Squishy Kertas Ataya: Mainan Sederhana, Imajinasi Tanpa Batas
Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)
Minggu,
20 September 20206. Guru Ataya, hari Minggu biasanya menjadi waktu yang berbeda
bagi keluarga kami. Tidak ada bel sekolah. Tidak ada jadwal mengajar. Tidak ada
kesibukan mengejar waktu seperti hari-hari biasa.
Sabtu dan Minggu kami manfaatkan untuk berolahraga bersama. Kadang jalan santai, kadang bersepeda. Setelah tubuh terasa lebih segar, kami biasanya berkumpul di rumah, menikmati waktu bersama sambil bercanda dan bercerita.
Namun,
ada satu anggota keluarga yang seolah memiliki dunianya sendiri.
Dialah
Ataya Rachman Pradana Putra, anak bungsu kami.
Pada
Minggu, 20 September 2026, setelah selesai berolahraga, suasana rumah kembali
ramai oleh canda dan tawa. Sementara kami berbincang, Ataya seperti biasa mulai
mencari aktivitas yang ia sukai.
Ada
kertas.
Ada
alat mewarnai.
Dan
ada ide yang muncul dari kepalanya.
Kali ini, Ataya kembali membuat squishy dari kertas.
![]() |
| Ataya Saat Bergaya Ala Orang Dewasa (Dok.Foto Pribadi) |
Kertas
Biasa, Imajinasi Luar Biasa
Bagi
orang dewasa, selembar kertas mungkin hanyalah benda sederhana.
Tetapi
bagi seorang anak, kertas bisa berubah menjadi apa saja. Bisa menjadi gambar, bisa
menjadi mainan, bisa menjadi karakter lucu, bahkan bisa menjadi sebuah squishy
hasil kreasi sendiri.
Ataya
mengambil kertas dan mulai menggambar bentuk yang ia inginkan. Setelah itu ia
memberikan warna sesuai imajinasinya. Perlahan-lahan, gambar yang semula hanya
berupa garis berubah menjadi sebuah karya yang memiliki bentuk dan karakter.
Kemudian
proses berlanjut.
Kertas
dilipat, dibentuk, direkatkan, dan diisi sedemikian rupa hingga menjadi squishy
sederhana.
Saya
memperhatikan dari kejauhan. Tidak banyak yang saya lakukan. Saya hanya melihat
bagaimana kedua tangannya bekerja dan bagaimana pikirannya terus mencari bentuk
baru.
Di situlah saya melihat sesuatu yang lebih penting daripada sekadar sebuah mainan. Saya melihat kreativitas sedang tumbuh.
![]() |
| Aktifitas Ataya dengan Kertas Membuat Mainan Sederhana (Dok.Foto Pribadi) |
Baca Juga:
Ataya
dan Dunia Kecilnya
Ataya
akan menginjak usia 8 tahun pada 20 Oktober 2026. Di usia seperti itu, dunia
anak memang penuh dengan rasa ingin tahu.
Hari
ini ia mewarnai. Besok bermain bola di tengah rumah. Hari berikutnya membuat
sesuatu dari kertas.
Bagi
orang dewasa, aktivitas tersebut mungkin terlihat sederhana dan bahkan kadang
dianggap sebagai permainan biasa.
Tetapi
sesungguhnya, anak sedang belajar mengenal dunia melalui caranya sendiri.
Ketika
Ataya menggambar, ia sedang mengembangkan imajinasi.
Ketika
memilih warna, ia sedang membuat keputusan.
Ketika
membuat squishy, ia sedang mencoba memahami bentuk dan proses.
Ketika
hasilnya tidak sesuai harapan, ia mencoba memperbaikinya.
Dan
ketika akhirnya berhasil, ada kepuasan kecil yang terpancar dari wajahnya.
"Aku
bisa membuatnya sendiri."
Kalimat
sederhana itu memiliki makna besar bagi seorang anak. Tidak Harus Mahal untuk
Menjadi Kreatif Hal menarik dari kebiasaan Ataya adalah ia tidak selalu
membutuhkan mainan mahal untuk bersenang-senang. Kadang cukup dengan kertas, pensil,
pensil warna atau alat mewarnai.
Sedikit
bahan yang tersedia di rumah. Dan tentu saja, imajinasi.
Dari
bahan sederhana itu, lahirlah berbagai macam squishy hasil kreasinya. Sudah
cukup banyak hasil karya yang ia buat. Bentuknya mungkin belum sempurna. Warnanya
mungkin belum selalu rapi. Ukurannya mungkin berbeda-beda.
Tetapi
setiap karya memiliki cerita. Ada waktu yang ia habiskan untuk membuatnya. Ada
kesabaran ketika mengerjakannya. Ada rasa penasaran ketika mencoba. Dan ada
kebanggaan ketika karya itu selesai.
Bagi saya sebagai ayah, nilai sebuah karya anak bukan terletak pada sempurnanya hasil, tetapi pada proses ketika ia berusaha membuatnya.
Guru
Matematika Belajar dari Seorang Anak
Sebagai
seorang Guru Matematika di SMPN 3 Cibadak, saya terbiasa melihat sesuatu dari
sisi logika.
Ada
angka.
Ada
pola.
