Wednesday, September 30, 2026

Ketika Guru Disupervisi: Menyaksikan Tekanan Air, Tekanan Pembelajaran, dan Tekanan untuk Terus Bertumbuh

Ketika Guru Disupervisi: Menyaksikan Tekanan Air, Tekanan Pembelajaran, dan Tekanan untuk Terus Bertumbuh

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak, 30 September 2026. Guru Ataya, pada saat supervise,ada yang menarik dari kata “tekanan”.

Dalam fisika, tekanan adalah sesuatu yang dapat diukur. Dalam kehidupan guru, tekanan sering kali tidak terlihat, tetapi terasa. Dan pada Selasa, 29 September 2026, Guru Ataya justru menemukan sebuah ironi yang menarik, ketika seorang guru IPA mengajarkan Tekanan pada Zat Cair, di saat yang sama seorang guru sedang menjalani proses supervisi pembelajaran.

Sama-sama berbicara tentang tekanan. Tetapi tentu saja, tekanannya berbeda.

Hari itu Guru Ataya mendapat amanah untuk menjadi supervisor dalam kegiatan supervisi pembelajaran di SMPN 3 Cibadak. Amanah tersebut dilaksanakan berdasarkan Keputusan Kepala SMPN 3 Cibadak Nomor 400.3.5/379/SMPN3 CBD/2026 tertanggal 8 September 2026 tentang Tim Penilai (PK) Guru dan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB).

Guru yang Guru Ataya dampingi adalah Ibu Riony Rahayu, S.Pd., M.Pd., salah seorang guru yang mengampu mata pelajaran IPA di SMPN 3 Cibadak.

Supervisi dilaksanakan di kelas 9E, pada jam pelajaran ke1-2, mulai pukul 07.40 hingga 09.00 WIB. 

Materinya?

Tekanan pada Zat Cair.

Namun bagi Guru Ataya, pagi itu bukan sekadar menyaksikan bagaimana sebuah materi IPA disampaikan kepada siswa. Ada pelajaran lain yang jauh lebih dalam, bagaimana seorang guru terus belajar untuk menjadi guru.

Bukan Mencari Kesalahan

Supervisi kadang masih dipersepsikan sebagai sesuatu yang menegangkan. Begitu mendengar kata supervisi, sebagian guru mungkin langsung berpikir tentang perangkat pembelajaran, administrasi, metode mengajar, pengelolaan kelas, asesmen, hingga berbagai indikator yang harus terpenuhi.

Guru kemudian bertanya dalam hati:

“Apakah pembelajaran Guru Ataya sudah benar?”

“Apakah ada yang kurang?”

“Apakah supervisor menemukan kekurangan?”

Padahal, bagi Guru Ataya, supervisi seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan “apa yang salah?”

Lebih penting dari itu adalah:

“Apa yang bisa kita perbaiki?”

Karena guru bukanlah manusia yang selesai.

Guru adalah pembelajar yang setiap hari berhadapan dengan manusia-manusia yang juga sedang bertumbuh.

Maka supervisi semestinya menjadi ruang dialog, ruang refleksi, dan ruang untuk melihat pembelajaran dari sudut pandang yang berbeda.

Pukul 07.40, Kelas 9E Dimulai

Jarum jam menunjukkan pukul 07.40 WIB.

Kegiatan pembelajaran dimulai.

Guru Ataya mengambil posisi sebagai supervisor, mengamati proses pembelajaran yang berlangsung di kelas 9E.

Ibu Riony memasuki ruang pembelajaran dengan materi Tekanan pada Zat Cair.

Di hadapan beliau bukan sekadar deretan siswa kelas 9E. Ada berbagai karakter. Ada siswa yang cepat menangkap penjelasan. Ada yang membutuhkan pengulangan. Ada yang aktif bertanya. Ada pula yang mungkin lebih nyaman menyimpan pertanyaannya di dalam kepala.

Di sinilah tantangan seorang guru sesungguhnya.

Guru tidak hanya menguasai materi.

Guru harus mampu membawa materi itu sampai kepada peserta didik.

Sebab menguasai ilmu belum tentu otomatis mampu mengajarkannya.

Dan mampu menjelaskan belum tentu berarti semua siswa memahami.

Di antara keduanya terdapat seni bernama pedagogi.

Dokumentasi Supervisi Kelas bersama Bu Riony Rahayu,S.Pd.,M.Pd. (Dok.Foto Pribadi)

Tuesday, September 29, 2026

Teqball: Ketika Bola, Meja, dan Matematika Bertemu di Asian Games 2026

Teqball: Ketika Bola, Meja, dan Matematika Bertemu di Asian Games 2026

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Sumaya Atlit TeqBall

Cibadak- 29 September 20206. Guru Ataya, ada banyak cara untuk mencintai olahraga. Ada yang mencintainya karena gol. Ada yang terpukau oleh kecepatan. Ada yang kagum melihat kekuatan fisik. Ada pula yang tertarik karena olahraga itu menghadirkan sesuatu yang berbeda.

