Guru Unggul di Zaman Berubah, Bukan Lagi yang Paling Banyak Bicara, tetapi yang Mampu Menyalakan Cahaya
Oleh: Guru
Ataya (Iwan Sumantri)
Banyak
katagori guru yang kita kenal sekarang ini dilihat dari keseharian guru
melaksanakan tugasnya atau karakteristik kenerjanya.
Berikut
Guru Ataya mencoba mengkalsifikasikan macam guru berdasarkan penglihatan dan
realita kenyataan dilapangan selama kurang lebih 39 tahun menjadi guru :
1. Guru
Wajib
Guru
yang keberadaannya sangat di butuhkan dan ketidak hadirannya membuat orang
orang kehilangan Karakteristik: Bekerja dengan tulus, adminstrasi lengkap,
kemampuan mengajarnya bagus, selain mengajar juga aktif dalam berbagai
kegiatan, memandang bekerja itu sebagai belajar
2.
Guru Sunnah
Guru
yang keberadaannya dibutuhkan tetapi ketidakhadirannya tidak membuat orang lain
kehilangan. Karakteristik: Bekerja pamrih, kemampuan bagus, memandang bekerja
untuk mendapatkan sesuatu
3.
Guru Mubah
Guru
yang kehadiran dan ketidakhadirannya sama saja tidak berpengaruh.
Karakteristik: Bekerja asal tidak menggugurkan kewajiban, tidak mempunyai
keinginan untuk meningkatkan kemampuan dan karier, administrasi guru asal ada (
dapat foto copy), selesai mengajar terus pulang
4.
Guru Makruh
Guru
yang kehadirannya tidak diharapkan (bermasalah) dan ketidakhadirannya membuat
orang lain, merasa tenang bekerja. Karakteristik: Selalu usil terhadap
pekerjaan orang lain, selalu mengkritik orang lain/atasan tetapi bila disuruh
kerja tidak mampu, pekerjaannya tidak baik.
5.
Guru Haram
Guru
yang kehadirannya dan ketidakhadirannya membuat masalah. Karakteristik:
Berperilaku tidak baik dimana-mana sehingga biala dia tidak ada di sekolahpun
banyak orang yang datang ke sekolah karena ada masalah dengannya, kalau ada di
sekolah membuat masalah dengan sesama temannya. Itulah macam guru yang sekarang
ada di dunia pendidikan di negeri ini.
![]() |
| Guru dan Staf Kepegawaian SMPN 3 Cibadak Tahun 2026 (Dok.Foto Pribadi) |
Rasa
rasanya tidak pas kita memilih macam guru diatas di era yang serba digital dan
kemajuan teknologi ini. Guru Ataya mencoba mengutip salah seorang sosok putra
terbaik di negeri ini yaitu Bapak Dino Patti Djalal, beliau mengatakan :
“Di abad 21, merdeka saja tidak cukup. Berdaulat saja tidak cukup. Kita harus Unggul. Unggul Didalam, Unggul di Luar. Nasionalisme Unggul adalah suatu semangat, etos hidup, karakter bangsa, sekaligus resep sukses yang dapat membuat bangsa Indonesia melesat menjadi raksasa Asia” .
Dari
pernyataan beliaulah Guru Ataya mencoba berupaya membentuk “Guru Unggul” Ala Guru
Ataya ( Iwan Sumantri, seorang guru Matematika di SMP Negeri 3 Cibadak
kabupaten Sukabumi) yang mudah-mudahan bisa memberikan kontribusi paling tidak
memiliki gagasan untuk berbuat sesuatu (Unggul) di negeri ini.
Menjadi guru pada zaman sekarang bukan sekadar berdiri di depan kelas, menulis rumus di papan tulis, lalu meminta siswa mengerjakan soal. Dunia telah berubah. Anak-anak yang kita hadapi tumbuh bersama teknologi, internet, media sosial, kecerdasan buatan, dan informasi yang bergerak begitu cepat.
