Ketika
Guru Disupervisi: Menyaksikan Tekanan Air, Tekanan Pembelajaran, dan Tekanan
untuk Terus Bertumbuh
Oleh:
Guru Ataya (Iwan Sumantri)
Dalam
fisika, tekanan adalah sesuatu yang dapat diukur. Dalam kehidupan guru, tekanan
sering kali tidak terlihat, tetapi terasa. Dan pada Selasa, 29 September 2026, Guru
Ataya justru menemukan sebuah ironi yang menarik, ketika seorang guru IPA
mengajarkan Tekanan pada Zat Cair, di saat yang sama seorang guru sedang
menjalani proses supervisi pembelajaran.
Sama-sama
berbicara tentang tekanan. Tetapi tentu saja, tekanannya berbeda.
Hari
itu Guru Ataya mendapat amanah untuk menjadi supervisor dalam kegiatan
supervisi pembelajaran di SMPN 3 Cibadak. Amanah tersebut dilaksanakan
berdasarkan Keputusan Kepala SMPN 3 Cibadak Nomor 400.3.5/379/SMPN3 CBD/2026
tertanggal 8 September 2026 tentang Tim Penilai (PK) Guru dan Pengembangan
Keprofesian Berkelanjutan (PKB).
Guru
yang Guru Ataya dampingi adalah Ibu Riony Rahayu, S.Pd., M.Pd., salah seorang
guru yang mengampu mata pelajaran IPA di SMPN 3 Cibadak.
Supervisi dilaksanakan di kelas 9E, pada jam pelajaran ke1-2, mulai pukul 07.40 hingga 09.00 WIB.
Materinya?
Tekanan
pada Zat Cair.
Namun
bagi Guru Ataya, pagi itu bukan sekadar menyaksikan bagaimana sebuah materi IPA
disampaikan kepada siswa. Ada pelajaran lain yang jauh lebih dalam, bagaimana
seorang guru terus belajar untuk menjadi guru.
Bukan
Mencari Kesalahan
Supervisi
kadang masih dipersepsikan sebagai sesuatu yang menegangkan. Begitu mendengar
kata supervisi, sebagian guru mungkin langsung berpikir tentang perangkat
pembelajaran, administrasi, metode mengajar, pengelolaan kelas, asesmen, hingga
berbagai indikator yang harus terpenuhi.
Guru
kemudian bertanya dalam hati:
“Apakah
pembelajaran Guru Ataya sudah benar?”
“Apakah
ada yang kurang?”
“Apakah
supervisor menemukan kekurangan?”
Padahal,
bagi Guru Ataya, supervisi seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan “apa
yang salah?”
Lebih
penting dari itu adalah:
“Apa
yang bisa kita perbaiki?”
Karena
guru bukanlah manusia yang selesai.
Guru
adalah pembelajar yang setiap hari berhadapan dengan manusia-manusia yang juga
sedang bertumbuh.
Maka
supervisi semestinya menjadi ruang dialog, ruang refleksi, dan ruang untuk
melihat pembelajaran dari sudut pandang yang berbeda.
Pukul
07.40, Kelas 9E Dimulai
Jarum
jam menunjukkan pukul 07.40 WIB.
Kegiatan
pembelajaran dimulai.
Guru
Ataya mengambil posisi sebagai supervisor, mengamati proses pembelajaran yang
berlangsung di kelas 9E.
Ibu
Riony memasuki ruang pembelajaran dengan materi Tekanan pada Zat Cair.
Di hadapan beliau bukan sekadar deretan siswa kelas 9E. Ada berbagai karakter. Ada siswa yang cepat menangkap penjelasan. Ada yang membutuhkan pengulangan. Ada yang aktif bertanya. Ada pula yang mungkin lebih nyaman menyimpan pertanyaannya di dalam kepala.
Di
sinilah tantangan seorang guru sesungguhnya.
Guru
tidak hanya menguasai materi.
Guru
harus mampu membawa materi itu sampai kepada peserta didik.
Sebab
menguasai ilmu belum tentu otomatis mampu mengajarkannya.
Dan
mampu menjelaskan belum tentu berarti semua siswa memahami.
Di
antara keduanya terdapat seni bernama pedagogi.
![]() |
| Dokumentasi Supervisi Kelas bersama Bu Riony Rahayu,S.Pd.,M.Pd. (Dok.Foto Pribadi) |



.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)




.jpeg)