Saya termasuk yang terakhir.

Sebagai guru Matematika di SMPN 3 Cibadak, perhatian saya dalam perhelatan Asian Games Aichi-Nagoya 2026 justru tertuju pada sebuah cabang olahraga yang mungkin belum terlalu familiar bagi sebagian masyarakat Indonesia yaitu Teqball.

Asian Games ke-20 berlangsung di Aichi-Nagoya, Jepang, pada 19 September sampai 4 Oktober 2026. Ajang olahraga terbesar di Asia ini mempertandingkan 43 cabang olahraga, sementara Indonesia mengirimkan kontingen untuk berkompetisi pada 35 cabang olahraga dengan 432 atlet. Salah satu cabang yang diikuti Indonesia adalah Teqball.

Dan ternyata, Teqball bukan sekadar menjadi pelengkap.

Indonesia langsung mencatat sejarah.

Dua Medali dari Cabang yang Masih Asing bagi Banyak Orang

Teqball menjadi salah satu cabang baru dalam program Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Pada debutnya di Asian Games, Indonesia berhasil membawa pulang dua medali dari nomor tunggal.

Sumaya meraih medali perak nomor tunggal putri, sedangkan Yoga Ardika Putra meraih medali perunggu nomor tunggal putra. Raihan Yoga tercatat sebagai medali pertama Indonesia dari cabang Teqball dalam sejarah keikutsertaan di Asian Games.

Sumaya peraih medali Perak Asian Games 2026 (Dok.Foto Pribadi)

Perjalanan Sumaya juga menarik untuk diperhatikan.

Ia baru sekitar dua tahun menekuni Teqball setelah sebelumnya berkiprah di sepak takraw. Namun, dalam waktu relatif singkat, ia mampu mencapai final Asian Games 2026. Di final, Sumaya harus mengakui keunggulan wakil Myanmar, Wai Khin Hnin, melalui pertandingan ketat dengan skor 12-10, 8-12, 9-12 dan akhirnya membawa pulang medali perak.

Sementara itu, Yoga Ardika Putra berhasil mengamankan medali perunggu nomor tunggal putra. Bagi Yoga, pencapaian tersebut menjadi hasil dari proses latihan dan perjuangan panjang sekaligus momentum penting bagi perkembangan Teqball Indonesia.

Dua medali tersebut seolah memberikan pesan sederhana:

Jangan pernah meremehkan cabang olahraga yang belum banyak dikenal. Bisa jadi, dari sanalah sejarah baru sedang dimulai.

Sebenarnya, Apa Itu Teqball?

Bagi saya, Teqball menarik karena sekilas olahraga ini membuat orang bertanya: “Ini sepak bola atau tenis meja?”

Jawabannya: bukan keduanya.

Teqball merupakan olahraga yang memadukan unsur sepak bola dan tenis meja. Olahraga ini dikembangkan di Hungaria pada 2012 dan dimainkan menggunakan sebuah meja khusus yang permukaannya melengkung.

Bola yang digunakan adalah bola sepak berukuran standar, sementara pemain menggunakan berbagai bagian tubuh, kecuali tangan dan lengan, untuk mengontrol serta mengembalikan bola melewati meja.

Di sinilah keunikan Teqball. Tidak ada raket. Tidak ada net seperti tenis. Tidak boleh menggunakan tangan seperti sepak bola.

Yang dibutuhkan adalah kombinasi kontrol bola, koordinasi tubuh, konsentrasi, ketepatan, kecepatan mengambil keputusan, dan kemampuan membaca arah pantulan bola.

Karena itulah, olahraga ini bukan hanya mengandalkan kekuatan. Otak pun harus ikut bermain.


Melalui Layar Kaca TV Sport Saat Sumaya Bertanding di Final Asian Games 2026

Monday, September 28, 2026

Lima Kilometer, Dua Hati, dan Pagi yang Kami Miliki Sendiri

Lima Kilometer, Dua Hati, dan Pagi yang Kami Miliki Sendiri

Oleh. Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Senin, 28 September 2026. Guru Ataya, hari libur bagi seorang guru tidak selalu berarti harus bermalas-malasan di rumah. Setelah hari-hari dipenuhi rutinitas sekolah, mengajar, berhadapan dengan murid, dan berbagai urusan lainnya, sesekali tubuh dan pikiran memang perlu diajak “jalan-jalan”.

Bukan perjalanan jauh. Bukan pula liburan mewah.

Minggu, 27 September 2026, pagi itu, Guru Ataya dan istri memilih sesuatu yang sederhana, jalan santai berdua.

Pukul 06.30 WIB, kami melangkahkan kaki dari rumah menuju Renzo Edupark, yang jaraknya kurang lebih 5 kilometer

Lima kilometer mungkin terdengar tidak terlalu jauh. Tetapi ketika ditempuh dengan berjalan kaki, jarak tersebut menjadi sebuah perjalanan yang punya cerita.

