Sunday, October 4, 2026

Ketika Komunikasi Menyentuh Hati: Krani Pratiwi Membawa Seni NLP ke Hadapan 60 Guru

Guru boleh punya segudang ilmu. Tetapi kalau gagal berkomunikasi, ilmu itu bisa berhenti di depan pintu hati murid.

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak - 4 Oktober 2026. Guru Ataya,pada Kamis, 1 Oktober 2026, menjadi hari yang membanggakan bagi Guru Ataya sebagai seorang ayah sekaligus seorang guru.

Anak pertama Guru Ataya, Krani Pratiwi, S.Psi., mendapat kesempatan menjadi narasumber pada kegiatan Peningkatan Kompetensi Guru bersama guru-guru yang tergabung dalam KKG Gugus IV SDN Cisaat 3 Pasawahan, Kecamatan Cicurug.

Materi yang dibawakan bukan materi biasa.

Judulnya:

“Seni Berkomunikasi dengan Murid melalui Neuro Linguistic Programming.”

Di hadapan kurang lebih 60 peserta, yang terdiri atas pengawas, kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan, Krani berdiri dengan penuh percaya diri.

Bukan sekadar berdiri, Ia berbicara, Ia menjelaskan, Ia mengajak peserta berpikir, dan yang paling penting, ia mengajak para guru untuk melihat kembali satu hal yang setiap hari sebenarnya mereka lakukan yaitu berkomunikasi dengan murid.

NS Krani Pratiwi,S.Psi. bersama para peserta NLP yang muda (Dok.Foto KKG Gugus 4 Cicurug)

Guru Setiap Hari Berbicara, Tetapi Apakah Murid Selalu Mendengar?

Inilah pertanyaan yang menarik.

Setiap hari guru berbicara. Di kelas guru menjelaskan, guru memberi instruksi, guru menegur, guru memotivasi, guru bertanya, guru menasihati. Tetapi ternyata, berbicara belum tentu berkomunikasi.

Kalimat yang sama bisa menghasilkan respons yang berbeda ketika disampaikan dengan cara yang berbeda, nada suara berbeda, pilihan kata berbeda, ekspresi wajah berbeda, bahasa tubuh berbeda, cara membangun kedekatan juga berbeda.

Di sinilah komunikasi menjadi sebuah seni, dan di ruang kelas, seni itu bukan sekadar pemanis. Ia adalah bagian dari proses pembelajaran.

Baca Juga:

Dua Jam yang Tidak Sekadar Berisi Materi

Selama kurang lebih dua jam, Krani Pratiwi menyampaikan materi tentang Neuro Linguistic Programming atau NLP dalam konteks komunikasi guru dengan murid.

Dengan penuh semangat dan percaya diri, ia membawa peserta memasuki pembahasan tentang bagaimana komunikasi dapat dibangun agar lebih efektif, positif, dan mampu menciptakan hubungan yang lebih baik antara guru dan murid.

Saturday, October 3, 2026

Bukan Sekedar Batik!

“Jangan Kaget! Jumat Pagi SMPN 3 Cibadak Mendadak Jadi Catwalk Batik”

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Sabtu- 3 Oktober 2026. Jumat biasanya identik dengan pakaian yang lebih agamis dan Santai  Tetapi Jumat, 2 Oktober 2026, ada yang berbeda di SMPN 3 Cibadak.

Jangan kaget kalau pagi-pagi melihat guru dan siswa datang dengan motif yang beraneka ragam.Ada yang bermotif klasik, ada yang bermotif modern, ada yang warnanya kalem, ada pula yang tampil mencolok sampai bikin mata sulit berpaling.

Ya, hari itu SMPN 3 Cibadak sedang “banjir batik”!

Bukan karena ada razia pakaian, bukan pula karena guru sedang mengadakan fashion show.

Tetapi karena seluruh PTK dan siswa-siswi SMPN 3 Cibadak bersama-sama memperingati Hari Batik Nasional.

BATIK BEBAS, HITAM WAJIB!

Dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional, seluruh warga sekolah mengenakan pakaian batik bebas yang dipadukan dengan celana atau rok warna hitam.

Khusus siswi, penampilan dibuat lebih ekspresif. Siswi tidak menggunakan hijab atau kerudung pashmina, serta tidak bermake-up untuk melengkapi penampilan.

Satu lagi yang tidak boleh dilupakan yaitu Sepatu harus hitam!

