Thursday, October 8, 2026

Ketika Guru Matematika Duduk di Bangku Penilaian

Supervisi Kepala Sekolah, Antara Rumus, LKPD, dan Degup Jantung Seorang Guru

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak – 8 Oktober 20206. Guru Ataya, pagi itu Senin, 5 Oktober 2026, sebenarnya tidak ada yang berbeda. Bel masuk berbunyi. Siswa kelas 9C mulai memasuki ruang kelas. Buku dan alat tulis dipersiapkan. Guru Ataya pun bersiap melaksanakan pembelajaran seperti biasanya.

Namun, ada satu hal yang membuat suasana pagi itu terasa sedikit berbeda.

Hari itu Guru Ataya bukan hanya mengajar. Guru Ataya sedang disupervisi.

Dan yang duduk sebagai supervisor bukan sembarang orang.

Beliau adalah Kepala SMPN 3 Cibadak, Bapak Subhan Taopik, S.Pd., M.Pd.

Jujur saja...

Menjadi guru itu biasa.
Mengajar di depan siswa itu rutinitas.
Tetapi mengajar ketika kepala sekolah duduk mengamati dari belakang kelas?

Nah, itu cerita lain!

Degup jantung terasa sedikit berbeda.

Ketika Guru Juga Merasakan “Ujian”

Supervisi tersebut dilaksanakan berdasarkan Keputusan Kepala SMPN 3 Cibadak Nomor 400.3.5/379/SMPN3 CBD/2026 tanggal 8 September 2026 tentang Tim Penilai (PK) Guru dan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) beserta lampirannya tentang jadwal supervisi kegiatan belajar mengajar.

Guru Ataya mendapatkan jadwal supervisi pada:

Senin, 5 Oktober 2026
Kelas 9C
Jam ke-1 dan ke-2, pukul 07.40–09.00 WIB
Supervisor: Bapak Subhan Taopik, S.Pd., M.Pd.
Topik: Kekongruenan dan Kesebangunan

Materi Matematika kelas 9 itu sebenarnya bukan sesuatu yang asing.

Ada konsep bangun yang sama bentuk dan sama ukuran.

Ada pula bangun yang sama bentuk tetapi berbeda ukuran.

Tetapi pagi itu Guru Ataya belajar satu hal baru:

Yang diuji bukan hanya pemahaman siswa tentang kekongruenan dan kesebangunan. Guru pun sedang belajar memahami dirinya sendiri.

Dokumentasi Kegiatan Supervisi Guru Ataya (Dok.Foto Pribadi)

Modul Ajar Sudah Siap, LKPD Sudah Lengkap...

Sebelum pembelajaran dimulai, persiapan tentu dilakukan sebaik mungkin.

Modul ajar dengan pendekatan deep learning sudah disiapkan.

LKPD juga sudah tersedia.

Aktivitas pembelajaran dirancang agar siswa tidak sekadar menerima rumus, tetapi benar-benar mencoba memahami konsep kekongruenan dan kesebangunan bangun datar melalui aktivitas belajar.

Karena bagi Guru Ataya, Matematika bukan sekadar:

“Ini rumusnya. Hafalkan!”

Matematika seharusnya membuat siswa bertanya:

“Mengapa bisa begitu?”

Lalu mencoba.

Mengamati.

Membandingkan.

Menemukan pola.

Dan akhirnya mampu menyimpulkan.

Sebab ketika siswa menemukan konsep sendiri, rumus tidak lagi terasa seperti sesuatu yang dipaksakan. Rumus menjadi jawaban dari rasa ingin tahu.

Tetapi Ada yang Berbeda Ketika Supervisor Duduk di Belakang

Pembelajaran dimulai.

Siswa kelas 9C mengikuti kegiatan sesuai rancangan yang telah dipersiapkan.

Guru Ataya berusaha membangun suasana kelas yang aktif. Pertanyaan diberikan. Siswa berdiskusi. LKPD digunakan sebagai bagian dari proses pembelajaran.

Namun, sesekali mata Guru Ataya tentu melirik ke belakang.

Di sana duduk Kepala Sekolah.

Mengamati.

Mencatat.

Memperhatikan proses pembelajaran.

Dan tiba-tiba Guru Ataya merasa seperti kembali menjadi seorang siswa.

Bedanya...

Dulu Guru Ataya yang duduk di bangku siswa menunggu guru menilai.

