Merajut Kebersamaan, Menyulam Semangat Kemerdekaan, Lansia Cikiwul Tonggoh Berkarya di Era Digital
Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)
Rabu, 26 Agustus 2026, sejak pukul 15.30 hingga 17.30 WIB, Di rumah Nenek Siti Hindun Sumiaktu menjadi tempat berkumpulnya sekitar 20 orang lanjut usia (lansia), yang merupakan perwakilan dari masing-masing RT di lingkungan RW 01. Mereka hadir bukan sekadar untuk mengisi waktu luang, tetapi untuk mengikuti sebuah kegiatan yang sarat nilai kebersamaan bertajuk “Merajut Bersama Lansia.”
![]() |
| Foster Kegiatan Dalam rangka HUT ke-81 RI ( Dok.Foto Panitia) |
Kegiatan
tersebut diselenggarakan oleh Panitia PHBN Tingkat RW 01 Kampung Cikiwul
Tonggoh, Desa Sekarwangi, bekerja sama dengan Dhelisya.id yang didampingi oleh
Mba Jenny Asmarina Marzal.
Sore itu terasa berbeda. Di tengah derasnya perkembangan teknologi digital yang membuat manusia semakin akrab dengan layar telepon genggam, para lansia justru diajak kembali menikmati aktivitas sederhana yang membutuhkan ketekunan, kesabaran, dan interaksi secara langsung.
"Benang dan alat rajut menjadi media untuk menyatukan mereka".
Tangan-tangan yang mungkin sudah tidak sekuat dahulu, perlahan bergerak mengikuti pola rajutan. Sesekali terdengar percakapan ringan, canda, dan tawa. Tidak ada kesan bahwa usia menjadi penghalang untuk belajar sesuatu yang baru. Justru di situlah terlihat sebuah pesan penting: belajar dan berkarya tidak mengenal batas usia.
Baca Juga:
- Langkah Bersama, Guyub Bersama, Semarak Jalan Santai HUT ke-81 RI Desa Sekarwangi
- Refleksi Guru Matematika tentang Kemerdekaan dan Pendidikan
- Dari Lapang Sekarwangi ke Kampung Halaman, Ketika Para Lansia Menjadi Penjaga Merah Putih
Bukan
Sekadar Merajut
Jika dilihat sekilas, kegiatan ini mungkin hanya tampak sebagai aktivitas merajut biasa. Namun, jika diperhatikan lebih dalam, ada banyak nilai kehidupan yang sedang “dirajut” di dalamnya.
Ada kebersamaan antartetangga. Ada kepedulian kepada para lansia. Ada ruang untuk saling berbagi pengalaman. Ada kesempatan bagi generasi yang lebih muda untuk memberikan perhatian kepada generasi yang lebih tua.
Benang
demi benang yang disatukan menjadi sebuah karya seolah menggambarkan kehidupan
bermasyarakat. Satu helai benang mungkin terlihat kecil dan mudah putus. Tetapi
ketika banyak benang disatukan dengan pola yang tepat, terbentuklah sesuatu
yang kuat dan indah.
Begitu
pula kehidupan bermasyarakat.
Kebersamaan akan menjadi kekuatan ketika setiap orang bersedia mengambil bagian.
Kegiatan ini juga menjadi bukti bahwa peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tidak berhenti pada seremoni. Semangat kemerdekaan dapat diterjemahkan dalam berbagai bentuk kegiatan yang menyentuh kehidupan masyarakat secara langsung.
Lansia
Tetap Produktif di Era Digital
Di era
digital seperti sekarang, kehidupan bergerak begitu cepat. Telepon pintar,
media sosial, kecerdasan buatan, dan berbagai teknologi digital telah menjadi
bagian dari kehidupan sehari-hari.
Namun, di tengah kemajuan tersebut, ada sesuatu yang tidak boleh hilang: interaksi antarmanusia.
Kegiatan
merajut bersama menjadi salah satu cara sederhana untuk menjaga ruang interaksi
tersebut.