Jadi kalau batiknya sudah keren, make-up sudah alamih, gaya sudah percaya diri, tetapi sepatunya warna-warni…

Waduh, jangan sampai!

Karena di SMPN 3 Cibadak hari itu berlaku rumus sederhana yaitu:

Batik bebas + bawahan hitam + sepatu hitam = siap tampil!

BATIK BERBEDA, TAPI KITA TETAP SATU

Yang menarik dari batik adalah satu hal yaitu tidak ada batik yang benar-benar sama. Motifnya berbeda, warnanya berbeda, coraknya berbeda.

Tetapi ketika dikenakan bersama-sama, semuanya terlihat indah. Bukankah kehidupan di sekolah juga begitu?

Siswa berbeda kemampuan, berbeda karakter, berbeda minat, berbeda cita-cita.

Ada yang jago Matematika.

Ada yang hebat olahraga.

Ada yang piawai bernyanyi.

Ada yang berbakat seni.

Ada yang suka organisasi.

Ada yang pendiam tetapi prestasinya diam-diam bikin bangga, berbeda bukan berarti terpisah.

Justru perbedaan itulah yang membuat sebuah sekolah menjadi berwarna, seperti batik. Motifnya boleh berbeda, tetapi kainnya tetap satu.

Bukan Sekedar Batik Busana Di Hari Juamt, 2 Oktober 2026 (Dok.Foto Pribadi)

Friday, October 2, 2026

Supervisor Masuk Kelas, Bukan Mencari Kesalahan

Ketika Kelas 8A Bernyanyi dari Aceh sampai Sunda

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak, 2 Oktober 20206. Guru Ataya, apa yang terjadi jika seorang guru Matematika masuk ke kelas bukan untuk mengajarkan angka, tetapi untuk menyaksikan anak-anak bernyanyi?

Jawabannya Guru Ataya temukan pada Kamis, 1 Oktober 2026.

Pukul 09.00 WIB, Guru Ataya melangkah menuju kelas 8A SMPN 3 Cibadak. Bukan sebagai guru Matematika.

Bukan pula untuk menjelaskan rumus, persamaan, atau bangun ruang.

Hari itu Guru Ataya datang sebagai supervisor untuk melaksanakan tugas Penilaian Kinerja (PK) Guru dan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB).

Dan guru yang Guru Ataya membersamai adalah Ibu Yuniarti, S.T., M.Pd., guru Seni dan Prakarya.

Ada satu hal yang kemudian membuat Guru Ataya berpikir:

“Ternyata supervisi tidak selalu tentang mencari apa yang kurang dari seorang guru. Kadang justru supervisilah yang membuat kita sadar bahwa masih banyak hal yang bisa kita pelajari dari guru lain.”

Dokumentasi Supervisi 1 Oktober 2026 (Dok.Foto Pribadi)

Bukan Rumus, Tetapi Lagu

Supervisi ini dilaksanakan berdasarkan Keputusan Kepala SMPN 3 Cibadak Nomor 400.3.5/379/SMPN3 CBD/2026 tanggal 8 September 2026 tentang Tim Penilai (PK) Guru dan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB).

Jam ke-3 dan ke-4, pukul 09.00–10.20 WIB.

Guru Ataya duduk mengamati proses pembelajaran.

Topiknya?

Teknik, Gaya, dan Apresiasi Lagu Tradisional (Lagu Daerah).

Sebagai guru Matematika, tentu saja Guru Ataya terbiasa dengan angka. Tetapi hari itu yang memenuhi kelas bukan angka.

Yang terdengar adalah lirik lagu, nada, ekspresi, dan suara siswa.

Dan ternyata, suasana kelas bisa sama hidupnya ketika membicarakan lagu sebagaimana ketika membicarakan matematika. Bedanya, hari itu yang sedang “dihitung” bukan angka. Yang sedang dihitung adalah kekayaan budaya Indonesia.

Thursday, October 1, 2026

Bukan Sekadar Mencari Jawaban, Guru Matematika Sukabumi Mengasah Strategi OSN Bersama UPI

Bukan Sekadar Mencari Jawaban, Guru Matematika Sukabumi Mengasah Strategi OSN Bersama UPI

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Sukabumi - Rabu, 30 September 2026 bukan sekadar tanggal dalam kalender bagi para guru Matematika yang tergabung dalam MGMP Matematika Kabupaten Sukabumi.

