Guru boleh punya segudang ilmu. Tetapi kalau gagal berkomunikasi, ilmu itu bisa berhenti di depan pintu hati murid.
Oleh:
Guru Ataya (Iwan Sumantri)
Cibadak - 4 Oktober 2026. Guru Ataya,pada Kamis,
1 Oktober 2026, menjadi hari yang membanggakan bagi Guru Ataya sebagai seorang
ayah sekaligus seorang guru.
Anak
pertama Guru Ataya, Krani Pratiwi, S.Psi., mendapat kesempatan menjadi
narasumber pada kegiatan Peningkatan Kompetensi Guru bersama guru-guru yang
tergabung dalam KKG Gugus IV SDN Cisaat 3 Pasawahan, Kecamatan Cicurug.
Materi
yang dibawakan bukan materi biasa.
Judulnya:
“Seni
Berkomunikasi dengan Murid melalui Neuro Linguistic Programming.”
Di
hadapan kurang lebih 60 peserta, yang terdiri atas pengawas, kepala sekolah,
guru, dan tenaga kependidikan, Krani berdiri dengan penuh percaya diri.
Bukan
sekadar berdiri, Ia berbicara, Ia menjelaskan, Ia mengajak peserta berpikir, dan
yang paling penting, ia mengajak para guru untuk melihat kembali satu hal yang
setiap hari sebenarnya mereka lakukan yaitu berkomunikasi dengan murid.
![]() |
| NS Krani Pratiwi,S.Psi. bersama para peserta NLP yang muda (Dok.Foto KKG Gugus 4 Cicurug) |
Guru
Setiap Hari Berbicara, Tetapi Apakah Murid Selalu Mendengar?
Inilah
pertanyaan yang menarik.
Setiap
hari guru berbicara. Di kelas guru menjelaskan, guru memberi instruksi, guru
menegur, guru memotivasi, guru bertanya, guru menasihati. Tetapi ternyata,
berbicara belum tentu berkomunikasi.
Kalimat
yang sama bisa menghasilkan respons yang berbeda ketika disampaikan dengan cara
yang berbeda, nada suara berbeda, pilihan kata berbeda, ekspresi wajah berbeda,
bahasa tubuh berbeda, cara membangun kedekatan juga berbeda.
Di
sinilah komunikasi menjadi sebuah seni, dan di ruang kelas, seni itu bukan
sekadar pemanis. Ia adalah bagian dari proses pembelajaran.
Baca Juga:
Dua
Jam yang Tidak Sekadar Berisi Materi
Selama
kurang lebih dua jam, Krani Pratiwi menyampaikan materi tentang Neuro
Linguistic Programming atau NLP dalam konteks komunikasi guru dengan murid.
Dengan penuh semangat dan percaya diri, ia membawa peserta memasuki pembahasan tentang bagaimana komunikasi dapat dibangun agar lebih efektif, positif, dan mampu menciptakan hubungan yang lebih baik antara guru dan murid.
.jpeg)
.jpeg)







.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)




.jpeg)