Monday, August 31, 2026

Ketika Puisi Menjadi Jembatan Cinta, Ayah dan Putri Merajut Kebersamaan Lintas Generasi

Ketika Puisi Menjadi Jembatan Cinta, Ayah dan Putri Merajut Kebersamaan Lintas Generasi

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cikiwul- 31 Agustus 2026. Guru Ataya. Sabtu malam, 29 Agustus 2026, menjadi salah satu malam yang akan selalu Guru Ataya kenang. Di tengah semarak peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, warga Kampung Cikiwul Tonggoh, RW 01, Desa Sekarwangi, berkumpul dalam sebuah acara puncak yang bukan sekadar perayaan, tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat tali silaturahmi.

Tema yang diusung begitu sederhana, tetapi memiliki makna yang dalam: “Merajut Kebersamaan Lintas Generasi.”

Malam itu, anak-anak, remaja, orang tua, para tokoh masyarakat, alim ulama, pemuda, ibu-ibu, hingga para sesepuh kampung hadir dalam suasana penuh keakraban. Perbedaan usia seolah tidak menjadi sekat. Semua melebur dalam satu rasa: rasa syukur, rasa memiliki, dan rasa cinta terhadap kampung halaman serta tanah air Indonesia.

Di antara rangkaian acara tersebut, Guru Ataya mendapat kesempatan untuk mengisi sesi pembukaan dengan membacakan puisi. Namun, ada sesuatu yang membuat momen itu terasa jauh lebih istimewa. Guru Ataya tidak membacakan puisi seorang diri. Guru Ataya berkesempatan berdiri di panggung bersama putri kesayangan Guru Ataya, Krani Pratiwi.

Bagi Guru Ataya, panggung malam itu bukan hanya tempat untuk membacakan rangkaian kata. Panggung itu menjadi ruang kecil tempat seorang ayah dan putrinya berbagi rasa, berbagi suara, dan berbagi kenangan.

Ketika suara kami bergantian melantunkan bait demi bait puisi, Guru Ataya merasakan sebuah pesan yang lebih besar daripada sekadar kata-kata tentang kemerdekaan. Ada pesan tentang keluarga. Ada pesan tentang cinta. Ada pesan tentang bagaimana nilai-nilai perjuangan harus terus diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

CERITA SEDERHANA

13 tahun lalu mimpiku terkabul. Aku masuk jurusan psikologi yang aku ingin. Berkelana ke bandung. Belajar hal baru bertemu teman baru.. 

Jangan lupa pulang yah nak.. ketika ilmumu sudah cukup kembali ke rumah. Semuaku usahakan untuk mimpi putri kecilku. Kamu hebat bahkan sebelum toga itu kau pakai. 

Rasanya aku ingin menetap disini ayah.. Semua temanku semua hal yang membuatku bahagia sekarang bukan lagi rumah. Aku punya mimpi baru dengan pengalaman yang aku punya. Aku sudah besar, aku sudah jadi sarjana sekarang. Pengalamanku cukup untukku hidup sekarang. 

Sebentar, Pulang.. rumah merindukanmu. Tidak mesti selamanya disini, ceritakan sebentar  tentang bagaimana kamu menjadi beruntung itu. Bagaimana kamu sudah menjadi besar. Bagaimana semua hal hebat itu kamu lalui.. 

Tahun ini aku pulang ayah..

Aku bertemu teman baru.. ada teh ana, ada a iky, ada bunga, ada ratu, ada nadiva, ada sapar, ada Udi, ada Ian, ada Dhani, ada ebo, ada Revina, ada Zahra ada Kaka, ada Ucup, ada Chandra, ada iko ada Silvi, ada Ferdi, ada Abang, ada banyak orang orang baik itu. Bersama mereka aku merajut kebersamaan malam ini.. Mereka teman baru yang aku temui di rumah. 13 tahun lalu aku belajar bagaimana mengabulkan mimpiku menjadi sarjana, hari ini bersama mereka aku mengabulkan banyak doa untuk bersama. 