Kami menyusuri jalan perkampungan. Sesekali berpapasan dengan warga yang juga menikmati pagi. Kemudian jalan membawa kami ke hamparan persawahan yang masih terasa sejuk.

Tidak ada target harus cepat sampai.

Kami hanya berjalan, berbincang, menikmati udara pagi, dan sesekali memperhatikan pemandangan di sekitar.

Mungkin inilah salah satu kemewahan yang sering terlupakan, memiliki waktu untuk berjalan pelan bersama orang yang kita cintai.

Renzo Edupark yang Masih Terlelap

Dua jam kemudian, tepat sekitar pukul 08.30 WIB, kami akhirnya tiba di Renzo Edupark.

Ada hal menarik yang langsung kami rasakan.

Tempat itu masih sangat sepi.

Belum banyak pengunjung yang datang. Cafe dan resto RENZO pun belum mulai menyajikan makanan, minuman, maupun kopi.

Akhirnya, pagi itu kami seperti mendapatkan sebuah kesempatan istimewa.

Renzo Edupark terasa seperti milik kami berdua.

Tentu saja bukan benar-benar milik kami. Ada penjaga yang menemani. Tetapi suasana yang begitu lengang membuat kami bisa menikmati tempat tersebut dengan tenang.

Tidak ada suara keramaian pengunjung.

Tidak ada antrean makanan.

Belum ada aroma kopi yang menggoda.

Hanya ada suasana pagi, tempat yang masih tenang, dan dua orang yang sedang menikmati waktu bersama.


Potret Kami di Kenzo Edupark disaat Pagi yang cerah (Foto Dok.Pribadi)

Sunday, September 27, 2026

Jangan Kurung Anak di Dalam Kelas, Biarkan Mereka Menjelajah Dunia

Jangan Kurung Anak di Dalam Kelas, Biarkan Mereka Menjelajah Dunia

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak, 27 September 2026. Guru Ataya kali ini akan berbagi sesuatu yang menarik  diaktivitas hari libur. 

Sabtu, 26 September 2026. Pukul 09.00 WIB. Pagi itu saya tidak membawa Ataya ke sekolah. Tidak ada tas dan catatan yang harus dibawa.  Tidak ada buku matematika. Tidak ada papan tulis. Tidak ada rumus. Tidak ada tugas yang harus dikumpulkan.

Saya justru mengantarnya bersama Sena dan Nura ke sebuah tempat yang mungkin bagi sebagian orang bukanlah “ruang belajar”.

Kami menuju Dinas Pemadam Kebakaran Kecamatan Cibadak.

Di sanalah Ruang Jelajah Sukabumi membawa sekitar 21 anak usia dini bersama ayah dan bundanya untuk belajar dengan cara yang berbeda.

Dan saya kembali diingatkan pada satu hal: Anak-anak tidak harus selalu belajar di dalam kelas untuk menjadi pintar.

Hari Itu, Ataya Belajar dari Dunia Nyata

Ruang Jelajah Sukabumi merupakan komunitas yang menjadi wadah tumbuh kembang anak-anak usia dini, sekitar 2 sampai 8 tahun.

Kegiatan hari itu diketuai oleh Krani Pratiwi, S.Psi sang kakak dari Ataya.

Anak-anak diajak berkunjung, melihat dari dekat, bertanya, mengenal peralatan, serta memahami pekerjaan para petugas pemadam kebakaran.

Bagi orang dewasa mungkin sederhana.

Tetapi bagi seorang anak, pengalaman itu bisa menjadi sesuatu yang luar biasa. Mereka melihat mobil pemadam kebakaran bukan lagi sekadar kendaraan besar yang sesekali lewat di jalan. Mereka melihat orang-orang yang bekerja dengan keberanian. Mereka mulai mengenal bahwa ketika terjadi kebakaran, ada orang yang datang membantu.

Dan tanpa mereka sadari, mereka sedang belajar tentang keberanian, kepedulian, kedisiplinan, keselamatan, dan pengabdian.

Ataya bersama Nura dan Xena sedang mendengarkan paparan dari petugas Damkar

Saturday, September 26, 2026

Bahasa Ibu Naik Kelas! 7 Siswa SMPN 3 Cibadak Melaju ke FTBI Kabupaten

Bahasa Ibu Naik Kelas! 7 Siswa SMPN 3 Cibadak Melaju ke FTBI Kabupaten

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak- 26 September 20206. Guru Ataya, “Bahasa ibu akan mati jika generasinya malu menggunakannya.”

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun Kamis, 24 September 2026, siswa-siswi SMPN 3 Cibadak justru menunjukkan hal sebaliknya. Di tengah derasnya arus teknologi dan budaya digital, mereka berdiri percaya diri membawa bahasa dan budaya Sunda ke atas panggung prestasi.

