Saturday, October 3, 2026

Bukan Sekedar Batik!

“Jangan Kaget! Jumat Pagi SMPN 3 Cibadak Mendadak Jadi Catwalk Batik”

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Sabtu- 3 Oktober 2026. Jumat biasanya identik dengan pakaian yang lebih agamis dan Santai  Tetapi Jumat, 2 Oktober 2026, ada yang berbeda di SMPN 3 Cibadak.

Jangan kaget kalau pagi-pagi melihat guru dan siswa datang dengan motif yang beraneka ragam.Ada yang bermotif klasik, ada yang bermotif modern, ada yang warnanya kalem, ada pula yang tampil mencolok sampai bikin mata sulit berpaling.

Ya, hari itu SMPN 3 Cibadak sedang “banjir batik”!

Bukan karena ada razia pakaian, bukan pula karena guru sedang mengadakan fashion show.

Tetapi karena seluruh PTK dan siswa-siswi SMPN 3 Cibadak bersama-sama memperingati Hari Batik Nasional.

BATIK BEBAS, HITAM WAJIB!

Dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional, seluruh warga sekolah mengenakan pakaian batik bebas yang dipadukan dengan celana atau rok warna hitam.

Khusus siswi, penampilan dibuat lebih ekspresif. Siswi tidak menggunakan hijab atau kerudung pashmina, serta tidak bermake-up untuk melengkapi penampilan.

Satu lagi yang tidak boleh dilupakan yaitu Sepatu harus hitam!

Jadi kalau batiknya sudah keren, make-up sudah alamih, gaya sudah percaya diri, tetapi sepatunya warna-warni…

Waduh, jangan sampai!

Karena di SMPN 3 Cibadak hari itu berlaku rumus sederhana yaitu:

Batik bebas + bawahan hitam + sepatu hitam = siap tampil!

BATIK BERBEDA, TAPI KITA TETAP SATU

Yang menarik dari batik adalah satu hal yaitu tidak ada batik yang benar-benar sama. Motifnya berbeda, warnanya berbeda, coraknya berbeda.

Tetapi ketika dikenakan bersama-sama, semuanya terlihat indah. Bukankah kehidupan di sekolah juga begitu?

Siswa berbeda kemampuan, berbeda karakter, berbeda minat, berbeda cita-cita.

Ada yang jago Matematika.

Ada yang hebat olahraga.

Ada yang piawai bernyanyi.

Ada yang berbakat seni.

Ada yang suka organisasi.

Ada yang pendiam tetapi prestasinya diam-diam bikin bangga, berbeda bukan berarti terpisah.

Justru perbedaan itulah yang membuat sebuah sekolah menjadi berwarna, seperti batik. Motifnya boleh berbeda, tetapi kainnya tetap satu.

Bukan Sekedar Batik Busana Di Hari Juamt, 2 Oktober 2026 (Dok.Foto Pribadi)


GURU MATEMATIKA PUN MELIHAT BATIK DENGAN CARA BERBEDA

Sebagai guru Matematika, tentu saja saya tidak bisa melihat batik hanya sebagai kain.

Mata guru Matematika selalu punya kebiasaan aneh.

Melihat pola, langsung terpikir geometri.

Melihat motif berulang, terpikir pola.

Melihat bentuk yang dicerminkan, teringat refleksi.

Melihat bentuk yang digeser, muncul translasi.

Melihat ukuran yang diperbesar atau diperkecil, teringat dilatasi.

Jadi jangan heran kalau guru Matematika melihat batik lalu berkata:

“Ini bukan cuma motif. Ini transformasi geometri yang sedang bergaya!”

Ternyata Matematika tidak selalu harus berada di papan tulis.

Matematika bisa ditemukan di kain batik.

Bahkan mungkin selama ini Matematika berjalan-jalan di depan mata kita, tetapi kita terlalu sibuk mencari rumusnya.

BATIK WARISAN YANG JANGAN CUMA DIUPLOAD

Hari Batik Nasional bukan sekadar kesempatan untuk tampil keren di depan kamera. Bukan sekadar mencari foto terbaik, bukan sekadar memenuhi status WhatsApp.

Apalagi hanya untuk mendapatkan komentar:

“Wih, keren!”

Lebih dari itu, ada pesan penting yang perlu diwariskan kepada generasi muda.

Kalau bukan kita yang mengenal budaya sendiri, lalu siapa?

Kalau bukan generasi muda yang bangga menggunakan batik, siapa yang akan meneruskannya?

Budaya tidak akan hidup hanya karena disimpan di museum.

Budaya akan terus hidup ketika dipakai, dikenali, dipelajari, dicintai, dan diwariskan.

Dan sekolah adalah salah satu tempat terbaik untuk menanamkan kecintaan itu.

Baca Juga:

Jangan Kurung Anak di Dalam Kelas, Biarkan Mereka Menjelajah Dunia

HARI BATIK, HARI BERGAYA, HARI BERBUDAYA

Jumat, 2 Oktober 2026, SMPN 3 Cibadak bukan sekadar sekolah yang dipenuhi siswa dan guru.

Hari itu sekolah akan menjadi panggung kecil kebudayaan Indonesia.

Batik menjadi kostum.

Siswa menjadi pemeran.

Guru menjadi teladan.

Sekolah menjadi panggungnya.

Dan budaya Indonesia menjadi ceritanya.

Mungkin setelah bel pulang berbunyi, batik kembali disimpan di lemari.

Namun semoga rasa bangga terhadap budaya Indonesia tidak ikut dilipat dan disimpan.

Sebab…

Batik bukan sekadar kain yang dipakai.
Batik adalah identitas yang dibanggakan.

Batik bukan sekadar motif.
Batik adalah cerita yang diwariskan.

Dan memakai batik bukan sekadar bergaya.
Kita sedang menunjukkan bahwa budaya Indonesia masih punya tempat di hati generasi muda.

Dokumentasi Berbatik di SMPN 3 Cibadak (Dok.Foto Pribadi)

LOVE DARI SMPN 3 CIBADAK UNTUK INDONESIA

Mari jadikan Jumat, 2 Oktober 2026 sebagai hari yang bukan hanya meriah, tetapi juga bermakna.

Mari kenakan batik dengan bangga.

Mari tampil percaya diri.

Mari abadikan momennya.

Tetapi yang paling penting…

Mari rawat budayanya.

Karena sekolah bukan hanya tempat untuk belajar menghitung angka.

Sekolah juga tempat untuk belajar siapa diri kita, dari mana kita berasal, dan apa yang harus kita wariskan kepada generasi berikutnya.

Dan hari Jumat nanti, jawabannya sederhana:

Kita belajar budaya sambil bergaya.

Batik di badan, Indonesia di hati!



SMPN 3 Cibadak: BEDA MOTIF, SATU SEMANGAT, SATU INDONESIA!

 


PANTUN HARI BATIK NASIONAL

Pergi ke pasar membeli pita,
Singgah sebentar membeli jamu.
Batik bukan sekadar busana,
Budaya Indonesia ada di dirimu.

Ke Cibadak membeli pepaya,
Pulang membawa kain batik.
Kalau budaya terus dijaga,
Indonesia akan tetap menarik!

Batik indah bermotif bunga,
Dipakai guru penuh gaya.
Batik bukan sekadar busana,
Batik adalah jati diri bangsa!

Salam Batik! Salam Budaya! Salam Pendidikan!

Guru Ataya
Guru Matematika SMPN 3 Cibadak

 


5 comments: