Refleksi Guru Matematika tentang Kemerdekaan dan Pendidikan
Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)
Lapangan
penuh lomba.
Bapak-bapak
mengejar kerupuk.
Emak-emak
tarik tambang.
Anak-anak berlarian membawa bendera kecil.
Kita tertawa.
Dan di sela-sela kemeriahan itu, ada satu hal yang justru membuat saya bertanya-tanya, Benarkah kita sudah semerdeka itu?
Belakangan saya juga ramai membaca
berita tentang desil. Ada guru ASN yang ternyata masuk desil 10. Alhamdulillah.
Rupanya guru kita kaya raya. Ada pula anak pejabat (menteri) yang posting masuk desil 7.
Saya membaca, lalu mengernyitkan dahi.
Ini pendataan sosial atau sedang membuat kasta baru?
Desil 1, desil 2, sampai desil 10.
Entah mengapa rasanya seperti membaca sistem kelas sosial zaman kolonial. Bedanya, dulu disebut priyayi dan jelata. Sekarang mungkin cukup diberi angka.
Saya tidak sedang mempermasalahkan data. Data itu penting. Yang membuat saya gelisah adalah ketika manusia akhirnya lebih mudah dilihat sebagai angka daripada sebagai manusia.
Dan kegelisahan itu membawa saya pada
persoalan yang lebih besar:
Pendidikan kita sebenarnya sedang menuju ke mana?
Belum selesai satu kebijakan, muncul kebijakan lain. Belum sempat guru memahami buku yang baru, sudah muncul wacana review dan rombak buku pelajaran.
Padahal coba tengok perpustakaan sekolah. Buku-buku pelajaran menumpuk.
Baca Juga :
- Dari Lapang Sekarwangi ke Kampung Halaman, Ketika Para Lansia Menjadi Penjaga Merah Putih
- 12 Semester Menanti, 18 Agustus Menjadi Hari yang Tak Terlupakan Ketika Perjuangan Hammam Berbuah Bahagia di UPI Bandung
- TKA Oh TKA
Ada buku kurikulum lama.
Ada buku kurikulum baru.
Ada buku revisi.
Ada buku Gerecep siap TKA
Ada buku yang baru dipakai sebentar, lalu datang kebijakan berikutnya.
Kadang saya membayangkan buku-buku itu sedang saling bertanya di rak perpustakaan:
"Kamu masih dipakai?"
"Entahlah."
"Kamu kurikulum apa?"
"Saya juga lupa."
Lalu datang lagi program baru.
Masukkan cinta rupiah.
Masukkan pendidikan koperasi.
Masukkan pendidikan antikorupsi.
Masukkan bela negara.
Masukkan ini.
Masukkan itu.
Semua baik.
Sungguh.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa cinta
rupiah tidak penting.
Koperasi tidak penting.
Integritas tidak penting.
Bela negara tidak penting.
Semuanya penting.
Tetapi saya mulai bertanya: Apakah pendidikan memang harus selalu diselesaikan dengan cara memasukkan sesuatu yang baru ke dalam kurikulum?
Jangan-jangan kita sedang menjadi bangsa yang terlalu sibuk bereaksi, tetapi lupa bervisi.
Setiap ada masalah, kita membuat
program.
Setiap ada fenomena, kita membuat
insersi.
Setiap ada tantangan baru, kita menambah muatan.
Padahal pendidikan bukan lemari yang
semakin bagus karena semakin banyak isinya. Pendidikan adalah bicara tentang
manusia.
Dan manusia tidk tumbuh karena semakin banyak dijejali. Manusia tumbuh karena dibantu menemukan cara berpikir, cara merasa, cara memilih, dan cara hidup.
Lalu saya ingin ingat pembahsan dari Bu Novi (co founder GSM) suatu ketika bertanya sesuatu yang sederhana.
Kurikulum penting?
Penting.
Guru penting?
Sangat penting.
Lalu...
Bisakah kurikulum berjalan tanpa guru?
