Friday, October 2, 2026

Supervisor Masuk Kelas, Bukan Mencari Kesalahan

Ketika Kelas 8A Bernyanyi dari Aceh sampai Sunda

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak, 2 Oktober 20206. Guru Ataya, apa yang terjadi jika seorang guru Matematika masuk ke kelas bukan untuk mengajarkan angka, tetapi untuk menyaksikan anak-anak bernyanyi?

Jawabannya Guru Ataya temukan pada Kamis, 1 Oktober 2026.

Pukul 09.00 WIB, Guru Ataya melangkah menuju kelas 8A SMPN 3 Cibadak. Bukan sebagai guru Matematika.

Bukan pula untuk menjelaskan rumus, persamaan, atau bangun ruang.

Hari itu Guru Ataya datang sebagai supervisor untuk melaksanakan tugas Penilaian Kinerja (PK) Guru dan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB).

Dan guru yang Guru Ataya membersamai adalah Ibu Yuniarti, S.T., M.Pd., guru Seni dan Prakarya.

Ada satu hal yang kemudian membuat Guru Ataya berpikir:

“Ternyata supervisi tidak selalu tentang mencari apa yang kurang dari seorang guru. Kadang justru supervisilah yang membuat kita sadar bahwa masih banyak hal yang bisa kita pelajari dari guru lain.”

Dokumentasi Supervisi 1 Oktober 2026 (Dok.Foto Pribadi)

Bukan Rumus, Tetapi Lagu

Supervisi ini dilaksanakan berdasarkan Keputusan Kepala SMPN 3 Cibadak Nomor 400.3.5/379/SMPN3 CBD/2026 tanggal 8 September 2026 tentang Tim Penilai (PK) Guru dan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB).

Jam ke-3 dan ke-4, pukul 09.00–10.20 WIB.

Guru Ataya duduk mengamati proses pembelajaran.

Topiknya?

Teknik, Gaya, dan Apresiasi Lagu Tradisional (Lagu Daerah).

Sebagai guru Matematika, tentu saja Guru Ataya terbiasa dengan angka. Tetapi hari itu yang memenuhi kelas bukan angka.

Yang terdengar adalah lirik lagu, nada, ekspresi, dan suara siswa.

Dan ternyata, suasana kelas bisa sama hidupnya ketika membicarakan lagu sebagaimana ketika membicarakan matematika. Bedanya, hari itu yang sedang “dihitung” bukan angka. Yang sedang dihitung adalah kekayaan budaya Indonesia.

Baca Juga:


Enam Lagu, Enam Daerah, Satu Kelas

Ibu Yuniarti telah menyiapkan modul ajar berbasis deep learning lengkap dengan LKPD.

Siswa tidak sekadar mendengarkan penjelasan guru. Mereka diajak mengenal, membaca, menghafal, memahami, dan mengapresiasi lagu daerah.

Enam lagu menjadi bahan belajar:

🎵 Kampung Nan Jauh di Mato — Sumatera Barat
🎵 Bungong Jeumpa — Aceh
🎵 Tokecang — Jawa Barat/Sunda
🎵 Sabilulungan — Jawa Barat/Sunda
🎵 Ampar-Ampar Pisang — Kalimantan Selatan
🎵 Gundul-Gundul Pacul — Jawa Tengah

Coba bayangkan.

Enam lagu.

Enam warna budaya.

Enam cerita.

Tetapi semuanya berkumpul dalam satu ruang di kelas 8A SMPN 3 Cibadak.






Jangan-Jangan Kita Sedang Kehilangan Lagu Kita Sendiri?

Di sinilah Guru Ataya mulai berpikir lebih jauh. Di tengah derasnya arus musik digital, media sosial, dan berbagai jenis hiburan yang begitu mudah diakses anak-anak, apakah mereka masih mengenal lagu daerahnya sendiri?

Pertanyaan itu sederhana.

Tetapi jawabannya tidak selalu sederhana.

