Wednesday, September 16, 2026

Hari Ini Kita Berpamitan, Besok Jejakmu Tetap Tinggal

Catatan Perpisahan untuk Seorang Pemimpin yang Pernah Menjaga Rumah Besar SMPN 3 Cibadak

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Rabu, 16 September 2026.. Guru Ataya, pukul 10.00 WIB, suasana di SMPN 3 Cibadak tiba-tiba terasa berbeda. Sebuah undangan dari kepala sekolah membuat seluruh PTK berkumpul di ruang guru. Tidak ada yang benar-benar menduga bahwa pertemuan singkat itu akan menjadi sebuah pertemuan yang begitu dalam maknanya.

Kami datang sebagai rekan kerja.

Namun kami pulang membawa rasa kehilangan.

Di hadapan seluruh PTK, Bapak H. Samirin, S.Pd., M.Pd. menyampaikan sebuah kabar: mulai Kamis, 17 September 2026, SMPN 3 Cibadak akan memiliki kepala sekolah definitif yang baru.

Artinya, hari ini adalah hari terakhir beliau berpamitan sebagai pemimpin yang selama ini bersama-sama kami menjalani perjalanan di sekolah ini.

Kurang lebih 1 tahun, 1 bulan, dan 15 hari bukanlah waktu yang sebentar.

Dalam rentang waktu itu, banyak cerita telah ditorehkan. Ada rapat yang panjang, evaluasi yang melelahkan, program yang harus diselesaikan, persoalan yang harus dicarikan jalan keluar, serta berbagai kegiatan sekolah yang menuntut kebersamaan.

Ada hari-hari yang mudah.

Ada pula hari-hari yang tidak sederhana.

Namun seorang pemimpin tidak selalu dikenang karena berapa banyak keputusan yang dibuatnya. Ia lebih sering dikenang karena bagaimana ia hadir ketika orang-orang di sekelilingnya membutuhkan arah.

Dan mungkin, itulah yang akan kami ingat dari sosok Pak Haji Samirin.

Satu Tahun Lebih, Banyak Jejak Tertinggal

Menjadi PLT kepala sekolah tentu bukan sekadar mengisi sebuah kursi kepemimpinan.

Di balik jabatan itu ada tanggung jawab.

Ada amanah.

Ada harapan dari guru, tenaga kependidikan, siswa, orang tua, dan seluruh warga sekolah.

Selama menjalankan tugas di SMPN 3 Cibadak, berbagai dinamika pendidikan telah dilalui bersama. Program sekolah berjalan, kegiatan pembelajaran terus bergerak, berbagai agenda kesiswaan dilaksanakan, dan berbagai persoalan sekolah diselesaikan dengan segala keterbatasan yang ada.

Mungkin tidak semua hal berjalan sempurna.

Tetapi bukankah kepemimpinan memang bukan tentang menciptakan perjalanan tanpa masalah?

Kepemimpinan adalah tentang berjalan bersama ketika masalah datang.

Dan di situlah arti seorang pemimpin menjadi terasa.

Dokumentasi Pamitan Sang Pemimipi (Dok.Foto Pribadi)

Ketika Jabatan Berakhir, Keteladanan Tidak Ikut Pergi

Besok, Pak Haji Samirin kembali ke sekolah induknya, SMPN 4 Cibadak.

Jabatan sebagai PLT Kepala SMPN 3 Cibadak berakhir.

Ruangan kepala sekolah mungkin akan ditempati oleh sosok yang berbeda. Cara memimpin mungkin akan berubah. Kebijakan mungkin akan menemukan warna baru.

Namun ada sesuatu yang tidak serta-merta hilang: kenangan. Sebab sekolah bukan hanya bangunan.

Sekolah adalah kumpulan manusia yang pernah tertawa bersama, bekerja bersama, berdiskusi, berbeda pendapat, menyelesaikan masalah, dan kemudian menemukan jalan keluar bersama.

Di sanalah seorang pemimpin meninggalkan jejak.

Jejak itu tidak selalu berupa tulisan dalam dokumen.

Kadang ia hadir dalam sebuah nasihat sederhana.

Dalam keputusan yang pernah diambil.

