Dari Lapang Sekarwangi ke Kampung Halaman, Ketika Para Lansia Menjadi Penjaga Merah Putih
Oleh :
Guru Ataya (Iwan Sumantri)
Tahun ini, bangsa Indonesia memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Seperti tahun-tahun sebelumnya, sebagai seorang ASN sekaligus guru di SMPN 3 Cibadak, saya seharusnya mengikuti upacara peringatan kemerdekaan di Lapang Sekarwangi bersama rekan PTK dan siswa perwakilan.
Seragam rapi, barisan tertib, suasana khidmat, dan kibaran Sang Merah Putih menjadi bagian dari peringatan yang penuh makna. Bersama para ASN dan peserta upacara lainnya, saya mengikuti sebagian rangkaian upacara dengan satu kesadaran sederhana, kemerdekaan yang kita nikmati hari ini dibangun oleh perjuangan yang panjang dan pengorbanan yang tidak sedikit.
Namun,
ternyata cerita kemerdekaan saya pada 17 Agustus tahun ini belum selesai di
Lapang Sekarwangi.
![]() |
| Bersama PNS dan PTK SMPN 3 Cibadak (Foto Dokumen sendiri) |
![]() |
| Bersama Para Srikandi PNS SMPN 3 Cibadak (Foto Dokumen sendiri) |
![]() |
| Bersama Anak OSIS sebelum Upacara di Mulai (Foto Dokumen Sendiri) |
Setelah mengikuti upacara sebagain dilapang sekarwangi, tepat pukul 09.30 WIB saya melanjutkan perjalanan menuju kampung sendiri yang tak begitu jauh jaraknya dari lapang Sekarwangi untuk mengikuti upacara peringatan HUT ke-81 RI bersama warga.
Di
sinilah suasananya berubah.
Tidak
ada lapangan besar dengan barisan ASN yang seragam. Tidak ada suasana resmi
seperti upacara tingkat kecamatan. Yang ada adalah suasana kampung yang hangat,
sederhana, dan penuh keakraban.
Tetapi
ada satu hal yang membuat upacara di kampung kali ini terasa begitu istimewa.
Para
petugas upacaranya adalah warga yang sudah lanjut usia.
Melihat
mereka berdiri mengambil peran dalam upacara kemerdekaan menghadirkan perasaan
yang sulit dijelaskan. Ada rasa haru, kagum, sekaligus bahagia.
Usia
boleh bertambah, langkah mungkin tidak lagi setegap anak muda, tetapi semangat
untuk menghormati kemerdekaan ternyata tidak mengenal usia.
Ada
yang menjadi pemimpin upacara, ada yang bertugas sebagai pengibar bendera, ada
yang membacakan teks Proklamasi, ada yang membacakan Pembukaan UUD 1945, dan
ada pula yang menjalankan tugas-tugas lainnya yang dalam persiapannya saya
membantu untuk melatih dan belajar berupacaranya.
Mungkin
gerakannya tidak sesempurna petugas upacara profesional.
Mungkin
langkahnya sesekali tidak seragam.
Mungkin
ada momen-momen kecil yang justru membuat peserta tersenyum.
Tetapi
justru di situlah letak keindahannya.
Upacara
itu terasa hidup.
Ada
keseruan tersendiri ketika para sesepuh kampung menjalankan tugasnya. Di balik
setiap gerakan yang sederhana, tersimpan pengalaman hidup yang panjang. Mereka
adalah generasi yang telah melewati berbagai zaman, menyaksikan perubahan
negeri, dan kini masih berdiri untuk memberikan penghormatan kepada Sang Merah
Putih.
![]() |
| Upacara bersama Warga RW 01 Kampung Cikiwul Tonggoh 17082026 (Foto Dok Sendiri) |
![]() |
| Bersama Pengibar Bendera di RW 01 Kanpung Cikiwultonggoh (Foto Dok.Pribadi) |
Bagi
saya, upacara di kampung bukan sekadar pelengkap setelah mengikuti upacara
resmi.
Justru
di sana saya menemukan makna lain dari sebuah peringatan kemerdekaan.
