“Jangan Kaget! Jumat Pagi SMPN 3 Cibadak Mendadak Jadi Catwalk Batik”
Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)
Jangan kaget kalau pagi-pagi
melihat guru dan siswa datang dengan motif yang beraneka ragam.Ada yang
bermotif klasik, ada yang bermotif modern, ada yang warnanya kalem, ada pula
yang tampil mencolok sampai bikin mata sulit berpaling.
Ya, hari itu SMPN 3 Cibadak
sedang “banjir batik”!
Bukan karena ada razia pakaian,
bukan pula karena guru sedang mengadakan fashion show.
Tetapi karena seluruh PTK dan
siswa-siswi SMPN 3 Cibadak bersama-sama memperingati Hari Batik Nasional.
BATIK BEBAS, HITAM WAJIB!
Dalam rangka memperingati Hari
Batik Nasional, seluruh warga sekolah mengenakan pakaian batik bebas yang
dipadukan dengan celana atau rok warna hitam.
Khusus siswi, penampilan
dibuat lebih ekspresif. Siswi tidak menggunakan hijab atau kerudung pashmina,
serta tidak bermake-up untuk melengkapi penampilan.
Satu lagi yang tidak boleh
dilupakan yaitu Sepatu harus hitam!
Jadi kalau batiknya sudah
keren, make-up sudah alamih, gaya sudah percaya diri, tetapi sepatunya
warna-warni…
Waduh, jangan sampai!
Karena di SMPN 3 Cibadak hari
itu berlaku rumus sederhana yaitu:
Batik bebas + bawahan hitam +
sepatu hitam = siap tampil!
BATIK BERBEDA, TAPI KITA TETAP
SATU
Yang menarik dari batik adalah
satu hal yaitu tidak ada batik yang benar-benar sama. Motifnya berbeda,
warnanya berbeda, coraknya berbeda.
Tetapi ketika dikenakan
bersama-sama, semuanya terlihat indah. Bukankah kehidupan di sekolah juga
begitu?
Siswa berbeda kemampuan, berbeda
karakter, berbeda minat, berbeda cita-cita.
Ada yang jago Matematika.
Ada yang hebat olahraga.
Ada yang piawai bernyanyi.
Ada yang berbakat seni.
Ada yang suka organisasi.
Ada yang pendiam tetapi
prestasinya diam-diam bikin bangga, berbeda bukan berarti terpisah.
Justru perbedaan itulah yang
membuat sebuah sekolah menjadi berwarna, seperti batik. Motifnya boleh berbeda,
tetapi kainnya tetap satu.
![]() |
| Bukan Sekedar Batik Busana Di Hari Juamt, 2 Oktober 2026 (Dok.Foto Pribadi) |
GURU MATEMATIKA PUN MELIHAT
BATIK DENGAN CARA BERBEDA
Sebagai guru Matematika, tentu
saja saya tidak bisa melihat batik hanya sebagai kain.
Mata guru Matematika selalu
punya kebiasaan aneh.
Melihat pola, langsung
terpikir geometri.
Melihat motif berulang,
terpikir pola.
Melihat bentuk yang
dicerminkan, teringat refleksi.
Melihat bentuk yang digeser,
muncul translasi.
Melihat ukuran yang diperbesar
atau diperkecil, teringat dilatasi.
Jadi jangan heran kalau guru
Matematika melihat batik lalu berkata:
“Ini
bukan cuma motif. Ini transformasi geometri yang sedang bergaya!”
Ternyata Matematika tidak
selalu harus berada di papan tulis.
Matematika bisa ditemukan di
kain batik.
Bahkan
mungkin selama ini Matematika berjalan-jalan di depan mata kita, tetapi kita
terlalu sibuk mencari rumusnya.
BATIK WARISAN YANG JANGAN CUMA
DIUPLOAD
Hari Batik Nasional bukan
sekadar kesempatan untuk tampil keren di depan kamera. Bukan sekadar mencari
foto terbaik, bukan sekadar memenuhi status WhatsApp.