Lihatlah, rumah sehangat itu bukan ?. Ada keluarga yang menemani, ada teman yang membantu ada banyak orang yang meyanyngimu, bukan karna kamu seorang sarjana, bukan juga karna semua pengalaman mu, mereka ada hari ini karna kamu menyapanya, karna kamu membersamainya karna kamu menjadi bagian dari cerita sederhana itu. Teriknya matahari tetap memberi semangat nenek nenek cantik yang kamu percaya untuk melaksanakan upacara bendera. Mata yang rabun tak membuat lansia menyerah untuk belajar merajut. Gawang kecil itu tetap memberi bahagia untuk anak anak yang bermain sepak bola, temanmu yang sudah jadi timnas memberi semangat untuk adik adik kecil disini. Teman teman barumu jauh lebih hebat bukan ? Bisa mewujudkan semua inginmu kemarin 

Ayah.. terima kasih, karna selalu mengingatkan ku  untuk pulang. Sebentar yang melekat.. hal hebat itu sudah aku dan teman temanku persembahkan untuk rumah bernama kampung Cikiwul.. Aku akan rindu semua kebersamaan ini.. Rindu bagaimana hangatnya sebuah sapaan, begitu hangatnya sebuah kebersamaan.. Malam ini ijinku aku berterimakasih untuk banyak raga yang membantu putri kecil ayah ada dipanggung ini. Terima Kasih Ibu Bapak adik  adik semuanya.. Mimpiku terkabul indah malam ini, rumah ini akan selalu aku rindu.. Bawa cerita hebat itu kesini yah, ceritakan hal hebat itu nanti. Aku akan tunggu banyak cerita indah lainnya di tahun tahun berikutnya dari adik adik.. 

Ayah bangga pada putri kecil ayah dan teman temannya. Terus bercerita dan bagi semua kisah indah itu dimanapun kamu berada. Jika diperjalananmu nanti bertemu lelah, ingat hari ini, hal hebat itu bisa kamu lakukan bersama mereka yang membersamaimu.

Guru Ataya bersama Putri Tercinta dalam Merajut Kebersamaan Lintas Generasi (Dok.Foto Pribadi)

Guru Ataya melihat putri Guru Ataya berdiri di samping Guru Ataya. Dalam hati Guru Ataya terbersit sebuah kesadaran sederhana: waktu terus berjalan dan anak-anak akan tumbuh menjadi generasi penerus.

Hari ini mereka mungkin masih berdiri di samping orang tuanya. Tetapi suatu hari nanti, merekalah yang akan berdiri di depan, melanjutkan apa yang telah kita tanamkan hari ini.

Sunday, August 30, 2026

Dari Panggung Kampung hingga Doa untuk Negeri, Merawat Kemerdekaan di Cikiwul Tonggoh

Dari Panggung Kampung hingga Doa untuk Negeri, Merawat Kemerdekaan di Cikiwul Tonggoh

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cikiwul – 30 Agustus 2026. Guru Ataya. Sabtu, 29 Agustus 2026, menjadi hari yang istimewa bagi warga Kampung Cikiwul Tonggoh. Meski peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia telah berlangsung beberapa hari sebelumnya, semangat kemerdekaan justru terasa begitu hangat dalam acara puncak perayaan yang digelar di tengah-tengah masyarakat.

 

Sebagai bagian dari warga Kampung Cikiwul Tonggoh, Guru Ataya berkesempatan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dari pagi hingga malam. Bagi Guru Ataya, kegiatan ini bukan sekadar pesta rakyat. Lebih dari itu, acara tersebut menjadi ruang bertemunya anak-anak, remaja, ibu-ibu, bapak-bapak, hingga para sesepuh kampung dalam satu suasana: bersama-sama merayakan kemerdekaan dan merawat kebersamaan.

 

Pagi Hari: Ketika Anak-Anak Menjadi Bintang Kampung

Rangkaian kegiatan dimulai pada sesi pagi dengan penampilan anak-anak dari masing-masing RT. Suasana kampung yang biasanya berjalan dengan aktivitas sehari-hari berubah menjadi panggung penuh keceriaan.

Anak-anak tampil dengan berbagai kreativitas yang telah mereka persiapkan. Ada yang tampil percaya diri, ada pula yang masih terlihat malu-malu. Namun, semuanya mendapatkan sambutan hangat dari warga.

