Guru Ataya Membersamai Dua Guru dalam Supervisi Pembelajaran di SMPN 3 Cibadak
Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)
Pada
hari Rabu, 8 Oktober 2026, Guru Ataya, guru Matematika SMPN 3 Cibadak,
Kabupaten Sukabumi, mendapat kesempatan menjalankan tugas sebagai supervisor
pembelajaran. Kegiatan tersebut dilaksanakan berdasarkan Keputusan Kepala SMPN
3 Cibadak Nomor 400.3.5/379/SMPN3 CBD/2026 tertanggal 8 September 2026 tentang
Tim Penilai (PK) Guru dan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB).
Kali
ini, Guru Ataya membersamai dua rekan guru yang mengampu mata pelajaran
berbeda, yaitu Ibu Aulia Haryawti Adha, S.Pd.Si., guru IPA, dan Ibu Yuli
Yulianti, S.Pd., guru IPS.
Dua
guru, dua mata pelajaran, dua suasana pembelajaran, tetapi memiliki satu tujuan
yang sama: menghadirkan pengalaman belajar terbaik bagi peserta didik.
Supervisi
Pertama: Mengungkap Rahasia Tekanan Bersama Ibu Aulia Haryawti Adha
Jam
menunjukkan pukul 09.00 WIB. Suasana pembelajaran di Lab IPA kelas 9D menjadi tempat berlangsungnya supervisi
terhadap Ibu Aulia Haryawti Adha, S.Pd.Si.
Pada
jam pelajaran ke-3 dan ke-4, pukul 09.00–10.20 WIB, peserta didik diajak
mempelajari materi IPA tentang Tekanan pada Zat Padat dan Tekanan pada Zat Cair.
Topik
ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mengapa pisau tajam lebih mudah
digunakan untuk memotong? Mengapa sepatu berhak tinggi memberikan tekanan lebih
besar pada permukaan lantai? Mengapa dinding bendungan dibuat lebih tebal di
bagian bawah?
Pertanyaan-pertanyaan
sederhana seperti itu dapat menjadi pintu masuk untuk membangun rasa ingin tahu
peserta didik. Konsep tekanan tidak lagi sekadar rumus yang harus dihafalkan,
tetapi menjadi pengetahuan yang bisa diamati dan ditemukan dalam kehidupan
nyata.
Menariknya,
pembelajaran telah dilengkapi dengan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)
berbasis STEAM. Pendekatan STEAM mengintegrasikan Science, Technology,
Engineering, Arts, dan Mathematics sehingga peserta didik memiliki kesempatan
menghubungkan konsep ilmiah dengan proses berpikir kreatif, pemecahan masalah,
dan penerapan matematika.
Bagi Guru Ataya sebagai supervisor, perangkat pembelajaran seperti ini menjadi salah satu bagian penting yang dapat dicermati. Bukan hanya kelengkapan administrasi, melainkan bagaimana perencanaan pembelajaran mendukung peserta didik untuk aktif berpikir, berdiskusi, bereksplorasi, dan memahami konsep.
Sebab,
pembelajaran IPA yang baik bukan sekadar membuat peserta didik mampu menjawab
pertanyaan, melainkan juga menumbuhkan keberanian untuk bertanya, mengamati,
dan mencari penjelasan.
Supervisi
Kedua: Mengenal Bentuk Muka Bumi dan Keberagaman Indonesia Bersama Ibu Yuli
Yulianti
Setelah
supervisi pertama selesai, kegiatan berlanjut ke kelas 8C. Kali ini, Guru Ataya
membersamai Ibu Yuli Yulianti, S.Pd., guru IPS SMPN 3 Cibadak.
Pada
jam pelajaran ke-5 dan ke-6, pukul 10.40–12.00 WIB, pembelajaran mengangkat
topik Bentuk Muka Bumi dan Kaitannya dengan Kemajemukan Masyarakat Indonesia.
Materi
ini mengajak peserta didik memahami bahwa Indonesia bukan hanya negeri yang
kaya akan bentang alam, tetapi juga memiliki keberagaman budaya, bahasa,
pekerjaan, tradisi, dan pola kehidupan masyarakat.
Masyarakat
yang tinggal di wilayah pesisir tentu memiliki pengalaman hidup yang berbeda
dengan masyarakat di daerah pegunungan. Penduduk dataran rendah mungkin
memiliki kegiatan ekonomi yang berbeda dengan masyarakat yang tinggal di
wilayah perbukitan.
Namun,
perbedaan tersebut bukan alasan untuk terpecah. Justru, keberagaman menjadi
kekayaan yang memperkuat identitas bangsa Indonesia.
Pembelajaran
Ibu Yuli Yulianti telah dilengkapi dengan modul ajar berorientasi Deep Learning
dan LKPD. Keduanya menjadi perangkat pendukung untuk merancang pengalaman
belajar yang lebih bermakna, mendorong pemahaman mendalam, dan membantu peserta
didik menghubungkan materi pelajaran dengan kenyataan di lingkungan mereka.