Sejak pagi, layar komputer dan gawai menjadi ruang belajar bersama. Hampir 102 guru Matematika dari berbagai sekolah di Kabupaten Sukabumi mengikuti Workshop OSN Kabupaten Sukabumi Sesi 3 bersama UPI Bandung secara daring.

Tidak ada papan tulis besar di sebuah aula. Tidak ada kursi yang berjajar dalam sebuah ruang pelatihan. Namun, semangat belajarnya tetap terasa.

Karena menjadi guru pembimbing OSN bukan hanya tentang mampu mengerjakan soal.

Lebih dari itu, guru harus mampu mengajarkan cara berpikir.

Dari “Apa Jawabannya?” Menjadi “Bagaimana Cara Berpikirnya?”

Workshop dimulai pukul 08.00 WIB dengan materi:

“Analisis Soal OSN dan Strategi Mendampingi Siswa dalam Menyelesaikan Soal Kombinatorik.” Materi ini disampaikan oleh Ibu Dr. Khusnul Novianingsih, M.Si. dan Ibu Dr. Kartika Yulianti, M.Si.

Kombinatorik memang memiliki daya tarik tersendiri dalam dunia Olimpiade Matematika.

Di balik susunan angka, objek, pilihan, atau kemungkinan, terdapat pola berpikir yang tidak selalu terlihat pada pandangan pertama. Di sinilah tantangan seorang guru pembimbing OSN.

Siswa tidak cukup hanya diberi rumus.

Siswa perlu diajak bertanya: Apa yang diketahui? Apa yang sebenarnya ditanyakan? Apakah ada pola tertentu?

Bagaimana kemungkinan-kemungkinan tersebut dapat dihitung tanpa terjebak pada perhitungan yang berulang?

Dan yang tidak kalah penting yaitu bagaimana guru mendampingi siswa agar mampu menemukan strategi penyelesaiannya sendiri?

Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang membuat pembelajaran OSN berbeda dengan pembelajaran Matematika pada umumnya.

Dalam OSN, terkadang jalan menuju jawaban justru lebih penting daripada jawaban itu sendiri.

Guru Bukan Mesin Jawaban

Salah satu hal menarik dari pembinaan OSN adalah perubahan peran guru. Guru tidak selalu menjadi orang yang paling cepat memberikan solusi. Guru justru harus menjadi teman berpikir bagi siswa.

Ketika siswa menemui jalan buntu, guru tidak harus langsung mengatakan, “Caranya seperti ini.”

Sebaliknya, guru dapat memberikan pertanyaan pemantik:

“Coba lihat lagi polanya.”

“Apakah cara ini bisa digunakan untuk kasus yang lebih sederhana?”

“Bagaimana jika kita mulai dari kemungkinan yang paling kecil?”

“Adakah cara lain yang lebih efisien?”

Pertanyaan sederhana terkadang mampu membuka pintu berpikir yang sebelumnya tertutup. Inilah seni mendampingi siswa OSN.

Bukan sekadar mentransfer pengetahuan, tetapi menumbuhkan keberanian siswa untuk mencoba, gagal, berpikir ulang, dan menemukan jalan keluar.


Istirahat Bukan Berarti Berhenti Belajar

Pukul 10.30 WIB, kegiatan memasuki waktu istirahat hingga pukul 11.00 WIB. Tiga puluh menit menjadi jeda sebelum para guru kembali memasuki ruang belajar virtual.

Bagi sebagian orang, workshop daring mungkin terlihat sederhana.

Tinggal duduk di depan laptop, mendengarkan pemateri, lalu selesai.

Tetapi bagi guru yang serius mempersiapkan siswa menghadapi OSN, setiap materi adalah investasi.

Sebab di kemudian hari, pengetahuan yang diperoleh dalam workshop ini dapat kembali hadir di ruang kelas, dalam bentuk soal, strategi, pertanyaan pemantik, maupun pendampingan kepada siswa.

Wednesday, September 30, 2026

Ketika Guru Disupervisi: Menyaksikan Tekanan Air, Tekanan Pembelajaran, dan Tekanan untuk Terus Bertumbuh

Ketika Guru Disupervisi: Menyaksikan Tekanan Air, Tekanan Pembelajaran, dan Tekanan untuk Terus Bertumbuh

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak, 30 September 2026. Guru Ataya, pada saat supervise,ada yang menarik dari kata “tekanan”.