Dari balik panggung sederhana itu, terlihat sebuah pelajaran penting. Kemerdekaan ternyata bukan hanya tentang mengenang perjuangan para pahlawan, tetapi juga memberikan ruang kepada generasi muda untuk berani tampil, berekspresi, dan menunjukkan potensinya.

Sebagai seorang guru, Guru Ataya melihat momen tersebut dengan perasaan bahagia. Pendidikan karakter tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Ketika seorang anak berani berdiri di depan warga, tampil bersama teman-temannya, dan menerima apresiasi dari masyarakat, sesungguhnya ia sedang belajar tentang keberanian, tanggung jawab, kerja sama, dan percaya diri.


Tarian dan Kreasi Anak-anak salah satu pentas di RW 01 (Dok.Pribadi)

Saturday, August 29, 2026

Guru Unggul di Zaman Berubah, Bukan Lagi yang Paling Banyak Bicara, tetapi yang Mampu Menyalakan Cahaya

Guru Unggul di Zaman Berubah, Bukan Lagi yang Paling Banyak Bicara, tetapi yang Mampu Menyalakan Cahaya

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak-29 Agustus 2026. Guru Ataya, siapa sih yang tak mengenal guru yang tugas mengajar,mendidik pokoknya dan melatih adalah serta membimbing murid atau peserta didik. Ya..guru merupakan profesi yang mulia dan tertua yang ada di dunia ini. Ribuan bahkan jutaan guru sekarang ini menghias dan bertugas di negeri ini untuk mencerdaskan anak-anak bangsa agar mereka menjadi generasi emas Indonesia kelak nanti.

Banyak katagori guru yang kita kenal sekarang ini dilihat dari keseharian guru melaksanakan tugasnya atau karakteristik kenerjanya. 

Berikut Guru Ataya mencoba mengkalsifikasikan macam guru berdasarkan penglihatan dan realita kenyataan dilapangan selama kurang lebih 39 tahun menjadi guru :

1. Guru Wajib

Guru yang keberadaannya sangat di butuhkan dan ketidak hadirannya membuat orang orang kehilangan Karakteristik: Bekerja dengan tulus, adminstrasi lengkap, kemampuan mengajarnya bagus, selain mengajar juga aktif dalam berbagai kegiatan, memandang bekerja itu sebagai belajar

2. Guru Sunnah

Guru yang keberadaannya dibutuhkan tetapi ketidakhadirannya tidak membuat orang lain kehilangan. Karakteristik: Bekerja pamrih, kemampuan bagus, memandang bekerja untuk mendapatkan sesuatu

3. Guru Mubah

Guru yang kehadiran dan ketidakhadirannya sama saja tidak berpengaruh. Karakteristik: Bekerja asal tidak menggugurkan kewajiban, tidak mempunyai keinginan untuk meningkatkan kemampuan dan karier, administrasi guru asal ada ( dapat foto copy), selesai mengajar terus pulang

4. Guru Makruh

Guru yang kehadirannya tidak diharapkan (bermasalah) dan ketidakhadirannya membuat orang lain, merasa tenang bekerja. Karakteristik: Selalu usil terhadap pekerjaan orang lain, selalu mengkritik orang lain/atasan tetapi bila disuruh kerja tidak mampu, pekerjaannya tidak baik.

5. Guru Haram

Guru yang kehadirannya dan ketidakhadirannya membuat masalah. Karakteristik: Berperilaku tidak baik dimana-mana sehingga biala dia tidak ada di sekolahpun banyak orang yang datang ke sekolah karena ada masalah dengannya, kalau ada di sekolah membuat masalah dengan sesama temannya. Itulah macam guru yang sekarang ada di dunia pendidikan di negeri ini.

Guru dan Staf Kepegawaian SMPN 3 Cibadak Tahun 2026 (Dok.Foto Pribadi)

Rasa rasanya tidak pas kita memilih macam guru diatas di era yang serba digital dan kemajuan teknologi ini. Guru Ataya mencoba mengutip salah seorang sosok putra terbaik di negeri ini yaitu Bapak Dino Patti Djalal, beliau mengatakan :

Di abad 21, merdeka saja tidak cukup. Berdaulat saja tidak cukup. Kita harus Unggul. Unggul Didalam, Unggul di Luar. Nasionalisme Unggul  adalah suatu semangat, etos hidup, karakter bangsa, sekaligus resep sukses yang dapat membuat bangsa Indonesia melesat menjadi raksasa Asia” .

