Dari
Lapang Futsal, Guru Ataya Belajar Tentang Mimpi Kecil Seorang Anak
Oleh: Guru
Ataya (Iwan Sumantri)
Cibadak,
19 September 2026. Di tengah kesibukan mengajar Matematika dan merapikan
administrasi sekolah di SMPN 3 Cibadak, ada satu momen sederhana yang selalu
saya nantikan setiap minggunya. Hari Jumat dan Senin sore adalah waktu istimewa
bagi saya untuk menepi sejenak dari rutinitas dan bertukar peran secara penuh, menjadi
seorang pendukung utama bagi sang buah hati.
Ada
hal-hal sederhana dalam hidup yang ternyata menyimpan pelajaran besar.
Bagi
saya, salah satunya adalah mengantar anak bungsu berlatih futsal.
Setiap
hari Jumat dan Senin sore, selepas kesibukan mengajar dan rutinitas
lainnya, saya menyempatkan diri mengantar Ataya Rachman Pradana Putra ke
lapang futsal CFS Cibadak. Di tempat itulah Ataya bersama teman-temannya
berlatih bersama Serenite FC, kelompok usia 6–10 tahun.
Latihan
dimulai pukul 16.00 hingga 17.30 WIB.
Bagi
sebagian orang, mungkin satu setengah jam di lapangan hanya terlihat sebagai
aktivitas olahraga anak-anak. Tetapi bagi seorang Guru Ataya, waktu itu terasa
jauh lebih berharga.
Di
sana saya melihat seorang anak kecil sedang belajar mengejar bola.
Namun
sesungguhnya, ia juga sedang belajar mengejar mimpi.
Bukan
Sekadar Menendang Bola
Ataya
akan genap berusia 8 tahun pada 20 Oktober 2026.
Usianya
masih sangat muda. Dunia anak seusianya seharusnya memang dipenuhi dengan
bermain, tertawa, mencoba sesuatu yang baru, dan menemukan apa yang mereka
sukai.
Karena
itu, ketika Ataya berada di lapangan, saya tidak terlalu memikirkan apakah ia
mencetak gol atau tidak.
Saya
lebih senang melihat bagaimana ia berusaha. Ketika bola direbut lawan, ia
belajar untuk tidak menyerah. Ketika tendangannya melenceng, ia belajar mencoba
lagi. Ketika mendapat kesempatan mencetak gol, ia belajar percaya diri.
Dan
ketika bermain bersama teman-temannya, ia belajar bahwa sepak bola bukan
tentang siapa yang paling hebat, tetapi tentang bagaimana bekerja sama
sebagai sebuah tim.
Guru
Ataya Mengantar, Ataya yang Berjuang
Saya
mungkin bukan orang yang selalu berada di dalam lapangan.
Saya
hanya mengantar, menunggu, mengamati dan sesekali memberikan semangat.
Tetapi
justru dari posisi sederhana sebagai seorang Guru Ataya yang duduk di pinggir
lapangan, saya belajar banyak hal.
Saya
melihat pelatih memberikan instruksi. Saya melihat anak-anak berlari mengejar
bola. Saya melihat mereka jatuh, bangkit, tertawa, bahkan sesekali kecewa.
Dan
saya menyadari bahwa proses pendidikan tidak selalu berlangsung di dalam kelas.
Sebagai
guru Matematika di SMPN 3 Cibadak, setiap hari saya mengajarkan angka, rumus,
logika, dan pemecahan masalah kepada anak-anak di sekolah.
Tetapi
di lapangan futsal, saya belajar bahwa kehidupan juga memiliki
"rumus" yang sederhana:
Latihan
+ disiplin + keberanian + kesabaran = proses menuju kemampuan.
Tidak
ada anak yang langsung hebat ketika pertama kali memegang bola. Semua
membutuhkan proses.
Lapangan
Futsal Adalah Ruang Belajar
Di
lapangan, Ataya mungkin tidak sedang belajar Matematika. Tidak ada pecahan. Tidak ada persamaan. Tidak ada bangun ruang. Tetapi
sebenarnya banyak konsep kehidupan yang sedang ia pelajari.
Ia
belajar disiplin, karena harus datang tepat waktu.
Ia
belajar tanggung jawab, karena harus mengikuti latihan dengan
sungguh-sungguh.
Ia
belajar sportivitas, karena menang dan kalah adalah bagian dari
permainan.
Ia
belajar kerja sama, karena satu pemain tidak mungkin memenangkan
pertandingan seorang diri.
Ia
belajar menghargai teman dan pelatih.
Dan
yang paling penting, ia belajar bahwa kemampuan tidak datang secara instan.
Bukankah
itu juga hakikat pendidikan?
Pendidikan
bukan hanya membuat anak mengetahui sesuatu.
Pendidikan
juga membantu anak menjadi pribadi yang mampu menghadapi kehidupan.
 |
| Ataya dengan pialanya yang pernah di raih bersama Serenite FC (Dok.Foto Pribadi) |