Dalam fisika, tekanan adalah sesuatu yang dapat diukur. Dalam kehidupan guru, tekanan sering kali tidak terlihat, tetapi terasa. Dan pada Selasa, 29 September 2026, Guru Ataya justru menemukan sebuah ironi yang menarik, ketika seorang guru IPA mengajarkan Tekanan pada Zat Cair, di saat yang sama seorang guru sedang menjalani proses supervisi pembelajaran.

Sama-sama berbicara tentang tekanan. Tetapi tentu saja, tekanannya berbeda.

Hari itu Guru Ataya mendapat amanah untuk menjadi supervisor dalam kegiatan supervisi pembelajaran di SMPN 3 Cibadak. Amanah tersebut dilaksanakan berdasarkan Keputusan Kepala SMPN 3 Cibadak Nomor 400.3.5/379/SMPN3 CBD/2026 tertanggal 8 September 2026 tentang Tim Penilai (PK) Guru dan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB).

Guru yang Guru Ataya dampingi adalah Ibu Riony Rahayu, S.Pd., M.Pd., salah seorang guru yang mengampu mata pelajaran IPA di SMPN 3 Cibadak.

Supervisi dilaksanakan di kelas 9E, pada jam pelajaran ke1-2, mulai pukul 07.40 hingga 09.00 WIB. 

Materinya?

Tekanan pada Zat Cair.

Namun bagi Guru Ataya, pagi itu bukan sekadar menyaksikan bagaimana sebuah materi IPA disampaikan kepada siswa. Ada pelajaran lain yang jauh lebih dalam, bagaimana seorang guru terus belajar untuk menjadi guru.

Bukan Mencari Kesalahan

Supervisi kadang masih dipersepsikan sebagai sesuatu yang menegangkan. Begitu mendengar kata supervisi, sebagian guru mungkin langsung berpikir tentang perangkat pembelajaran, administrasi, metode mengajar, pengelolaan kelas, asesmen, hingga berbagai indikator yang harus terpenuhi.

Guru kemudian bertanya dalam hati:

“Apakah pembelajaran Guru Ataya sudah benar?”

“Apakah ada yang kurang?”

“Apakah supervisor menemukan kekurangan?”

Padahal, bagi Guru Ataya, supervisi seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan “apa yang salah?”

Lebih penting dari itu adalah:

“Apa yang bisa kita perbaiki?”

Karena guru bukanlah manusia yang selesai.

Guru adalah pembelajar yang setiap hari berhadapan dengan manusia-manusia yang juga sedang bertumbuh.

Maka supervisi semestinya menjadi ruang dialog, ruang refleksi, dan ruang untuk melihat pembelajaran dari sudut pandang yang berbeda.

Pukul 07.40, Kelas 9E Dimulai

Jarum jam menunjukkan pukul 07.40 WIB.

Kegiatan pembelajaran dimulai.

Guru Ataya mengambil posisi sebagai supervisor, mengamati proses pembelajaran yang berlangsung di kelas 9E.

Ibu Riony memasuki ruang pembelajaran dengan materi Tekanan pada Zat Cair.

Di hadapan beliau bukan sekadar deretan siswa kelas 9E. Ada berbagai karakter. Ada siswa yang cepat menangkap penjelasan. Ada yang membutuhkan pengulangan. Ada yang aktif bertanya. Ada pula yang mungkin lebih nyaman menyimpan pertanyaannya di dalam kepala.

Di sinilah tantangan seorang guru sesungguhnya.

Guru tidak hanya menguasai materi.

Guru harus mampu membawa materi itu sampai kepada peserta didik.

Sebab menguasai ilmu belum tentu otomatis mampu mengajarkannya.

Dan mampu menjelaskan belum tentu berarti semua siswa memahami.

Di antara keduanya terdapat seni bernama pedagogi.

Dokumentasi Supervisi Kelas bersama Bu Riony Rahayu,S.Pd.,M.Pd. (Dok.Foto Pribadi)

Tuesday, September 29, 2026

Teqball: Ketika Bola, Meja, dan Matematika Bertemu di Asian Games 2026

Teqball: Ketika Bola, Meja, dan Matematika Bertemu di Asian Games 2026

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Sumaya Atlit TeqBall

Cibadak- 29 September 20206. Guru Ataya, ada banyak cara untuk mencintai olahraga. Ada yang mencintainya karena gol. Ada yang terpukau oleh kecepatan. Ada yang kagum melihat kekuatan fisik. Ada pula yang tertarik karena olahraga itu menghadirkan sesuatu yang berbeda.

Saya termasuk yang terakhir.