Friday, August 28, 2026

Ketika Bangun Datar “Bergerak”, GeoGebra Membuat Transformasi Geometri Menjadi Nyata

Ketika Bangun Datar “Bergerak”, GeoGebra Membuat Transformasi Geometri Menjadi Nyata

Oleh: Guru Ataya Guru (Iwan Sumantri)

Cibadak, 28 Agustus 20206. Guru Ataya, matematika sering kali dianggap sebagai pelajaran yang penuh dengan angka, rumus, dan gambar yang diam di atas kertas. Bagi sebagian siswa, memahami konsep matematika bukan perkara mudah, terlebih ketika materi yang dipelajari membutuhkan kemampuan membayangkan sesuatu yang abstrak.

Namun, bagaimana jika titik, garis, dan bangun datar itu bisa bergerak?

Pertanyaan sederhana itulah yang saya coba hadirkan dalam pembelajaran Matematika di SMPN 3 Cibadak ketika membersamai siswa mempelajari Transformasi Geometri, khususnya materi refleksi, translasi, rotasi, dan dilatasi. Kali ini, saya menggunakan GeoGebra, sebuah perangkat lunak matematika yang dapat menjadi jembatan antara konsep abstrak dengan pengalaman belajar yang lebih nyata dan interaktif.

Dari Gambar Diam Menjadi Objek yang Bergerak

Ketika membahas transformasi geometri secara konvensional, guru biasanya menggambar sebuah bangun pada bidang koordinat, kemudian menjelaskan bagaimana bangun tersebut berpindah, berputar, dicerminkan, atau diperbesar.

Cara tersebut tentu tetap penting. Namun, saya mencoba memberikan pengalaman yang berbeda kepada siswa.

Dengan GeoGebra, sebuah segitiga yang semula berada di satu tempat dapat bergeser, kemudian dicerminkan, diputar, bahkan diperbesar atau diperkecil di hadapan mata mereka.

Siswa tidak hanya melihat hasil akhirnya. Mereka dapat mengamati proses perubahan yang terjadi.

Di sinilah pembelajaran menjadi lebih menarik.

Ketika sebuah bangun dicerminkan terhadap sumbu tertentu, siswa dapat melihat langsung posisi bayangannya. Ketika bangun ditranslasikan, mereka dapat mengamati perpindahan setiap titik. Saat bangun diputar, mereka bisa melihat hubungan antara titik pusat rotasi, besar sudut, dan posisi bangun setelah diputar.

Sementara itu, pada dilatasi, siswa dapat menyaksikan bagaimana ukuran suatu bangun berubah tanpa kehilangan bentuk dasarnya.

Konsep yang sebelumnya hanya dibaca melalui rumus mulai terasa lebih masuk akal karena siswa melihat, mencoba, mengubah, dan menemukan sendiri.

Thursday, August 27, 2026

Merajut Kebersamaan, Menyulam Semangat Kemerdekaan, Lansia Cikiwul Tonggoh Berkarya di Era Digital

Merajut Kebersamaan, Menyulam Semangat Kemerdekaan, Lansia Cikiwul Tonggoh Berkarya di Era Digital

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cikiwul Tonggoh, 27 Agustus 2026. Guru Ataya, sebelum berangkat ke sekolah seperti biasanya mencoba berbagi sebuah tulisan dalam rangka lomba blog kemerdekaan ke-81 RI yang diselenggarakan oleh Om Jay di tantangan hari ke-11. Semangat kemerdekaan tidak selalu harus dirayakan dengan perlombaan yang meriah, panggung hiburan, atau kegiatan yang mengundang banyak sorak-sorai. Di RW 01 Kampung Cikiwul Tonggoh, Desa Sekarwangi, Kecamatan Cibadak, semangat itu justru hadir dalam suasana sederhana, hangat, dan penuh makna: merajut bersama para lansia.

