Ketika Senin Pagi Tanpa Upacara, Anak Krakatau Mengajarkan Sekolah Arti Kesiapsiagaan
Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)
Namun,
Senin, 7 September 2026 terasa berbeda.
Tidak
ada barisan panjang siswa di lapangan. Tidak terdengar aba-aba pemimpin
upacara. Tidak ada pengibaran Sang Merah Putih seperti Senin-Senin sebelumnya.
Bukan
karena upacara kehilangan makna.
Bukan
pula karena sekolah mengabaikan kedisiplinan.
Justru sebaliknya, keputusan untuk tidak melaksanakan upacara menjadi bagian dari pembelajaran tentang keselamatan, kepedulian, dan kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Senin
yang Berbeda karena Alam Sedang “Berbicara”
Gunung
Anak Krakatau di Selat Sunda kembali menunjukkan aktivitas erupsi. Berdasarkan
informasi Badan Geologi Kementerian ESDM, aktivitas erupsi menerus mulai
tercatat pada Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB dan berlangsung sekitar
25 jam hingga Minggu, 6 September 2026 pukul 00.04 WIB. Status aktivitas Gunung
Anak Krakatau tetap berada pada Level III atau Siaga.
Bahkan
setelah episode erupsi menerus tersebut berakhir, aktivitas vulkanik masih
terus dipantau. Badan Geologi mencatat adanya erupsi susulan dan mengingatkan
masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya seperti
lontaran batu pijar, lava, serta hujan abu lebat.
Situasi
tersebut menjadi pengingat bahwa sekolah bukanlah ruang yang terpisah dari
kondisi lingkungan.
Sekolah
adalah bagian dari masyarakat.
Ketika alam memberikan tanda, dunia pendidikan pun harus mampu merespons dengan bijak.
![]() |
| Suasana Belajar Senin, 7 September 2026 (Dok.Foto Pribadi) |
Surat
Edaran yang Mengubah Rutinitas Senin
Menindaklanjuti
kondisi tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi menerbitkan surat
Nomor 440.3.1/6438/SEKRET/2026 tertanggal 6 September 2026 tentang Himbauan
Mitigasi Abu Vulkanik.
Surat
tersebut menjadi dasar bagi satuan pendidikan untuk meningkatkan kewaspadaan
terhadap kemungkinan dampak abu vulkanik.
Beberapa
langkah yang ditekankan antara lain:
Siswa
dianjurkan menggunakan masker, terutama untuk mengantisipasi paparan abu
vulkanik.
Kegiatan
ekstrakurikuler berbasis kinestetik di luar ruangan dibatasi atau ditunda.
Orang
tua diimbau membekali anak dengan masker cadangan.
Jika
kondisi abu vulkanik semakin meningkat, kegiatan belajar mengajar dapat
dilaksanakan secara daring.
Dengan
adanya arahan tersebut, pelaksanaan upacara bendera di SMPN 3 Cibadak pada
Senin pagi pun tidak dilaksanakan.
Keputusan
tersebut mungkin terlihat sederhana.
Tetapi
sesungguhnya ada sebuah pesan besar di baliknya:
Keselamatan Siswa harus menjadi prioritas utama dalam setiap keputusan pendidikan.
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)



.jpeg)