Apalagi hanya untuk
mendapatkan komentar:
“Wih, keren!”
Lebih dari itu, ada pesan
penting yang perlu diwariskan kepada generasi muda.
Kalau bukan kita yang mengenal
budaya sendiri, lalu siapa?
Kalau bukan generasi muda yang
bangga menggunakan batik, siapa yang akan meneruskannya?
Budaya tidak akan hidup hanya
karena disimpan di museum.
Budaya akan terus hidup ketika
dipakai, dikenali, dipelajari, dicintai, dan diwariskan.
Dan sekolah adalah salah satu
tempat terbaik untuk menanamkan kecintaan itu.
Baca Juga:
Jangan Kurung Anak di Dalam Kelas, Biarkan Mereka Menjelajah Dunia
HARI BATIK, HARI BERGAYA, HARI
BERBUDAYA
Jumat, 2 Oktober 2026, SMPN 3
Cibadak bukan sekadar sekolah yang dipenuhi siswa dan guru.
Hari itu sekolah akan menjadi panggung
kecil kebudayaan Indonesia.
Batik menjadi kostum.
Siswa menjadi pemeran.
Guru menjadi teladan.
Sekolah menjadi panggungnya.
Dan budaya Indonesia menjadi
ceritanya.
Mungkin setelah bel pulang
berbunyi, batik kembali disimpan di lemari.
Namun semoga rasa bangga
terhadap budaya Indonesia tidak ikut dilipat dan disimpan.
Sebab…
Batik bukan sekadar kain yang dipakai.
Batik adalah identitas yang dibanggakan.
Batik bukan sekadar motif.
Batik adalah cerita yang diwariskan.
Dan memakai batik bukan sekadar bergaya.
Kita sedang menunjukkan bahwa budaya Indonesia masih punya tempat di hati
generasi muda.
![]() |
| Dokumentasi Berbatik di SMPN 3 Cibadak (Dok.Foto Pribadi) |
LOVE DARI SMPN 3 CIBADAK UNTUK INDONESIA
Mari jadikan Jumat, 2 Oktober
2026 sebagai hari yang bukan hanya meriah, tetapi juga bermakna.
Mari kenakan batik dengan
bangga.
Mari tampil percaya diri.
Mari abadikan momennya.
Tetapi yang paling penting…
Mari rawat budayanya.
Karena sekolah bukan hanya
tempat untuk belajar menghitung angka.
Sekolah juga tempat untuk
belajar siapa diri kita, dari mana kita berasal, dan apa yang harus kita
wariskan kepada generasi berikutnya.
Dan hari Jumat nanti,
jawabannya sederhana:
Kita belajar budaya sambil
bergaya.
Batik di badan, Indonesia di
hati!
SMPN 3 Cibadak: BEDA MOTIF,
SATU SEMANGAT, SATU INDONESIA!
PANTUN HARI BATIK NASIONAL
Pergi ke pasar membeli pita,
Singgah sebentar membeli jamu.
Batik bukan sekadar busana,
Budaya Indonesia ada di dirimu.
Ke Cibadak membeli pepaya,
Pulang membawa kain batik.
Kalau budaya terus dijaga,
Indonesia akan tetap menarik!
Batik indah bermotif bunga,
Dipakai guru penuh gaya.
Batik bukan sekadar busana,
Batik adalah jati diri bangsa!
Salam Batik! Salam Budaya!
Salam Pendidikan!
Guru Ataya
Guru Matematika SMPN 3 Cibadak




Selamat Hari Batik Nasional...YN
ReplyDeleteSelamat hari batik nasional juga
DeleteMantap. Jaga batik, cintai Negeri
ReplyDeleteTerimakasih atas apresiasinya
DeleteSelamat Hari Batik Nasional
ReplyDelete