Sekarang Guru Ataya yang berdiri di depan kelas dan menunggu penilaian.

Lucunya, pengalaman itu membuat Guru Ataya semakin memahami satu hal:

Guru ternyata juga manusia.

Guru bisa gugup.

Guru bisa khawatir.

Guru bisa bertanya dalam hati:

“Apakah pembelajaran Guru Ataya sudah baik?”

“Apakah siswa benar-benar memahami materi?”

“Apakah metode yang Guru Ataya gunakan sudah tepat?”

Dan justru di situlah nilai penting sebuah supervisi.

Supervisi Bukan Mencari Kesalahan

Menurut Guru Ataya, supervisi bukanlah ruang untuk mencari kesalahan guru.

Supervisi adalah cermin.

Guru mengajar.

Supervisor mengamati.

Kemudian keduanya melihat kembali proses pembelajaran untuk menemukan apa yang sudah baik dan apa yang masih perlu diperbaiki.

Karena tidak ada guru yang sempurna.

Bahkan guru yang sudah puluhan tahun mengajar pun tetap harus belajar.

Hari ini mengajar siswa.
Besok belajar dari pengalaman mengajar.

Itulah perjalanan seorang guru.

Kekongruenan dan Kesebangunan, Ternyata Bukan Hanya Materi Matematika

Ada sebuah refleksi menarik dari materi yang Guru Ataya ajarkan pagi itu.

Dalam Matematika, dua bangun dikatakan kongruen apabila bentuk dan ukurannya sama.

Sedangkan kesebangunan berbicara tentang kesamaan bentuk dengan ukuran yang bisa berbeda secara proporsional.

Ternyata kehidupan seorang guru juga demikian.

Setiap guru memiliki karakter, pengalaman, dan gaya mengajar yang berbeda.

Tidak harus sama.

Yang penting memiliki tujuan yang samamembantu siswa tumbuh menjadi manusia yang lebih baik melalui pendidikan.

Jadi, guru tidak perlu menjadi “kongruen” dengan guru lain.

Tidak harus sama persis.

Yang dibutuhkan adalah kesebangunan dalam semangat untuk terus belajar dan memperbaiki diri.

Kegiatan KBM Siswa Kelas 9C Saat disupervisi (Dok. Foto Pribadai)

Dari Supervisi, Guru Ataya Mendapat Pelajaran

Supervisi hari itu bukan sekadar kegiatan administratif.

Bukan hanya tentang lembar penilaian.

Bukan hanya tentang modul ajar.

Bukan pula hanya tentang bagaimana guru berdiri di depan kelas.

Lebih dari itu, supervisi menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri:

“Sudahkah pembelajaran yang Guru Ataya lakukan benar-benar memberi pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa?”

Pertanyaan itu jauh lebih penting daripada sekadar:

“Berapa nilai supervisi Guru Ataya?”

Karena pada akhirnya, keberhasilan seorang guru tidak hanya terlihat dari angka penilaian.

Tetapi dari perubahan yang terjadi pada siswanya.

Terima Kasih, Pak Kepala Sekolah

Terima kasih kepada Bapak Subhan Taopik, S.Pd., M.Pd., Kepala SMPN 3 Cibadak, yang telah melaksanakan supervisi pembelajaran di kelas 9C.

Kehadiran supervisor di kelas memang sempat membuat jantung berdetak lebih cepat.

Tetapi justru dari situlah muncul energi untuk mempersiapkan pembelajaran dengan lebih baik.

Karena guru yang baik bukanlah guru yang merasa sudah sempurna.

Guru yang baik adalah guru yang tidak pernah selesai belajar.

Dan mungkin...

itulah “rumus” paling penting dalam profesi seorang guru.

Mengajar bukan berarti kita sudah paling tahu. Mengajar berarti kita bersedia terus belajar.

Hari itu Guru Ataya mengajarkan kekongruenan dan kesebangunan kepada siswa.

Tetapi tanpa disadari...

supervisi mengajarkan Guru Ataya tentang refleksi, kerendahan hati, dan pentingnya terus bertumbuh sebagai seorang guru.

Karena ternyata, di balik sebuah supervisi...

bukan hanya guru yang sedang dinilai.
Tetapi kualitas pembelajaranlah yang sedang kita perjuangkan.

 

Salam pendidikan dari SMPN 3 Cibadak.

Guru Ataya
Belajar, Mengajar, Menginspirasi



No comments:

Post a Comment