Friday, October 16, 2026

Jelang Guru Ataya Purnabakti: Sebuah Perjalanan Pengabdian Tanpa Henti

Jelang Guru Ataya Purnabakti: Sebuah Perjalanan Pengabdian Tanpa Henti

Oleh : Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak – 16 Oktober 2026. Guru Ataya, menjadi seorang guru bukanlah sekadar pilihan profesi, melainkan jalan hidup yang penuh makna. Itulah yang Guru Ataya rasakan selama mengabdikan diri sebagai Guru Matematika di SMP Negeri 3 Cibadak (2007 – 2026).
 Kini, menjelang masa purnabakti, Guru Ataya mencoba menengok kembali perjalanan panjang yang telah dilalui, sebuah perjalanan yang penuh cerita, tantangan, dan kebahagiaan.

Awal menjadi guru (1987 di Perguraun Tamansiswa Cibadak) adalah langkah yang sederhana, namun penuh tekad. Guru Ataya menyadari bahwa matematika sering dianggap sulit oleh sebagian siswa. Namun bagi Guru Ataya, di balik angka dan rumus, terdapat keindahan logika dan cara berpikir yang luar biasa. Dari situlah Guru Ataya berkomitmen untuk tidak hanya mengajar, tetapi juga membimbing siswa agar mampu mencintai proses belajar.

Selama bertahun-tahun mengajar, Guru Ataya belajar bahwa setiap anak memiliki potensi yang unik. Tidak semua siswa langsung memahami pelajaran, tetapi setiap siswa berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang. Kesabaran, ketelatenan, dan pendekatan yang humanis menjadi kunci dalam setiap proses pembelajaran yang Guru Ataya lakukan.

Di ruang kelas, Guru Ataya tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga berusaha menanamkan nilai kehidupan, kejujuran, kerja keras, dan rasa percaya diri. Guru Ataya percaya, keberhasilan seorang guru tidak hanya diukur dari nilai akademik siswa, tetapi juga dari karakter yang terbentuk dalam diri mereka.

Tentu, perjalanan ini tidak selalu mudah. Ada tantangan, kelelahan, bahkan rasa jenuh. Namun setiap senyum siswa, setiap keberhasilan kecil yang mereka capai, selalu menjadi energi baru untuk terus melangkah. Itulah yang membuat Guru Ataya bertahan dan mencintai profesi ini hingga saat ini.

Kini, masa purnabakti semakin dekat ( 1 Maret 2027). Ada rasa haru yang tak terhindarkan. Sekolah ini bukan sekadar tempat bekerja, melainkan rumah kedua yang penuh kenangan. Rekan sejawat yang saling mendukung, serta siswa-siswa yang penuh semangat, telah menjadi bagian penting dalam hidup Guru Ataya.

Guru Ataya menyadari bahwa tugas sebagai guru secara formal akan segera berakhir, namun semangat untuk berbagi ilmu tidak akan pernah padam. Guru Ataya berharap apa yang telah Guru Ataya berikan, sekecil apa pun, dapat menjadi bagian dari perjalanan sukses para siswa di masa depan.

Menjelang purnabakti, Guru Ataya hanya ingin menyampaikan rasa syukur dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah menjadi bagian dari perjalanan ini. Semoga segala upaya yang telah dilakukan menjadi amal kebaikan yang terus mengalir.


Akhirnya, Guru Ataya percaya bahwa setiap akhir adalah awal yang baru. Masa purnabakti bukanlah akhir dari pengabdian, melainkan kesempatan untuk melanjutkan peran dalam bentuk yang berbeda.


Guru Ataya adalah Guru, dan Guru Ataya bangga pernah menjadi bagian dari perjalanan pendidikan anak bangsa.

Salam Blogger!



1 comment:

  1. Inspiratif sekali Pak ... terima kasih sudah mewarnai dunia pendidikan. [RR]

    ReplyDelete