Mencintai Sesama Dengan Tipe Kepribadian
Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)
“Sebelum mencintai orang lain, belajarlah mencintai diri sendiri”.
Sudahkah Anda belajar mencintai diri sendiri? Mencintai diri sendiri sering disebut dengan narsis, narsis populer di kalangan remaja , dan pada awalnya narsis ini muncul disandingkan dengan kata percaya diri. Jadi, kalau porsinya tepat, narsis tidak bermasalah ya
Setelah
kita berhasil mencintai diri sendiri, kita akan bisa menerima orang lain,
bagaimanapun sifat dan karakter orang tersebut. Untuk memudahkan mencintai dan
memahami orang lain, kita bisa memahami orang yang kita hadapi melalui tipe
kerpibadiannya. Empat tipe kepribadian yang dikembangkan oleh Galenus
(pengembangan pandangan Hipocrates ) membagi manusia menjadi empat tipe:
Koleris, melankolis, plegmatis, dan sanguinis.
Koleris; orang-orang dengan tipe ini memiliki kemampuan kepemimpinan yang bagus, mudah membuat keputusan, dan memiliki fokus tujuan ke depan (visioner). Kekurangan tipe ini adalah (ini yang harus lebih kita pahami) cenderung memerintah, tidak mudah mengalah, mudah tersulut emosi, tergesa-tergesa, berkemauan keras dan cenderung keras kepala.
Melankolis; orang-orang dengan tipe ini cenderung analitis, suka memerhatikan orang lain, perfeksionis, hemat, tidak suka menjadi perhatian, serius, sensitif, serta rela berkorban. Dibalik semua kebaikan tipe ini, orang melankolis kurang bisa bersosialisasi, cenderung melihat masalah selalu dari sisi negatif, dan kurang bisa menyuarakan opini.
Plegmatis; orang-orang dengan tipe ini selalu cinta damai dan selalu netral dalam segala kondisi. Orang tipe ini mudah bergaul dan dapat diandalkan. Kekurangan tipe ini adalah kurang bersemangat/menunda-nunda, tidak tegas, egois, dan jarang tertarik pada hal-hal baru.
Sanguinis; orang-orang dengan tipe ini memiliki sifat sedikit seperti anak-anak. Orang sanguin bersifat hangat, mudah akrab, dapat mencairkan suasana. Kekurangan tipe ini adalah sulit fokus pada satu hal, egois, pelupa, suka terlambat, dan terkadang membesar-besarkan hal kecil.
Lalu, dari keempat tipe kerpibadian di atas, yang manakah tipe kepribadianmu? Setelah memahami kepribadian kita sendiri, belajar mencintai diri kita sendiri, lalu kita bisa mulai belajar untuk memahami dan mencintai orang lain. Seringkali, di kala kita tidak mampu memahami orang yang kita hadapi, kita terbawa perasaan (baca; Baper), dan itu sangat tidak menguntungkan, apalagi di masa pandemi covid-19 ini yang menuntut kita selalu bahagia. Dengan memahami kepribadian orang yang kita hadapi, kita akan lebih mampu menguasai perasaan ketika muncul sesuatu yang tidak kita harapkan dalam berhubungan/berkomunikasi dengan orang lain. Jadi, tidak akan ada istilah “Baper”, sepakat???
Sebagai pendidik yang baik, memahami kepribadian siswa berdasarkan tipe kepribadiannnya akan sangat menguntungkan bagi kita dalam menghadapi permasalahan pembelajaran sehari-hari. Tipe kepribadian siswa ini sedikti banyak akan memengaruhi caranya belajar dan menerima pelajaran, yang pada akhirnya kita akan mampu meminimalisir masalah serta mampu menyesuaikan metode apa yang cocok untuk dipakai selama kegiatan pembelajaran. Selamat belajar mencintai sendiri dan mencintai sesama…
Pustaka:
https://dosenpsikologi.com/tipe-kepribadian-manusia

seruu pakk
ReplyDelete