Bertempat di SMPN 3 Cibadak, digelar Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) 2026 tingkat Sub Rayon 2 Cibadak. Kegiatan ini bukan sekadar ajang perlombaan, tetapi menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal, mencintai, sekaligus melestarikan bahasa dan seni budaya Sunda.

Tujuh cabang mata lomba dipertandingkan, yaitu Aksara Sunda, Pupuh, Borangan, Carpon, Biantara, Dongeng, dan Sajak.

Siswa-siswi SMPN 3 Cibadak pun tampil membawa nama sekolah. Mereka tidak datang sekadar untuk menjadi peserta. Mereka datang untuk berjuang.

Dan hasilnya?

Inilah Tujuh Prestasi yang ditorehkan siswa SMPN 3 Cibadak di Ajang FTBI 2026

Friday, September 25, 2026

Ketika Bahasa Ibu Naik Panggung: 14 Tunas SMPN 3 Cibadak Menjaga Nyala Basa Sunda

Ketika Bahasa Ibu Naik Panggung: 14 Tunas SMPN 3 Cibadak Menjaga Nyala Basa Sunda

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak, 25 September 2026. Guru Ataya, di zaman ketika jari anak-anak lebih cepat mengetik “OK”, “OTW”, “BTW”, dan berbagai istilah dunia maya daripada mengucapkan kalimat dalam bahasa ibunya sendiri, hari ini ada pemandangan yang patut kita beri perhatian.

Di SMPN 3 Cibadak Kamis, 24 September 2026 bahasa Sunda naik panggung.

Bukan sekadar menjadi bahasa percakapan di halaman sekolah. Bukan pula sekadar materi pelajaran yang tersimpan di buku. Hari ini, bahasa ibu hadir dengan segala keindahannya melalui Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat SMP se-Sub Rayon Cibadak.

Ada sajak yang dilantunkan.
Ada carpon yang dikisahkan.
Ada dongeng yang dihidupkan.
Ada biantara yang disampaikan dengan penuh percaya diri.
Ada aksara Sunda yang kembali ditorehkan.
Ada pupuh yang ditembangkan.
Dan ada borangan yang menjadi bagian dari kekayaan ekspresi bahasa Sunda.

Hari ini, bahasa ibu tidak sedang bernostalgia. Ia sedang menunjukkan bahwa dirinya masih hidup.

Bukan Sekadar Lomba Bahasa Sunda

FTBI sering kali dipandang sebagai sebuah perlombaan. Ada peserta, ada juri, ada panggung, ada penilaian, dan tentu ada juara.

Tetapi kalau kita melihatnya lebih dalam, FTBI sesungguhnya sedang mengajukan sebuah pertanyaan sederhana kepada generasi muda:

“Masihkah kalian mengenal bahasa yang pertama kali mengenalkan dunia kepada kalian?”

Bahasa ibu bukan sekadar alat komunikasi.

Di dalamnya ada cara orang tua menasihati anak.
Ada kelembutan seorang ibu ketika memanggil buah hatinya.
Ada humor orang kampung yang tidak selalu bisa diterjemahkan.
Ada petuah para karuhun.
Ada cerita sebelum tidur.
Ada sopan santun.
Ada identitas.

Ketika sebuah bahasa hilang dari lidah generasinya, yang hilang bukan hanya kata-kata.

Sebagian dari ingatan sebuah kebudayaan pun ikut menghilang.

Karena itulah FTBI menjadi penting.

Dan SMPN 3 Cibadak memilih untuk tidak sekadar menjadi penonton.

Sorotan Lensa OSIS SMPN 3 Cibadak (Dok.Foto OSIS)

Thursday, September 24, 2026

Laskar Kuda Hitam: Ketika Sorak Suporter Menjadi Energi Prestasi SMPN 3 Cibadak

Laskar Kuda Hitam: Ketika Sorak Suporter Menjadi Energi Prestasi SMPN 3 Cibadak

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak – 24 September 2026. Bukan sekadar berteriak. Bukan sekadar bernyanyi. Mereka hadir membawa energi, membangun keberanian, dan mengajarkan bahwa kemenangan di lapangan juga lahir dari dukungan orang-orang yang berdiri di belakangnya.

Ada sesuatu yang menarik setiap kali tim futsal SMPN 3 Cibadak bertanding.

Bukan hanya tentang siapa yang mencetak gol. Bukan hanya tentang siapa yang memenangkan pertandingan. Tetapi ada satu kekuatan lain yang selalu hadir dari sisi lapangan, suara yang bergemuruh, tepuk tangan yang tak putus, yel-yel yang membakar semangat, dan energi anak-anak yang seolah mengatakan kepada para pemain: “Kalian tidak sendiri. Kami ada di sini!”

Mereka adalah Laskar Kuda Hitam, Ultras S3 Cerdik Berbudi.