Bahwa
mencintai Indonesia tidak harus selalu dilakukan dalam suasana megah.
Kadang-kadang,
rasa cinta tanah air hadir dalam sebuah lapangan kampung yang sederhana.
Dalam
bendera yang dikibarkan oleh tangan-tangan yang tidak lagi muda.
Dalam
suara yang mungkin tidak lagi lantang.
Dalam
langkah kaki yang mungkin tidak lagi sekuat dahulu.
Namun,
semangatnya tetap menyala.
Saya
pun tersadar bahwa para lansia yang menjadi petugas upacara itu sesungguhnya
sedang memberikan pelajaran kepada generasi muda.
Mereka
seolah berkata:
“Usia
boleh tua, tetapi semangat mengisi kemerdekaan jangan pernah ikut tua.”
Kalimat
itu mungkin tidak pernah mereka ucapkan secara langsung. Namun, sikap mereka
pagi itu telah menyampaikannya dengan sangat jelas.
Ada
sesuatu yang berbeda ketika mengikuti upacara di kampung sendiri. Kita tidak
hanya menjadi peserta, tetapi juga menjadi bagian dari keluarga besar
masyarakat. Bertemu tetangga, bersalaman dengan warga, bercengkerama setelah
upacara, dan melihat anak-anak kampung ikut merasakan suasana kemerdekaan
menghadirkan kebahagiaan yang sederhana tetapi begitu tulus.
Jika
di Lapang Sekarwangi saya hadir sebagai ASN dan guru, maka di kampung di lapang
voli saya hadir sebagai bagian dari masyarakat.
Dua
tempat.
Dua
suasana.
Dua
pengalaman.
Namun
satu semangat yang sama:
Indonesia
Merdeka!
PeringatanHUT ke-81 RI tahun ini akhirnya memberi saya sebuah pengalaman yang tidak akan mudah dilupakan. Dari lapangan resmi menuju lapangan kampung, dari barisan ASN menuju barisan warga, dari suasana formal menuju suasana kekeluargaan.
Dan
ternyata, keduanya memiliki pesan yang sama, kemerdekaan harus terus dirawat.
Dirawat
dengan rasa syukur.
Dirawat
dengan persatuan.
Dirawat
dengan gotong royong.
Dan
yang paling penting, dirawat dengan keteladanan dari generasi ke generasi.
Para
lansia di kampung mungkin tidak lagi muda. Tetapi pagi itu mereka menunjukkan
bahwa semangat nasionalisme tidak memiliki batas usia.
Mereka
mungkin tidak sedang mengangkat senjata seperti para pejuang dahulu.
Namun,
dengan berdiri di lapangan, mengenakan pakaian terbaiknya, menjalankan tugas
upacara, dan memberikan penghormatan kepada Sang Merah Putih, mereka telah
menunjukkan satu bentuk perjuangan lain: menjaga ingatan tentang kemerdekaan
agar tidak pernah hilang dari kehidupan masyarakat.
Terima
kasih para sesepuh kampung.
Terima
kasih telah memberikan contoh sederhana namun begitu bermakna.
Dari
kalian kami belajar bahwa kemerdekaan bukan hanya milik mereka yang muda, bukan
hanya milik mereka yang berseragam, dan bukan hanya milik mereka yang berdiri
di podium.
Kemerdekaan
adalah milik kita semua.
Dan
selama masih ada orang yang mau berdiri untuk Merah Putih, selama itu pula
semangat Indonesia akan tetap menyala.
DirgahayuRepublik Indonesia ke-81!
Dari
Lapang Sekarwangi hingga lapangan kampung sendiri, Merah Putih tetap berkibar,
semangat tetap menyala, dan Indonesia tetap di hati.


.jpeg)



Keren
ReplyDeleteTerimakasih atas apresiasinya !
DeleteSama sama
ReplyDeleteLuar biasa
ReplyDeleteTerimakasi atas apresiasinya
DeleteTerimakasih atas apresiasinya
DeleteKeren
ReplyDeleteTerimakasih atas apresiasinya
DeleteMantap kang
ReplyDeleteTerimakasih om Jay, semuanya berkat motivasi om Jay juga
Delete