Saturday, August 29, 2026

Guru Unggul di Zaman Berubah, Bukan Lagi yang Paling Banyak Bicara, tetapi yang Mampu Menyalakan Cahaya

Guru Unggul di Zaman Berubah, Bukan Lagi yang Paling Banyak Bicara, tetapi yang Mampu Menyalakan Cahaya

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak-29 Agustus 2026. Guru Ataya, siapa sih yang tak mengenal guru yang tugas mengajar,mendidik pokoknya dan melatih adalah serta membimbing murid atau peserta didik. Ya..guru merupakan profesi yang mulia dan tertua yang ada di dunia ini. Ribuan bahkan jutaan guru sekarang ini menghias dan bertugas di negeri ini untuk mencerdaskan anak-anak bangsa agar mereka menjadi generasi emas Indonesia kelak nanti.

Banyak katagori guru yang kita kenal sekarang ini dilihat dari keseharian guru melaksanakan tugasnya atau karakteristik kenerjanya. 

Berikut Guru Ataya mencoba mengkalsifikasikan macam guru berdasarkan penglihatan dan realita kenyataan dilapangan selama kurang lebih 39 tahun menjadi guru :

1. Guru Wajib

Guru yang keberadaannya sangat di butuhkan dan ketidak hadirannya membuat orang orang kehilangan Karakteristik: Bekerja dengan tulus, adminstrasi lengkap, kemampuan mengajarnya bagus, selain mengajar juga aktif dalam berbagai kegiatan, memandang bekerja itu sebagai belajar

2. Guru Sunnah

Guru yang keberadaannya dibutuhkan tetapi ketidakhadirannya tidak membuat orang lain kehilangan. Karakteristik: Bekerja pamrih, kemampuan bagus, memandang bekerja untuk mendapatkan sesuatu

3. Guru Mubah

Guru yang kehadiran dan ketidakhadirannya sama saja tidak berpengaruh. Karakteristik: Bekerja asal tidak menggugurkan kewajiban, tidak mempunyai keinginan untuk meningkatkan kemampuan dan karier, administrasi guru asal ada ( dapat foto copy), selesai mengajar terus pulang

4. Guru Makruh

Guru yang kehadirannya tidak diharapkan (bermasalah) dan ketidakhadirannya membuat orang lain, merasa tenang bekerja. Karakteristik: Selalu usil terhadap pekerjaan orang lain, selalu mengkritik orang lain/atasan tetapi bila disuruh kerja tidak mampu, pekerjaannya tidak baik.

5. Guru Haram

Guru yang kehadirannya dan ketidakhadirannya membuat masalah. Karakteristik: Berperilaku tidak baik dimana-mana sehingga biala dia tidak ada di sekolahpun banyak orang yang datang ke sekolah karena ada masalah dengannya, kalau ada di sekolah membuat masalah dengan sesama temannya. Itulah macam guru yang sekarang ada di dunia pendidikan di negeri ini.

Guru dan Staf Kepegawaian SMPN 3 Cibadak Tahun 2026 (Dok.Foto Pribadi)

Rasa rasanya tidak pas kita memilih macam guru diatas di era yang serba digital dan kemajuan teknologi ini. Guru Ataya mencoba mengutip salah seorang sosok putra terbaik di negeri ini yaitu Bapak Dino Patti Djalal, beliau mengatakan :

Di abad 21, merdeka saja tidak cukup. Berdaulat saja tidak cukup. Kita harus Unggul. Unggul Didalam, Unggul di Luar. Nasionalisme Unggul  adalah suatu semangat, etos hidup, karakter bangsa, sekaligus resep sukses yang dapat membuat bangsa Indonesia melesat menjadi raksasa Asia” .

Dari pernyataan beliaulah Guru Ataya mencoba berupaya membentuk “Guru Unggul” Ala Guru Ataya ( Iwan Sumantri, seorang guru Matematika di SMP Negeri 3 Cibadak kabupaten Sukabumi) yang mudah-mudahan bisa memberikan kontribusi paling tidak memiliki gagasan untuk berbuat sesuatu (Unggul) di negeri ini.