Dari Sekadar Hobi Menjadi Sebuah Gerakan Positif

Laskar Kuda Hitam bukan ekstrakurikuler dalam struktur kegiatan sekolah. Ia tumbuh sebagai sebuah komunitas siswa.

Anggotanya adalah siswa-siswi SMPN 3 Cibadak yang memiliki kesamaan kegemaran: menyukai olahraga, mencintai sekolah, dan memiliki keinginan untuk memberikan dukungan kepada teman-temannya yang sedang bertanding.

Ketika tim futsal SMPN 3 Cibadak turun ke lapangan, Laskar Kuda Hitam hadir di tribun.

Mereka bernyanyi. Mereka bertepuk tangan. Mereka meneriakkan yel-yel. Mereka mengibarkan semangat.

Namun lebih dari itu, mereka sedang belajar tentang arti kebersamaan.

Sebab menjadi suporter bukan hanya soal seberapa keras suara yang dikeluarkan. Ada etika yang harus dijaga, ada sikap yang harus dikendalikan, dan ada tanggung jawab untuk memastikan dukungan yang diberikan tetap berada dalam koridor sportivitas dan karakter positif.

Di sinilah pembinaan menjadi penting.

Dokumentasi Laskar Kuda Hitam Saat Pisah Sambut Kepala Sekolah (Dok.Foto Pribadi)

Membina Semangat, Bukan Sekadar Suara

Sebagai guru yang diberi amanah membina Laskar Kuda Hitam, saya melihat bahwa energi anak-anak ini sebenarnya sangat besar.

Jika tidak diarahkan, energi tersebut bisa saja berhenti sebagai kegaduhan.

Tetapi jika dibina dengan baik, energi itu dapat berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berarti. Menjadi semangat. Menjadi kekompakan. Menjadi kreativitas. Menjadi rasa memiliki terhadap sekolah.

Dan yang paling penting, menjadi bagian dari pendidikan karakter.

Karena itu, Laskar Kuda Hitam tidak dibangun untuk menjadi kelompok yang hanya datang ke pertandingan lalu berteriak sepanjang permainan.

Mereka dibimbing untuk memahami bahwa suporter sejati bukanlah mereka yang paling gaduh, tetapi mereka yang mampu memberikan dukungan dengan cara yang positif dan tetap menghargai lawan.

Mereka belajar bahwa ketika tim sendiri menang, kemenangan itu harus dirayakan dengan rendah hati.

Ketika tim sendiri kalah, kekalahan harus diterima dengan kepala tegak.

Dan ketika lawan bermain bagus, mereka pun harus mampu memberikan penghargaan.

Itulah nilai yang ingin ditanamkan.

Wednesday, September 23, 2026

Satu Jabatan Pergi Satu Harapan Datang

Catatan Haru dari Pisah Sambut Kepala SMPN 3 Cibadak

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak, 23 September 2026. Guru Ataya, ada pertemuan yang menghadirkan kebahagiaan, ada pula perpisahan yang meninggalkan kenangan. Namun, ada saat ketika keduanya hadir bersamaan: ketika sebuah kepemimpinan berakhir dan kepemimpinan baru dimulai.

Suasana penuh haru, hangat, dan kekeluargaan terasa di SMP Negeri 3 Cibadak pada Selasa, 22 September 2026. Sekolah menggelar acara Pisah Sambut Kepala Sekolah, dari Bapak H. Samirin, S.Pd., M.Pd. kepada Kepala Sekolah definitif yang baru, Bapak Subhan Taofik, S.Pd., M.Pd.

Kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi keluarga besar SMPN 3 Cibadak. Bukan hanya sebuah acara seremonial pergantian kepala sekolah, tetapi juga menjadi ruang untuk mengenang perjalanan, mengucapkan terima kasih, mempererat silaturahmi, serta menyambut masa depan dengan semangat baru.

Hadir dalam kegiatan tersebut Bapak Pengawas Pembina, Ketua MKKS SMP Kabupaten Sukabumi, tamu undangan dari SMPN 2 Cisaat, para guru dan tenaga kependidikan SMPN 3 Cibadak, serta siswa-siswi SMPN 3 Cibadak.

Dari Doa hingga Ayat Suci Al-Qur'an

Acara diawali dengan pembukaan, kemudian dilanjutkan dengan doa yang dipimpin oleh Bapak Anan Daros, S.Pd.

Nuansa religius semakin terasa ketika lantunan ayat suci Al-Qur'an dibacakan oleh Salman Ketas, siswa kelas 8B, dengan Faiza Zahira H., kelas 8B, sebagai saritilawah.

Lantunan ayat suci tersebut seakan menjadi pengingat bahwa setiap pergantian dalam kehidupan adalah bagian dari perjalanan yang harus disyukuri dan dijalani dengan penuh keikhlasan.


