Ataya dan Langkah-Langkah Kecil Menuju Mimpi Besar
Sebuah Catatan Kecil dari Ayah untuk
Sang Bungsu
Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)
Saya dan istri dikaruniai tiga orang anak. Anak pertama, Krani Pratiwi, S.Psi, lahir pada tahun 1995. Kemudian anak kedua, Hammam Pratama Putra, S.Or, lahir pada tahun 2002. Dan, setelah jeda waktu yang cukup panjang, hadir anak ketiga sekaligus si bungsu, Ataya Rachman Pradana Putra, yang lahir pada tahun 2017.
Jarak usia yang cukup jauh membuat kehadiran Ataya terasa seperti mendapatkan kembali hadiah kecil dalam perjalanan kehidupan keluarga kami.
Kini Ataya telah berusia delapan tahun dan duduk di kelas 3 SD. Sebagai seorang ayah, saya tentu menyadari bahwa pencapaian Ataya mungkin belum seberapa jika dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya. Masih banyak anak yang prestasinya jauh lebih banyak dan lebih tinggi.
Namun, bagi saya, prestasi bukan hanya tentang seberapa tinggi seseorang berdiri di podium. Prestasi juga tentang keberanian seorang anak untuk mencoba, berlatih, gagal, bangkit, dan mencoba lagi.
Dan karena itulah, setiap pencapaian kecil Ataya layak mendapatkan apresiasi.
Baca Juga:- Ketika Puisi Menjadi Jembatan Cinta, Ayah dan Putri Merajut Kebersamaan Lintas Generasi
- 12 Semester Menanti, 18 Agustus Menjadi Hari yang Tak Terlupakan Ketika Perjuangan Hammam Berbuah Bahagia di UPI Bandung
- Ketika Guru Matematika Pulang, Pelajaran Terpenting Justru Ada di Rumah
Dari Matras
Karate hingga Lapangan Futsal
Salah satu pengalaman yang membanggakan adalah ketika Ataya berhasil meraih Juara 1 karate kategori kata tingkat anak SD.
Di atas matras, tubuh kecilnya harus belajar tentang keseimbangan, konsentrasi, disiplin, dan keberanian. Gerakan yang terlihat sederhana bagi orang lain tentu membutuhkan latihan yang berulang-ulang.
Bagi seorang anak berusia delapan tahun, berdiri di arena pertandingan dan menunjukkan kemampuan di hadapan juri bukanlah sesuatu yang mudah.
Ketika
namanya disebut sebagai juara, tentu ada kebahagiaan tersendiri.
Tetapi
yang lebih membanggakan bagi saya bukan hanya piala yang dibawa pulang.
Saya
melihat ada proses di balik piala itu.
Ada
latihan.
Ada
rasa lelah.
Ada
kemauan untuk belajar.
Dan
ada keberanian untuk tampil.
Nilai-nilai itulah yang jauh lebih penting untuk dibawa Ataya dalam perjalanan hidupnya.
Kecintaannya terhadap olahraga juga terlihat dari dunia futsal. Bersama tim futsal TK-nya, Ataya pernah meraih Juara 1. Tidak berhenti di sana, bersama tim Futsal Serenity, ia juga berhasil meraih Juara 2 kategori usia 6–8 tahun.
Bagi anak-anak, bermain futsal tentu identik dengan kegembiraan. Tetapi tanpa disadari, olahraga mengajarkan banyak hal: kerja sama, sportivitas, disiplin, komunikasi, dan belajar menerima kemenangan maupun kekalahan.
Hari
ini mungkin Ataya bermain untuk mengejar bola.
Kelak, mudah-mudahan ia memahami bahwa dalam kehidupan pun kita harus terus mengejar cita-cita.
Bukan
Hanya Tentang Olahraga
Prestasi
Ataya tidak hanya datang dari lapangan olahraga.
Di sekolah, ia pernah meraih peringkat 3 di kelas 2. Sebuah pencapaian yang tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga.
Kemudian pada momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Ataya kembali menunjukkan kreativitasnya.
Dalam kegiatan yang dilaksanakan di RW 01 Kampung Cikiwul Tonggoh, ia berhasil meraih Juara 1 mewarnai dan Juara 1 kaligrafi.
Dua bidang yang berbeda, tetapi keduanya menunjukkan bahwa seorang anak tidak hanya membutuhkan kekuatan fisik, melainkan juga kreativitas, ketelitian, kesabaran, dan kemampuan menuangkan imajinasi.
Melihat hasil karya Ataya, saya kembali tersadar bahwa ternyata anak kecil yang terkadang masih suka bermain dan bercanda itu sedang belajar menemukan dunianya.
Ayah
Tidak Ingin Membandingkan
Sebagai
orang tua, terkadang kita tanpa sadar membandingkan anak kita dengan anak-anak
lain.
“Anak
itu sudah juara ini.”
