Ketika Kelas 8A Bernyanyi dari Aceh sampai Sunda
Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)
Jawabannya Guru Ataya temukan
pada Kamis, 1 Oktober 2026.
Pukul 09.00 WIB, Guru Ataya
melangkah menuju kelas 8A SMPN 3 Cibadak. Bukan sebagai guru Matematika.
Bukan pula untuk menjelaskan
rumus, persamaan, atau bangun ruang.
Hari itu Guru Ataya datang
sebagai supervisor untuk melaksanakan tugas Penilaian Kinerja (PK) Guru
dan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB).
Dan guru yang Guru Ataya
membersamai adalah Ibu Yuniarti, S.T., M.Pd., guru Seni dan Prakarya.
Ada satu hal yang kemudian
membuat Guru Ataya berpikir:
“Ternyata supervisi tidak selalu tentang mencari apa yang kurang dari seorang guru. Kadang justru supervisilah yang membuat kita sadar bahwa masih banyak hal yang bisa kita pelajari dari guru lain.”

Dokumentasi Supervisi 1 Oktober 2026 (Dok.Foto Pribadi)
Bukan Rumus, Tetapi Lagu
Supervisi ini dilaksanakan
berdasarkan Keputusan Kepala SMPN 3 Cibadak Nomor 400.3.5/379/SMPN3 CBD/2026
tanggal 8 September 2026 tentang Tim Penilai (PK) Guru dan Pengembangan
Keprofesian Berkelanjutan (PKB).
Jam ke-3 dan ke-4, pukul 09.00–10.20
WIB.
Guru Ataya duduk mengamati
proses pembelajaran.
Topiknya?
Teknik, Gaya, dan Apresiasi
Lagu Tradisional (Lagu Daerah).
Sebagai guru Matematika, tentu
saja Guru Ataya terbiasa dengan angka. Tetapi hari itu yang memenuhi kelas
bukan angka.
Yang terdengar adalah lirik
lagu, nada, ekspresi, dan suara siswa.
Dan ternyata, suasana kelas bisa sama hidupnya ketika membicarakan lagu sebagaimana ketika membicarakan matematika. Bedanya, hari itu yang sedang “dihitung” bukan angka. Yang sedang dihitung adalah kekayaan budaya Indonesia.
Baca Juga:
Enam Lagu, Enam Daerah, Satu
Kelas
Ibu Yuniarti telah menyiapkan modul
ajar berbasis deep learning lengkap dengan LKPD.
Siswa tidak sekadar
mendengarkan penjelasan guru. Mereka diajak mengenal, membaca, menghafal,
memahami, dan mengapresiasi lagu daerah.
Enam lagu menjadi bahan belajar:
🎵 Kampung
Nan Jauh di Mato — Sumatera Barat
🎵 Bungong Jeumpa
— Aceh
🎵 Tokecang — Jawa
Barat/Sunda
🎵 Sabilulungan —
Jawa Barat/Sunda
🎵 Ampar-Ampar Pisang
— Kalimantan Selatan
🎵 Gundul-Gundul Pacul
— Jawa Tengah
Coba bayangkan.
Enam lagu.
Enam warna budaya.
Enam cerita.
Tetapi semuanya berkumpul
dalam satu ruang di kelas 8A SMPN 3 Cibadak.
Jangan-Jangan Kita Sedang
Kehilangan Lagu Kita Sendiri?
Di sinilah Guru Ataya mulai
berpikir lebih jauh. Di tengah derasnya arus musik digital, media sosial, dan
berbagai jenis hiburan yang begitu mudah diakses anak-anak, apakah mereka masih
mengenal lagu daerahnya sendiri?
Pertanyaan itu sederhana.
Tetapi jawabannya tidak selalu
sederhana.
Anak-anak mungkin sangat hafal
lagu yang sedang viral. Mungkin hafal potongan lagu yang sering muncul di media
sosial. Namun, apakah mereka juga hafal lagu yang lahir dari tanah airnya
sendiri?
Di sinilah sekolah memiliki
peran.
Sekolah bukan hanya tempat
mengejar nilai.
Sekolah juga menjadi salah
satu ruang untuk menjaga agar budaya tidak berhenti sebagai cerita di buku
pelajaran. Dan salah satu cara menjaganya ternyata sangat sederhana yaitu ajak
anak-anak menyanyikannya.
LKPD Bukan Sekadar Lembar
Kerja
Yang menarik dari pembelajaran
ini adalah penggunaan LKPD. Siswa tidak diposisikan sebagai penonton. Mereka
menjadi bagian dari proses. Mereka membaca lirik, mencoba menghafal, menyanyikan,
berdiskusi, mengamati, dan memberikan apresiasi.
Di sinilah pembelajaran
menjadi lebih bermakna.
Karena belajar bukan hanya
tentang:
“Apa yang kamu tahu?”
Tetapi juga:
“Apa yang kamu alami?”
“Apa yang kamu rasakan?”
“Apa yang kamu pahami?”
Dan yang lebih penting:
“Apa yang akan kamu bawa
setelah pembelajaran selesai?”
Deep Learning Bukan Sekadar
Istilah Keren
Kita sering mendengar istilah deep
learning dalam dunia pendidikan. Tetapi pembelajaran mendalam bukan sekadar
menempelkan istilah tersebut di modul ajar. Pembelajaran menjadi mendalam
ketika siswa tidak berhenti pada hafalan. Hari itu siswa memang menghafalkan
lirik.
Tetapi prosesnya diarahkan
agar mereka juga mengenal keberagaman budaya Indonesia.
Dari Aceh.
Ke Sumatera Barat.
Beranjak ke Jawa Barat.
Kemudian mengenal Kalimantan
Selatan.
Lalu menyapa budaya Jawa.
Dari satu kelas, Indonesia
terasa begitu luas.
Dan dari sebuah lagu,
anak-anak belajar bahwa perbedaan budaya bukan alasan untuk terpisah.
Justru itulah kekayaan kita.
Supervisor Pun Harus Mau
Belajar
Ini bagian yang paling Guru
Ataya sukai dari kegiatan supervisi. Guru Ataya datang sebagai supervisor. Tetapi
Guru Ataya pulang membawa pelajaran. Guru Ataya datang dengan instrumen
penilaian. Tetapi Guru Ataya menemukan refleksi.
Guru Ataya datang untuk
mengamati guru.
Tetapi ternyata Guru Ataya
juga sedang mengamati diri sendiri sebagai seorang pendidik.
Bukankah guru yang baik adalah
guru yang tidak pernah berhenti belajar?
Supervisi semestinya bukan
ruang untuk mempermalukan guru. Bukan panggung untuk menunjukkan siapa yang
lebih hebat. Dan bukan sekadar kegiatan administratif yang berakhir ketika
lembar penilaian selesai diisi. Supervisi seharusnya menjadi ruang untuk
bertumbuh.
Guru belajar dari guru.
Supervisor belajar dari guru
yang disupervisi.
Dan pada akhirnya, siswa yang
mendapatkan manfaatnya.
Dari Matematika Guru Ataya
Belajar dari Seni
Guru Ataya guru Matematika.
Dunia Guru Ataya akrab dengan
angka.
Ada pola.
Ada rumus.
Ada logika.
Ada pembuktian.
Tetapi ketika masuk ke kelas
8A hari itu, Guru Ataya kembali diingatkan bahwa pendidikan tidak boleh hanya
berbicara tentang apa yang bisa dihitung.
Ada sesuatu yang tidak selalu
bisa dihitung yaitu rasa.
Rasa bangga terhadap budaya.
Rasa memiliki terhadap daerah.
Rasa menghargai perbedaan.
Dan rasa cinta kepada
Indonesia.
Mungkin nilai-nilai itu tidak
tercantum dalam sebuah rumus Matematika.
Tetapi nilainya jauh lebih besar daripada sekadar angka di rapor.
Jangan Biarkan Lagu Daerah
Hanya Menjadi Nama di Buku
Bayangkan suatu hari nanti
seorang anak ditanya:
“Kamu tahu lagu daerah?”
Lalu jawabannya:
“Tahu, Pak. Pernah belajar di
SMP.”
Lebih indah lagi kalau
jawabannya: “Tahu, Pak. Guru Ataya masih hafal dan masih bisa menyanyikannya.”
Itulah yang kita harapkan.
Karena budaya yang hanya
dibaca bisa dilupakan. Budaya yang hanya dihafalkan bisa hilang.
Tetapi budaya yang dialami,
dinyanyikan, dan diapresiasi memiliki peluang lebih besar untuk tetap hidup.
Dan hari itu, kelas 8A sedang melakukan sesuatu yang sederhana tetapi bermakna yaitu membuat lagu daerah tetap bernapas.
Dari Kelas 8A, Suara Indonesia
Menggema
Pukul 10.20 WIB, pembelajaran
selesai. Tetapi bagi Guru Ataya, cerita hari itu belum selesai.
Guru Ataya pulang dengan satu
kesimpulan sederhana yaitu Supervisi bukan tentang siapa yang paling hebat. Supervisi
adalah tentang bagaimana kita bersama-sama menjadi lebih baik.
Dan kelas 8A telah memberi Guru
Ataya satu pelajaran penting:
Indonesia tidak hanya bisa
dipelajari lewat buku sejarah. Indonesia juga bisa dipelajari lewat sebuah
lagu.
Dari Aceh ada Bungong
Jeumpa.
Dari Sumatera Barat ada Kampung
Nan Jauh di Mato.
Dari tanah Sunda ada Tokecang
dan Sabilulungan.
Dari Kalimantan Selatan ada Ampar-Ampar
Pisang.
Dari Jawa ada Gundul-Gundul
Pacul.
Semuanya berbeda.
Tetapi ketika dinyanyikan bersama-sama, semuanya menjadi satu yaitu Indonesia.
![]() |
| Pelaksanaan Observasi dan Refleksi KBM bersama Guru dan Supervisor (Dok.Foto Pribadi) |
Pantun Penutup ala Guru Ataya
Pergi ke pasar membeli pepaya,
Pulang membawa kain batik.
Lagu daerah warisan budaya,
Dinyanyikan siswa, Indonesia makin cantik.
Ke Cibadak membawa gitar,
Singgah sebentar membeli jamu.
Supervisi bukan mencari yang salah,
Tetapi belajar dan bertumbuh bersama guru.
Naik sepeda menuju sekolah,
Angin pagi terasa merdu.
Kalau budaya ingin tetap indah,
Kenalkan sejak dini kepada anak-anak kita selalu.
Catatan Guru Ataya
Kamis, 1 Oktober 2026
Supervisi PK & PKB Guru
Guru yang disupervisi: Ibu Yuniarti, S.T., M.Pd.
Kelas: 8A
Waktu: 09.00–10.20 WIB
Mata pelajaran: Seni dan Prakarya
Topik: Teknik, Gaya, dan Apresiasi Lagu Tradisional (Lagu Daerah)
Karena pendidikan bukan hanya
tentang membuat anak pintar menjawab soal. Pendidikan juga tentang membuat
mereka tahu dari mana mereka berasal, menghargai keberagaman, dan bangga
menjadi bagian dari Indonesia.
Salam Guru Ataya : www.guruataya.com


Sangat inovatif pembelajarannya
ReplyDeleteTerimakasih atas apresiasinya pak Wahyu
DeleteKeren ... belajar bisa dari sumber apapun. [RR]
ReplyDeletesetuju...belajar bisa dari sumber apapun
DeleteKo saya sedih ya baca tulisan ini, karena anak-anak lebih fasih menyanyikan lagu -lagu kontemporer dibanding lagu-lagu daerah yg kaya akan pesan moral dan nilai sejarah. Sebagai guru kita harus memfasilitasi agar lagu-lagu daerah tetap lestari dan tetap dikenal anak-anak. (Yuniarfhz)
ReplyDeleteYa, jika kita belajar mengajarnya dengan hati
Delete