Laskar Kuda Hitam: Ketika Sorak Suporter Menjadi Energi Prestasi SMPN 3 Cibadak
Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)
Ada
sesuatu yang menarik setiap kali tim futsal SMPN 3 Cibadak bertanding.
Bukan hanya tentang siapa yang mencetak gol. Bukan hanya tentang siapa yang memenangkan pertandingan. Tetapi ada satu kekuatan lain yang selalu hadir dari sisi lapangan, suara yang bergemuruh, tepuk tangan yang tak putus, yel-yel yang membakar semangat, dan energi anak-anak yang seolah mengatakan kepada para pemain: “Kalian tidak sendiri. Kami ada di sini!”
Mereka
adalah Laskar Kuda Hitam, Ultras S3 Cerdik Berbudi.
Dari
Sekadar Hobi Menjadi Sebuah Gerakan Positif
Laskar
Kuda Hitam bukan ekstrakurikuler dalam struktur kegiatan sekolah. Ia tumbuh
sebagai sebuah komunitas siswa.
Anggotanya
adalah siswa-siswi SMPN 3 Cibadak yang memiliki kesamaan kegemaran: menyukai
olahraga, mencintai sekolah, dan memiliki keinginan untuk memberikan dukungan
kepada teman-temannya yang sedang bertanding.
Ketika
tim futsal SMPN 3 Cibadak turun ke lapangan, Laskar Kuda Hitam hadir di tribun.
Mereka
bernyanyi. Mereka bertepuk tangan. Mereka meneriakkan yel-yel. Mereka
mengibarkan semangat.
Namun
lebih dari itu, mereka sedang belajar tentang arti kebersamaan.
Sebab
menjadi suporter bukan hanya soal seberapa keras suara yang dikeluarkan. Ada
etika yang harus dijaga, ada sikap yang harus dikendalikan, dan ada tanggung
jawab untuk memastikan dukungan yang diberikan tetap berada dalam koridor sportivitas
dan karakter positif.
Di
sinilah pembinaan menjadi penting.
![]() |
| Dokumentasi Laskar Kuda Hitam Saat Pisah Sambut Kepala Sekolah (Dok.Foto Pribadi) |
Membina
Semangat, Bukan Sekadar Suara
Sebagai
guru yang diberi amanah membina Laskar Kuda Hitam, saya melihat bahwa energi
anak-anak ini sebenarnya sangat besar.
Jika
tidak diarahkan, energi tersebut bisa saja berhenti sebagai kegaduhan.
Tetapi
jika dibina dengan baik, energi itu dapat berubah menjadi sesuatu yang jauh
lebih berarti. Menjadi semangat. Menjadi kekompakan. Menjadi kreativitas.
Menjadi rasa memiliki terhadap sekolah.
Dan
yang paling penting, menjadi bagian dari pendidikan karakter.
Karena
itu, Laskar Kuda Hitam tidak dibangun untuk menjadi kelompok yang hanya datang
ke pertandingan lalu berteriak sepanjang permainan.
Mereka
dibimbing untuk memahami bahwa suporter sejati bukanlah mereka yang paling
gaduh, tetapi mereka yang mampu memberikan dukungan dengan cara yang positif
dan tetap menghargai lawan.
Mereka
belajar bahwa ketika tim sendiri menang, kemenangan itu harus dirayakan dengan
rendah hati.
Ketika
tim sendiri kalah, kekalahan harus diterima dengan kepala tegak.
Dan
ketika lawan bermain bagus, mereka pun harus mampu memberikan penghargaan.
Itulah nilai yang ingin ditanamkan.





.jpeg)