Dalam
konteks ini, pembelajaran IPS tidak berhenti pada kemampuan menyebutkan
nama-nama bentuk muka bumi. Peserta didik juga perlu memahami bagaimana kondisi
geografis berkaitan dengan kehidupan sosial dan kemajemukan masyarakat.
Dari
ruang kelas, mereka belajar membaca Indonesia. Dari bentang alam, mereka
belajar memahami manusia. Dan dari keberagaman, mereka belajar menghargai
perbedaan.
Inilah
salah satu makna pembelajaran yang sesungguhnya, pengetahuan tidak hanya
memenuhi pikiran, tetapi juga membentuk cara pandang dan sikap.
Guru
Ataya Supervisor yang Juga Terus Belajar
Menjalankan
tugas sebagai supervisor memberikan pengalaman tersendiri bagi Guru Ataya. Ada
tanggung jawab untuk mencermati proses pembelajaran, tetapi ada pula kesempatan
berharga untuk belajar dari praktik baik yang dilakukan rekan sejawat.
Ibarat
cermin, supervisi membantu guru melihat kembali proses pembelajaran yang telah
dirancang dan dilaksanakan. Hal-hal yang sudah baik dapat dipertahankan,
sedangkan bagian yang masih perlu ditingkatkan dapat menjadi bahan refleksi
bersama.
Supervisi
bukan panggung untuk mencari kekurangan. Supervisi adalah ruang profesional
untuk bertumbuh.
Seorang
supervisor tidak seharusnya merasa paling sempurna. Sebaliknya, supervisor juga
perlu memiliki kerendahan hati untuk belajar, mendengarkan, dan memahami bahwa
setiap guru memiliki karakter, pengalaman, serta strategi pembelajaran yang
berbeda.
Guru
Ataya menyadari bahwa tugas supervisor bukan sekadar hadir di kelas dan
memeriksa dokumen. Lebih dari itu, supervisi perlu menjadi bagian dari budaya
sekolah yang mendorong kolaborasi, keterbukaan, dan peningkatan kompetensi guru
secara berkelanjutan.
Karena
pada akhirnya, yang terpenting bukan siapa yang disupervisi dan siapa yang
menjadi supervisor, melainkan bagaimana seluruh proses tersebut berdampak
positif bagi peserta didik.
Dua
Kelas, Dua Mata Pelajaran, Satu Semangat Perubahan
Dari
kelas 9D dengan pembelajaran IPA berbasis STEAM hingga kelas 8C dengan
pembelajaran IPS berorientasi Deep Learning, kegiatan supervisi pada hari itu
memperlihatkan bahwa setiap mata pelajaran memiliki jalan tersendiri untuk
membawa peserta didik menuju pemahaman yang lebih baik.
IPA
mengajak peserta didik menalar fenomena alam. IPS membantu mereka memahami
hubungan antara lingkungan dan kehidupan masyarakat. Keduanya sama-sama
membutuhkan perencanaan yang matang, strategi yang sesuai, dan keterlibatan
aktif peserta didik.
Perangkat
ajar berupa modul dan LKPD menjadi bagian dari ikhtiar tersebut. Namun,
perangkat yang lengkap perlu berjalan beriringan dengan pelaksanaan
pembelajaran yang efektif, interaksi yang positif, serta evaluasi yang membantu
guru mengetahui perkembangan belajar peserta didik.
Di
sinilah supervisi memiliki arti penting. Bukan untuk sekadar memastikan bahwa
kegiatan belajar mengajar terlaksana, tetapi untuk terus mengupayakan agar
pembelajaran semakin bermutu.
Ketika
Guru Saling Menguatkan, Pendidikan Bergerak ke Depan
Hari
itu, Guru Ataya mendapat kesempatan membersamai dua rekan guru dalam kegiatan
supervisi pembelajaran. Sebuah pengalaman yang mungkin tampak sederhana dalam
agenda sekolah, tetapi menyimpan makna besar bagi perjalanan profesional
seorang pendidik.
Ada
pembelajaran IPA tentang tekanan, ada pembelajaran IPS tentang bentang alam dan
kemajemukan, dan ada pelajaran lain yang tidak tertulis di papan tulis:
pentingnya kolaborasi antarguru.
Sebab,
pendidikan yang baik tidak lahir dari guru yang berjalan sendirian. Pendidikan
yang baik tumbuh ketika guru bersedia berbagi pengalaman, menerima masukan,
memperbaiki praktik, dan terus membuka diri terhadap perubahan.
Guru
hebat bukanlah guru yang merasa sudah selesai belajar, melainkan guru yang
tidak pernah berhenti memperbaiki diri.
Dan
supervisi yang bermakna bukanlah supervisi yang membuat guru merasa sedang
dihakimi, melainkan supervisi yang membuat guru semakin percaya diri untuk
berkembang.
Salam
pendidikan. Salam kolaborasi. Salam Guru Ataya!
Guru
Ataya — Berbagi Inspirasi, Menebar Literasi, Menguatkan Pendidikan.


No comments:
Post a Comment