Ada
bentuk.
Ada
proses.
Tetapi
dari Ataya, saya kembali diingatkan bahwa tidak semua hal harus dimulai dengan
rumus.
Kadang
sesuatu harus dimulai dari imajinasi.
Selembar
kertas bisa menjadi sebuah bentuk karena ada gagasan.
Sebuah
gagasan bisa menjadi karya karena ada keberanian untuk mencoba.
Dan
sebuah karya bisa menjadi pengalaman belajar karena anak diberikan kesempatan
untuk bereksplorasi.
Bukankah pendidikan yang baik memang seharusnya memberikan ruang kepada anak untuk bertanya, mencoba, membuat kesalahan, memperbaiki, lalu mencoba kembali?
![]() |
| Squishy Kertas yang Telah di buat Ataya (Dok, Foto Pribadi) |
Biarkan
Anak Berkarya dengan Caranya
Sebagai
orang tua, tentu kita memiliki keinginan agar anak berkembang dengan baik.
Namun
terkadang kita lupa bahwa anak memiliki bahasa kreativitasnya sendiri.
Ada
anak yang senang membaca.
Ada
yang senang menggambar.
Ada
yang senang olahraga.
Ada
yang senang bernyanyi.
Ada
pula yang senang membuat sesuatu dengan tangannya.
Ataya
tampaknya menikmati semuanya dengan caranya sendiri.
Mewarnai
gambar.
Bermain
bola.
Dan
membuat squishy dari kertas.
Saya
tidak ingin buru-buru mengatakan bahwa ia kelak harus menjadi apa.
Saya
hanya ingin memberikan ruang agar ia dapat mencoba.
Karena
mungkin dari aktivitas sederhana yang dilakukan berulang-ulang itu, suatu hari
nanti akan tumbuh sebuah kemampuan.
Minggu
yang Sederhana, Kenangan yang Berharga
Minggu,
20 September 2026 mungkin hanyalah satu hari biasa dalam kalender, kami
berolahraga, berkumpul, bercanda.
Lalu
Ataya kembali sibuk dengan dunianya.
Tetapi
bagi saya, ada sesuatu yang layak disimpan dalam ingatan.
Seorang
anak kecil duduk dengan kertas di tangannya.
Ia
menggambar, mewarnai, membentuk, mencoba.
Dan
akhirnya tersenyum melihat hasil karyanya.
Barangkali
beberapa tahun lagi, squishy kertas itu sudah tidak ada.
Bisa
rusak.
Bisa
hilang.
Bisa
saja dibuang karena sudah tidak terpakai.
Tetapi
kenangan tentang seorang anak berusia hampir delapan tahun yang begitu antusias
menciptakan sesuatu dari selembar kertas akan tetap tinggal.
Karena
masa kanak-kanak tidak pernah datang dua kali.
Simpan
Karyanya, Simpan Ceritanya
Sebagai
seorang ayah, saya mulai menyadari bahwa yang perlu kita simpan dari masa kecil
anak bukan hanya foto ketika mereka tersenyum.
Tetapi
juga jejak-jejak kecil dari proses mereka bertumbuh.
Gambar
yang mereka warnai.
Mainan
yang mereka buat sendiri.
Coretan
yang mungkin bagi orang dewasa terlihat tidak berarti.
Termasuk
squishy sederhana dari kertas buatan tangan Ataya.
Sebab
di balik setiap karya kecil itu ada cerita tentang seorang anak yang sedang
belajar mengenal dirinya.
Dan
mungkin suatu hari nanti, ketika Ataya sudah dewasa, ia akan melihat kembali
karya-karya kecil tersebut dan berkata,
"Ternyata
dulu aku pernah sekreatif itu."
Saat
itulah ia mungkin akan memahami bahwa rumah bukan hanya tempat untuk tinggal.
Rumah
adalah tempat pertama seorang anak menemukan keberanian untuk bermimpi,
mencoba, berkreasi, dan menjadi dirinya sendiri.
Dan
bagi kami sebagai orang tua, melihat Ataya tumbuh dengan penuh rasa ingin tahu
adalah sebuah kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan angka.
Dari selembar kertas, Ataya
membuat squishy.
Dari sebuah permainan, ia belajar berkarya.
Dan dari sebuah karya kecil, ia sedang menulis cerita besar tentang masa
kecilnya.





Keren ataya 👍 Saya jadi tahu kalau dari kertas sederhana saja bisa dibuat menjadi squishy yang unik dan kreatif. Ternyata dengan imajinasi dan kreativitas, benda sederhana juga bisa jadi sesuatu yang menarik.
ReplyDeleteYa saya juga selaku orang tua Ataya baru tahu apa itu squishy itu? setelah memperhatikan dan menyaksikan cara buatnya, sederhana seklai, tapi perlu kreativitas dan keinginan serta ide yang menarik untuk membuatnya !
DeleteWah keren ataya kreatif bs jd enterpreneur cilik
ReplyDeleteMudah-mudahan harapannya bisa kesampaian !
DeleteSemoga segala cita-cita Attaya terkabul terutama cita2 yang terbaik ,aamiin ya rabbal alamin
ReplyDeleteTerimakasih atas do'anya, Aamiin, YRA
Delete