Ketika Satu Foto Menjelma Menjadi Banyak Versi Diri
Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)
Begitulah
saya pada suatu hari.
Sebagai
seorang guru Matematika di SMPN 3 Cibadak, saya cukup sering berselancar di
dunia maya. Bukan hanya untuk mencari bahan pembelajaran, tetapi juga untuk
melihat berbagai perkembangan teknologi yang mungkin bisa saya bawa ke ruang
kelas.
Sebab
bagi saya, guru tidak boleh berhenti belajar. Apalagi ketika teknologi
berkembang begitu cepat.
Saat
sedang “jalan-jalan” itulah saya singgah di akun Facebook Pak Tri Goesema
Putra. Sosok yang memang sudah lama aktif berbagi pengalaman tentang teknologi
dan pemanfaatannya dalam dunia pendidikan. Jejak digital beliau menunjukkan
bagaimana media sosial dan teknologi telah lama dimanfaatkannya untuk berbagi
pengetahuan serta mendorong guru agar terus belajar dan melek teknologi.
Namun
kali ini perhatian saya tertuju pada sesuatu yang berbeda.
Sebuah
prompt yang sedang ramai digunakan untuk membuat satu foto menjadi banyak versi
diri sendiri.
Saya
berhenti menggulir.
“Wah...
ini menarik!”
Rasa
penasaran seorang guru pun muncul.
Kalau
siswa menemukan sesuatu yang baru, biasanya mereka ingin mencoba.
Ternyata
guru juga begitu.
Bedanya, mungkin usia boleh bertambah, tetapi rasa ingin tahu jangan sampai berkurang.
Satu
Foto, Banyak Versi
Saya
kemudian mencoba prompt tersebut. Satu foto dimasukkan. Lalu teknologi AI mulai
bekerja.
Tiba-tiba,
wajah yang sama dapat ditampilkan dalam berbagai versi. Ekspresi berbeda. Gaya
berbeda. Suasana berbeda. Seolah-olah dalam satu foto terdapat beberapa
karakter yang sedang menjalani kehidupan masing-masing.
Saya
pun tersenyum melihat hasilnya.
Bukan
karena merasa menjadi orang lain.
Justru
sebaliknya.
Saya
seperti sedang melihat berbagai kemungkinan dari diri sendiri.
Ada
saya yang formal. Ada saya yang santai. Ada saya yang terlihat serius.
Ada
pula versi yang terasa lebih muda dan penuh energi.
Teknologi
memang semakin luar biasa.
Dulu,
untuk menghasilkan foto dengan konsep berbeda, kita membutuhkan kamera,
fotografer, lokasi, properti, pencahayaan, kemudian dilanjutkan dengan proses
editing.
Sekarang?
Dengan
sebuah foto dan prompt yang tepat, banyak hal dapat dilakukan. Tentu saja
hasilnya tidak selalu sempurna. Kadang wajah sedikit berubah. Kadang posisi
tangan terasa aneh. Kadang pakaian atau latar belakang tidak sesuai harapan.
Tetapi justru di situlah menariknya. Kita belajar bahwa AI bukan tongkat sulap. AI tetap membutuhkan manusia yang mampu memberikan instruksi dengan baik. Dan di sinilah saya melihat hubungan yang menarik dengan Matematika.
![]() |
| Satu Foto Menjelma Menjadi Banyak Versi Diri (Dok.Foto Pribadi |















