Ketika Sepeda Mengajarkan Arti Menikmati Perjalanan
Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)
GuruAtaya memilih mengisi pagi dengan aktivitas sederhana yang sudah cukup akrab
bagi Guru Ataya yaitu bersepeda.
Tidak ada target jarak puluhan kilometer. Tidak ada ambisi mengejar kecepatan. Apalagi ingin menaklukkan tanjakan panjang. Di usia yang mulai mendekati masa pensiun, Guru Ataya justru belajar memahami tubuh sendiri. Bersepeda tidak lagi semata-mata tentang seberapa jauh perjalanan ditempuh, tetapi tentang bagaimana tubuh tetap bergerak dan pikiran tetap menikmati setiap kayuhan.
Minggu
yang Berbeda
Biasanya,
bersepeda terasa lebih menyenangkan ketika dilakukan bersama teman-teman dan
sahabat dalam komunitas sepeda. Ada obrolan sepanjang perjalanan, saling
menunggu ketika ada yang tertinggal, bercanda saat beristirahat, hingga berfoto
bersama setelah mencapai tujuan.
Namun,
Minggu itu terasa berbeda.
Guru
Ataya bersepeda sendirian.
Awalnya
mungkin terasa sedikit aneh. Tidak ada teman yang berada di samping, tidak ada
suara percakapan, dan tidak ada rombongan yang sesekali mengingatkan,
"Pelan-pelan!" atau "Istirahat dulu!"
Tetapi
justru dari kesendirian itulah Guru Ataya menemukan pengalaman yang berbeda.
Ketika
tidak ada teman bicara, Guru Ataya menjadi lebih banyak berbicara dengan diri
sendiri.
Guru
Ataya mendengar suara roda sepeda yang berputar. Guru Ataya merasakan hembusan
angin pagi. Guru Ataya memperhatikan jalan yang selama ini mungkin hanya
dilewati tanpa pernah benar-benar diperhatikan.
Ternyata, perjalanan yang sederhana bisa menjadi ruang untuk merenung.
Tidak
Perlu Jauh untuk Menjadi Bermakna
Rute
yang Guru Ataya tempuh tidak terlalu jauh. Guru Ataya sengaja memilih
perjalanan yang sederhana dan sesuai dengan kondisi fisik.
Bagi
sebagian orang, jarak tersebut mungkin tidak seberapa. Tetapi bagi Guru Ataya,
yang terpenting bukanlah angka pada odometer.
Sebab
dalam perjalanan hidup, kita tidak selalu harus berlomba menjadi yang paling
cepat atau menempuh jarak paling jauh.
Ada
saatnya kita hanya perlu terus bergerak sesuai kemampuan.
Bukankah
hidup juga demikian?
Ketika
masih muda, mungkin kita ingin berlari mengejar banyak hal. Karier, prestasi,
target, dan berbagai impian. Namun, ketika usia bertambah, kita mulai memahami
bahwa kesehatan, ketenangan, keluarga, persahabatan, dan kesempatan menikmati
hari ternyata memiliki nilai yang jauh lebih besar.
Kayuhan sepeda hari itu seolah mengingatkan Guru Ataya, tidak masalah berjalan lebih pelan, selama kita tidak berhenti bergerak.





.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)



.jpeg)

