Sunday, July 3, 2022

Sekilas Tentang Ki Hajar Dewantara Dimata Seorang CPP

Sekilas Tentang Ki Hajar Dewantara Dimata Seorang CPP

Oleh: Iwan Sumantri (SMPN 3 Cibadak)

Cibadak, 3 Juli 2022. Selaku alumni yang pernah mengeyam Pendidikan di Perguruan Tamansiswa (Taman Muda (SD) tahun 1976-1981), Taman Dewasa (SMP 1981-1984); Mengajar di Perguruan Tamansiswa ( 1987-2005), guru Ataya (Iwan Sumantri) mencoba berbagi bagaimana ajaran Ki Hajar Dewantara (Filosofi KHD) mulai di gali dan di terapkan di Kurikulum Merdeka nanti. Disamping itu hasil dari Pembekalan Para CPP (Calon Pengajar Praktik) Program Guru Penggerak Angkatan 6 gelombang 1 yang lalu mencoba berbagi tentang ajaran Ki Hajar Dewantara yang TAK Usang dan masih relepan dengan dunia Pendidikan di Indonesia.

Peringatan 100 tahun Tamansiswa merupakan momentum membangkitkan kesadaran masyarakat untuk selalu meningkatkan daya saing dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi  bagi kemandirian dan kemajuan bangsa dalam mewujudkan masyarakat Indonesia yang sejahtera, makmur dan Madani

Jumat, 10 Juni 2022. Hasil dari belajar mandiri dihari kelima dengan materi Pendikan yang memerdekakan dengan menyaksikan tayangan video dan artikel tulisan, saya mencoba merangkumnya berikut ini.

Ki Hajar Dewantara dikenal sebagai tokoh pergerakan nasional. Dalam sejarah pergerekan Indonesia, kita mengenal istilah Tiga Serangkai; E.F.E Douwes Dekker, Tjipto Mangunkoesoemo, dan Ki Hajar Dewantara. Mereka mendirikan partai yang dikenal dengan sebutan Indische Partij pada 25 Desember 1912.

Perjalanan politik dan pendidikan Ki Hajar Dewantara mempertemukannya dengan gagasan pendidikan Friedrich Wilhelm August (1782-1852) tentang permainan sebagai media pembelajaran dan gagasan Maria Montessori (1870-1952) yaitu memberi kemerdekaan kepada anaka-anak.

Kedua gagasan ini menjadi dasar berpikir serta pondasi untuk pengembangan Perguruan Taman Siswa yang didirikan Ki Hajar Dewantara setelah pulang dari Belanda pada tahun 1922. Terbatasnya akses pendidikan bagi bangsa Indonesia pada masa kolonialisme Belanda menjadi salah satu alasan Ki Hajar mendirikan perguruan Taman Siswa.

Sekolah-sekolah yang ada yang didirikan oleh pemerintah penjajah pun kurang menguntungkan bagi bangsa ini. Sekolah-sekolah seperti HIS dan MULO dibuat demi kepentingan Belanda sendiri, yaitu untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja siap pakai.

Baca Juga:


Pendidikan pada masa penjajahan Belanda pada awalnya hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan bangsa Belanda di Indonesia. Pada perkembangan selanjutnya pendidikan digunakan sebagai alat penjajah untuk mencetak tenaga kerja murah atau pegawai rendahan yang sangat diperlukan untuk perusahaan-perusahaan Belanda. Sistem pendidikan jaman kolonial Belanda merupakan sistem yang rumit karena penjenisannya cukup banyak sebagai realisasi dari diskriminasi sistem pendidikannya. Tujuan dan kebijakan politik pendidikan yang dibuat dan diterapkan oleh Belanda semata-mata hanya untuk kepentingan pemerintah kolonial Belanda. Pendidikan kolonial tidak hanya berakibat negatif bagi masyarakat Indonesia, tetapi juga memberikan dampak positif karena setelah penjajahan Belanda di Indonesia berakhir dan Indonesia mencapai kemerdekaan sebagian penduduk di Indonesia khususnya di Jawa sudah tidak menderita tuna aksara atau buta huruf lagi. Karena penduduk Indonesia telah lama mengenal pendidikan atau sekolah. Pendidikan kolonial juga melahirkan tokoh-tokoh pergerakan nasional dan tokoh-tokoh pendidikan yang berjiwa nasionalis dan patriotis untuk memperjuangkan nasib bangsa Indonesia.

Kata ‘Pendidikan’ dan ‘Pengajaran’ itu seringkali dipakai Bersama[-sama. Sebenarnya gabungan kedua kata itu dapat mengeruhkan pengertiannya yang asli. Ketahuilah, bahwa sebernarnya yang dinamakan ‘pengajaran’ (onderwijs) itu merupakan salah satu bagian dari Pendidikan. Maksudnya, pengajaran itu tidak lain adalah Pendidikan dengan cara memberi ilmu atau berfaedah buat hidup anak-anak, baik lahir maupun batin. Sekarang saya akan menerangkan arti dan maksud Pendidikan (opvoeding) pada umumnya. Dengan sengaja saya memakai keterangan ‘pada umumnya’, karena dalam arti khususnya, Pendidikan mempunyai beragam jenis pengertian. Bisa dikatakan bahwa tiap-tiap aliran hidup, baik aliran agama maupun aliran kemasyarakatan mempunyai maksud yang berbeda. Tidak hanya maksud dan tujuannya yang berbeda-beda, cara mendidiknya juga tidak sama. Mengenai keadaan yang penting ini, saya kan menerangkan secara lebih luas. Walaupun bermacam-macam maksud, tujuan, cara, bentuk, syarat[1]syarat dan alat-alat dalam soal Pendidikan, Pendidikan yang berhubungan dengan aliran-aliran hidup yang beragam itu memiliki dasar-dasar atau garis-garis yang sama. Menurut pengertian umum, berdasarkan apa yang dapat kita saksikan dalam beragam jenis Pendidikan itu, Pendidikan diartikan sebagai ‘tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak’. Maksud Pendidikan yaitu: menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.

  • Montessori mementingkan pelajaran panca indra, hingga ujung jari pun dihidupkan rasanya, menghadirkan beberapa alat untuk latihan panca indra dan semua itu bersifat pelajaran. Anak diberi kemerdekaan dengan luas, tetapi permainan tidak dipentingkan.
  • Frobel juga mendjaikan panca indra sebagai konsentrasi pembelajarannya, tetapi yang diutamakan adlah permainan anak[1]anak, kegembiraan anak, sehingga pelajaran panca indra juga diwujudkan mengjadi barang-barang yang menyenangkan anak. Namun, dalam proses pembelajarannya anak masih diperintah.
  • Taman Siswa bisa dikatakan memakai kedua metode tersebut, akan tetapi pelajaran paca indra dan permainan aka itu tidak dipisah, yaitu dianggap satu. Sebab, salam Taman Siswa terdapat kepercayaan bahwa dalam segala tingkah laku dan segala kehidupan anak-anak tersebut sudah diisi Sang Maha Among (Pemelihara) dengan segala alat-alat yang bersifat mendidik si anak.

  1. Pendidikan: tempat persemaian benih-benih kebudayaan yang hidup dalam masyarakat kebangsaan, dengan maksud agar segala unsur peradaban dan kebudayaan dapat tumbuh dengan sebaik-baiknya dan dapat kita teruskan kepada anak cucu kita yang akan datang.
  2. Pendidikan: daya upaya untuk memajukan perkembangan budi pekerti (kekuatan batin), fikiran (intelek) dan jasmani anak-anak, dengan maksud supaya kita dapat memajukan kesempurnaan hidup, yakni kehidupan dan penghidupan anak-anak, selaras dengan alamnya dan masyarakatnya.
  3. Pendidikan nasional: pendidikan yang berdasarkan garis-garis bangsanya (kultural-nasional) dan ditujukan untuk keperluan perikehidupan, yang dapat mengangkat derajat negeri dan rakyatnya, sehingga bersamaan kedudukan dan pantas bekerjasama dengan lain-lain bangsa untuk kemuliaan segenap manusia di seluruh dunia.

Yuk kita pahami:

1. Arti dan Masksud Pendidikan

2. Pendidikan tuntunan dalam Hidup

3. Perlukah Tuntunan Pendidikan itu?

4. Dasar Jiwa Anak dan Kekuasaan Pendidikan

5. Tabiat yang Dapat dan yang Tidak Dapat Berubah

6. Perlunya Menguasai Diri dalam Pendidikan Budi Pekerti

7. Jenis-Jenis Budi Pekerti

8. Naluri Pendidikan






Selamat Ulang Tahun Tamansiswaku yang ke-100, mari dengan momentum ini kita berkalaborasi bersama, Tamansiswa ada untuk wujudkan kemandirian bangsa Indonesia diera globalisasi dan persaingan dunia saat ini.

4 comments:

  1. Mantap refleksinya Pak, penerus KHD👍💪💪

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Bu Prapti Sudarsono: Terimakasih atas apresiasinya! Insya Allah seharusnya kita jadi penerus KHD dalam dunia pen didikan !

      Delete
  2. Hebat......seharusnya kita nenerapkan konsep pendidikan dari KHD, bukan dari asing......

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju banget, seharusnya kita seperti itu, ajaran-ajaran KHD sesuai dengan jaman dan tak usang dimakan jaman !

      Delete