H. Samirin: Sebuah Perjalanan yang Akan Selalu Dikenang

Tibalah pada salah satu momen yang paling ditunggu sekaligus mengharukan, yaitu sambutan dan kata-kata dari Kepala Sekolah lama, Bapak H. Samirin, S.Pd., M.Pd.

Selama menjalankan amanah sebagai pimpinan SMPN 3 Cibadak, banyak cerita, pengalaman, kebersamaan, dan dinamika yang telah dilalui bersama.

Hari itu, kata-kata yang disampaikan bukan sekadar sambutan. Ada pesan, kesan, rasa terima kasih, dan kenangan yang terangkai menjadi satu.

Sebab dalam sebuah perjalanan kepemimpinan, yang paling lama tinggal bukanlah jabatan, melainkan jejak kebaikan yang pernah ditanamkan.

Perpisahan dengan seorang pemimpin bukan berarti berakhirnya hubungan. Bisa jadi, ia hanyalah perpindahan tempat untuk melanjutkan pengabdian dengan cara dan ruang yang berbeda.

Tuesday, September 22, 2026

Bukan Sekadar Verifikasi, Ada Amanah di Balik Rotasi Kepala Sekolah

Bukan Sekadar Verifikasi, Ada Amanah di Balik Rotasi Kepala Sekolah

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

SMP Negeri 3 Cibadak, 22 September 2026, Guru Ataya, pagi itu, SMP Negeri 3 Cibadak kembali menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan yang memiliki makna penting bagi perjalanan kepemimpinan sekolah.

Mulai pukul 07.30 WIB sd hingga selesai, dilaksanakan kegiatan Verifikasi Rotasi Kepala Sekolah di SMP Negeri 3 Cibadak dari Bapak H.Samirin,S.Pd.,M.Pd selaku Kepala Sekolah PLT kepada Bapak Subhan Subhan Taopik, S.Pd., M.Pd. selaku kepala sekolah definitif.

Bagi sebagian orang, kegiatan verifikasi mungkin terlihat sebagai sebuah proses administrative, memeriksa dokumen, mencocokkan data, melakukan klarifikasi, kemudian memastikan bahwa seluruh persyaratan telah sesuai dengan ketentuan.

Namun bagi kami yang berada di lingkungan sekolah, khususnya bagi Guru Ataya yang sudah cukup lama mengabdikan diri sebagai guru dan dipercaya sebagai salah satu guru senior, kegiatan ini memiliki makna yang jauh lebih dalam.

Sebab di balik lembaran dokumen dan data yang diperiksa, sesungguhnya ada amanah, tanggung jawab, dan perjalanan panjang sebuah sekolah.

Ketika Data Harus Berbicara dengan Kenyataan

Kegiatan verifikasi dilakukan melalui pemeriksaan, klarifikasi, dan verifikasi terhadap berbagai data serta dokumen yang diperlukan dalam pelaksanaan rotasi kepala sekolah. Semuanya harus dipastikan dengan teliti. Data harus sesuai. Dokumen harus lengkap. Keterangan harus jelas. Tidak boleh ada yang terlewat.

Saat Verifikasi dari Pak Samirin ke Pak Subhan (Dok.Foto Sekolah)

Di sinilah Guru Ataya kembali menyadari bahwa dalam dunia pendidikan, administrasi bukanlah sekadar tumpukan kertas. Administrasi adalah bagian dari pertanggungjawaban.

Di balik sebuah dokumen, ada pekerjaan yang telah dilakukan. Di balik sebuah data, ada manusia yang menjalankan tugas. Dan di balik sebuah jabatan, ada amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Monday, September 21, 2026

Jalan-Jalan di Facebook, Pulang Membawa Banyak Wajah

Ketika Satu Foto Menjelma Menjadi Banyak Versi Diri

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak – 21 September 2026. Guru Ataya, ada kalanya kita membuka Facebook bukan karena sedang mencari sesuatu. Hanya sekadar jalan-jalan. Melihat kabar teman, membaca tulisan, menikmati foto, sesekali tersenyum melihat postingan yang lucu, lalu menggulir layar lagi dan lagi.

Begitulah saya pada suatu hari.

Sebagai seorang guru Matematika di SMPN 3 Cibadak, saya cukup sering berselancar di dunia maya. Bukan hanya untuk mencari bahan pembelajaran, tetapi juga untuk melihat berbagai perkembangan teknologi yang mungkin bisa saya bawa ke ruang kelas.

Sebab bagi saya, guru tidak boleh berhenti belajar. Apalagi ketika teknologi berkembang begitu cepat.

Saat sedang “jalan-jalan” itulah saya singgah di akun Facebook Pak Tri Goesema Putra. Sosok yang memang sudah lama aktif berbagi pengalaman tentang teknologi dan pemanfaatannya dalam dunia pendidikan. Jejak digital beliau menunjukkan bagaimana media sosial dan teknologi telah lama dimanfaatkannya untuk berbagi pengetahuan serta mendorong guru agar terus belajar dan melek teknologi.