Sebagai guru Matematika di SMPN 3 Cibadak, perhatian saya dalam perhelatan Asian Games Aichi-Nagoya 2026 justru tertuju pada sebuah cabang olahraga yang mungkin belum terlalu familiar bagi sebagian masyarakat Indonesia yaitu Teqball.

Asian Games ke-20 berlangsung di Aichi-Nagoya, Jepang, pada 19 September sampai 4 Oktober 2026. Ajang olahraga terbesar di Asia ini mempertandingkan 43 cabang olahraga, sementara Indonesia mengirimkan kontingen untuk berkompetisi pada 35 cabang olahraga dengan 432 atlet. Salah satu cabang yang diikuti Indonesia adalah Teqball.

Dan ternyata, Teqball bukan sekadar menjadi pelengkap.

Indonesia langsung mencatat sejarah.

Dua Medali dari Cabang yang Masih Asing bagi Banyak Orang

Teqball menjadi salah satu cabang baru dalam program Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Pada debutnya di Asian Games, Indonesia berhasil membawa pulang dua medali dari nomor tunggal.

Sumaya meraih medali perak nomor tunggal putri, sedangkan Yoga Ardika Putra meraih medali perunggu nomor tunggal putra. Raihan Yoga tercatat sebagai medali pertama Indonesia dari cabang Teqball dalam sejarah keikutsertaan di Asian Games.

Sumaya peraih medali Perak Asian Games 2026 (Dok.Foto Pribadi)

Perjalanan Sumaya juga menarik untuk diperhatikan.

Ia baru sekitar dua tahun menekuni Teqball setelah sebelumnya berkiprah di sepak takraw. Namun, dalam waktu relatif singkat, ia mampu mencapai final Asian Games 2026. Di final, Sumaya harus mengakui keunggulan wakil Myanmar, Wai Khin Hnin, melalui pertandingan ketat dengan skor 12-10, 8-12, 9-12 dan akhirnya membawa pulang medali perak.

Sementara itu, Yoga Ardika Putra berhasil mengamankan medali perunggu nomor tunggal putra. Bagi Yoga, pencapaian tersebut menjadi hasil dari proses latihan dan perjuangan panjang sekaligus momentum penting bagi perkembangan Teqball Indonesia.

Dua medali tersebut seolah memberikan pesan sederhana:

Jangan pernah meremehkan cabang olahraga yang belum banyak dikenal. Bisa jadi, dari sanalah sejarah baru sedang dimulai.

Sebenarnya, Apa Itu Teqball?

Bagi saya, Teqball menarik karena sekilas olahraga ini membuat orang bertanya: “Ini sepak bola atau tenis meja?”

Jawabannya: bukan keduanya.

Teqball merupakan olahraga yang memadukan unsur sepak bola dan tenis meja. Olahraga ini dikembangkan di Hungaria pada 2012 dan dimainkan menggunakan sebuah meja khusus yang permukaannya melengkung.

Bola yang digunakan adalah bola sepak berukuran standar, sementara pemain menggunakan berbagai bagian tubuh, kecuali tangan dan lengan, untuk mengontrol serta mengembalikan bola melewati meja.

Di sinilah keunikan Teqball. Tidak ada raket. Tidak ada net seperti tenis. Tidak boleh menggunakan tangan seperti sepak bola.

Yang dibutuhkan adalah kombinasi kontrol bola, koordinasi tubuh, konsentrasi, ketepatan, kecepatan mengambil keputusan, dan kemampuan membaca arah pantulan bola.

Karena itulah, olahraga ini bukan hanya mengandalkan kekuatan. Otak pun harus ikut bermain.


Melalui Layar Kaca TV Sport Saat Sumaya Bertanding di Final Asian Games 2026

Monday, September 28, 2026

Lima Kilometer, Dua Hati, dan Pagi yang Kami Miliki Sendiri

Lima Kilometer, Dua Hati, dan Pagi yang Kami Miliki Sendiri

Oleh. Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Senin, 28 September 2026. Guru Ataya, hari libur bagi seorang guru tidak selalu berarti harus bermalas-malasan di rumah. Setelah hari-hari dipenuhi rutinitas sekolah, mengajar, berhadapan dengan murid, dan berbagai urusan lainnya, sesekali tubuh dan pikiran memang perlu diajak “jalan-jalan”.

Bukan perjalanan jauh. Bukan pula liburan mewah.

Minggu, 27 September 2026, pagi itu, Guru Ataya dan istri memilih sesuatu yang sederhana, jalan santai berdua.