![]() |
| Guru Ataya Ketika jadi PP di program Guru Penggerak (Dok.Foto Pribadi) |
Di tengah perubahan itu, muncul sebuah pertanyaan sederhana tetapi penting: seperti apakah guru yang unggul pada zaman sekarang?
Apakah guru unggul adalah guru yang paling menguasai materi? Tentu, itu penting. Apakah guru yang mampu menggunakan teknologi dan kecerdasan buatan? Sangat diperlukan. Tetapi, Guru Ataya percaya guru unggul bukan hanya tentang seberapa banyak pengetahuan yang dimiliki seorang guru.
"Guru unggul adalah guru yang mampu membuat ilmu pengetahuan menjadi bermakna bagi kehidupan anak didiknya".
Guru
yang Mau Terus Belajar
![]() |
| Guru Ataya Bersama Pengawas Pembina (Dok.Foto Pribadi) |
Dulu,
guru sering dianggap sebagai sumber utama pengetahuan. Kini, seorang siswa
hanya membutuhkan telepon genggam untuk menemukan ribuan bahkan jutaan
informasi.
Maka, guru tidak boleh berhenti belajar.
Guru yang unggul adalah guru yang memiliki semangat untuk terus memperbarui dirinya. Ia tidak merasa cukup hanya karena sudah bertahun-tahun mengajar. Sebaliknya, pengalaman mengajar justru menjadi modal untuk terus berefleksi.
Guru perlu belajar teknologi, memahami karakter generasi baru, mengenal pendekatan pembelajaran yang lebih relevan, dan berani mencoba sesuatu yang berbeda.
Sebab, zaman boleh berubah, kurikulum boleh berkembang, teknologi boleh semakin canggih, tetapi semangat seorang guru untuk belajar tidak boleh berhenti.
Guru Bukan Sekadar Pengajar, tetapi Pembelajar
Ada
sebuah paradoks menarik dalam dunia pendidikan. Kita meminta siswa menjadi
pembelajar sepanjang hayat, tetapi terkadang guru sendiri lupa menjadi
pembelajar.
Padahal, guru yang hebat adalah guru yang bersedia mengatakan, “Guru Ataya juga masih belajar.”
Ketika seorang guru mencoba metode baru, menggunakan permainan dalam pembelajaran, memanfaatkan teknologi, berdiskusi dengan rekan sejawat, mengikuti pelatihan, atau bahkan belajar dari kesalahan, sesungguhnya ia sedang memberikan contoh terbaik kepada siswanya.
Anak-anak
tidak hanya belajar dari apa yang guru katakan. Mereka juga belajar dari sikap
gurunya dalam menghadapi perubahan.
Jika guru berani belajar, siswa pun akan belajar untuk berani mencoba.
Guru
Matematika dan Tantangan Membuat Angka Menjadi Bermakna
Sebagai
guru Matematika, Guru Ataya sering menyadari bahwa tantangan terbesar bukan
sekadar membuat siswa mampu menghitung.
Lebih
dari itu, bagaimana membuat siswa menyadari bahwa matematika hadir dalam
kehidupan mereka?
Matematika bukan hanya tentang angka, rumus, persamaan, atau bangun ruang. Di balik matematika ada logika, ketelitian, strategi, keberanian mengambil keputusan, dan kemampuan memecahkan masalah.
Karena
itu, pembelajaran matematika seharusnya tidak selalu membuat siswa duduk diam
mengerjakan soal.
Sesekali mereka perlu bermain. Mereka perlu berdiskusi. Mereka perlu mencoba strategi. Mereka perlu melakukan kesalahan dan menemukan sendiri letak kesalahannya.
Ketika
pembelajaran mampu menghadirkan rasa ingin tahu, kegembiraan, sekaligus
tantangan berpikir, saat itulah matematika tidak lagi terasa sebagai kumpulan
rumus yang harus dihafalkan.
Matematika berubah menjadi pengalaman.