“Anak
itu sudah bisa begitu.”
“Anak seusianya sudah hebat.”
Perbandingan
seperti itu mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi seorang anak bisa menjadi
beban.
Karena itu, saya ingin belajar untuk tidak menjadikan prestasi anak lain sebagai ukuran keberhasilan Ataya.
Saya
ingin melihat Ataya sebagai Ataya.
Dengan
kelebihan dan kekurangannya.
Dengan proses dan waktunya sendiri.
Jika
hari ini ia baru mampu meraih satu piala, saya ingin menghargainya.
Jika suatu hari ia gagal dan pulang tanpa membawa piala, saya juga ingin tetap memeluknya.
Sebab
saya tidak ingin Ataya tumbuh dengan keyakinan bahwa ia hanya akan dicintai
ketika menjadi juara.
Saya ingin ia tahu bahwa sebelum menjadi juara, ia adalah anak yang dicintai.
Piala
boleh bertambah.
Medali
boleh semakin banyak.
Prestasi
boleh semakin tinggi.
Tetapi yang paling penting adalah tumbuh menjadi manusia yang baik, rendah hati, disiplin, bertanggung jawab, dan mampu menghargai orang lain.
![]() |
| Album Ataya Dalam sorotan lensa (Dok.Foto Pribadi) |
Piala
Itu Akan Disimpan, Tetapi Prosesnya Akan Menjadi Bekal
Mungkin
suatu hari nanti Ataya sudah dewasa.
Piala-piala
kecil masa SD mungkin sudah tersimpan di sudut lemari. Sertifikat mungkin mulai
kusam. Foto-foto pertandingan mungkin menjadi kenangan.
Namun
saya berharap ada sesuatu yang jauh lebih lama melekat dalam dirinya.
Bahwa
ketika kecil, ia pernah belajar berjuang.
Bahwa
ia pernah berlatih ketika teman-temannya sedang bermain.
Bahwa
ia pernah merasakan kalah dan menang.
Bahwa
ia pernah berdiri di podium.
Bahwa
orang tuanya selalu hadir memberikan dukungan.
Dan
yang terpenting, ia pernah merasakan bahwa setiap usahanya dihargai.
Untuk
Ataya, Sang Bungsu
Ataya,
Nak...
Ayah
tidak tahu akan menjadi seperti apa perjalanan hidupmu kelak.
Ayah juga tidak tahu apakah suatu hari nanti kamu akan menjadi karateka, atlet futsal, seniman, ilmuwan, guru, pengusaha, atau memilih jalan lain yang belum pernah Ayah bayangkan.
Dan
Ayah tidak ingin memaksamu menjadi seperti siapa pun.
Cukup
jadilah Ataya yang terus mau belajar dan berusaha.
Jika
suatu hari kamu menjadi juara, jangan sombong.
Jika
suatu hari kamu kalah, jangan menyerah.
Jika
suatu hari kamu gagal, jangan merasa menjadi anak yang tidak mampu.
Karena
dalam hidup, tidak semua pertandingan harus dimenangkan.
Ada
pertandingan yang mengajarkan kita tentang keberanian.
Ada
kekalahan yang mengajarkan kita tentang kesabaran.
Ada
kegagalan yang justru membawa kita menuju keberhasilan.
Ayah
dan Ibu mungkin tidak selalu bisa memberikan semua yang kamu inginkan. Tetapi
kami akan berusaha memberikan sesuatu yang lebih penting: doa, dukungan,
kesempatan untuk belajar, dan keyakinan bahwa kamu mampu menjadi versi terbaik
dari dirimu sendiri.
Teruslah
melangkah, Nak.
Langkahmu
mungkin masih kecil.
Pialamu
mungkin belum banyak.
Prestasi
yang kamu raih mungkin belum sebesar anak-anak lainnya.
Tetapi
bagi Ayah dan Ibu, setiap langkahmu adalah cerita.
Setiap
usahamu adalah kebanggaan.
Dan
setiap pencapaianmu adalah alasan untuk bersyukur.
Karena
kami percaya, anak tidak harus menjadi yang terbaik dibandingkan orang lain.
Anak hanya perlu terus bertumbuh menjadi lebih baik dari dirinya yang kemarin.
Selamat
terus bertumbuh, Ataya Rachman Pradana Putra.
Juara
hari ini bukanlah akhir perjalanan. Ia hanyalah satu titik kecil dalam
perjalanan panjang menuju masa depan.
Dan
Ayah akan selalu bangga menjadi saksi dari setiap langkah kecilmu menuju
mimpi-mimpi besar.
Teruslah
berproses, teruslah belajar, dan jangan pernah berhenti bermimpi.
Dari
seorang Ayah yang mungkin tidak selalu pandai mengungkapkan rasa bangga, tetapi
diam-diam selalu menyimpan doa terbaik untuk anak-anaknya.
Salam
Blogger!


Keren
ReplyDelete