Para lansia mendapatkan kesempatan untuk tetap aktif, berkarya, dan bersosialisasi. Mereka tidak ditempatkan hanya sebagai penerima perhatian, tetapi sebagai bagian penting dari kehidupan masyarakat yang memiliki pengalaman, keterampilan, dan cerita yang sangat berharga.
Bahkan, dari tangan para lansia itu tersimpan sebuah pesan bagi generasi muda: bahwa kehidupan tidak hanya tentang seberapa cepat kita mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga tentang bagaimana kita tetap menjaga kesabaran, ketekunan, dan hubungan antarmanusia.
Merajut
mengajarkan bahwa sebuah karya tidak dapat selesai dalam satu tarikan.
Diperlukan proses, ketelitian, dan kesabaran.
Bukankah kehidupan pun demikian?
Kemerdekaan
yang Hadir di Tengah Masyarakat
Bagi Guru
Ataya, sebagai seorang guru matematika di SMPN 3 Cibadak, menyaksikan kegiatan
ini memberikan kesan tersendiri.
Di
sekolah, Guru Ataya sering mengajak siswa belajar melalui aktivitas, permainan,
dan pengalaman langsung. Namun sore itu Guru Ataya melihat sebuah “kelas
kehidupan” yang berbeda.
Tidak
ada papan tulis. Tidak ada buku pelajaran. Tidak ada rumus matematika.
Yang
ada hanyalah benang, alat rajut, tangan-tangan penuh pengalaman, serta
wajah-wajah yang memancarkan kebahagiaan.
Tetapi tanpa disadari, kegiatan tersebut mengajarkan banyak hal: tentang ketekunan, konsentrasi, kerja sama, kreativitas, dan tentu saja kebersamaan.
Guru Ataya melihat bahwa pendidikan sejatinya tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Masyarakat, keluarga, lingkungan, bahkan sebuah kegiatan sederhana seperti merajut pun dapat menjadi ruang belajar.
Menyulam
Generasi, Menjaga Tradisi
Kegiatan
“Merajut Bersama Lansia” juga menjadi pengingat bahwa pembangunan masyarakat
tidak hanya berbicara tentang kemajuan teknologi dan pembangunan fisik.
Ada
pembangunan manusia yang jauh lebih penting: membangun kepedulian, kebersamaan,
dan rasa saling menghargai.
Ketika para lansia diberi ruang untuk berkarya, sesungguhnya masyarakat sedang mengatakan kepada mereka, “Anda tetap berarti. Anda tetap menjadi bagian penting dari kami.”
Pesan
seperti itu mungkin sederhana, tetapi sangat bermakna.
Dari
Rumah Nenek Hindun sore itu, Guru Ataya melihat kemerdekaan dalam bentuk yang
berbeda. Kemerdekaan yang tidak hanya dirayakan dengan bendera dan perlombaan,
tetapi juga dengan memberikan ruang bagi setiap generasi untuk berkumpul,
berkarya, dan saling menguatkan.
Benang-benang yang dirajut mungkin menghasilkan sebuah karya sederhana.
Namun,
kebersamaan yang terjalin di antara mereka jauh lebih berharga.
Sebab pada akhirnya, yang paling indah bukan hanya hasil rajutannya, melainkan hubungan antarmanusia yang berhasil disulam di dalam prosesnya.
![]() |
| Dokumentasi Lengkap Kegiatan Merajut Kebersamaan di Kampung Cikiwul Tonggoh (Dok.Pribadi) |
Dan
mungkin, itulah makna kemerdekaan yang sesungguhnya: merdeka untuk berkarya,
merdeka untuk bersama, dan merdeka untuk tetap menjadi berarti di setiap usia.




Mwrdeka
ReplyDeleteTerimakasih om Jay atas apresiasinya salam blogger
Deletekeren dan menginspirasi artikelnya ... usia ternyata tidak menyurutkan langkah untuk tetap berkarya ...
ReplyDeleteTerimakasih bu riony atas apresiasinya... Benar usia tidak menyurutkan untuk berkarya sesuai kemampuannya
Delete