Menjadi guru pada zaman sekarang bukan sekadar berdiri di depan kelas, menulis rumus di papan tulis, lalu meminta siswa mengerjakan soal. Dunia telah berubah. Anak-anak yang kita hadapi tumbuh bersama teknologi, internet, media sosial, kecerdasan buatan, dan informasi yang bergerak begitu cepat.

Guru Ataya Ketika jadi PP di program Guru Penggerak (Dok.Foto Pribadi)

Di tengah perubahan itu, muncul sebuah pertanyaan sederhana tetapi penting: seperti apakah guru yang unggul pada zaman sekarang?

Apakah guru unggul adalah guru yang paling menguasai materi? Tentu, itu penting. Apakah guru yang mampu menggunakan teknologi dan kecerdasan buatan? Sangat diperlukan. Tetapi, Guru Ataya percaya guru unggul bukan hanya tentang seberapa banyak pengetahuan yang dimiliki seorang guru.

"Guru unggul adalah guru yang mampu membuat ilmu pengetahuan menjadi bermakna bagi kehidupan anak didiknya".

Guru yang Mau Terus Belajar

Guru Ataya Bersama Pengawas Pembina (Dok.Foto Pribadi)

Dulu, guru sering dianggap sebagai sumber utama pengetahuan. Kini, seorang siswa hanya membutuhkan telepon genggam untuk menemukan ribuan bahkan jutaan informasi.

Maka, guru tidak boleh berhenti belajar.

Guru yang unggul adalah guru yang memiliki semangat untuk terus memperbarui dirinya. Ia tidak merasa cukup hanya karena sudah bertahun-tahun mengajar. Sebaliknya, pengalaman mengajar justru menjadi modal untuk terus berefleksi.

Guru perlu belajar teknologi, memahami karakter generasi baru, mengenal pendekatan pembelajaran yang lebih relevan, dan berani mencoba sesuatu yang berbeda.

Sebab, zaman boleh berubah, kurikulum boleh berkembang, teknologi boleh semakin canggih, tetapi semangat seorang guru untuk belajar tidak boleh berhenti.


Guru Bukan Sekadar Pengajar, tetapi Pembelajar

Ada sebuah paradoks menarik dalam dunia pendidikan. Kita meminta siswa menjadi pembelajar sepanjang hayat, tetapi terkadang guru sendiri lupa menjadi pembelajar.

Padahal, guru yang hebat adalah guru yang bersedia mengatakan, “Guru Ataya juga masih belajar.”

Ketika seorang guru mencoba metode baru, menggunakan permainan dalam pembelajaran, memanfaatkan teknologi, berdiskusi dengan rekan sejawat, mengikuti pelatihan, atau bahkan belajar dari kesalahan, sesungguhnya ia sedang memberikan contoh terbaik kepada siswanya.

Anak-anak tidak hanya belajar dari apa yang guru katakan. Mereka juga belajar dari sikap gurunya dalam menghadapi perubahan.

Jika guru berani belajar, siswa pun akan belajar untuk berani mencoba.

Guru Matematika dan Tantangan Membuat Angka Menjadi Bermakna

Sebagai guru Matematika, Guru Ataya sering menyadari bahwa tantangan terbesar bukan sekadar membuat siswa mampu menghitung.

Lebih dari itu, bagaimana membuat siswa menyadari bahwa matematika hadir dalam kehidupan mereka?

Matematika bukan hanya tentang angka, rumus, persamaan, atau bangun ruang. Di balik matematika ada logika, ketelitian, strategi, keberanian mengambil keputusan, dan kemampuan memecahkan masalah.

Karena itu, pembelajaran matematika seharusnya tidak selalu membuat siswa duduk diam mengerjakan soal.

Sesekali mereka perlu bermain. Mereka perlu berdiskusi. Mereka perlu mencoba strategi. Mereka perlu melakukan kesalahan dan menemukan sendiri letak kesalahannya.

Ketika pembelajaran mampu menghadirkan rasa ingin tahu, kegembiraan, sekaligus tantangan berpikir, saat itulah matematika tidak lagi terasa sebagai kumpulan rumus yang harus dihafalkan.