Pukul 06.30 WIB, kami melangkahkan kaki dari rumah menuju Renzo Edupark, yang jaraknya kurang lebih 5 kilometer

Lima kilometer mungkin terdengar tidak terlalu jauh. Tetapi ketika ditempuh dengan berjalan kaki, jarak tersebut menjadi sebuah perjalanan yang punya cerita.

Kami menyusuri jalan perkampungan. Sesekali berpapasan dengan warga yang juga menikmati pagi. Kemudian jalan membawa kami ke hamparan persawahan yang masih terasa sejuk.

Tidak ada target harus cepat sampai.

Kami hanya berjalan, berbincang, menikmati udara pagi, dan sesekali memperhatikan pemandangan di sekitar.

Mungkin inilah salah satu kemewahan yang sering terlupakan, memiliki waktu untuk berjalan pelan bersama orang yang kita cintai.

Renzo Edupark yang Masih Terlelap

Dua jam kemudian, tepat sekitar pukul 08.30 WIB, kami akhirnya tiba di Renzo Edupark.

Ada hal menarik yang langsung kami rasakan.

Tempat itu masih sangat sepi.

Belum banyak pengunjung yang datang. Cafe dan resto RENZO pun belum mulai menyajikan makanan, minuman, maupun kopi.

Akhirnya, pagi itu kami seperti mendapatkan sebuah kesempatan istimewa.

Renzo Edupark terasa seperti milik kami berdua.

Tentu saja bukan benar-benar milik kami. Ada penjaga yang menemani. Tetapi suasana yang begitu lengang membuat kami bisa menikmati tempat tersebut dengan tenang.

Tidak ada suara keramaian pengunjung.

Tidak ada antrean makanan.

Belum ada aroma kopi yang menggoda.

Hanya ada suasana pagi, tempat yang masih tenang, dan dua orang yang sedang menikmati waktu bersama.


Potret Kami di Kenzo Edupark disaat Pagi yang cerah (Foto Dok.Pribadi)

Sunday, September 27, 2026

Jangan Kurung Anak di Dalam Kelas, Biarkan Mereka Menjelajah Dunia

Jangan Kurung Anak di Dalam Kelas, Biarkan Mereka Menjelajah Dunia

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak, 27 September 2026. Guru Ataya kali ini akan berbagi sesuatu yang menarik  diaktivitas hari libur. 

Sabtu, 26 September 2026. Pukul 09.00 WIB. Pagi itu saya tidak membawa Ataya ke sekolah. Tidak ada tas dan catatan yang harus dibawa.  Tidak ada buku matematika. Tidak ada papan tulis. Tidak ada rumus. Tidak ada tugas yang harus dikumpulkan.

Saya justru mengantarnya bersama Sena dan Nura ke sebuah tempat yang mungkin bagi sebagian orang bukanlah “ruang belajar”.

Kami menuju Dinas Pemadam Kebakaran Kecamatan Cibadak.

Di sanalah Ruang Jelajah Sukabumi membawa sekitar 21 anak usia dini bersama ayah dan bundanya untuk belajar dengan cara yang berbeda.

Dan saya kembali diingatkan pada satu hal: Anak-anak tidak harus selalu belajar di dalam kelas untuk menjadi pintar.

Hari Itu, Ataya Belajar dari Dunia Nyata

Ruang Jelajah Sukabumi merupakan komunitas yang menjadi wadah tumbuh kembang anak-anak usia dini, sekitar 2 sampai 8 tahun.

Kegiatan hari itu diketuai oleh Krani Pratiwi, S.Psi sang kakak dari Ataya.

Anak-anak diajak berkunjung, melihat dari dekat, bertanya, mengenal peralatan, serta memahami pekerjaan para petugas pemadam kebakaran.

Bagi orang dewasa mungkin sederhana.

Tetapi bagi seorang anak, pengalaman itu bisa menjadi sesuatu yang luar biasa. Mereka melihat mobil pemadam kebakaran bukan lagi sekadar kendaraan besar yang sesekali lewat di jalan. Mereka melihat orang-orang yang bekerja dengan keberanian. Mereka mulai mengenal bahwa ketika terjadi kebakaran, ada orang yang datang membantu.

Dan tanpa mereka sadari, mereka sedang belajar tentang keberanian, kepedulian, kedisiplinan, keselamatan, dan pengabdian.

Ataya bersama Nura dan Xena sedang mendengarkan paparan dari petugas Damkar