Anak-anak mungkin sangat hafal lagu yang sedang viral. Mungkin hafal potongan lagu yang sering muncul di media sosial. Namun, apakah mereka juga hafal lagu yang lahir dari tanah airnya sendiri?

Di sinilah sekolah memiliki peran.

Sekolah bukan hanya tempat mengejar nilai.

Sekolah juga menjadi salah satu ruang untuk menjaga agar budaya tidak berhenti sebagai cerita di buku pelajaran. Dan salah satu cara menjaganya ternyata sangat sederhana yaitu ajak anak-anak menyanyikannya.

LKPD Bukan Sekadar Lembar Kerja

Yang menarik dari pembelajaran ini adalah penggunaan LKPD. Siswa tidak diposisikan sebagai penonton. Mereka menjadi bagian dari proses. Mereka membaca lirik, mencoba menghafal, menyanyikan, berdiskusi, mengamati, dan memberikan apresiasi.

Di sinilah pembelajaran menjadi lebih bermakna.

Karena belajar bukan hanya tentang:

“Apa yang kamu tahu?”

Tetapi juga:

“Apa yang kamu alami?”

“Apa yang kamu rasakan?”

“Apa yang kamu pahami?”

Dan yang lebih penting:

“Apa yang akan kamu bawa setelah pembelajaran selesai?”

Deep Learning Bukan Sekadar Istilah Keren

Kita sering mendengar istilah deep learning dalam dunia pendidikan. Tetapi pembelajaran mendalam bukan sekadar menempelkan istilah tersebut di modul ajar. Pembelajaran menjadi mendalam ketika siswa tidak berhenti pada hafalan. Hari itu siswa memang menghafalkan lirik.

Tetapi prosesnya diarahkan agar mereka juga mengenal keberagaman budaya Indonesia.

Dari Aceh.

Ke Sumatera Barat.

Beranjak ke Jawa Barat.

Kemudian mengenal Kalimantan Selatan.

Lalu menyapa budaya Jawa.

Dari satu kelas, Indonesia terasa begitu luas.

Dan dari sebuah lagu, anak-anak belajar bahwa perbedaan budaya bukan alasan untuk terpisah.

Justru itulah kekayaan kita.

Supervisor Pun Harus Mau Belajar

Ini bagian yang paling Guru Ataya sukai dari kegiatan supervisi. Guru Ataya datang sebagai supervisor. Tetapi Guru Ataya pulang membawa pelajaran. Guru Ataya datang dengan instrumen penilaian. Tetapi Guru Ataya menemukan refleksi.

Guru Ataya datang untuk mengamati guru.

Tetapi ternyata Guru Ataya juga sedang mengamati diri sendiri sebagai seorang pendidik.

Bukankah guru yang baik adalah guru yang tidak pernah berhenti belajar?

Supervisi semestinya bukan ruang untuk mempermalukan guru. Bukan panggung untuk menunjukkan siapa yang lebih hebat. Dan bukan sekadar kegiatan administratif yang berakhir ketika lembar penilaian selesai diisi. Supervisi seharusnya menjadi ruang untuk bertumbuh.

Guru belajar dari guru.

Supervisor belajar dari guru yang disupervisi.

Dan pada akhirnya, siswa yang mendapatkan manfaatnya.

Dari Matematika Guru Ataya Belajar dari Seni

Guru Ataya guru Matematika.

Dunia Guru Ataya akrab dengan angka.

Ada pola.

Ada rumus.

Ada logika.

Ada pembuktian.

Tetapi ketika masuk ke kelas 8A hari itu, Guru Ataya kembali diingatkan bahwa pendidikan tidak boleh hanya berbicara tentang apa yang bisa dihitung.

Ada sesuatu yang tidak selalu bisa dihitung yaitu rasa.

Rasa bangga terhadap budaya.

Rasa memiliki terhadap daerah.

Rasa menghargai perbedaan.

Dan rasa cinta kepada Indonesia.

Mungkin nilai-nilai itu tidak tercantum dalam sebuah rumus Matematika.

