu Penggalang dari SD/MI se-Kecamatan Cibadak ini menjadi salah satu ajang menarik untuk memadukan keterampilan kepramukaan dengan seni, kreativitas, musik, gerak, dan ekspresi. Para peserta menunjukkan kemampuan terbaiknya melalui perpaduan gerakan semaphore dengan koreografi yang dinamis dan penuh makna.

Lomba ini tidak sekadar menjadi ajang kompetisi, tetapi juga menjadi ruang bagi para anggota Pramuka Penggalang untuk belajar tentang kerja sama, disiplin, tanggung jawab, keberanian tampil, kreativitas, serta sportivitas.

15 Penggalang dalam Satu Regu, Bersatu dalam Gerak

Setiap tim/regu terdiri atas 15 peserta secara campuran. Seluruh peserta merupakan anggota Pramuka aktif yang berpangkalan di SD/MI wilayah Kecamatan Cibadak dan didampingi oleh seorang pembina sebagai penanggung jawab.

Peserta diwajibkan mengenakan seragam Pramuka lengkap, menjaga ketertiban dan kesopanan, serta menaati seluruh peraturan yang telah ditetapkan panitia. Ketentuan tersebut menjadi bagian penting untuk menanamkan nilai kedisiplinan dan tanggung jawab kepada peserta sejak dini.

Yang membuat lomba ini semakin unik adalah setiap regu tidak hanya dituntut mampu melakukan gerakan semaphore dengan tepat, tetapi juga harus mampu mengemasnya menjadi sebuah pertunjukan yang menarik. Gerakan semaphore harus mengandung makna, sementara peserta diperbolehkan menggunakan properti pendukung serta menampilkan ciri khas sekolah masing-masing.

“PRAMUKA RANTING CIBADAK SEMERBAK” Menggema dalam Gerakan Semaphore

Sunday, August 2, 2026

Dari Ruang LDKS Lahir Pemimpin Masa Depan: 60 Kader OSIS dan MPK SMPN 3 Cibadak Ditempa Menjadi Generasi Tangguh, Berkarakter, dan Berprestasi

Dari Ruang LDKS Lahir Pemimpin Masa Depan: 60 Kader OSIS dan MPK SMPN 3 Cibadak Ditempa Menjadi Generasi Tangguh, Berkarakter, dan Berprestasi

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak, 1 Agustus 2026 – Semangat kepemimpinan dan jiwa pengabdian tampak memenuhi setiap sudut lingkungan SMPN 3 Cibadak pada Sabtu (1/8/2026). Sebanyak 60 peserta yang merupakan anggota OSIS dan Majelis Perwakilan Kelas (MPK) mengikuti kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) yang mengusung tema "Pemimpin Muda, Generasi Tangguh, Berkarakter dan Berprestasi."

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 07.00 hingga 16.00 WIB ini dibuka secara resmi oleh Kepala SMPN 3 Cibadak, H. Samirin, S.Pd., M.Pd. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa kepemimpinan bukan sekadar kemampuan memimpin organisasi, melainkan juga kemampuan memberi teladan, mengambil keputusan dengan bijaksana, serta memiliki integritas dan kepedulian terhadap sesama.

Beliau mengajak seluruh peserta untuk menjadikan LDKS sebagai momentum membangun karakter dan mempersiapkan diri menjadi generasi yang mampu menghadapi tantangan zaman. Menurutnya, pemimpin yang hebat tidak lahir secara instan, tetapi dibentuk melalui proses belajar, pengalaman, kedisiplinan, dan kemauan untuk terus berkembang.

Rangkaian materi yang disajikan selama kegiatan dirancang untuk membekali peserta dengan kompetensi kepemimpinan yang utuh. Materi Kepemimpinan disampaikan langsung oleh H. Samirin, S.Pd., M.Pd., yang mengupas pentingnya visi, tanggung jawab, komunikasi, dan keteladanan dalam memimpin sebuah organisasi.