Teknologi
Boleh Canggih, tetapi Hati Guru Tetap Harus Hangat
Kehadiran
kecerdasan buatan atau artificial intelligence memberikan banyak
kemudahan bagi guru. Guru dapat memperoleh ide pembelajaran, membuat bahan
ajar, menyusun asesmen, bahkan mendapatkan berbagai inspirasi aktivitas kelas.
| Ketika Guru Ataya Memperoleh sesuatu ketika jadi Guru (Do.Pribadi) |
Namun,
ada satu hal yang tidak boleh kita serahkan sepenuhnya kepada teknologi:
sentuhan kemanusiaan.
AI dapat membantu membuat soal. Tetapi AI tidak dapat menggantikan tatapan seorang guru ketika melihat siswanya sedang kehilangan semangat.
AI
dapat membantu menyusun materi. Tetapi kehadiran guru tetap diperlukan untuk
memahami mengapa seorang siswa tiba-tiba diam.
AI dapat memberikan berbagai jawaban. Tetapi guru tetap memiliki peran penting untuk membantu siswa menemukan pertanyaan yang tepat.
Karena
pendidikan pada akhirnya bukan hanya proses memindahkan pengetahuan.
Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia.
Guru
Unggul Tidak Harus Sempurna
Kadang-kadang
kita terlalu sibuk membayangkan guru unggul sebagai sosok yang sempurna.
Padahal,
guru juga manusia.
Ada
hari ketika pembelajaran berjalan sangat baik. Ada pula hari ketika strategi
yang sudah dipersiapkan ternyata tidak sesuai dengan kondisi kelas. Ada siswa
yang antusias, tetapi ada pula yang membutuhkan perhatian lebih.
Guru
unggul bukan guru yang tidak pernah mengalami kegagalan.
Guru
unggul adalah guru yang mau belajar dari kegagalan.
Ia
mengevaluasi pembelajarannya. Ia bertanya kepada dirinya sendiri: Apa yang
sudah baik? Apa yang belum berhasil? Apa yang harus Guru Ataya perbaiki besok?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana itulah yang membuat seorang guru terus tumbuh.
Menjadi
Guru yang Dirindukan
Pada
akhirnya, keberhasilan seorang guru tidak selalu dapat diukur dari banyaknya
materi yang selesai disampaikan.
Ada
ukuran lain yang jauh lebih dalam.
Apakah
siswa merasa aman ketika berada di kelas?
Apakah
mereka berani bertanya?
Apakah
mereka tidak takut salah?
Apakah mereka merasa dihargai?
Dan
yang paling penting, apakah setelah bertahun-tahun meninggalkan bangku sekolah,
mereka masih mengingat gurunya dengan rasa hormat dan kasih?
Jika
jawabannya iya, mungkin di situlah makna sesungguhnya dari guru unggul.
Guru unggul bukan hanya guru yang mampu membuat siswa pintar menjawab soal. Ia adalah guru yang membantu siswa menemukan keyakinan bahwa dirinya mampu belajar, mampu berkembang, dan mampu menghadapi kehidupan.
Sebab
suatu hari nanti, siswa-siswa kita akan meninggalkan ruang kelas.
Mereka akan menjadi dokter, pengusaha, atlet, seniman, teknisi, birokrat, petani, guru, orang tua, atau menjalani profesi yang bahkan hari ini belum kita kenal.
Ketika
saat itu tiba, mungkin mereka tidak lagi mengingat semua rumus yang pernah kita
ajarkan.
Tetapi
mereka mungkin akan mengingat satu hal:
pernah
ada seorang guru yang percaya kepada mereka ketika mereka sendiri belum percaya
kepada dirinya.
Itulah
guru unggul.
Bukan
guru yang paling sempurna.
Bukan
pula guru yang paling banyak bicara.
Melainkan
guru yang terus belajar, mampu beradaptasi, menguasai teknologi tanpa
kehilangan kemanusiaan, dan yang terpenting mampu menyalakan cahaya di dalam
diri setiap anak didiknya.
Karena
guru sejatinya bukan hanya mengajar untuk hari ini.
Guru
sedang menyiapkan manusia untuk menghadapi masa depan





Sangat menginspirasi
ReplyDeleteKeren masya Allah
ReplyDelete