Rabu, 26 Agustus 2026, sejak pukul 15.30 hingga 17.30 WIB, Di rumah Nenek Siti Hindun Sumiaktu menjadi tempat berkumpulnya sekitar 20 orang lanjut usia (lansia), yang merupakan perwakilan dari masing-masing RT di lingkungan RW 01. Mereka hadir bukan sekadar untuk mengisi waktu luang, tetapi untuk mengikuti sebuah kegiatan yang sarat nilai kebersamaan bertajuk “Merajut Bersama Lansia.”

Foster Kegiatan Dalam rangka HUT ke-81 RI ( Dok.Foto Panitia)

Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Panitia PHBN Tingkat RW 01 Kampung Cikiwul Tonggoh, Desa Sekarwangi, bekerja sama dengan Dhelisya.id yang didampingi oleh Mba Jenny Asmarina Marzal.

Sore itu terasa berbeda. Di tengah derasnya perkembangan teknologi digital yang membuat manusia semakin akrab dengan layar telepon genggam, para lansia justru diajak kembali menikmati aktivitas sederhana yang membutuhkan ketekunan, kesabaran, dan interaksi secara langsung.

"Benang dan alat rajut menjadi media untuk menyatukan mereka".

Tangan-tangan yang mungkin sudah tidak sekuat dahulu, perlahan bergerak mengikuti pola rajutan. Sesekali terdengar percakapan ringan, canda, dan tawa. Tidak ada kesan bahwa usia menjadi penghalang untuk belajar sesuatu yang baru. Justru di situlah terlihat sebuah pesan penting: belajar dan berkarya tidak mengenal batas usia.

Wednesday, August 26, 2026

Ketika Guru Matematika Pulang, Pelajaran Terpenting Justru Ada di Rumah

Ketika Guru Matematika Pulang, Pelajaran Terpenting Justru Ada di Rumah

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak - Rabu, 26 Agustus 2026.  Setiap pagi, Guru Ataya berangkat dari rumah dengan satu peran yang sudah melekat dalam diri, seorang guru Matematika di SMPN 3 Cibadak. Di sekolah, Guru Ataya terbiasa berhadapan dengan angka, rumus, koordinat, persamaan, dan berbagai persoalan yang harus dicari jalan keluarnya.

Di depan kelas, Guru Ataya sering mengatakan kepada siswa,
“Setiap masalah pasti memiliki cara untuk diselesaikan.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, semakin lama Guru Ataya menjadi guru (kurang lebih 39 tahun), semakin Guru Ataya menyadari bahwa kalimat tersebut tidak selalu berlaku dengan cara yang sama dalam kehidupan. Ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan dengan rumus. Ada pertanyaan yang tidak memiliki satu jawaban pasti. Ada pula kebahagiaan yang tidak bisa dihitung dengan angka.

Dan semua pelajaran itu justru Guru Ataya temukan ketika pulang ke rumah.

Di rumah, Guru Ataya bukan lagi guru yang berdiri di depan papan tulis. Guru Ataya hanyalah seorang suami bagi istri (Yani Sumanti) dan seorang ayah bagi anak-anak (Krani Pratiwi,S.Psi.,Hammam Pratama Putra,S.Or dan Ataya Rachman Pradana Putra).  Guru Ataya memiliki satu anak perempuan dan dua anak laki-laki. Masing-masing memiliki karakter, cerita, dan cara sendiri dalam menghadirkan warna di rumah.

Krani, Guru Ataya dan Sang Isteri ( Dok.Foto Pribadi)

Tuesday, August 25, 2026

Mencintai Sesama Dengan Tipe Kepribadian

Mencintai Sesama Dengan Tipe Kepribadian

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak- 25 Agustus 2026. Guru Ataya kali ini disela-sela menikmati libur peringatan Maulid Nabi Besar SAW, akan berbagi tentang sesuatu yang pernah dialami oleh Guru Ataya sendiri, sebagai refleksi pribadi. Pernah gak sih bermasalah dengan teman, sahabat, keluarga, atau bahkan orang yang hanya bertemu sepintas tapi sangat membekas dalam hati? Entah itu berawal dari kata-kata, mimik muka, atau bahkan perlakuan orang lain terhadap kita. Masalah muncul bila terjadi ketidaksesuaian antara apa yang diharapkan, dengan apa yang sebenarnya terjadi. Dan salah satu faktor yang memengaruhi terjadinya masalah dengan teman atau keluarga adalah “kurang cinta dan kurang pahamnya” kita terhadap mereka.