Tetapi nilainya jauh lebih besar daripada sekadar angka di rapor.

Jangan Biarkan Lagu Daerah Hanya Menjadi Nama di Buku

Bayangkan suatu hari nanti seorang anak ditanya:

“Kamu tahu lagu daerah?”

Lalu jawabannya:

“Tahu, Pak. Pernah belajar di SMP.”

Lebih indah lagi kalau jawabannya: “Tahu, Pak. Guru Ataya masih hafal dan masih bisa menyanyikannya.”

Itulah yang kita harapkan.

Karena budaya yang hanya dibaca bisa dilupakan. Budaya yang hanya dihafalkan bisa hilang.

Tetapi budaya yang dialami, dinyanyikan, dan diapresiasi memiliki peluang lebih besar untuk tetap hidup.

Dan hari itu, kelas 8A sedang melakukan sesuatu yang sederhana tetapi bermakna yaitu membuat lagu daerah tetap bernapas.

Dari Kelas 8A, Suara Indonesia Menggema

Pukul 10.20 WIB, pembelajaran selesai. Tetapi bagi Guru Ataya, cerita hari itu belum selesai.

Guru Ataya pulang dengan satu kesimpulan sederhana yaitu Supervisi bukan tentang siapa yang paling hebat. Supervisi adalah tentang bagaimana kita bersama-sama menjadi lebih baik.

Dan kelas 8A telah memberi Guru Ataya satu pelajaran penting:

Indonesia tidak hanya bisa dipelajari lewat buku sejarah. Indonesia juga bisa dipelajari lewat sebuah lagu.

Dari Aceh ada Bungong Jeumpa.

Dari Sumatera Barat ada Kampung Nan Jauh di Mato.

Dari tanah Sunda ada Tokecang dan Sabilulungan.

Dari Kalimantan Selatan ada Ampar-Ampar Pisang.

Dari Jawa ada Gundul-Gundul Pacul.

Semuanya berbeda.

Tetapi ketika dinyanyikan bersama-sama, semuanya menjadi satu yaitu Indonesia.

Pelaksanaan Observasi dan Refleksi KBM bersama Guru dan Supervisor (Dok.Foto Pribadi)


Pantun Penutup ala Guru Ataya

Pergi ke pasar membeli pepaya,
Pulang membawa kain batik.
Lagu daerah warisan budaya,
Dinyanyikan siswa, Indonesia makin cantik.

Ke Cibadak membawa gitar,
Singgah sebentar membeli jamu.
Supervisi bukan mencari yang salah,
Tetapi belajar dan bertumbuh bersama guru.

Naik sepeda menuju sekolah,
Angin pagi terasa merdu.
Kalau budaya ingin tetap indah,
Kenalkan sejak dini kepada anak-anak kita selalu.

 

Catatan Guru Ataya

Kamis, 1 Oktober 2026
Supervisi PK & PKB Guru
Guru yang disupervisi: Ibu Yuniarti, S.T., M.Pd.
Kelas: 8A
Waktu: 09.00–10.20 WIB
Mata pelajaran: Seni dan Prakarya
Topik: Teknik, Gaya, dan Apresiasi Lagu Tradisional (Lagu Daerah)

Karena pendidikan bukan hanya tentang membuat anak pintar menjawab soal. Pendidikan juga tentang membuat mereka tahu dari mana mereka berasal, menghargai keberagaman, dan bangga menjadi bagian dari Indonesia.

Salam Guru Ataya : www.guruataya.com



6 comments:

  1. Keren ... belajar bisa dari sumber apapun. [RR]

    ReplyDelete
  2. Ko saya sedih ya baca tulisan ini, karena anak-anak lebih fasih menyanyikan lagu -lagu kontemporer dibanding lagu-lagu daerah yg kaya akan pesan moral dan nilai sejarah. Sebagai guru kita harus memfasilitasi agar lagu-lagu daerah tetap lestari dan tetap dikenal anak-anak. (Yuniarfhz)

    ReplyDelete