Tidak.
Sekarang pertanyaan berikutnya:
Bisakah guru mengajar tanpa kurikulum?
Dalam banyak situasi, bisa.
Karena guru bukan sekadar pelaksana
kurikulum.
Guru adalah manusia yang berpikir.
Guru membaca situasi.
Guru mengenali anak.
Guru tahu kapan harus menjelaskan.
Kapan harus diam.
Kapan harus menantang.
Kapan harus memeluk.
Kapan harus berkata:
"Tidak apa-apa. Coba lagi."
Maka saya sering bertanya:Mengapa yang terus-menerus kita otak-atik justru kurikulumnya?
Bagaimana kalau sekali-sekali kita
berhenti sebentar. Tarik napas. Lalu melihat gurunya.
Apakah gurunya cukup?
Apakah kompetensinya cukup?
Apakah kesejahteraannya baik?
Apakah ia mendapat ruang untuk belajar?
Apakah ia memiliki kesempatan untuk berkembang?
Dan yang paling sederhana:Apakah semua guru mengajar sesuai dengan kompetensinya?
Coba lihat di sekolah masing-masing saya
contohkan di SMK, adakah?
Guru teknik mesin mengajar bahasa Jawa.
Guru otomotif ditambahi ngajar sejarah.
Guru satu bidang diberi bidang lain.
Bukan karena ia ahli.
Tetapi karena:"Memang tidak ada gurunya, daripada kekurangan orang dan rekrut guru baru, manfaatkan tenaga yang ada."
Saya paham.
Sekolah memang harus berjalan.
Administrasi harus selesai.
Jam pelajaran harus terisi.
Efisiensi harus dilakukan.
Tetapi ada satu pertanyaan yang kadang
luput:
Kalau hari ini kita mendidik anak-anak untuk menjadi generasi emas, apakah cara kita memperlakukan gurunya juga sudah mencerminkan masa depan yang ingin kita bangun?
Kita sering bicara tentang Generasi Emas 2045. Tapi generasi emas itu dibentuk oleh siapa?
Oleh guru.
Lalu siapa yang menyiapkan guru? Di
sinilah saya merasa kita perlu berbicara lebih dalam. Bukan hanya tentang
kompetensi teknis. Bukan hanya tentang bagaimana guru menggunakan AI. Bukan
hanya tentang bagaimana membuat media pembelajaran digital.
Bukan hanya tentang coding.
Bukan hanya tentang platform pembelajaran terbaru.
Semua itu penting.
Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih mendasar. Guru perlu kembali belajar tentang manusia.
Saya membayangkan pengembangan kompetensi guru ke depan tidak hanya sibuk mengajari guru skill baru. Guru perlu diperkuat dengan vara berpikir filosofi (filsafat)
Mengapa?
Karena filsafat mengajarkan kita
bertanya:
Mengapa saya mengajar?
Untuk apa saya mengajar?
Apa tujuan pendidikan?
Untuk apa manusia belajar? Apa yang
membuat manusia menjadi manusia?
Pengetahuan ini akan membawa manusia ke mana?
Di tengah zaman ketika AI mampu menjawab hampir semua pertanyaan, kemampuan paling mahal bukan lagi sekadar memiliki jawaban.
Tetapi mampu mengajukan pertanyaan yang benar.
Itulah mengapa berpikir kritis akan
menjadi benteng.
Bukan karena manusia harus lebih cepat
daripada mesin.
Kita tidak akan menang dalam perlombaan kecepatan dgn AI. Tetapi karena manusia masih memiliki kemampuan untuk bertanya:
"Seharusnya bagaimana?"
Itu pertanyaan moral.
Pertanyaan filosofis.
Pertanyaan kemanusiaan.
Dan AI tidak boleh mengambil alih wilayah itu dari manusia.
Guru juga perlu belajar psikologi, bukan hanya khusus guru BK yang tahu.
