Monday, July 27, 2026

Refleksi Diri Seorang Guru

Refleksi Diri Seorang Guru

Oleh : Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak- 27 Juli 2026. Tiga hari ini, saya rasanya merasa gemes sekaligus kecewa. Hati saya rasanya berat. Mungkin karena saya seorang guru. Mungkin juga karena di rumah, saya memiliki seorang anak perempuan.

Ketika melihat sebuah berita tentang seorang anak perempuan yang masih duduk di kelas 1 SD yang berteriak meratap dan menangis di hadapan jasad ayahnya, ada sesuatu yang ikut runtuh di dalam dada saya.

Menurut pemberitaan yang beredar, sang ayah diduga mencuri ayam. Dugaan itu kemudian berujung pada aksi main hakim sendiri oleh warga hingga nyawanya tak tertolong.

Saya tidak sedang membela perbuatan mencuri. Kalau memang bersalah, tentu ada hukum yang harus ditegakkan.

Tetapi sejak kapan nyawa manusia menjadi semurah seekor ayam? Sejak kapan kemarahan bersama terasa lebih benar daripada akal sehat dan hati nurani?

Tangisan pilu seorang anak perempuan saat melihat ayahnya telah meninggal dunia setelah di amuk massa karena diduga mencuri ayam di Tabanan Bali, Jumat 24/7 dini hari (Foto tangkapan layar IG)


Saya terus memikirkan satu hal. Bagaimana jika pada saat lelaki itu tergeletak tak berdaya, telepon genggamnya berdering?

Lalu seseorang yang berada di lokasi sana mengangkat panggilan itu.

Dan dari seberang sana terdengar suara anak kecil yang polos.

"Pak... cepat pulang ya kalau sudah dapat uang. Di rumah sudah tidak ada beras."

Saya tidak tahu apakah itu benar-benar terjadi. Mungkin hanya imajinasi saya. Tetapi bukankah sering kali sebuah imajinasi justru mampu menampar nurani yang mulai mati?

Baca juga:


Saya membayangkan semua orang yang ada di sana mendadak terdiam.

Tidak ada lagi teriakan.

Tidak ada lagi kemarahan.

Yang tersisa hanya penyesalan yang tidak bisa menghidupkan kembali seseorang.

Lalu saya bertanya kepada diri sendiri.

Sedang ke mana sebenarnya peradaban bangsa ini berjalan? Mengapa kita begitu mudah kehilangan belas kasih dan empati? Mengapa kita begitu cepat menjadi hakim, jaksa, sekaligus algojo Apakah ini hanya soal seseorang yang diduga mencuri ayam?

Ataukah ini cermin yang lebih besar tentang negeri yang sedang kehilangan rasa?

Saya juga bertanya kepada diri sendiri sebagai warga negara.

Mengapa warga sampai merasa harus mengambil alih hukum?

Apakah rasa aman yang seharusnya dijaga negara mulai memudar?

Mengapa di sisi lain kita masih melihat begitu banyak orang yang berjuang hanya untuk membeli beras, sementara di sudut lain ada orang-orang yang menumpuk harta tanpa pernah merasa cukup?

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak selesai hari ini. Dan saya sadar, saling menyalahkan juga tidak akan mengubah apa pun.

Saya hanya seorang guru.

Yang jauh dari lokasi kejadian. Tidak mengenal mereka. Tetapi bukankah kita sama-sama tinggal di rumah besar yang bernama Indonesia? Bukan negeri Konoha.

Lalu saya kembali bertanya.

Kalau peradaban bangsa dibangun melalui pendidikan...

Mengapa kekerasan seperti ini masih terus lahir?

Apakah ada yang sedang salah arah dalam pendidikan kita?

Ataukah kita terlalu sibuk mengejar angka, proyek, target, administrasi, dan gebyar seremoni...

hingga lupa bahwa tugas paling besar pendidikan adalah menjaga manusia tetap menjadi manusia?

Sejak mengenal Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) pada tahun 2019 silam, saya menemukan satu kalimat yang terus saya pegang sampai hari ini.

Pendidikan harus memanusiakan manusia.

Kalimat itu sederhana. Tetapi menjalankannya ternyata tidak sederhana.

Sampai saat ini saya masih belajar. Kadang juga masih merasa sendirian. Masih sering dianggap terlalu idealis, atau menentang ke umuman. Kadang terasa seperti berjalan melawan arus.

Namun saya percaya, jika ruang-ruang kelas berhenti mengajarkan empati, maka jalan-jalan di luar sekolah akan mengajarkan kebencian.

Jika sekolah gagal menumbuhkan kasih sayang, jangan heran bila suatu hari kerumunan lebih memilih menghukum daripada menolong.

Karena peradaban tidak dibangun di ruang sidang.

Peradaban dibangun dari ruang-ruang kelas anak-anak kita.

Dari cara guru menyapa muridnya.

Dari cara kita menghargai perbedaan.

Dari cara kita mengajarkan bahwa setiap manusia, seburuk apa pun kesalahannya, tetap memiliki martabat.

Hari ini saya tidak ingin mengajak siapa pun untuk marah.

Saya hanya ingin mengajak kita semua, terutama sesama pendidik, untuk berhenti sejenak.

Mari bertanya kepada diri sendiri.

Apakah selama ini kita sedang mendidik manusia... atau hanya sedang menyiapkan mereka agar lulus ujian, nilai TKA yang tinggi yang ditandai dengan angka sesuai target?

Apakah kita sedang membangun karakter... atau hanya mengejar laporan seremonial program?

Karena jauh setelah kita tiada, yang akan dikenang anak-anak kita bukanlah berapa banyak administrasi yang kita selesaikan.

Mereka akan hidup di dalam peradaban yang kita wariskan melalui cara kita mendidik hari ini.

Jangan sampai sekolah melahirkan orang-orang yang cerdas, tetapi kehilangan hati.

Sebab sebuah bangsa tidk akan runtuh ketika kehilangan orang-orang pintar, tetapi sebuah bangsa akan runtuh jika kehilangan orang-orang dan pendidikan yang berhenti mengajarkan manusia untuk tetap menjadi manusia.

 

#guruberrefleksi

#gurumenulis

#gerakansekolahramahanak

No comments:

Post a Comment