Saturday, August 22, 2026

Dari Cageur hingga Singer, Meneguhkan Pendidikan Karakter

Dari Cageur hingga Singer, Meneguhkan Pendidikan Karakter

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak, 22 Agustus 2026. Disela-sela libur untuk mengajar, Guru Ataya mencoba berbagi sesuatu dari kegiatan Zoom meeting. Menjadi seorang guru bukan hanya tentang menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga tentang membentuk manusia yang memiliki karakter, integritas, kecerdasan, dan tanggung jawab. Semangat inilah yang terasa dalam kegiatan Diklat Peningkatan Mutu Guru melalui Pendekatan Transformative Learning & Hypnoteaching Angkatan 1 yang diselenggarakan oleh Perguruan Tinggi Nusa Putra.

Pada Sabtu, 22 Agustus 2026 mulai pukul 08.00 sd 12.30 WIB. Guru Ataya berkesempatan mengikuti kegiatan tersebut secara daring melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini menjadi ruang belajar dan refleksi bagi guru untuk memperkaya wawasan sekaligus menemukan pendekatan pembelajaran yang lebih bermakna bagi peserta didik.

Salah satu materi yang Guru Ataya ikuti mengangkat tema “Gapura Panca Waluya: Konsep Pendidikan Karakter” yang disampaikan oleh Dr. Ayi Abdurahman, M.Pd.,MM.,CT.HTc. Materi ini terasa sangat relevan dengan tantangan pendidikan saat ini, ketika sekolah tidak cukup hanya menghasilkan peserta didik yang unggul secara akademik, tetapi juga perlu menumbuhkan generasi yang sehat, berkarakter, berintegritas, cerdas, dan mampu bertanggung jawab dalam menghadapi perubahan zaman.

Panca Waluya: Lima Nilai untuk Membangun Manusia Jawa Barat


Dalam konsep Panca Waluya, terdapat lima nilai utama yang menjadi fondasi pembentukan manusia Jawa Barat, yaitu Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer.

Cageur tidak hanya dimaknai sebagai sehat secara fisik, tetapi juga sehat secara mental dan memiliki kesiapan untuk menjalani kehidupan.

Bageur mengajarkan pentingnya menjadi pribadi yang baik, memiliki kepedulian, menghargai sesama, serta mampu membangun hubungan yang harmonis dengan lingkungan.

Bener berkaitan dengan sikap benar, jujur, berintegritas, serta mampu memegang prinsip dalam setiap tindakan.

Pinter menggambarkan pribadi yang cerdas, memiliki wawasan, mampu berpikir kritis, kreatif, dan terus belajar menghadapi perkembangan zaman.

Sementara itu, Singer mengandung makna cekatan, terampil, responsif, dan mampu menempatkan diri secara tepat dalam menghadapi berbagai situasi.

Kelima nilai tersebut bukan sekadar konsep, tetapi dapat menjadi pedoman dalam proses pendidikan. Gapura Panca Waluya seolah menjadi pintu masuk untuk menghadirkan pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga membangun hati, sikap, dan keterampilan peserta didik.



Guru sebagai Teladan Karakter

Sebagai guru Matematika di SMPN 3 Cibadak, materi ini memberikan refleksi yang sangat berarti. Pembelajaran Matematika sering kali identik dengan angka, rumus, logika, dan penyelesaian masalah. Namun, di balik semua itu terdapat kesempatan besar untuk menanamkan nilai-nilai karakter.


Ketika siswa belajar menyelesaikan persoalan Matematika, mereka sebenarnya sedang belajar bersabar, teliti, jujur, bertanggung jawab, bekerja sama, berpikir kritis, dan pantang menyerah.

Pendekatan Transformative Learning & Hypnoteaching semakin memperkuat pemahaman bahwa proses pembelajaran hendaknya mampu menyentuh peserta didik secara utuh. Pembelajaran tidak berhenti pada perubahan pengetahuan, tetapi diharapkan mampu mengubah cara berpikir, sikap, serta perilaku peserta didik menjadi lebih positif.


Guru pun dituntut untuk terus belajar dan melakukan transformasi diri. Sebelum mengajak peserta didik menjadi pribadi yang Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer, guru perlu terlebih dahulu berusaha menghadirkan nilai-nilai tersebut dalam dirinya.

Belajar untuk Berubah, Berubah untuk Menginspirasi

Mengikuti Zoom Meeting ini menjadi pengalaman belajar yang tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga mengingatkan kembali tentang hakikat profesi guru. Pendidikan sejatinya adalah proses panjang untuk memanusiakan manusia.

Di tengah perubahan teknologi, perkembangan kecerdasan buatan, dan berbagai tantangan kehidupan abad ke-21, pendidikan karakter tetap menjadi fondasi yang tidak boleh kehilangan tempat. Kecerdasan tanpa karakter dapat kehilangan arah, sementara karakter yang kuat akan menjadi bekal bagi peserta didik untuk menggunakan kecerdasannya secara bijaksana.

Dari kegiatan ini, Guru Ataya semakin menyadari bahwa guru bukan hanya pengajar, tetapi juga pembelajar, penggerak, dan teladan. Setiap pertemuan di kelas merupakan kesempatan untuk menanamkan nilai dan membangun masa depan.


“Cageur jasadna, bageur budina, bener lampahna, pinter pamikirna, singer gawéna”


Semoga semangat Panca Waluya dapat terus dihidupkan dalam setiap proses pembelajaran, sehingga sekolah mampu melahirkan generasi Jawa Barat yang sehat, baik, benar, cerdas, terampil, berintegritas, dan siap menghadapi perubahan zaman.

Salam Blogger !

Materi Diklat Bisa di download disini



1 comment: