Monday, October 12, 2026

Bukan Sekadar Menilai, tetapi Menginspirasi

Guru Ataya Membersamai Dua Guru dalam Supervisi Pembelajaran di SMPN 3 Cibadak

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak, 12 Oktober 2026.  Guru Ataya, menjadi guru bukan hanya tentang berdiri di depan kelas, menyampaikan materi, lalu memberikan tugas kepada peserta didik. Lebih dari itu, menjadi guru adalah perjalanan panjang untuk terus belajar, bertumbuh, dan menghadirkan pembelajaran yang bermakna. Begitu pula dengan supervisi pembelajaran. Di balik kegiatan ini, ada semangat untuk saling berbagi, memperbaiki diri, dan meningkatkan kualitas pendidikan.

Pada hari Rabu, 8 Oktober 2026, Guru Ataya, guru Matematika SMPN 3 Cibadak, Kabupaten Sukabumi, mendapat kesempatan menjalankan tugas sebagai supervisor pembelajaran. Kegiatan tersebut dilaksanakan berdasarkan Keputusan Kepala SMPN 3 Cibadak Nomor 400.3.5/379/SMPN3 CBD/2026 tertanggal 8 September 2026 tentang Tim Penilai (PK) Guru dan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB).

Kali ini, Guru Ataya membersamai dua rekan guru yang mengampu mata pelajaran berbeda, yaitu Ibu Aulia Haryawti Adha, S.Pd.Si., guru IPA, dan Ibu Yuli Yulianti, S.Pd., guru IPS.

Dua guru, dua mata pelajaran, dua suasana pembelajaran, tetapi memiliki satu tujuan yang sama: menghadirkan pengalaman belajar terbaik bagi peserta didik.

Supervisi Pertama: Mengungkap Rahasia Tekanan Bersama Ibu Aulia Haryawti Adha

Jam menunjukkan pukul 09.00 WIB. Suasana pembelajaran di Lab IPA kelas  9D menjadi tempat berlangsungnya supervisi terhadap Ibu Aulia Haryawti Adha, S.Pd.Si.

Pada jam pelajaran ke-3 dan ke-4, pukul 09.00–10.20 WIB, peserta didik diajak mempelajari materi IPA tentang Tekanan pada Zat Padat dan Tekanan pada Zat Cair.

Topik ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mengapa pisau tajam lebih mudah digunakan untuk memotong? Mengapa sepatu berhak tinggi memberikan tekanan lebih besar pada permukaan lantai? Mengapa dinding bendungan dibuat lebih tebal di bagian bawah?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu dapat menjadi pintu masuk untuk membangun rasa ingin tahu peserta didik. Konsep tekanan tidak lagi sekadar rumus yang harus dihafalkan, tetapi menjadi pengetahuan yang bisa diamati dan ditemukan dalam kehidupan nyata.

Menariknya, pembelajaran telah dilengkapi dengan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) berbasis STEAM. Pendekatan STEAM mengintegrasikan Science, Technology, Engineering, Arts, dan Mathematics sehingga peserta didik memiliki kesempatan menghubungkan konsep ilmiah dengan proses berpikir kreatif, pemecahan masalah, dan penerapan matematika.

Bagi Guru Ataya sebagai supervisor, perangkat pembelajaran seperti ini menjadi salah satu bagian penting yang dapat dicermati. Bukan hanya kelengkapan administrasi, melainkan bagaimana perencanaan pembelajaran mendukung peserta didik untuk aktif berpikir, berdiskusi, bereksplorasi, dan memahami konsep.

Sebab, pembelajaran IPA yang baik bukan sekadar membuat peserta didik mampu menjawab pertanyaan, melainkan juga menumbuhkan keberanian untuk bertanya, mengamati, dan mencari penjelasan.


Supervisi Kedua: Mengenal Bentuk Muka Bumi dan Keberagaman Indonesia Bersama Ibu Yuli Yulianti

Setelah supervisi pertama selesai, kegiatan berlanjut ke kelas 8C. Kali ini, Guru Ataya membersamai Ibu Yuli Yulianti, S.Pd., guru IPS SMPN 3 Cibadak.

Pada jam pelajaran ke-5 dan ke-6, pukul 10.40–12.00 WIB, pembelajaran mengangkat topik Bentuk Muka Bumi dan Kaitannya dengan Kemajemukan Masyarakat Indonesia.

Materi ini mengajak peserta didik memahami bahwa Indonesia bukan hanya negeri yang kaya akan bentang alam, tetapi juga memiliki keberagaman budaya, bahasa, pekerjaan, tradisi, dan pola kehidupan masyarakat.

Masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir tentu memiliki pengalaman hidup yang berbeda dengan masyarakat di daerah pegunungan. Penduduk dataran rendah mungkin memiliki kegiatan ekonomi yang berbeda dengan masyarakat yang tinggal di wilayah perbukitan.

Namun, perbedaan tersebut bukan alasan untuk terpecah. Justru, keberagaman menjadi kekayaan yang memperkuat identitas bangsa Indonesia.

Pembelajaran Ibu Yuli Yulianti telah dilengkapi dengan modul ajar berorientasi Deep Learning dan LKPD. Keduanya menjadi perangkat pendukung untuk merancang pengalaman belajar yang lebih bermakna, mendorong pemahaman mendalam, dan membantu peserta didik menghubungkan materi pelajaran dengan kenyataan di lingkungan mereka.

Dalam konteks ini, pembelajaran IPS tidak berhenti pada kemampuan menyebutkan nama-nama bentuk muka bumi. Peserta didik juga perlu memahami bagaimana kondisi geografis berkaitan dengan kehidupan sosial dan kemajemukan masyarakat.

Dari ruang kelas, mereka belajar membaca Indonesia. Dari bentang alam, mereka belajar memahami manusia. Dan dari keberagaman, mereka belajar menghargai perbedaan.

Inilah salah satu makna pembelajaran yang sesungguhnya, pengetahuan tidak hanya memenuhi pikiran, tetapi juga membentuk cara pandang dan sikap.

Guru Ataya Supervisor yang Juga Terus Belajar

Menjalankan tugas sebagai supervisor memberikan pengalaman tersendiri bagi Guru Ataya. Ada tanggung jawab untuk mencermati proses pembelajaran, tetapi ada pula kesempatan berharga untuk belajar dari praktik baik yang dilakukan rekan sejawat.

Ibarat cermin, supervisi membantu guru melihat kembali proses pembelajaran yang telah dirancang dan dilaksanakan. Hal-hal yang sudah baik dapat dipertahankan, sedangkan bagian yang masih perlu ditingkatkan dapat menjadi bahan refleksi bersama.

Supervisi bukan panggung untuk mencari kekurangan. Supervisi adalah ruang profesional untuk bertumbuh.

Seorang supervisor tidak seharusnya merasa paling sempurna. Sebaliknya, supervisor juga perlu memiliki kerendahan hati untuk belajar, mendengarkan, dan memahami bahwa setiap guru memiliki karakter, pengalaman, serta strategi pembelajaran yang berbeda.

Guru Ataya menyadari bahwa tugas supervisor bukan sekadar hadir di kelas dan memeriksa dokumen. Lebih dari itu, supervisi perlu menjadi bagian dari budaya sekolah yang mendorong kolaborasi, keterbukaan, dan peningkatan kompetensi guru secara berkelanjutan.

Karena pada akhirnya, yang terpenting bukan siapa yang disupervisi dan siapa yang menjadi supervisor, melainkan bagaimana seluruh proses tersebut berdampak positif bagi peserta didik.


Dua Kelas, Dua Mata Pelajaran, Satu Semangat Perubahan

Dari kelas 9D dengan pembelajaran IPA berbasis STEAM hingga kelas 8C dengan pembelajaran IPS berorientasi Deep Learning, kegiatan supervisi pada hari itu memperlihatkan bahwa setiap mata pelajaran memiliki jalan tersendiri untuk membawa peserta didik menuju pemahaman yang lebih baik.

IPA mengajak peserta didik menalar fenomena alam. IPS membantu mereka memahami hubungan antara lingkungan dan kehidupan masyarakat. Keduanya sama-sama membutuhkan perencanaan yang matang, strategi yang sesuai, dan keterlibatan aktif peserta didik.

Perangkat ajar berupa modul dan LKPD menjadi bagian dari ikhtiar tersebut. Namun, perangkat yang lengkap perlu berjalan beriringan dengan pelaksanaan pembelajaran yang efektif, interaksi yang positif, serta evaluasi yang membantu guru mengetahui perkembangan belajar peserta didik.

Di sinilah supervisi memiliki arti penting. Bukan untuk sekadar memastikan bahwa kegiatan belajar mengajar terlaksana, tetapi untuk terus mengupayakan agar pembelajaran semakin bermutu.

Ketika Guru Saling Menguatkan, Pendidikan Bergerak ke Depan

Hari itu, Guru Ataya mendapat kesempatan membersamai dua rekan guru dalam kegiatan supervisi pembelajaran. Sebuah pengalaman yang mungkin tampak sederhana dalam agenda sekolah, tetapi menyimpan makna besar bagi perjalanan profesional seorang pendidik.

Ada pembelajaran IPA tentang tekanan, ada pembelajaran IPS tentang bentang alam dan kemajemukan, dan ada pelajaran lain yang tidak tertulis di papan tulis: pentingnya kolaborasi antarguru.

Sebab, pendidikan yang baik tidak lahir dari guru yang berjalan sendirian. Pendidikan yang baik tumbuh ketika guru bersedia berbagi pengalaman, menerima masukan, memperbaiki praktik, dan terus membuka diri terhadap perubahan.

Guru hebat bukanlah guru yang merasa sudah selesai belajar, melainkan guru yang tidak pernah berhenti memperbaiki diri.

Dan supervisi yang bermakna bukanlah supervisi yang membuat guru merasa sedang dihakimi, melainkan supervisi yang membuat guru semakin percaya diri untuk berkembang.

Salam pendidikan. Salam kolaborasi. Salam Guru Ataya!

Guru Ataya — Berbagi Inspirasi, Menebar Literasi, Menguatkan Pendidikan.



No comments:

Post a Comment