Namun kali ini perhatian saya tertuju pada sesuatu yang berbeda.

Sebuah prompt yang sedang ramai digunakan untuk membuat satu foto menjadi banyak versi diri sendiri.

Saya berhenti menggulir.

“Wah... ini menarik!”

Rasa penasaran seorang guru pun muncul.

Kalau siswa menemukan sesuatu yang baru, biasanya mereka ingin mencoba.

Ternyata guru juga begitu.

Bedanya, mungkin usia boleh bertambah, tetapi rasa ingin tahu jangan sampai berkurang.

Satu Foto, Banyak Versi

Saya kemudian mencoba prompt tersebut. Satu foto dimasukkan. Lalu teknologi AI mulai bekerja.

Tiba-tiba, wajah yang sama dapat ditampilkan dalam berbagai versi. Ekspresi berbeda. Gaya berbeda. Suasana berbeda. Seolah-olah dalam satu foto terdapat beberapa karakter yang sedang menjalani kehidupan masing-masing.

Saya pun tersenyum melihat hasilnya.

Bukan karena merasa menjadi orang lain.

Justru sebaliknya.

Saya seperti sedang melihat berbagai kemungkinan dari diri sendiri.

Ada saya yang formal. Ada saya yang santai. Ada saya yang terlihat serius.

Ada pula versi yang terasa lebih muda dan penuh energi.

Teknologi memang semakin luar biasa.

Dulu, untuk menghasilkan foto dengan konsep berbeda, kita membutuhkan kamera, fotografer, lokasi, properti, pencahayaan, kemudian dilanjutkan dengan proses editing.

Sekarang?

Dengan sebuah foto dan prompt yang tepat, banyak hal dapat dilakukan. Tentu saja hasilnya tidak selalu sempurna. Kadang wajah sedikit berubah. Kadang posisi tangan terasa aneh. Kadang pakaian atau latar belakang tidak sesuai harapan.

Tetapi justru di situlah menariknya. Kita belajar bahwa AI bukan tongkat sulap. AI tetap membutuhkan manusia yang mampu memberikan instruksi dengan baik. Dan di sinilah saya melihat hubungan yang menarik dengan Matematika.

Satu Foto Menjelma Menjadi Banyak Versi Diri (Dok.Foto Pribadi

Sunday, September 20, 2026

Squishy Kertas Ataya: Mainan Sederhana, Imajinasi Tanpa Batas

Squishy Kertas Ataya: Mainan Sederhana, Imajinasi Tanpa Batas

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Minggu, 20 September 20206. Guru Ataya, hari Minggu biasanya menjadi waktu yang berbeda bagi keluarga kami. Tidak ada bel sekolah. Tidak ada jadwal mengajar. Tidak ada kesibukan mengejar waktu seperti hari-hari biasa.

Sabtu dan Minggu kami manfaatkan untuk berolahraga bersama. Kadang jalan santai, kadang bersepeda. Setelah tubuh terasa lebih segar, kami biasanya berkumpul di rumah, menikmati waktu bersama sambil bercanda dan bercerita.

Namun, ada satu anggota keluarga yang seolah memiliki dunianya sendiri.

Dialah Ataya Rachman Pradana Putra, anak bungsu kami.

Pada Minggu, 20 September 2026, setelah selesai berolahraga, suasana rumah kembali ramai oleh canda dan tawa. Sementara kami berbincang, Ataya seperti biasa mulai mencari aktivitas yang ia sukai.

Ada kertas.

Ada alat mewarnai.

Dan ada ide yang muncul dari kepalanya.

Kali ini, Ataya kembali membuat squishy dari kertas.

Ataya Saat Bergaya Ala Orang Dewasa (Dok.Foto Pribadi)

Kertas Biasa, Imajinasi Luar Biasa

Bagi orang dewasa, selembar kertas mungkin hanyalah benda sederhana.

Tetapi bagi seorang anak, kertas bisa berubah menjadi apa saja. Bisa menjadi gambar, bisa menjadi mainan, bisa menjadi karakter lucu, bahkan bisa menjadi sebuah squishy hasil kreasi sendiri.

Ataya mengambil kertas dan mulai menggambar bentuk yang ia inginkan. Setelah itu ia memberikan warna sesuai imajinasinya. Perlahan-lahan, gambar yang semula hanya berupa garis berubah menjadi sebuah karya yang memiliki bentuk dan karakter.

Kemudian proses berlanjut.

Kertas dilipat, dibentuk, direkatkan, dan diisi sedemikian rupa hingga menjadi squishy sederhana.

Saya memperhatikan dari kejauhan. Tidak banyak yang saya lakukan. Saya hanya melihat bagaimana kedua tangannya bekerja dan bagaimana pikirannya terus mencari bentuk baru.

Di situlah saya melihat sesuatu yang lebih penting daripada sekadar sebuah mainan. Saya melihat kreativitas sedang tumbuh.