“Sebelum mencintai orang lain, belajarlah mencintai diri sendiri”. 

Sudahkah Anda belajar mencintai diri sendiri? Mencintai diri sendiri sering disebut dengan narsis, narsis populer di kalangan remaja , dan pada awalnya narsis ini muncul disandingkan dengan kata percaya diri. Jadi, kalau porsinya tepat, narsis tidak bermasalah ya

Setelah kita berhasil mencintai diri sendiri, kita akan bisa menerima orang lain, bagaimanapun sifat dan karakter orang tersebut. Untuk memudahkan mencintai dan memahami orang lain, kita bisa memahami orang yang kita hadapi melalui tipe kerpibadiannya. Empat tipe kepribadian yang dikembangkan oleh Galenus (pengembangan pandangan Hipocrates ) membagi manusia menjadi empat tipe: Koleris, melankolis, plegmatis, dan sanguinis.

Monday, August 24, 2026

“Siapa Cepat Dia Juara!” Serunya Belajar Translasi Geometri dengan Tutup Botol

“Siapa Cepat Dia Juara!” Serunya Belajar Translasi Geometri dengan Tutup Botol

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Senin, 24 Agustus 2026, Guru Ataya, suasana pembelajaran Matematika di kelas terasa berbeda. Seperti biasa, Guru Ataya membersamai siswa SMPN 3 Cibadak mempelajari materi Transformasi Geometri, khususnya submateri Translasi (Pergeseran). Namun, kali ini konsep matematika tidak hanya dipelajari melalui penjelasan dan latihan soal. Di sela-sela pembelajaran, saya mengajak siswa belajar sambil bermain melalui sebuah permainan sederhana bertajuk “Siapa Cepat Dia Juara!”

Permainan ini memanfaatkan benda yang sangat sederhana dan mudah ditemukan, yaitu tutup botol air mineral. Setiap siswa membawa tiga buah tutup botol untuk digunakan sebagai media permainan. Para siswa kemudian berpasangan dan masing-masing mendapatkan selembar kertas HVS yang di dalamnya telah dibuat alur atau lintasan permainan.

Aturan permainannya cukup sederhana, tetapi membutuhkan ketelitian, strategi, dan kecepatan. Setiap pemain harus menggerakkan tiga tutup botol mengikuti alur yang telah ditentukan, mulai dari titik awal hingga mencapai titik tujuan di tempat temannya. Pemain yang mampu menyelesaikan perpindahan dengan cepat dan tepat menjadi pemenangnya.



Suasana siswa bagaimana memenangkan tantangan agar bisa berpindah tempat (foto Dok Pribadi)

Sunday, August 23, 2026

Langkah Bersama, Guyub Bersama, Semarak Jalan Santai HUT ke-81 RI Desa Sekarwangi

Langkah Bersama, Guyub Bersama, Semarak Jalan Santai HUT ke-81 RI Desa Sekarwangi

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Sekarwangi, 23 Agustus 2026. Hari libur dari tugas mengajar bukan berarti harus dilewati dengan berdiam diri di rumah. Minggu pagi, 23 Agustus 2026, mulai pukul 07.00 sd 13.00 WIB, menjadi momen istimewa untuk menikmati kebersamaan bersama keluarga sekaligus ikut memeriahkan semangat kemerdekaan dalam rangka HUT ke-81 Republik Indonesia.

Guru Ataya bersama istri dan adik ipar, dengan jumlah keseluruhan lima orang, turut ambil bagian dalam Lomba Jalan Santai Desa Sekarwangi. Kegiatan ini bukan sekadar olahraga ringan, tetapi menjadi ajang silaturahmi, kebersamaan, dan hiburan bagi masyarakat Desa Sekarwangi.

 

Antusiasme warga terlihat dari keikutsertaan 80 regu yang berasal dari 17 RW se-Desa Sekarwangi. Setiap regu terdiri atas 3 sampai 5 orang. Dengan penuh semangat, warga berbaur tanpa memandang usia maupun latar belakang, berjalan bersama menikmati suasana pagi sekaligus merayakan kemerdekaan.