Bukan agar guru menjadi psikolog. Tetapi
agar guru memahami bahwa di balik seragam sekolah ada manusia.Anak yang datang
terlambat mungkin bukan malas.
Anak yang diam mungkin bukan bodoh.
Anak yang melawan mungkin sedang meminta
ruang untuk didengar.
Anak yang tidak mengerjakan tugas mungkin sedang berperang dengan sesuatu yang tidak pernah kita lihat.
Dan ketika guru memahami manusia,
pendidikan berubah. Dari sekadar:
"Bagaimana materi ini selesai?"
menjadi: "Apa yang terjadi pada manusia setelah belajar bersama saya?"
Pertanyaan kedua jauh lebih penting.
Maka saya mulai curiga.
Jangan-jangan persoalan pendidikan kita bukan semata-mata inkompetensi. Bukan pula sekadar kurangnya keterampilan menghadapi zaman. Jangan-jangan kita terlalu sibuk mempersiapkan anak menghadapi masa depan, sampai lupa menyiapkan mereka untuk tetap menjadi manusia di masa depan.
Kita takut anak kalah oleh AI.
Takut anak tidak punya skill.
Takut anak tidak bisa coding.
Takut anak tidak adaptif.
Takut anak tidak siap menghadapi dunia kerja.
Semua ketakutan itu masuk akal. Tetapi ada ketakutan yang menurut saya jauh lebih besar:
Bagaimana kalau anak-anak kita sangat cerdas, sangat terampil, sangat adaptif, tetapi kehilangan kemanusiaannya?
Bisa membuat apa saja. Tetapi tidak tahu
mana yang layak dibuat.
Bisa menghitung apa saja.
Tetapi tidak mampu memahami perasaan
orang lain.
Bisa memenangkan kompetisi.
Tetapi tidak mampu menghargai yang
kalah.
Bisa menghasilkan uang.
Tetapi tidak tahu kapan harus berkata
cukup, akhirnya pintar korupsi.
Bisa menggunakan AI.
Tetapi kehilangan kemampuan berpikir sendiri.
Kalau itu yang terjadi, apakah kita
benar2 sedang membangun generasi emas?
Atau hanya sedang membangun generasi yang
semakin canggih, tetapi semakin kehilangan dirinya?
Mungkin sudah waktunya kita berhenti
sebentar.
Bukan untuk menolak perubahan.
Bukan untuk membenci kurikulum.
Bukan pula untuk menyalahkan pemerintah.
Tetapi untuk bertanya lebih jauh:
Pendidikan ini sebenarnya hendak membawa manusia ke mana?
Karena bangsa yang besar bukan bangsa yang
paling sering mengganti kurikulum.
Bukan pula bangsa yang paling banyak
membuat program pendidikan.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang tahu manusia seperti apa yang ingin dilahirkannya.
Kalau arah itu sudah jelas, kurikulum
tinggal mengikuti.
Teknologi tinggal menjadi alat.
AI tinggal menjadi partner.
Buku tinggal menjadi sarana.
Program tinggal menjadi kendaraan.
Dan guru menjadi manusia yang menuntun manusia lain menemukan kemanusiaannya.
Sebab pada akhirnya... pendidikan bukan perlombaan membuat manusia semakin pintar.
Pendidikan adalah ikhtiar agar manusia yang semakin pintar itu tidak kehilangan hati, akal sehat, dan arah hidupnya.
Merdeka itu bukan sekadar bebas dari
penjajahan. Mungkin kemerdekaan yang lebih dalm adalah ketika sebuah bangsa
mampu menentukan sendiri:
manusia seperti apa yang ingin ia lahirkan.
Dan mungkin, sebelum kita kembali sibuk
mengubah kurikulum, kita perlu duduk sebentar bersama para guru.
Menanyakan kepada mereka: "Apa yang sedang kita perjuangkan?"
Sebab bisa jadi, yang perlu kita rombak bukan hanya kurikulumnya. Mungkin cara kita memandang pendidikanlah yang perlu kita merdekakan.

No comments:
Post a Comment