Dalam perhatian kepada guru.

Dalam kepedulian kepada siswa.

Dalam rapat-rapat yang mungkin dahulu terasa melelahkan, tetapi kelak justru menjadi cerita yang dirindukan.

Pergantian Pemimpin Adalah Bagian dari Perjalanan

Hari ini kami belajar kembali bahwa tidak ada jabatan yang abadi.

Tidak ada pertemuan yang selamanya.

Dan tidak ada kebersamaan yang dapat dijanjikan akan berlangsung tanpa akhir.

Pergantian kepala sekolah bukanlah akhir dari perjalanan SMPN 3 Cibadak.

Justru ini adalah awal dari babak baru.

Pemimpin boleh berganti.

Tetapi semangat untuk memajukan sekolah harus tetap tinggal.

Guru-guru akan tetap berdiri di depan kelas.

Siswa-siswa akan tetap datang membawa mimpi.

Tenaga kependidikan akan tetap bekerja di balik layar.

Dan sekolah akan terus bergerak mengikuti zaman.

Karena sesungguhnya sebuah sekolah tidak boleh bergantung pada satu sosok. Sekolah harus tumbuh dari kebersamaan seluruh warganya.

Terima Kasih, Pak Haji Samirin

Pak Haji Samirin,

Hari ini kami tidak ingin menghitung berapa banyak hari yang telah kita lalui bersama.

Kami hanya ingin mengingat bahwa selama kurang lebih satu tahun satu bulan lima belas hari, Bapak pernah menjadi bagian penting dari perjalanan SMPN 3 Cibadak.

Terima kasih atas waktu yang telah diberikan.

Terima kasih atas pikiran, tenaga, perhatian, arahan, dan kebersamaan selama menjalankan amanah.

Jika dalam perjalanan ada kata yang kurang berkenan, keputusan yang belum sempurna, atau langkah yang mungkin tidak selalu sesuai dengan harapan semua pihak, biarlah semuanya menjadi bagian dari proses belajar kita sebagai manusia.

Sebab tidak ada perjalanan kepemimpinan yang sempurna.

Yang ada adalah niat untuk terus berbuat baik dan meninggalkan sesuatu yang berarti.

Besok Bapak kembali ke SMPN 4 Cibadak sebagai sekolah induk.

Sementara kami akan melanjutkan perjalanan di rumah besar ini dengan pemimpin yang baru.

Tetapi percayalah...

nama boleh berganti dalam daftar jabatan, tetapi kebaikan yang pernah diberikan tidak mudah dihapus dari ingatan.

Selamat Jalan, Bukan Selamat Tinggal

Pak Haji Samirin dalam Lensa SMPN 3 Cibadak (Dok.Foto Pribadi)

Rabu, 16 September 2026 akan menjadi salah satu tanggal yang mungkin sederhana dalam kalender.

Tetapi bagi kami, tanggal itu menyimpan cerita.

Cerita tentang sebuah perpisahan.

Tentang seorang pemimpin yang menyelesaikan satu amanah.

Tentang sebuah sekolah yang bersiap membuka lembaran baru.

Dan tentang kami yang belajar bahwa setiap perjumpaan pada akhirnya akan menemukan kata pamit.

Selamat kembali ke SMPN 4 Cibadak, Pak Haji Samirin.

Semoga langkah berikutnya membawa keberkahan.

Semoga pengabdian berikutnya menghadirkan lebih banyak manfaat.

Dan semoga apa yang pernah Bapak tanam di SMPN 3 Cibadak tumbuh menjadi kebaikan yang terus hidup.

Hari ini kita berpamitan.
Besok Bapak kembali ke sekolah induk.

Namun jejak pengabdian itu akan tetap tinggal di ruang-ruang sekolah, dalam cerita para guru, dan di hati orang-orang yang pernah berjalan Bersama, karena seorang pemimpin mungkin meninggalkan jabatan, tetapi pemimpin yang meninggalkan keteladanan tidak pernah benar-benar pergi.

 Salam Blogger!



1 comment:

  1. Makasih pa H. Samirin atas bimbingan nya selama ini semoga bapa sehat selalu dan di panjangkan umurnya Amiin

    ReplyDelete