Saturday, September 19, 2026

Menemani Langkah Kecil di Lapangan Futsal

Dari Lapang Futsal, Guru Ataya Belajar Tentang Mimpi Kecil Seorang Anak

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak, 19 September 2026. Di tengah kesibukan mengajar Matematika dan merapikan administrasi sekolah di SMPN 3 Cibadak, ada satu momen sederhana yang selalu saya nantikan setiap minggunya. Hari Jumat dan Senin sore adalah waktu istimewa bagi saya untuk menepi sejenak dari rutinitas dan bertukar peran secara penuh, menjadi seorang pendukung utama bagi sang buah hati.

Ada hal-hal sederhana dalam hidup yang ternyata menyimpan pelajaran besar.

Bagi saya, salah satunya adalah mengantar anak bungsu berlatih futsal.

Setiap hari Jumat dan Senin sore, selepas kesibukan mengajar dan rutinitas lainnya, saya menyempatkan diri mengantar Ataya Rachman Pradana Putra ke lapang futsal CFS Cibadak. Di tempat itulah Ataya bersama teman-temannya berlatih bersama Serenite FC, kelompok usia 6–10 tahun.

Latihan dimulai pukul 16.00 hingga 17.30 WIB.

Bagi sebagian orang, mungkin satu setengah jam di lapangan hanya terlihat sebagai aktivitas olahraga anak-anak. Tetapi bagi seorang Guru Ataya, waktu itu terasa jauh lebih berharga.

Di sana saya melihat seorang anak kecil sedang belajar mengejar bola.

Namun sesungguhnya, ia juga sedang belajar mengejar mimpi.

Bukan Sekadar Menendang Bola

Ataya akan genap berusia 8 tahun pada 20 Oktober 2026.

Usianya masih sangat muda. Dunia anak seusianya seharusnya memang dipenuhi dengan bermain, tertawa, mencoba sesuatu yang baru, dan menemukan apa yang mereka sukai.

Karena itu, ketika Ataya berada di lapangan, saya tidak terlalu memikirkan apakah ia mencetak gol atau tidak.

Saya lebih senang melihat bagaimana ia berusaha. Ketika bola direbut lawan, ia belajar untuk tidak menyerah. Ketika tendangannya melenceng, ia belajar mencoba lagi. Ketika mendapat kesempatan mencetak gol, ia belajar percaya diri.

Dan ketika bermain bersama teman-temannya, ia belajar bahwa sepak bola bukan tentang siapa yang paling hebat, tetapi tentang bagaimana bekerja sama sebagai sebuah tim.

Guru Ataya Mengantar, Ataya yang Berjuang

Saya mungkin bukan orang yang selalu berada di dalam lapangan.

Saya hanya mengantar, menunggu, mengamati dan sesekali memberikan semangat.

Tetapi justru dari posisi sederhana sebagai seorang Guru Ataya yang duduk di pinggir lapangan, saya belajar banyak hal.

Saya melihat pelatih memberikan instruksi. Saya melihat anak-anak berlari mengejar bola. Saya melihat mereka jatuh, bangkit, tertawa, bahkan sesekali kecewa.

Dan saya menyadari bahwa proses pendidikan tidak selalu berlangsung di dalam kelas.

Sebagai guru Matematika di SMPN 3 Cibadak, setiap hari saya mengajarkan angka, rumus, logika, dan pemecahan masalah kepada anak-anak di sekolah.

Tetapi di lapangan futsal, saya belajar bahwa kehidupan juga memiliki "rumus" yang sederhana:

Latihan + disiplin + keberanian + kesabaran = proses menuju kemampuan.

Tidak ada anak yang langsung hebat ketika pertama kali memegang bola. Semua membutuhkan proses.

Lapangan Futsal Adalah Ruang Belajar

Di lapangan, Ataya mungkin tidak sedang belajar Matematika. Tidak ada pecahan.  Tidak ada persamaan. Tidak ada bangun ruang. Tetapi sebenarnya banyak konsep kehidupan yang sedang ia pelajari.

Ia belajar disiplin, karena harus datang tepat waktu.

Ia belajar tanggung jawab, karena harus mengikuti latihan dengan sungguh-sungguh.

Ia belajar sportivitas, karena menang dan kalah adalah bagian dari permainan.

Ia belajar kerja sama, karena satu pemain tidak mungkin memenangkan pertandingan seorang diri.

Ia belajar menghargai teman dan pelatih.

Dan yang paling penting, ia belajar bahwa kemampuan tidak datang secara instan.

Bukankah itu juga hakikat pendidikan?

Pendidikan bukan hanya membuat anak mengetahui sesuatu.

Pendidikan juga membantu anak menjadi pribadi yang mampu menghadapi kehidupan.

Ataya dengan pialanya yang pernah di raih bersama Serenite FC (Dok.Foto Pribadi)