Jelang Guru Ataya Purnabakti: Sebuah Perjalanan Pengabdian Tanpa Henti
Oleh :
Guru Ataya (Iwan Sumantri)
Awal
menjadi guru (1987 di Perguraun Tamansiswa Cibadak) adalah langkah yang
sederhana, namun penuh tekad. Guru Ataya menyadari bahwa matematika sering
dianggap sulit oleh sebagian siswa. Namun bagi Guru Ataya, di balik angka dan
rumus, terdapat keindahan logika dan cara berpikir yang luar biasa. Dari
situlah Guru Ataya berkomitmen untuk tidak hanya mengajar, tetapi juga
membimbing siswa agar mampu mencintai proses belajar.
Selama
bertahun-tahun mengajar, Guru Ataya belajar bahwa setiap anak memiliki potensi
yang unik. Tidak semua siswa langsung memahami pelajaran, tetapi setiap siswa
berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang. Kesabaran,
ketelatenan, dan pendekatan yang humanis menjadi kunci dalam setiap proses
pembelajaran yang Guru Ataya lakukan.
Di
ruang kelas, Guru Ataya tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga berusaha
menanamkan nilai kehidupan, kejujuran, kerja keras, dan rasa percaya diri. Guru
Ataya percaya, keberhasilan seorang guru tidak hanya diukur dari nilai akademik
siswa, tetapi juga dari karakter yang terbentuk dalam diri mereka.
Tentu,
perjalanan ini tidak selalu mudah. Ada tantangan, kelelahan, bahkan rasa jenuh.
Namun setiap senyum siswa, setiap keberhasilan kecil yang mereka capai, selalu
menjadi energi baru untuk terus melangkah. Itulah yang membuat Guru Ataya
bertahan dan mencintai profesi ini hingga saat ini.
Kini, masa purnabakti semakin dekat ( 1 Maret 2027). Ada rasa haru yang tak terhindarkan. Sekolah ini bukan sekadar tempat bekerja, melainkan rumah kedua yang penuh kenangan. Rekan sejawat yang saling mendukung, serta siswa-siswa yang penuh semangat, telah menjadi bagian penting dalam hidup Guru Ataya.






