Bukan
Sekadar Mencari Jawaban, Guru Matematika Sukabumi Mengasah Strategi OSN Bersama
UPI
Oleh:
Guru Ataya (Iwan Sumantri)
Sukabumi - Rabu,
30 September 2026 bukan sekadar tanggal dalam kalender bagi para guru
Matematika yang tergabung dalam MGMP Matematika Kabupaten Sukabumi.
Sejak
pagi, layar komputer dan gawai menjadi ruang belajar bersama. Hampir 102 guru
Matematika dari berbagai sekolah di Kabupaten Sukabumi mengikuti Workshop OSN
Kabupaten Sukabumi Sesi 3 bersama UPI Bandung secara daring.
Tidak
ada papan tulis besar di sebuah aula. Tidak ada kursi yang berjajar dalam
sebuah ruang pelatihan. Namun, semangat belajarnya tetap terasa.
Karena
menjadi guru pembimbing OSN bukan hanya tentang mampu mengerjakan soal.
Lebih
dari itu, guru harus mampu mengajarkan cara berpikir.
Dari
“Apa Jawabannya?” Menjadi “Bagaimana Cara Berpikirnya?”
Workshop
dimulai pukul 08.00 WIB dengan materi:
“Analisis
Soal OSN dan Strategi Mendampingi Siswa dalam Menyelesaikan Soal Kombinatorik.”
Materi ini disampaikan oleh Ibu Dr. Khusnul Novianingsih, M.Si. dan Ibu Dr.
Kartika Yulianti, M.Si.
Kombinatorik
memang memiliki daya tarik tersendiri dalam dunia Olimpiade Matematika.
Di
balik susunan angka, objek, pilihan, atau kemungkinan, terdapat pola berpikir
yang tidak selalu terlihat pada pandangan pertama. Di sinilah tantangan seorang
guru pembimbing OSN.
Siswa
tidak cukup hanya diberi rumus.
Siswa
perlu diajak bertanya: Apa yang diketahui? Apa yang sebenarnya ditanyakan? Apakah
ada pola tertentu?
Bagaimana
kemungkinan-kemungkinan tersebut dapat dihitung tanpa terjebak pada perhitungan
yang berulang?
Dan
yang tidak kalah penting yaitu bagaimana guru mendampingi siswa agar mampu
menemukan strategi penyelesaiannya sendiri?
Pertanyaan-pertanyaan
seperti inilah yang membuat pembelajaran OSN berbeda dengan pembelajaran
Matematika pada umumnya.
Dalam
OSN, terkadang jalan menuju jawaban justru lebih penting daripada jawaban itu
sendiri.
Guru
Bukan Mesin Jawaban
Salah
satu hal menarik dari pembinaan OSN adalah perubahan peran guru. Guru tidak
selalu menjadi orang yang paling cepat memberikan solusi. Guru justru harus
menjadi teman berpikir bagi siswa.
Ketika
siswa menemui jalan buntu, guru tidak harus langsung mengatakan, “Caranya
seperti ini.”
Sebaliknya,
guru dapat memberikan pertanyaan pemantik:
“Coba
lihat lagi polanya.”
“Apakah
cara ini bisa digunakan untuk kasus yang lebih sederhana?”
“Bagaimana
jika kita mulai dari kemungkinan yang paling kecil?”
“Adakah
cara lain yang lebih efisien?”
Pertanyaan
sederhana terkadang mampu membuka pintu berpikir yang sebelumnya tertutup. Inilah
seni mendampingi siswa OSN.
Bukan
sekadar mentransfer pengetahuan, tetapi menumbuhkan keberanian siswa untuk
mencoba, gagal, berpikir ulang, dan menemukan jalan keluar.
Istirahat
Bukan Berarti Berhenti Belajar
Pukul
10.30 WIB, kegiatan memasuki waktu istirahat hingga pukul 11.00 WIB. Tiga puluh
menit menjadi jeda sebelum para guru kembali memasuki ruang belajar virtual.
Bagi
sebagian orang, workshop daring mungkin terlihat sederhana.
Tinggal
duduk di depan laptop, mendengarkan pemateri, lalu selesai.
Tetapi
bagi guru yang serius mempersiapkan siswa menghadapi OSN, setiap materi adalah
investasi.
Sebab
di kemudian hari, pengetahuan yang diperoleh dalam workshop ini dapat kembali
hadir di ruang kelas, dalam bentuk soal, strategi, pertanyaan pemantik, maupun
pendampingan kepada siswa.