Wednesday, November 26, 2025

Merayakan Inspirasi: Semarak Upacara HUT PGRI, HGN 2025, dan Senin Juara di SMP Negeri 3 Cibadak

Merayakan Inspirasi: Semarak Upacara HUT PGRI, HGN 2025, dan Senin Juara di SMP Negeri 3 Cibadak

Oleh : Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak - Senin, 24 November 2025, lapangan SMP Negeri 3 Cibadak dipenuhi suasana haru, bangga, dan kebersamaan. Seluruh guru dan siswa mengikuti kegiatan Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun PGRI dan Hari Guru Nasional 2025, yang tahun ini dikemas lebih istimewa dengan kolaborasi antara guru, OSIS, dan seluruh warga sekolah.

Upacara Khidmat dengan Petugas dari Bapak/Ibu Guru

Upacara yang dimulai pukul 07.30 WIB ini berlangsung dengan penuh kekhidmatan. Yang membuatnya berbeda adalah bahwa seluruh petugas upacara—mulai dari pemimpin upacara, pengibar bendera, pembaca doa, hingga pembaca UUD 1945—adalah para guru.

Pemandangan ini tidak hanya mengundang rasa bangga, tetapi juga menghadirkan kedekatan emosional antara guru dan siswa. Seluruh siswa mengikuti jalannya upacara dengan sangat tertib dan penuh penghormatan.

Dalam amanatnya, Kepala Sekolah menegaskan bahwa Hari Guru adalah momentum untuk:

  • merefleksikan peran pendidik,
  • memperkuat kolaborasi guru dan siswa,
  • serta menumbuhkan budaya apresiasi di lingkungan sekolah.

 

Kegiatan Kreativitas Siswa: OSIS Tampil Total

Setelah upacara selesai, acara dilanjutkan dengan ajang kreativitas siswa yang dikoordinasikan oleh OSIS, dibimbing langsung oleh Wakasek Kesiswaan dan Pembina OSIS.

Beberapa kegiatan yang ditampilkan di antaranya:

  • Pentas Seni (musik akustik, tari kreasi, puisi, dan yang lainnya)
  • ucapan Hari Guru dari siswa
  • Pojok Ungkapan Terima Kasih (Wall of Appreciation)
  • Fun Games kebersamaan guru dan siswa

Suasana sekolah menjadi sangat meriah. Tawa, tepuk tangan, dan sorakan semangat memenuhi area kegiatan sepanjang pagi.

 

Apresiasi Unik dari OSIS: Sertifikat Penghargaan untuk Guru

Inilah bagian yang paling ditunggu-tunggu.

OSIS memberikan sertifikat apresiasi khusus kepada para guru dengan kategori yang ditentukan berdasarkan karakter sehari-hari yang dirasakan siswa. Beberapa kategori yang diumumkan:

  • Guru Paling Kreatif
  • Guru Paling Terkalem
  • Guru Termodis
  • Guru Paling Humoris
  • Guru Paling Tegas
  • Guru Favorit Siswa
  • Guru Terinspiratif

Tuesday, November 25, 2025

Semarak HUT PGRI ke-80 dan Hari Guru Nasional 2025 di Kecamatan Cibadak

Semarak HUT PGRI ke-80 dan Hari Guru Nasional 2025 di Kecamatan Cibadak

Oleh : Guru Ataya (Iwan Sumantri)

Cibadak – 25 November 2025. Peringatan HUT PGRI ke-80 dan Hari Guru Nasional 2025 menjadi momentum penuh makna bagi para pendidik di Kecamatan Cibadak. Tidak hanya sebagai ajang refleksi peran guru dalam memajukan pendidikan, rangkaian kegiatan tahun ini juga dirancang untuk memperkuat silaturahmi, menumbuhkan sportivitas, serta mengekspresikan bakat dan kreativitas para guru.

Suasana kebersamaan dan antusiasme yang tinggi terlihat dalam seluruh rangkaian acara yang dimulai sejak 20 November 2025 hingga puncak peringatan pada 25 November 2025.

 

Adu Semangat dalam Lomba Bola Voli Antar Ranting

Kegiatan pertama digelar pada Kamis, 20 November 2025, yaitu lomba bola voli antar ranting PGRI se-Kecamatan Cibadak. Pertandingan berlangsung meriah dengan dukungan penuh dari para guru yang tergabung dalam 11 ranting yang hadir sebagai peserta maupun suporter. Lapangan dipenuhi sorak semangat dan tawa, menunjukkan kuatnya kebersamaan antarguru. Kegiatan di mulai dengan devile masing-masing ranting dengan membawa spanduk dan slogan masing-masing ranting.

Setiap ranting menurunkan tim terbaiknya, dan seluruh pertandingan berjalan dengan sportif, kondusif, serta penuh kekeluargaan. Lomba ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana mempererat hubungan antar anggota PGRI di tingkat kecamatan Cibadak.

 


Harmoni Suara dalam Lomba Solo Vokal

Suara Hati Seorang Guru di HUT Guru Nasional 2025

Suara Hati Seorang Guru di HUT Guru Nasional 2025

Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)


Cibadak-25 November 2025. Disela-sela menjelang Upacara HUT PGRI dan Hari Guru Nasional di Kecamatan Cibadak, guru Ataya mencoba buka-buka beberapa grup WA walau sedang sakit dan tak bisa jalan. Ada salah satu Grup WA yang membuat hati dan perasaan terenyah dan menggugah untuk menyampaikan isi Grup WA tersebut di blog Guru Ataya ini yang isi tulisannya berkaitan dengan hari HUT PGRI dan Hari Guru Nasional.

Apa itu isinya, yuk kita simak guru-guru se tanah air:

KACAU BALAU KEBIJAKAN ORGANISASI PROFESI: Guru Merasa Dikhianati, PGRI Disepelekan, dan Menteri yang Kurang Literasi

Oleh: Wijaya Kusumah (Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd) – Om Jay, Guru Blogger Indonesia

Gelombang keresahan guru kembali meninggi. Setelah munculnya sejumlah kebijakan yang melemahkan posisi guru, kini muncul lagi persoalan yang jauh lebih mendasar: pemerintah — melalui Kementerian Dikdasmen — mengirim undangan resmi kepada 77 organisasi untuk kegiatan yang disebut “Organisasi Profesi Guru”. Namun setelah dicermati, daftar itu tidak hanya janggal, tetapi benar-benar kacau balau. Di dalamnya tercampur antara organisasi profesi, komunitas belajar, MGMP/KKG, bahkan kelompok diskusi materi ajar.

Di sinilah letak masalah paling fatal: pemerintah tidak mampu membedakan apa itu organisasi profesi guru dan apa itu komunitas belajar biasa.

Saya harus tegas mengatakan:

Menurut saya, menteri kita ini kurang literasi. Tidak bisa membedakan mana organisasi profesi, mana komunitas MGMP/KKG, mana kelompok belajar bareng yang sekadar membahas bahan ajar. Kacauuuu, Om Jay!

Guru-guru di berbagai daerah pun terkejut, kecewa, dan merasa dikhianati. Pemerintah seolah ingin memecah guru ke dalam kotak-kotak kecil yang tidak jelas legitimasi dan kapasitasnya. Dan di balik semua itu, tampak jelas satu pola: PGRI dipinggirkan.

Padahal, PGRI adalah organisasi profesi terbesar, tertua, paling lengkap struktur kepengurusannya, dan paling konsisten membela guru sejak masa kolonial. Lantas, mengapa kini justru PGRI seperti disingkirkan dan digantikan oleh komunitas-komunitas tanpa kejelasan?

Guru Merasa Dikhianati

Kekecewaan ini bukan muncul tanpa sebab. Guru selama ini sudah terlalu sering menghadapi regulasi yang berubah-ubah, penempatan yang tidak adil, status PPPK yang belum stabil, dan penurunan penghargaan terhadap profesi guru.

Ketika pemerintah mengundang organisasi profesi, guru berharap forum tersebut benar-benar mempertemukan pemerintah dengan lembaga resmi yang memang memiliki kapasitas untuk berbicara tentang profesionalisme, etika, dan masa depan guru.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Undangan itu memuat organisasi yang bahkan pengurusnya sendiri tidak tahu bahwa organisasinya diundang. Ada komunitas yang hanya koordinator WA group, ada MGMP yang tugasnya pengembangan pembelajaran, bukan organisasi profesi.