Monday, July 27, 2026

Refleksi Diri Seorang Guru

Refleksi Diri Seorang Guru

Oleh : Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak- 27 Juli 2026. Tiga hari ini, saya rasanya merasa gemes sekaligus kecewa. Hati saya rasanya berat. Mungkin karena saya seorang guru. Mungkin juga karena di rumah, saya memiliki seorang anak perempuan.

Ketika melihat sebuah berita tentang seorang anak perempuan yang masih duduk di kelas 1 SD yang berteriak meratap dan menangis di hadapan jasad ayahnya, ada sesuatu yang ikut runtuh di dalam dada saya.

Menurut pemberitaan yang beredar, sang ayah diduga mencuri ayam. Dugaan itu kemudian berujung pada aksi main hakim sendiri oleh warga hingga nyawanya tak tertolong.

Saya tidak sedang membela perbuatan mencuri. Kalau memang bersalah, tentu ada hukum yang harus ditegakkan.

Tetapi sejak kapan nyawa manusia menjadi semurah seekor ayam? Sejak kapan kemarahan bersama terasa lebih benar daripada akal sehat dan hati nurani?

Tangisan pilu seorang anak perempuan saat melihat ayahnya telah meninggal dunia setelah di amuk massa karena diduga mencuri ayam di Tabanan Bali, Jumat 24/7 dini hari (Foto tangkapan layar IG)


Saya terus memikirkan satu hal. Bagaimana jika pada saat lelaki itu tergeletak tak berdaya, telepon genggamnya berdering?

Lalu seseorang yang berada di lokasi sana mengangkat panggilan itu.

Dan dari seberang sana terdengar suara anak kecil yang polos.

"Pak... cepat pulang ya kalau sudah dapat uang. Di rumah sudah tidak ada beras."

Saya tidak tahu apakah itu benar-benar terjadi. Mungkin hanya imajinasi saya. Tetapi bukankah sering kali sebuah imajinasi justru mampu menampar nurani yang mulai mati?

Wednesday, June 3, 2026

Ketika Kenangan Menjadi Buku: Kelulusan dan Launching JELANG yang Menggetarkan Hati

Ketika Kenangan Menjadi Buku: Kelulusan dan Launching JELANG yang Menggetarkan Hati

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak, 2 Juni 2026GuruAtaya. Suasana haru, bangga, dan penuh kebahagiaan menyelimuti keluarga besar SMPN 3 Cibadak pada Selasa, 2 Juni 2026. Sebanyak 256 siswa kelas IX yang terdiri atas 123 siswa perempuan dan 133 siswa laki-laki resmi diumumkan kelulusannya setelah menempuh perjalanan pendidikan selama tiga tahun di SMPN 3 Cibadak.

Namun, pengumuman kelulusan tahun ini terasa berbeda dan lebih istimewa. Bersamaan dengan momen bersejarah tersebut, SMPN 3 Cibadak juga melaksanakan Launching Buku JELANG (Jejak Langkah Si Putih Biru di Lorong S3), sebuah karya monumental hasil kegiatan kokurikuler siswa kelas IX yang menjadi rekaman perjalanan mereka selama menuntut ilmu di sekolah tercinta.

Acara yang berlangsung khidmat dan meriah ini dihadiri oleh seluruh orang tua/wali siswa kelas IX, Ketua Komite Sekolah Bapak Ade Muhammad Drajat, Kepala SMPN 3 Cibadak Bapak H. Samirin, S.Pd., M.Pd., seluruh guru, staf tata usaha, serta keluarga besar SMPN 3 Cibadak.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan dan pembacaan ayat suci Al-Qur'an yang menambah suasana syukur dan kekhidmatan. Selanjutnya, para tamu undangan mengikuti berbagai sambutan yang sarat motivasi dan harapan bagi para lulusan yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Momen yang paling ditunggu tentu saja pengumuman kelulusan. Di balik senyum yang merekah, tampak pula mata yang berkaca-kaca. Tiga tahun perjalanan yang penuh perjuangan, persahabatan, pembelajaran, serta berbagai pengalaman berharga akhirnya mencapai garis akhir. Kelulusan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan gerbang awal menuju mimpi dan cita-cita yang lebih besar.