Kegiatan diawali dengan laporan Ketua Panitia Tingkat Desa, kemudian dilanjutkan dengan sambutan Kepala Desa Sekarwangi. Setelah itu, peserta bersiap menempuh rute jalan santai sejauh kurang lebih 3 kilometer, melintasi beberapa RW yang ada di wilayah Desa Sekarwangi.

Perjalanan terasa semakin menyenangkan karena peserta tidak hanya berjalan bersama, tetapi juga dapat melihat langsung lingkungan dan kehidupan masyarakat di berbagai RW. Canda, tawa, dan semangat kebersamaan menjadi warna tersendiri sepanjang perjalanan.

Inilah Regu CITOS FAMILY 2026 (Foto Dok.Pribadi)

Staf Panitia Jalan Santai Tingkat Desa (Foto Dok.Pribadi)

Saturday, August 22, 2026

Dari Cageur hingga Singer, Meneguhkan Pendidikan Karakter

Dari Cageur hingga Singer, Meneguhkan Pendidikan Karakter

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak, 22 Agustus 2026. Disela-sela libur untuk mengajar, Guru Ataya mencoba berbagi sesuatu dari kegiatan Zoom meeting. Menjadi seorang guru bukan hanya tentang menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga tentang membentuk manusia yang memiliki karakter, integritas, kecerdasan, dan tanggung jawab. Semangat inilah yang terasa dalam kegiatan Diklat Peningkatan Mutu Guru melalui Pendekatan Transformative Learning & Hypnoteaching Angkatan 1 yang diselenggarakan oleh Perguruan Tinggi Nusa Putra.

Pada Sabtu, 22 Agustus 2026 mulai pukul 08.00 sd 12.30 WIB. Guru Ataya berkesempatan mengikuti kegiatan tersebut secara daring melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini menjadi ruang belajar dan refleksi bagi guru untuk memperkaya wawasan sekaligus menemukan pendekatan pembelajaran yang lebih bermakna bagi peserta didik.

Salah satu materi yang Guru Ataya ikuti mengangkat tema “Gapura Panca Waluya: Konsep Pendidikan Karakter” yang disampaikan oleh Dr. Ayi Abdurahman, M.Pd.,MM.,CT.HTc. Materi ini terasa sangat relevan dengan tantangan pendidikan saat ini, ketika sekolah tidak cukup hanya menghasilkan peserta didik yang unggul secara akademik, tetapi juga perlu menumbuhkan generasi yang sehat, berkarakter, berintegritas, cerdas, dan mampu bertanggung jawab dalam menghadapi perubahan zaman.

Panca Waluya: Lima Nilai untuk Membangun Manusia Jawa Barat


Dalam konsep Panca Waluya, terdapat lima nilai utama yang menjadi fondasi pembentukan manusia Jawa Barat, yaitu Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer.

Friday, August 21, 2026

Delapan Koin, Empat Tumpukan, Ketika Transformasi Geometri Menjadi Permainan yang Mengasyikkan

Delapan Koin, Empat Tumpukan, Ketika Transformasi Geometri Menjadi Permainan yang Mengasyikkan

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak- 21 Agustus 2026. Guru Ataya kali ini akan membagikan bagaimana mengemas sebuah game di proses pembelajaran dikelas.

Pembelajaran Matematika tidak selalu harus berlangsung dengan buku, papan tulis, dan deretan rumus. Jumat, 21 Agustus 2026, di kelas 9D SMPN 3 Cibadak, pembelajaran Transformasi Geometri hari ini dikemas dengan cara yang lebih menyenangkan melalui sebuah permainan sederhana, tetapi penuh tantangan.

Di sela-sela pembelajaran, siswa diajak memainkan permainan menyusun delapan koin menjadi empat tumpukan, masing-masing terdiri atas dua koin. Sekilas permainan ini terlihat mudah. Namun, aturan yang diberikan membuat siswa harus berpikir kreatif dan mencari strategi yang tepat.

Aturannya sederhana: dari 8 koin yang tersedia, siswa harus menyusunnya menjadi empat pasangan koin yang bertumpuk dua-dua. Untuk mencapai susunan tersebut, satu koin harus melewati dua koin lainnya. Tantangan inilah yang kemudian membuat siswa mulai mengamati, mencoba, berdiskusi, gagal, lalu mencoba kembali.