Matematika berubah menjadi pengalaman.

Teknologi Boleh Canggih, tetapi Hati Guru Tetap Harus Hangat

Kehadiran kecerdasan buatan atau artificial intelligence memberikan banyak kemudahan bagi guru. Guru dapat memperoleh ide pembelajaran, membuat bahan ajar, menyusun asesmen, bahkan mendapatkan berbagai inspirasi aktivitas kelas.



Ketika Guru Ataya Memperoleh sesuatu ketika jadi Guru (Do.Pribadi)

Namun, ada satu hal yang tidak boleh kita serahkan sepenuhnya kepada teknologi: sentuhan kemanusiaan.

AI dapat membantu membuat soal. Tetapi AI tidak dapat menggantikan tatapan seorang guru ketika melihat siswanya sedang kehilangan semangat.

AI dapat membantu menyusun materi. Tetapi kehadiran guru tetap diperlukan untuk memahami mengapa seorang siswa tiba-tiba diam.

AI dapat memberikan berbagai jawaban. Tetapi guru tetap memiliki peran penting untuk membantu siswa menemukan pertanyaan yang tepat.

Karena pendidikan pada akhirnya bukan hanya proses memindahkan pengetahuan.

Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia.

Guru Unggul Tidak Harus Sempurna

Kadang-kadang kita terlalu sibuk membayangkan guru unggul sebagai sosok yang sempurna.

Padahal, guru juga manusia.

Ada hari ketika pembelajaran berjalan sangat baik. Ada pula hari ketika strategi yang sudah dipersiapkan ternyata tidak sesuai dengan kondisi kelas. Ada siswa yang antusias, tetapi ada pula yang membutuhkan perhatian lebih.

Guru unggul bukan guru yang tidak pernah mengalami kegagalan.

Guru unggul adalah guru yang mau belajar dari kegagalan.

Ia mengevaluasi pembelajarannya. Ia bertanya kepada dirinya sendiri: Apa yang sudah baik? Apa yang belum berhasil? Apa yang harus Guru Ataya perbaiki besok?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana itulah yang membuat seorang guru terus tumbuh.

Menjadi Guru yang Dirindukan

Pada akhirnya, keberhasilan seorang guru tidak selalu dapat diukur dari banyaknya materi yang selesai disampaikan.

Ada ukuran lain yang jauh lebih dalam.

Apakah siswa merasa aman ketika berada di kelas?

Apakah mereka berani bertanya?

Apakah mereka tidak takut salah?

Apakah mereka merasa dihargai?

Dan yang paling penting, apakah setelah bertahun-tahun meninggalkan bangku sekolah, mereka masih mengingat gurunya dengan rasa hormat dan kasih?

Jika jawabannya iya, mungkin di situlah makna sesungguhnya dari guru unggul.

Guru unggul bukan hanya guru yang mampu membuat siswa pintar menjawab soal. Ia adalah guru yang membantu siswa menemukan keyakinan bahwa dirinya mampu belajar, mampu berkembang, dan mampu menghadapi kehidupan.

Sebab suatu hari nanti, siswa-siswa kita akan meninggalkan ruang kelas.

Mereka akan menjadi dokter, pengusaha, atlet, seniman, teknisi, birokrat, petani, guru, orang tua, atau menjalani profesi yang bahkan hari ini belum kita kenal.

Ketika saat itu tiba, mungkin mereka tidak lagi mengingat semua rumus yang pernah kita ajarkan.

Tetapi mereka mungkin akan mengingat satu hal:

pernah ada seorang guru yang percaya kepada mereka ketika mereka sendiri belum percaya kepada dirinya.

Itulah guru unggul.

Bukan guru yang paling sempurna.

Bukan pula guru yang paling banyak bicara.

Melainkan guru yang terus belajar, mampu beradaptasi, menguasai teknologi tanpa kehilangan kemanusiaan, dan yang terpenting mampu menyalakan cahaya di dalam diri setiap anak didiknya.

Karena guru sejatinya bukan hanya mengajar untuk hari ini.

Guru sedang menyiapkan manusia untuk menghadapi masa depan

Salam Blogger!




2 comments: